
"Ayo kita pergi sama, kan kampus nya searah dengan tempatku kerja." Ekspresi wajah Ruby terlihat tulus mengajaknya pergi sama. Tapi, apa mungkin ia dibonceng sang istri.
Hadeuuh..
Bisa jadi mereka jadi pusat perhatian orang orang di jalan nanti. Biasanya kan pria yang bonceng cewek, lah ini cewek yang bonceng pria.
"Gak, gak usah. Aku naik angkot saja." Tolaknya lembut tersenyum manis pada Ruby.
Raut wajah Ruby mendadak masam, karena penolakannya. Ali jadi merasa tak enak hati.
Bbrruumm..
Ruby yang memang sudah ada di atas motor, langsung tancap gas. Meninggalkan Ali yang masih terbengong
Nyess..
Ali langsung lemas, setelah Ruby meniggalkannya di teras rumah itu. Ia menyesal, karena menolak ajakan sang istri. Sebenarnya ia sangat pingin, tapi ia masih maerasa enggan pada Ruby, secara ia dan Ruby seperti orang asing selama ini.
"Bodoh, bodoh.. Kenapa aku menolak ajakannya?" Ali merutuk dirinya yang terlihat bodoh di hadapan Ruby. Saat ini ia tengah berjalan ke jalan lintas. Karena rumah kontrakan mereka kan, masuk gang. Sesampainya di tepi jalan, angkutan umum pada padat. Mau naik becak motor ongkos yang dikeluarkan lebih mahal daripada naik angkutan.
__ADS_1
"Sok jual mahal, jual murah aja loe gak laku Ali.." Tak henti hentinya pria itu mengutuk dirinya, yang sedang menunggu angkutan itu. Hingga lima belas menit kemudian, ia baru dapat angkutan.
***
Jangan terlalu lama menyesali keburukan yang sudah terjadi. Jadilah yang terbaik karena yang terjadi. Hidup ini maju, bukan mengharapkan kembalinya masa lalu.
Dua minggu ini, Ruby akhirnya bisa menerima dengan ikhlas hal yang menimpanya. Ia sedang menata hidup dengan baik. Mencoba menerima keberadaan Ali dalam hidupnya. Mungkin ia tak akan bisa mencintai pria itu. Tapi, setidaknya ia akan berusaha jadi teman baik. Karena bagaimanapun pesona Agam, tak akan tak bisa tergantikan di hatinya. Banyak yang mengatakan Ali baik, Agam juga tak kalah baiknya dipenilaiannya.
Suasana di kantornya juga sudah adem ayem. Karena Ruby tak mau terpancing, disaat ada teman kerjanya yang bergunjing tentangnya ia memilih tak open. Lagi pula tak semua teman kerja mengucilkannya. Ada senior yang tetap welcome dan mau mendengar masalah pribadinya. Memberinya nasehat danĀ pandangan soal hidup.
Di sebuah warung makan, Ruby dan senior yang berjenis kelamin wanita bernama Dewi Hapsari itu terlihat seag makan siang.
"Iya Bu, koq ada fotonya dengan si bapak.?" Tanya Ruby heran, melihat foto suaminya itu lekat bersama suami teman kerjanya.
Wajah sang suami di dalam foto itu terlihat sangat tampan dengan jempol tangan nya mengacung. Sepintas kalau Ali diperhatikan, ia terlihat seperti pria sempurna, apalagi disaat pria itu duduk.
"Tampan banget suami By." Bu Dewi menzoom foto Ali, memperhatikan wajah Ali yang memang sangat tampan. Bu Dewi hanya sekali melihat Ali, saat pesta pernikahan mereka.
Ruby tersenyum tipis menanggapi ucapan seniornya itu. Memang benar wajahnya Ali sangat lah tampan.
__ADS_1
"Apa suamimu dosen juga?" menatap sekilas Ruby dan kembali fokus ke hapenya.
"Iya Bu." Ruby tersenyum tipis melirik Bu Dewi yang masih memperhatikan hapenya.
"Ohh... Mengajar di kampus X?" tanya ibu Dewi lagi.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Berarti mereka satu tempat kerja." Ujar Bu Dewi menyimpan hapenya ke tas.
"Seperti nya begitu Bu." Sahut Ruby.
"Ikhlaskan apa yang terjadi. Allah selalu memberi yang terbaik pada ummatnya. Mungkin berjodoh dengan Ali, adalah yang paling baik untuk hidupmu dek. Lagian ibu lihat, ia pria baik. Wajahnya sangat bersih, teduh dan penuh kasih sayang." Jelas Bu Dewi, memegang tangan kanan Ruby. Memberi semangat pada wanita itu.
"Iya Bu, semoga saja. Terima kasih sudah mau jadi teman yang baik." Kedua mata Ruby terlihat berkaca-kaca. Ia masih emosional saat ini.
"Amiin... Yuk..!" Bu Dewi bangkit dari duduknya, yang diikuti oleh Ruby.
TBC
__ADS_1