
Mama Nisa tentu sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya. Jadi selama tiga hari ini, dia menginap di rumah putrinya itu. Sementara Haji Zainuddin memilih pulang, karena lagi banyak kerjaan di peternakan.
Ruby tentu merasa sangat senang. Ia ada teman cerita selama ia sakit. Mana ibunya itu selalu memanjakannya. Mau tidur di pijat, pegel dikit badannya langsung minta pijat.
Bagi Ali, kehadiran sang ibu mertua tentu membatasi pergerakannya. Apalagi sang ibu mertua tak terlalu menyukainya. Walau ia merasa enggan dan kurang nyaman di rumah itu. Ia tetap bersikap seperti biasa. Ikut membantu pekerjaan rumah. Terutama di pagi hari. Ia akan bersih bersih, cuci piring dan ikut bantu mama Nisya memasak. Bahkan saat Ruby sedang parah parahnya. Ia yang memasak.
"Masakanmu enak banget ya Ali." Puji sang ibu mertua, terlihat sangat lahap, makan malam ini. Lauk yang dimakan mereka namanya ikan paccak. Menu makanan khas kota Sibolga.
Ali yang dipuji, hanya tersenyum tulus menatap Mama Nisya. Ya mama Nisa sebenarnya baik. Tapi, ia punya karakter yang frontal. Apa yang dirasakan langsung diekspresikan. Seperti saat ini, ia senang dengan masakan Ali yang enak. Ia pun memujinya. Tapi, nanti jika ia jengkel karena melihat kekurangan Ali, maka ia akan mencelanya.
"Apa kamu setiap hari masak? atau karena ada ibu di sini?" Mama Nisya ingin tahu banyak tentang Ali. Jangan mentang mentang ia di rumahnya. Ali cari muka.
"Setiap hari Bu, kalau gak masak mau makan apa? ibu tahu sendiri, aku ini miskin. Mana ada uang setiap hari beli lauk di rumah makan."
Uhukk
Uhukk
Uhukk
Mama Nisya tersedak mendengar jawaban sang menantu. Ia merasa tersindir.
"Mama... Makannya hati hati dong." Ruby menyodorkan gelas berisi air putih kepada sang ibu.
Dengan menahan pedih di rongga hidung, Mama Nisya meneguk air yang disodorkan Ruby. Melirik Ari yang juga terlihat mengkhawatirkannya.
Setelah makan malam, Ruby dan mama beranjak dari dapur. Mereka menuju ruang tamu. Karena Haji Zainuddin melakukan panggilan video.
"Si Ali mana ma?" tanya Hai Zainudin. Mata terlihat mencari keberadaan Ali di layar Hape.
Mama Nisya dibuat sewot dengan pertanyaan sang suami. "Istrimu sebenarnya aku atau si Ali sih Pak? bukannya nanyain kabarku. Malah nanyain si Ali " Ketus Mama Nisya, menatap kesal sang suami. Sudah tiga hari mereka terpisah. Disaat menelpon pasti selalu nanyain si Ali.
__ADS_1
Ruby Senayan senyum duduk di sebelah Mamanya. Ekspresi sang ibu yang bete terlihat lucu.
"Aku nanya in Ali, karena aku gak lihat dia ma." Sahut Haji Zainuddin dengan ekspresi datar. Tanpa merasa bersalah.
"Ali ada di dapur." Menjawab masih dengan muka masam.
"Oohh.. Berikan hapenya sama Ali Ma. Dari tadi aku telponin no nya gak diangkat angkat. Ada hal penting mau ku sampaikan."
"Iya." Beranjak dari duduknya, berjalan ke dapur. Saat itu juga Mama Nisya menukar camera jadi camera belakang. Terlihat lah Ali sedang mencuci piring di wastafel.
"Astaga Mama, kenapa jadi si Ali yang mencuci piring." Ujar Haji Zainuddin kesal. Masak orang yang tangannya hanya bisa digunakan satu diberi tugas nyuci piring.
"Mana ketehe, mama gak nyuruh koq." Jawab Mama Nisya ketus. Ia kesal karena disalahkan.
Ali pun menyudahi acara mencuci piringnya. Karena mendengar keributan Mama Nisya dan Haji Zainuddin di hape.
"Ajari putrimu mengerjakan pekerjaan rumah."
"Nah, si ayah mau bicara." Menyodorkan hape kepada Ali dengan wajah masam.
"Coba Ruby nikah dengan orang kaya. Putriku pasti sudah bahagia. Tinggal di rumah gedong. Bukan di rumah, yang disediakan ayahnya " Ujarnya dengan nada kesal. Beranjak dari dapur, menyusul Ruby ke kamar.
Ucapan sang ibu mertua terasa sakit di hati. Tapi, Ali tak mau terlalu memikirkannya. Ia akan buat hinaan itu sebagai motivasi. Agar ia bisa jadi orang sukses. Agar ia tak disepelekan lagi.
Karena di zaman saat ini. Hanya orang kaya yang akan di pandang. Jikalau kita kaya, semua akan ngaku saudara. Tapi, kalau kita miskin gak ada yang peduli.
Huyfftt....
Ali menghela napas, kemudian fokus menatap sang ayah mertua di layar hape.
"Besok, kamu yang akan urus semuanya ke bank kan Ali? bapak gak usah ikut kan?" tanya Haji Zainuddin serius.
__ADS_1
"Iya pak. Serahkan semua padaku." Jawabnya sopan.
Haji Zainuddin butuh tambahan modal untuk memperbesar usaha ternak ayamnya. Ia tak hanya menternakan ayam boiler, tapi ayam petelur juga, serta kalkun.
"Baiklah nak. Assalamualaikum..!" panggilan pun terputus. Dan saat itu juga, foto cantiknya Ruby muncul di layar hape. Ali terkejut, hampir saja menjatuhkan ponsel itu.
Sejak kejadian pertunjukan keperkasaan itu. Ali merasa jadi takut pada Ruby. Bahkan tiga hari ini. Mereka tak ada pernah komunikasi.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum... Bu, ini handphonenya." Ujar Ali sopan di balik pintu kamarnya Ruby.
Ceklek
Pintu terbuka, ada Ruby berdiri di hadapannya. Tangannya menengadah meminta hape miliknya dari Ali yang kini berdiri terbengong menatapnya.
"Mana hapeku?!" menatap malas Ali yang terlihat bengong.
"Oouuhh, ini."
Ruby dengan cepat meraih ponselnya. Gerakan tangan nya yang cepat, membuat tangannya bersentuhan dengan tangan Ali. Tentu saja Ali merasa kesetrum. Karena sentuhan itu.
Peristiwa tiga hari yang lalu, melintas lagi dipikirannya. Yang membuatnya malu sendiri.
TBC
Dukung novel ini dengan beri like komentar positif vote dan hadiahnya say🙂🙂🙏
__ADS_1