Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Yukk..!


__ADS_3

Sikap Ruby yang nurut akan ucapannya malam ini, membuat Ali sangat senang. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia itu. Sudut bibirnya dari tadi terus saja menyungging, hingga kini ia tengah mempersiapkan makan malam mereka saat ini. Pertempuran tadi malam, membuatnya semakin cinta pada istrinya itu.


Kreekk..


Ali langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi. Terlihat Ruby sedang keluar dari tempat itu. Tentu saja dengan penampilan yang sexy menurutnya. Padahal Ruby menutup tubuhnya dengan Bathrobe warna pink.


"Aku sudah si-- siapkan makan malam. Kita makan bersama."


Ucapan Ali yang sedikit terbata bata itu, membuat Ruby menatap ke arah pria itu.


"Aku sudah makan." Jawabnya datar kemudian berjalan lemah ke arah kamarnya.


Huuffftt..


Ali menarik napas panjang, entah kenapa ia merasa gugup berkomunikasi dengan Ruby yang sikapnya sudah lebih bersahabat dengannya. Setidaknya istrinya itu tidak marah marah saat bicara dengannya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Waktu terus bergulir. Dunia melangkah pergi, Akhirat kian menghampiri, dan kematian sewaktu-waktu menjemput. Sungguh beruntung pribadi yang memanfaatkan waktunya untuk selalu beramal shalih.


Tak terasa, sudah dua minggu berlalu. Hubungan Ruby dan Ali masih jalan di tempat. Ruby selalu berusaha menghindar dari Ali. Tapi, disaat mereka berpapasan di rumah itu. Ruby tetap mau menyahuti ucapan Ali. Seperti menjawab ajakan sarapan dan makan malam.


Ya, Ruby yang sibuk kerja. Tak pernah memasak di rumah itu. Ali yang ingin membina biduk rumah tangga serius dengan Ruby, mengalah dengan melakukan pekerjaan rumah. Walau ia sebenarnya sibuk bekerja. Tapi, ia selalu usahakan pulang paling lama pukul 17.30 Wib.


Rutinitas Ali setiap hari. Pagi ia disibukkan jadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta, yang dulu tempat ia menimbah ilmu di perkuliahan. Siangnya ia kerja di peternakan Haji Zainuddin.


"Pagi sekali sudah rapi. Mau ke mana?" Ruby menilik Ali lekat dari ujung rambut hingga kepala. Mereka sedang berpapasan di ruang tamu.


Ali yang ditatap tersenyum manis. Ia senang, sudah seminggu kembali bersama. Istrinya itu baru pagi ini, memulai percakapan.


"Kerja Serapi ini?" tanya Ruby lagi heran. Ali kan kerja di peternakan ayam ayahnya. Koq pigi kerja pakai kemeja lengan panjang dipadu dengan celana bahan, masuk blouse dan pakai sepatu pentofel.


"Iya." Jawabnya singkat, karena masih terkejut dengan sikap Ruby yang ingin tahu tentangnya.


Seperti nya Ruby tak tahu, kalau Ali sudah kerja jadi dosen. Itu disebabkan karena Ruby sudah pergi kerja pukul 06.30 Wib. Sedangkan Ali yang beberapa hari ini masuk kerja pukul 10.00 Wib. Jadi pria itu pergi ke kampus pukul 8 pagi.

__ADS_1


"Kerja di kampus, jadi dosen." Jawabnya dengan ekspresi wajah merendah.


"Oouuww..!" Ruby mengambil sepatu heels warna merah yang senada dengan baju yang dikenakannya dari rak sepatu. Kemudian melirik Ali yang masih berdiri di belakangnya. Ali terlihat sedang menunggu sang istri keluar rumah terlebih dahulu. Karena ia yang akan mengunci pintu rumah mereka.


Ali masih berdiri di teras rumah. Sedangkan Ruby sudah naik di atas motornya siap siap berangkat kerja.


"Emang ngajar di kampus mana?" menatap Ali yang masih berdiri sekitar satu meter di sampingnya. Ada enam perguruan tinggi di kota mereka tempat tinggal.


"Di,"


"Oouuw... Di kampus itu kan?" memotong ucapan Ali saat ingin menjelaskan di mana ia kerja.


"Mana mungkin juga kamu mengajar di STIKES, pasti di perguruan tinggi Islam kan, kamu kan kuliah di situ." Ujar Ruby sok tahu. Ia yang bertanya, ia pula yang menjawab.


"Iya." Jawab Ali dengan senyum sumringah. Ia merasa senang sekali. Pagi ini Ruby banyak bicara dengannya.


"Ayo, naik kita pergi bareng."

__ADS_1


"Apa..?" tentu saja ajakan Ruby membuat Ali terkejut batin. Istrinya itu mau memboncengnya. Apa dia gak malu punya suami cacat?


TBC


__ADS_2