
"Kamu kan tadi dikasih surprise sama cewekmu. Dikasih hape, ini videonya lagi viral di group FB, tiktok juga."
"Apa..?" tanya Ali dengan tercengang.
"Kisah langkah, cinta memang buta. Seorang wanita cantik, sedang memberi hadiah Ultah pada kekasihnya, yang punya cacat fisik."
Ruby membaca caption postingan yang ia tonton. Nada bicaranya Ruby terkesan tak percaya. Tapi tatapannya tetap menunjukkan remeh pada Ali.
Ali terdiam, ia tak menyangka video itu akan dibagikan dan jadi viral. Ali sungguh tak menyukai itu semua. Ia pasti akan jadi bahan bullyan orang orang.
"Hebat juga kamu ya, gak nyangka ada cewek mau denganmu. Tapi, aku heran koq mau mau nya nikah denganku." Menatap Ali masih dengan tatapan sinis.
Ini saatnya bicara jelas pada Ruby. Ali mengangkat wajahnya. Menatap serius kedua mata Ruby, yang terlihat ingin menghindari tatapannya.
"Kamu mau jawaban seperti apa. Aku gak mau nikah denganmu. Aku terpaksa. Aku melakukan ini semua demi Haji Zainuddin. Dan kamu juga seperti itu kan? Kamu gak bisa menghindari pernikahan ini, karena takut dikeluarkan dari kartu keluarga. Jangan kamu yang merasa jadi korbanĀ dalam hubungan ini. Aku yang korban di sini. Emang kenapa kalau aku cacat. Apa orang cacat tak berhak mendapatkan cinta? Apa orang cacat harus dicaci dan dihina terus? aku tak pernah menyangka, kalau kamu karakternya seperti ini. Manusia yang selalu menilai orang buruk." Ujar Ali tegas, berlalu dari hadapan Ruby yang terlihat tak terima dengan ucapan Ali.
"Heii... Aku itu benci kamu!"
"Tahu, gak usah diperjelas." Sahut Ali cepat. Mulai menyimpan barang barang belanjaannya.
"Ya sudah, kamu gak usah marah, jika sikapku gak baik padamu."
__ADS_1
"Siapa yang marah. Aku gak pernah marah." Bicara tanpa menatap Ruby yang masih emosi.
Ali menyibukkan dirinya membersihkan ikan yang akan ia masak.
"Tahu agama, sudah menikah tapi berduaan dengan perempuan lain."
"Pria bisa punya istri, satu, dua, tiga dan empat."
Hahhhahaaa...
Hahhahaha...
"Ngaca dong...! sudah miskin, cacat lagi. Malah ngimpi ingin punya istri banyak. Aku saja gak sudih jadi istrimu."
Ali geram mendengar ucapan merendahkan itu lagi. Ia yang sedang mencincang wortel, memotong motong kuat wortel itu, sehingga menimbulkan suara bising.
"Pernah kamu dengar seseorang membunuh orang yang bicara kasar dengannya? kalau pernah, ku harap, kamu tidak mengalami hal itu kelak. Jaga mulutmu!" tegas Ali dengan kesal.
Ruby terperangah, ia telah diancam. Tentu saja ia takut. Ia pun memilih meninggalkan dapur itu.
HUUUUUFFFTTT...
__ADS_1
Ali menghela napas panjang
"Astagfirullahh...!" Ali menghentikan aktifitasnya sejenak. Hatinya masih terasa sakit dengan ucapan Ruby. Kenapa setiap berkomunikasi, selalu membuat hati sakit mendengarnya. Seperti dicabik cabik lalu ditetesi air asam.
Ali merasa tak tahan lagi, ia harus memutuskan hubungan ini. Ia tak akan peduli lagi, jikalau Haji Zainuddin kecewa padanya. IA bisa gila, setres, kalau terus bertahan hidup dengan Ruby. NGapain nunggu satu tahun, toh tetap akan berpisah.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualikum...!"
Ali yang masih syok karena bertengkar dengan Ruby. Tak langsung menjawab ucapan salam sang mertua. RAsanya ia tak semangat lagi, mau melakukan apa apa.
"Assalamu alaikum.."
"Walaikum salam...!" Ruby menjawab salam sang ayah, bergegas keluar kamar dan membuka pintu.
Terlihat sang ayah dan mama Nisya sangat bahagia di ambang pintu. Ia menyalim kedua orang tuanya. Dan mereka bertiga menghampiri Ali di dapur.
__ADS_1