Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Harta paling berharga


__ADS_3

Waktu terasa cepat berlalu. Sudah sepuluh hari, umur putrinya Ali. Saat ini mereka sedang berjemur di depan rumah, menikmati pancaran sinar matahari di pagi hari. Sedangkan sang istri sibuk bertelepon dengan orang tua nya Agam.


Dari penjelasan Ruby kepada Ali. Katanya si Agam, sudah banyak peningkatan. Ya namanya ditangani oleh Dokter spesialis. Selama ini kan di kampung. si Agam hanya ditangani oleh pihak Puskemas.


"Berjemurnya sudah dulu ya putriku sayang. Karena kakak perawat sudah datang untuk memandikanmu!" Ujarnya tersenyum penuh syukur, mencium gemes sang putri yang gemoy. Karena putrinya itu lahir dengan berat badan 4.3 kg. Jadi sudah seperti bayi usia dua bulan sekarang, padahal baru juga sepuluh hari.


"Nanti sepulang nenek umroh. Kamu di aqiqah ya sayang, putriku.. Belahan jiwaku.. Harta satu satunya di dunia ini." Ali mencium gemes sang putri, sembari masuk ke dalam rumah.


Putrinya yang bernama Aysha Ailani Arka itu, sangat baik budi. Jarang nangis, yang penting perut kenyang minum susu. Jadi Ali tak direpotkan mengurusnya. Karena sang istri lebih Sibuk ngurus Agam. Video call berjam jam, dengan tujuan agar Agam ingatannya cepat pulih.


"Asi nya belum keluar Dek Ruby?" tanya perawat setelah selesai memandikan Aysha


"Iya ni kak, gak keluar keluar." Jawab Ruby, meraih sang putri dari tangan sang perawat. Ia mencium gemes putrinya.

__ADS_1


"Terus dirangsang dek, tetap ia kasih nennen. Kamu juga harus minum susu agar Asi-nya keluar." Jelas perawat dengan herannya. Baru kali ini dia ketemu pasien yang Asi nya tak kunjung keluar padahal sudah sepuluh hari.


"Iya kak. Mungkin putriku ini gak mau nennen kan sayang? kamu takut ya nennen mama jadi melar." Ruby malah bicara ngacok.


"Baklah pak, aku permisi dulu. Dan besok, aku minta izin gak bisa mandikan Aysha. Karena sore ini aku mau keluar kota." Ujar sang perawat ramah.


"Iya kak, nanti aku minya bantu sama tetangga." Sahut Ali.


"Dek Ruby sebenarnya sudah bisa memandikannya. Tapi, jangan ngangkang. Karena jahitannya belum sembuh betul." Ujar perawat menoleh ke arah Ruby.


Terlhat Ruby sayang putrinya. Tapi, jikalau Agam menelpon. Maka lupalah ia, kalau ia sudah punya anak dan suami. Jikalau Ali mengingatkan, maka ia pun memberi alasan, untuk membantu Agam. Memulihkan ingatannya. Memang benar, setelah tiga hari belakangan ini ingatan Agam membaik pesat. Ingatannya hampir pulih, ingatan setahun lalu sebelum ia mengalami kecelakaan. Dan ingatan setelah kecelakaan, kini tak diingatnya lagi. Bahkan keluarga yang menolongnya tak dikenalnya.


"Aku saja yang ayun Aysha. Kamu nyuci saja." Titahnya pada Ali. Seperti nyonya besar. Meletakkan sang putri di ayunan

__ADS_1


Ali mencium pipi sang putri yang ada di ayunan. "Putri ayah cantik sekali..!" Ujarnya mentoel pipi temben itu, sebelum keluar dari kamar itu.


"Iya dong, anak siapa dulu dong.. Ana Mama..!" Ru by melirik Ali.


"Tapi ia tak ada mirip mjripnya denganmu." Ujar Ali dengan ekspresi wajah masam. Kemudian berjalan cepat keluar dari kamar itu.


"Ywee... Syirik loe... Lihat sayang... Ayahmu syirik..!" Ujar Ruby, mengajak putrinya yang mau terlelap itu bercanda. Setelah itu dia mulai bernyanyi lagu kasidah. Agar putrinya itu cepat terlelap.


Ali tengah Sibuk mencuci di kamar mandi. Pakaian sang putri dicuci tangan olehnya. Ia tak mau mencucinya dengan mesin cuci. Saat sibuk mencuci, ponselnya yang ada di atas meja makan berdering tiada henti. Ia pun bergegas mengangkat telepon itu. Yang ternyata ibu mertuanya Mama Nisya yang menelpon.


"Ali..Berikan dulu hapemu sama Ruby. Dari tadi hapenya sibuk terus. Lagian kenapa seminggu terakhir ini. Hapenya selalu Sibuk. Emang ia teleponan sama siapa?" ujar Mama Nisya kesal diujung sana.


Ali terdiam, tak mungkin ia cerita terlebih dahulu Kamu Agam sudah kembali. Karena Ruby saja tak menceritakannya pada orang tuanya.

__ADS_1


"Ali...!"


"Iya bu, ini aku kasih sama Ruby teleponnya." ujarnya dengan ekspresi sedih. Saat sampai di depan pintu kamar ia dibuat terkejut bathin dengan kalimat yang diucapkan sang istri di telepon itu pada Agam.


__ADS_2