
"Kabarku tak baik." Jawabnya lirih. Ya Ruby tipe Wanita yang tak bisa berpura pura. Ia terlalu blak blakan. Dan kadang ia sering salah ambil sikap atau keputusan.
"Kamu sakit? apa kalian ke kota ini mau berobat?" tanya Ali masih dengan ekspresi tak bisa diartikan oleh Ruby. Yang membuatnya bingung menatap Ali.
"Iya," ucapnya lirih, mengusap dadanya yang terasa perih dan nyeri. Sakit sekali, seperti ditusuk tusuk jarum, sakitnya buat susah bernapas.
"Kenapa kamu pergi dari hidupku? kenapa kamu bawa putriku pergi? padahal aku baru melahirkan?" bicara masih dengan berlinang air mata menatap sendu Ali, yang terlihat bingung. "Kamu benar benar buat hidupku hancur Ali. Gara gara kamu memisahkan aku dengan putriku, putriku jadi membenciku. Dia memukulku tadi, dia tidak mengenalku. Hu... Hu... Hu....!" bicara dengan emosional, jemari sibuk mengusap pipi yang dibanjiri air mata.
Kening Ali semakin mengerut mendengar penuturan sang istri. Kenapa wanita itu jadi marah marah dan terlihat terpukul. Bukannya ia tak menginginkan Ali dan kehadiran Aysha dalam hidupnya. Saat ia hamil saja Ruby sudah ingin menggurkannya.
"Jahat, kamu jahat..!" menatap kesal Ali yang tak tahu harus bicara apa. Ia terus yang disalahkan dari dulu hingga sekarang.
Huufftt
Ali menghela napas panjang. Rasanya ia perlu banyak stok oksigen, agar bisa bicara dengan tenang pada Ruby yang terlihat emosional itu.
"Tak bisa kah sekali saja kamu bicara dengan baik padaku, berhenti menyalahkan aku akan semua yang terjadi? bukankah kamu sangat membenciku dan tak pernah menginginkan Aysha hadir dalam hidupmu? bukankah kamu ingin kembali pada kekasihmu Agam. Aku membawanya pergi, agar kamu bahagia bersama pria yang kamu cintai itu."
"DIAM....!"
Ali terperanjat mendengar teriakan Ruby yang penuh kekesalan itu.
"Kalau aku tak ingin melanjutkan pernikahan kita tak menginginkan Aysha lahir ke dunia, aku pasti menggugurkannya. Jangan kau pikir aku mempertahankannya, karena aku takut dengan ancamanmu akan melaporkanku ke kantor polisi. Tidak...!" Ruby sangat emosional. Dada wanita itu terlihat naik turun saking emosinya.
Huufftt..
Ali menghela napas panjang. Ia pun bangkit dari duduknya. Ia tak mau masalah ini terus berlarut larut. Ia menghindari Ruby sudah dua tahun. Dan disaat bertemu ia disalahkan lagi. Dan masalah yang lalu kembali lagi diungkit.
"Apa maumu sekarang? aku lelah berhadapan dan berurusan denganmu. Aku dekat denganmu, kamu selalu marah marah dan menghinaku . Aku menjauh dari hidupmu. Kamu juga marah marah, kamu aneh..!" Ali menatap kesal Ruby. Ia harus tegas, muak sudah ia berdebat dengan Ruby.
Huhuhu...
__ADS_1
"Kenapa kalian pergi dari hidupku... Aku sangat menderita tanpa kalian.
Flashback on
Setelah kepergian Ali dan Agam. Ruby menangis histeris di kamarnya. Ia kesal pada Ali, yang langsung menyudutkannya. Padahal saat itu, Ruby hanya ingin bicara jelas pada Ali. Agar Ali bicara baik pada Agam, yang kesehatan mentalnya belum stabil.
Saat Agam meminta Ruby kembali padanya. Ruby sudah menolak Agam. Karena ia sudah memilih Ali di hatinya. Wanita itu tersadar akan pentingnya Ali dalam hidupnya. Sejak Ia melahirkan sang Putri. Ia tersentuh dengan sikap Ali yang memperlakukannya begitu baik, penuh cinta serta ketulusan.
Ruby sedang menjaga perasaan Agam. Pria itu baru pulih. Ia belum siap menerima beban pikiran yang menguras emosi dan pikiran. Agam sedang cinta cintanya saat mengalami kecelakaan. Jadi, disaat sadar, keinginan untuk memiliki Ruby masih sangat kuat. Walau ia tahu, Ruby sudah menikah. Keinginan gila itu muncul, karena info yang ia dapat dari penyelidikannnya, Ruby dan Ali tidak harmonis dalam pernikahannya. Makanya ia meminta Ali untuk menceraikan Ruby.
Saat Agam datang berkunjung ke rumah orang tuanya Ruby. Ia meminta Ali agar mau bicara dengannya. Tapi, Ali tak mau, mengatakan ingin kerja. Disitulah Ruby kesal, dan langsung masuk ke kamar. Padahal ia sudah ambil keputusan tetap dengan Ali. Sikapnya selama ini, baik pada Agam. Di telepon, karena ia memang sayang pria itu. Dsn kata dokter, kalau Agam menelpon, dilayani dengan baik. Untuk kesembuhannya, itulah yang dilakukan Ruby.
Ngung...
Ngung...
Mengetahui ponselnya ada yang menghubungi. Ruby yang masih sedih itu, bangkit dari tidurnya. Meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Ia terkejut melihat siapa yang menelpon. Ada nama Agam yang memanggil. Ia pun mengangkat panggilan itu
"Ya Bu, ini ada pelanggan pingsan. Dan kami lihat ponselnya sedang melakukan panggilan dengan ibu. Apa ibu kenal dengan orang yang punya ponsel ini?" Ujar seorang pria yang Ruby tak kenal siapa.
"Kenal pak, Abang Agam, pingsan, koq bisa pak?" tanya Ruby panik. Setahu dia Agam pergi dengan Ali. Apa Ali dan Agam bertengkar.
"Gak tahu Bu, sebaiknya ibu kesini."
"Emang dia gak ada kawan disitu pak?" Ruby semakin dibuat tak tenang.
"Gak Bu, tadi sih si bapak ini ada temannya Masuk ke ruang privat dan pesan makanan. Saat kami antar pesanan, temannya sudah tak ada. Dan bapak ini malah pingsan." Jelas pria itu.
"Emang di mana lokasinya pak?" tanya Ruby semakin panik.
"Baiklah, saya akan ke sana."
__ADS_1
Ruby berkemas dengan cepat. Ia sangat mengkhawatirkan Ali dan juga Agam. Jikalau Ali bertengkar dengan Agam. Dan Agam pingsan. Suaminya itu akan dalam masalah besar. Karena Agam orang kaya. Orang kaya bisa berbuat apapun yang ia mau. Uang yang bicara.
"BI Sekar, titip Aysha." Ruby mencium seluruh wajah putrinya itu. "Pasti ayahmu buat onar nak!" mengusap lembut lengan sang putri. Kemudian, ia yang baru 11 hari melahirkan harus keluar rumah. naik angkot.
Saat sampai di Restauran. Ya Agam masih belum sadar. Ruby menanyakan apa yang terjadi di ruangan itu. Dan pihak restoran menjelaskan tak ada terjadi perkelahian atau kekerasan lainnya. Karena pihak restauran sudah melihat rekaman CCTV.
Ruby akhirnya membawa Agam ke rumah sakit, dengan mobilnya Agam, yang memang dikendarai supir.
Pukul Delapan malam Ruby sampai rumah. Rumah itu gelap gulita. Seperti hidupnya yang jadi gelap selama dua tahun ini.
Flasback off
"Aku sudah jadi istrimu, punya anak darimu. Mana mungkin aku kembali pada Agam? apa kau kira aku ini wanita yang sejahat itu? kamu yang jahat.... Kenapa kamu pisahkan aku dengan putriku?"
Ruby yang kesal, beranjak dari kursinya. Ia memukul kuat dada Ali yang tercengang itu.
Ali tak melakukan perlawanan. Ia biarkan Ruby memukul mukul dadanya sepuas hatinya. Ia sungguh terkejut dengan cerita sang istri. Ternyata ia salah paham.
"Aku setres Ali. Saat mau melahirkan bertemu dengan Agam yang dulu sangat berarti dalam hidupku dengan keadaan yang tak baik baik saja. Dalam keadaan tubuh yang belum sembuh total, karena habis lahiran, aku harus bantu ia agar pulih, aku setres sangat setres. Hingga Asiku tak ada. Kupikir kamu sabar, ku pikir diammu, sebagai tanda pengertian mu akan masalah yang ku hadapi. Ternyata tidak... Kamu jahat....!" ujarnya menangis histeris kembali memukul kuat dadanya Ali.
"Ayah... Ayah...! Hua... Hua.... Hua....
Ternyata Aysha sudah terbangun. Ia berlari menghampiri sang ayah dengan berlinang air mata
"Pelgi kamu pelgi... Orang gilla..!" Aysha mendorong kuat kakinya Ruby yang berdiri dihadapannya.
Seketika Ruby ambruk terduduk lemas di hadapan putrinya itu. Ia langsung memeluk erat Aysha.
"Aku ibumu sayang...!" tetap memeluk erat sang putri, seperti tentakel gurita. Aysha yang terus berontak tak mau dipeluknya. Terpaksa dilepasnya. Ia pun hanya bisa menatap sedih Aysha yang meminta di gendong sang ayah.
TBC
__ADS_1