
Acara maaf memaafkan telah jadi sebuah moment indah dan sangat berkesan pada Ali. Mengingat kejadian itu, selalu membuatnya mengulum senyum. Padahal kejadian itu sudah seminggu berlalu.
"Mama perhatikan kamu gak muntah muntah lagi sayang? makan juga sudah lahap. Apalagi kalau Ali yang masak. Semua makanannya ludes kamu buat." Ujar mama Nisya heran melihat Ruby yang langsung makan, setelah pulang kerja. Ya sudah tiga hari ini Ruby kembali masuk kerja.
"Emang ini dia yang masak Ma. Kapan dimasaknya?" tanya Ruby heran. Sudah tiga potong ikan masuk ke mulutnya. Ali masak gulai asam. Kata orang asem padeh. Terus sayurnya cah kangkung. Ada juga sambal ikan teri campur tempe, tahu, terong ungu dan kacang tanah.
"Tadi siang, ia singgah di rumah setelah pulang dari kampus. Habis masak, baru pergi ke peternakan." Jelas Mana Nisya, merasa kagum pada menantunya, yang baiknya tak ketulungan.
"Kamu harus bersyukur dapat suami seperti Ali. Mau masak, cari uang rajin, Sholeh, baik, sopan... Aduuhh... Gak ada duanya. Coba kamu dapat suami yang gak tahu tanggung jawab. Mana mau masak dan beres beres rumah."
"Itu namanya bukan suami yang penuh tanggung jawab ma. Tapi, suami yang tahu diri. Dia gak sanggup bayar ART. Ya terpaksa dia yang ngerjain." Jawab Ruby, masih menyangkal kebaikan Ali selama ini.
"Nak, jangan kumat lagi ya? Mama perhatikan, kamu itu benarnya hanya semingu dua minggu. Habis itu pasti kumat lagi, disaat apa yang kamu inginkan tak terjadi. Kalau kamu kumat lagi, maka kamu akan tersiksa lagi nanti." Jelas Mama Nisya dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran. "Kamu sehat begini, setelah minta maaf pada Ali kan? itu artinya dia sudah ridho denganmu. Dan kamu akan hidup dengan baik. Tak melulu harta buat bahagia nak. Yang penting apa yang kita dapatkan berkah " Jelas Mama Nisya, mulai khawatir. Ruby kumat lagi sikap ketusnya pada Ali.
"Soal aku gak mengalami morning sick, ya memang waktunya muntah muntah da lewat Ma. Kata Bu Dokternya kemarin itu. Morning sick terjadi di kehamilan trimester pertama. Tinggal seminggu lagi. Ini anak si Ali sudah genap tiga bulan." Jawabnya tersenyum sinis
"Itu anakmu juga. Mana anak si Ali saja. Kan kalian berdua yang menggoyang."
"Ya Allah... Mama... Hahahha...!" Ruby merasa lucu dengan ucapan Mamanya.
"Pokoknya kamu jangan bersikap kasar lagi pada Ali. Walau kamu gak cinta. Hargai dia, yang sudah mau banting tulang demi keluarga. Kamu juga harus bantu bantu beberes. Jangan makan tidur saja kerjaannya."
__ADS_1
"Coba aku jadi nyonya Agam. Ya pasti kerjaannya makan tidur."
"Agam... Agammm.. Lagi, dia itu sudah dimakan buaya." Ketus Mama Nisya, beranjak dari dapur. Ruby menyusul ibunya itu ke kamar nya.
"Koq beberes ma. Mama sudah mau pulang?" tanyanya sedih.
"Iya, kamu kan sudah sehat. Kasihan ayahmu sudah dua Minggu gak terurus." Jawab Mama Nisya masih mempacking barang barangnya.
"Emang mau pulang jam berapa ma? ini sudah pukul enam sore loh "
"Nanti tunggu ayahmu datang bareng Ali." Sahut Mama Nisya.
"Ya, pulangnya besok saja deh Ma. Aku masih ingin tidur bareng mama." Rengek Ruby.
Huufftt..
Ruby menekuk bibirnya kesal. Mana mungkin ia tidur seranjang dengan Ali. Bisa bisa Ali kembali dibuatnya jadi guling. GR pula nanti si Ali jadinya. Dikira mau bermesraan. Padahal Ruby memang sering memeluk orang yang jadi teman tidurnya.
Tok
Tok
__ADS_1
"Assalamualaikum....!"
"Nah itu, ayah mu dan Ali sudah datang." Mama Nisya, bergegas ke pintu utama.
"Walaikum salam...!" Mama Nisya membuka pintu lebar. Dan dengan senyum lebar. Ia sudah sangat rindu suaminya.
Waktu magrib hampir tiba. Ali yang ingin bersih bersih dikejutkan dengan tas nya yang sudah tak ada di sudut ruang tamu. Bahkan semua barang barang nya tak ada di tempat itu.
Mama Nisya yang melihat kebingungan Ali, buka suara. "Semua barang barang milikmu, sudah ibu pindahkan ke kamarnya Ruby." Ujar Mama Nisya, yang membuat Ali terkejut mendengarnya. Tapi, ia tak mau menunjukkan sikap terkejutnya itu.
"Ooh iya bu." Jawabnya sopan. Ali menyeret kakinya ke kamar sang istri. Mengetuk pintu kamar itu dengan perasaan yang berdebar debar.
"Ini handuknya..!" Ruby menyodorkan handuk miliknya pada Ali.
Wwuhsshh
Rasanya angin surga telah menerpa wajahnya Ali yang terlihat letih, karena mengais rezeki.
"Terimakasih." Jawabnya tersenyum manis pada sang istri.
"Ya, biasa aja kali ." Heran dengan sikap Ali yang terlihat lebay.
__ADS_1
TBC