Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Perjuangan


__ADS_3

"Abang Agam... Abang.... Sakit....!" ujar Ruby menatap lekat Pria yang dipanggilnya Agam. Disaat pria itu m membaringkan Ruby di bed.


Ali yang mengekor dengan mata berkaca-kaca. Mendekati sang istri dengan lemas. Ia seolah tak dilihat oleh Ruby di ruangan itu. Karena tatapan Ruby terus saja ke arah pria yang dipanggilnya Agam.


"Pak, tolong tunggu di luar ya!" titah Bu Bidan, pada pria yang dipanggil Agam oleh Ruby. Pria itu nampak bingung sekali saat ini. Wajahnya terlihat penuh tanda tanya.


"Iya." Pria itu keluar dari ruangan itu dengan ekspresi wajah penuh kebingungan.


Ruby masih menatap lekat pria itu. "Jangan pergi dulu... Ali, Ali... Lihat dia. Aku gak mau kehilangan dia lagi." Ujar Ruby panik, menggoyang tangan Ali. Karena Ali terlihat seperti orang bodoh bodoh saking syok nya.


"Bu, Bu tenang... Ibu sedang mau lahiran. Gak usah urus pria itu." Ujar Sang Bidan ramah.


"Ibu mengenalnya?" tanya nya dengan ekspresi wajah terkejut. Ia seolah lupa dengan sakit di perutnya.


"Itu pasien kami bu. Tadi Abang itu, ambil surat rujukan." Sahut salah satu perawat.


"Oouuww...!" Ujar Ruby kembali meringis kesakitan.


"Ayo cepat periksa!" ujar Bu Bidan, pada perawat. Sedangkan Bu Bidan, terlihat memakai sarung tangan karet.


Perawat mulai melakukan pemeriksaan pada Ruby. Memeriksa tekanan darah. Dan dilanjutkan oleh Bu Bidan memeriksa kandungan Ruby.


"Kemarin waktu USG, katanya sungsang. Apa masih sungsang Bu Bidan..?" Si Ruby masih saja banyak tanya. Ia merasa jika banyak tanya, dan heboh maka rasa sakit seolah berkurang. Kalau diam Bae, rasa sakitnya sangat terasa


"Letaknya pas, kepala sudah di bawah sekali ini. Coba ibu buka lebar pahanya." Ujar Bu Bidan.


"Iya Bu, tapi aku masih pakai celana."


"Pak, ambil kan sarung atau kain." Ujar Bu Bidan.


Ali yang gugup makalah kesusahan membuka tas nya. Mana tangan nya yang bagus hanya satu.


Melihat Ali tak kunjung bisa membuka resleting tas itu. Maka perawat yang melakukannya. Saat itu, Ali benar benar merasa jadi kepala keluarga yang tak berguna. Tadi, istrinya di bopong pria lain. Dan sekarang, mengambil kan sarung, ia tak bisa.

__ADS_1


"Sudah buka delapan!" ujar Bu Bidan pada perawat.


"Apa perlu kita rang-sang lagi kak?" tanya perawat pada Bu Bidan.


"Iya, biar cepat lahirnya. "


Perawat mulai mencari pembuluh darah Ruby, guna memasukkan jarum infus.


"Ali... Coba lihat keluar... Abang Agam, masih di situ atau tidak?" masih memikirkan Agam. Padahal ia sudah bukaan delapan.


Ali diam, seolah tak mendengar ucapan sang istri.


"Ali.... Tolong lihat ke luar..!" ujar Ruby dengan muka meringis kesakitan.


Tanpa menjawab sepatah katapun. Ali ke luar dari ruangan itu. Saat sampai di lorong, tempat ruang tunggu. Ternyata pria yang dipanggil Ruby, sebagai Agam. Masih ada di tempat itu. Ia pun menghampiri pria itu.


"Bang, sebelum istriku selesai melahirkan Abang jangan pergi dulu ya?" ujar Ali tanpa ekspresi.


"Iya " Jawab pria itu dengan bingung nya. Kemudian pria itu melirik wanita di sebelahnya. Memberi kode, agar mereka jangan pulang dulu.


"Belum Bu, tunggu sebentar lagi. Kira kira sepuluh menit lagi ya?" ujar Bu Bidan ramah.


"Sekaranglah Bu Bidan, Akau gak tahan lagi... Aku ngeden ini...!"


"Sabar sayang... Istighfar... Berdoa... Ibu Bidan pasti melakukan yang terbaik. Mungkin belum saatnya kamu ngeden..!" Ujar Ali, saat itu juga ia dibuat terkejut, karena Ruby mencengkeram kuat kemeja yang dikenakan Ali.


"Sabar, sabar... Sakit tahu...!" Ruby menarik kuat kemeja sang suami. Disaat rasa sakit yang dahsyat datang tanpa Jedah.


"Sakit ...!" ia malah menyempatkan memukul dada sang suami.


"Ibu jangan banyak gerak dan teriak teriak. Nanti tenaganya bisa habis, lebih baik ini narik napas." Ujar si perawat ramah.


"Kalau aku diam, makin sakit sus.... Dokter...! Tolong.... Ini sepertinya sudah mau keluar.. Sakit..!"

__ADS_1


"Ia Bu...". Bu Bidan menghampiri Ruby, memeriksa jalan lahir. "Baiklah.... Ibu ngeden seperti orang mau BAB di saat rasa sakit yang teramat sakit datang ya Bu?!" titah Bu Bidan ramah dan terlihat santai. Ternyata sudah bukaan sepuluh dan kepala bayi sudah terlihat.


Uugggkkk...


Ruby mulai ngeden.


"Kepala nya gak usah diangkat bu. Ngedennya jangan seperti itu." Bu Bidan, menempatkan kedua tangan Ruby di pahanya. "Lebarkan pahanya.. Ngeden, di saat sakit yang amat datang ya..! dan kalau sakitnya hilang sejenak. Ibu bisa narik napas."


"Sakit Bu Bidan.. Sakit...!" Ali merinding melihat proses melahirkan itu. Ia terus saja berdoa dan berdzikir. Agar proses melahirkan sang istri berjalan lancar.


"Eemmm... Coba ibu minta maaf pada sang suami."


"Minta maaf? emang kenapa?" tanya Ruby heran, dengan muka meringis kesakitan itu.


"Tak apa apa Bu. Siapa tahu, anaknya jadi cepat keluar."


"Aku minta maaf ..!" ujar Ruby cepat.


"Iya, kamu gak ada salah sayang." Ali melap keringat yang membanjir di wajah sang istri. Ia pun mencium kening nya Ruby lembut. Sikap dan bahasa tubuh Ali yang baik, membuat Bu bidan dan perawat baper.


Uuuggghkkk....


"Ya... Terus... Terus.. Bu..!". Bu Bidan memecah bungkusan air ketuban. Ya air ketuban nya belum pecah. Ruby merasakan air merembes sampai ke punggung nya.


Uuggkkhhh...


Uugghkkkhh..


..UuuuGghhkk...


Ouuueeeeekkk...


"Alhamdulillah...!" Ali bersujud syukur dengan berderai air mata. Kemudian ia menghujani wajah Ruby dengan ciuman.

__ADS_1


TBC


__ADS_2