
Duar
Duar
Duar
Suara petir menggelegar, ditambah angin kencang terdengar susul menyusul. Suara rintik hujan juga terdengar keras di atas genteng, yang membuat Ruby bangkit dari pembaringannya. Ia sungguh terkejut dengan perubahan cuaca yang mendadak ini. Padahal tadi langit sangat cerah dihiasi oleh bintang dan bulan.
Ali yang juga belum tidur, dengan cepat mendudukkan tubuhnya. Ia menatap ke arah Ruby yang terlihat ketakutan. Saat ini istrinya itu sedang menoleh ke arah jendela, yang tirainya melambai lambai ditiup angin kencang. Hal itu disebabkan karena, jendela kamar itu ternyata tak dikunci, hanya ditutup saja.
Dan disaat ada angin kencang. Pintu itu malah terbuka lebar. Bahkan menimbulkan bising, karena ditiup angin dan terhempas ke dinding kamar itu.
"Biar aku saja yang menutupnya." Ujar Ali, berjalan ke arah jendela kamar. Ternyata lantai di bawah jendela sudah basah. Oleh air hujan yang merembes karena ditiup angin kencang. Ia mengunci jendela kaca yang terbuka lebar itu, kemudian melap air yang ada di lantai dengan keset cendol yang ada di dekat ranjang.
Baru juga kedua insan itu, ingin terbang ke alam mimpi. Ternyata di luar sudah badai.
Ali melirik Ruby yang terlihat ketakutan. Jelas saja wanita itu ketakutan. Suara petir sangat kuat mengegelegar. Saking kuatnya kusen jendela jadi bergoyang.
"Apa akan kiamat?" ujarnya bergidik ngeri menatap Ali dengan ketakutan yang terlihat berlebihan. t
__ADS_1
Pertanyaan spontan nya Ruby terdengar lucu.
"Tak ada satupun yang mengetahui kapan kiamat kecuali Allah SWT. Dan pertanyaan kamu, gak bisa aku jawab " Ujar Ali dengan lembut. Kedua sudut bibirnya masih menyungging, menciptakan senyum manis.
Koq ia masih senyam senyum. Apa dia gak takut, akan terjadi badai. Angin kencang mengobrak abrik tempat ini. Sehingga menimpa tubuh dan mati deh, ditimpa atap atau tembok rumah.
Ruby membathin, memperhatikan lekat Ali yang kembali ke tempat nya dengan tenang nya.
"Ia, kita gak tahu kapan kiamat. Tapi, lihatlah seperti nya malam ini akan kiamat. Hujannya deras sekali. Angin juga sangat kencang." Ujar Ruby masih dengan ekspresi wajah ketakutan.
"Semoga belum kiamat. Dan semoga kita dijauhkan dari marabahaya." Jawab Ali kembali membaringkan tubuhnya di ambal. Ia memeluk tubuh nya. Karena kedinginan, ia tak memiliki selimut.
Hati Ali tiba tiba sakit mendengar kalimat permintaan yang keluar dari mulut sang istri. Tapi, ia harus berlapang dada.
"Amiinnnn Ya Rabbal Al-Amin...!" sahut Ali memejamkan matanya dengan perasaan sedih. Euforia yang ia rasakan kini menguap sudah dibawa angin yang berhembus kencang malam ini.
Seorang istri berdoa di hadapannya. Meminta agar bisa bahagia bersama pria lain. Itu rasanya sangat sakit sekali. Tapi, mau gimana lagi. Ali tahu diri. Mana mungkin Ruby bisa mencintainya. Ia pria cacat dan miskin.
"Ali, Ali..!" Ruby tak bisa tidur karena takut dengan deras hujannya ditambah angin kencang.
__ADS_1
"Iya." Yang dipanggil langsung menyahut. Tapi, tetap dengan posisi nya. Memeluk tubuh nya membelakangi Ruby.
"Kirain kamu sudah tidur. Habis dari tadi gak ada pergerakan, seperti orang yang sudah tidur " Ujar Ruby lembut.
Ali kali ini tak menanggapi ucapan sang istri. Hatinya masih terasa berdenyut-denyut karena baru mendengar doa Ruby.
"Seandainya malam ini terjadi bencana alam di kampung ini. Dan aku jadi salah satu korbannya. Ku harap, kamu mau memaafkan aku."
Deg
Ali yang terkejut dengan ucapan Ruby. Langsung mendudukkan tubuhnya. Menatap sang istri yang terlihat sedih.
"Kamu mau kan maafkan aku? aku sudah jahat padamu." Ruby menunduk, ia malu pada Ali.
Ali masih terbengong-bengong. Apa istrinya itu sudah sadar betulan. Atau karena takut mati malam ini?
"Apa salahku padamu sudah begitu besar. Hingga kamu terlihat enggan untuk memberi maaf?" Bicara dengan nada penuh penyesalan. Bahkan kini mata indahnya sudah terlihat berkaca-kaca.
TBC
__ADS_1