
"Pakai sendok Dek!"
Ruby mengangkat wajahnya, cukup terkejut mendengar Ali memanggil nya dek.
"Apa aku ini adekmu?" kedua bola mata Ruby melotot penuh selidik.
Ali menggeleng lemah dengan ekspresi wajah sedikit ketakutan. Seperti anak kecil yang sedang diintrogasi sang ibu.
"Itu kamu tahu, kenapa manggil Adek." Ruby kembali fokus memakan piscok.
"Istriku..!"
Uhuukk..
Uhuukkk...
__ADS_1
Ruby hampir saja tersedak, sangat terkejut mendengar ucapan sang suami. Ali dengan cepat menyodorkan minum pada Ruby.
Huufftt...
Ruby menarik napas panjang berulang kali. Setelah tenang ia pun menatap ke arah Ali yang masih berdiri di hadapannya.
Ingin rasanya Ruby kembali marah marah. Tapi, ia teringat ceramah ustadz. Tak boleh berkata kasar pada suami. Suami harus dihargai, bagaimanapun keadaannya.
"Geli tahu, kamu manggil aku dengan Dek, atau istri. Kita ini menikah karena terpaksa. Jadi butuh proses untuk menyandang status istri." Jelas Ruby dengan tatapan tak bisa diartikan.
"Setiap keputusan yang ku ambil, aku selalu serius menjalankannya. Walau aku dipaksa menikah dengan wanita yang bukan kamu, aku akan tetap ikhlas dan ridho menjalaninya."
"Iya, asal hatinya bersih. Dan jikalau pun ia punya hati busuk dan jahat. Aku akan berusaha membimbingnya."
"Sok sok kamu, kamu mau bertahan denganku. Karena aku ini cantik." Ruby memonyongkan bibirnya, dengan ekspresi wajah angkuhnya.
__ADS_1
"Itu alasan ke seribu, aku mau bertahan sampai detik ini karena aku sudah menikahimu, karena memikirkan perasaan orang tuamu dan sekarang alasan terkuat ku bertahan, karena di rahimmu sedang tumbuh darah dagingku." Ujar Ali dengan mata berkaca-kaca. "Kalau aku tak serius dalam pernikahan ini. Aku akan terima ajakan nikah Khairiah. Dia ikhlas menerima aku apa adanya. Menerima diriku yang punya cacat fisik dan miskin ini."
"Oouuw... Kamu mau banggakan diri, karena ada wanita yang menyukaimu." Ruby tersinggung, ia menatap kesal Ali.
"Tidak, aku hanya ingin kau tahu. Bahwa aku serius membina biduk rumah tangga denganmu. Apalagi kamu sedang mengandung anakku. Ikhlaslah menerima segala kekuranganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu." Ujar Ali dengan lirih, keduanya mata berkabut sudah.
Ruby dibuat terdiam, ia tak sanggup menatap mata Ali yang terlihat penuh kesedihan itu. Kadang kadang ia sadar, kalau ia memang jahat pada suaminya itu.
"Sudahlah jangan bilang seperti itu. Seolah aku ini adalah wanita paling jahat di dunia ini. Tak ada yang mengerti dengan gejolak bathin yang ku alami saat ini. Semuanya menyuruh saya ikhlas, sabar. Coba mereka dalam posisi saya. Ditinggal kekasih disaat hari pernikahan dan ternyata ia mengalami kecelakaan." Ujar Ruby dengan terisak. Mengelus dadanya yang terasa sesak.
"Aku, aku mengerti. Makanya aku mau ikutin semua maumu. Tapi, ku mohon. Hargai aku, jangan hina aku lagi. Aku, aku tahu diri." Ali jadi emosional. Ia pun melorot kan tubuhnya di lantai dapur itu dan bersandar di dinding, dengan perasaan yang hancur. Ia merendahkan dirinya di hadapan sang istri.
"Aku sadar, aku ini tak pantas untukmu. Dilihat dari celah manapun. Kamu cantik, aku cacat, kamu kaya, aku miskin, kamu punya keluarga lengkap, sedangkan aku, aku hidup sebatang kara di dunia ini. Jangan benci aku, karena kelemahan ku itu..!" lirih Ali, ia pun tak bisa menahan diri lagi. Ini untuk pertama kalinya ia menangis di hadapan orang lain.
"Jikalau suatu saat, kekasihmu kembali, aku ikhlaskan kamu kembali padanya. Tapi, ku mohon. Izinkan aku membawa anakku. Karena hanya dia harta yang kumiliki di dunia ini." Ali menyeka air matanya, mengusap wajahnya yang terasa tegang itu berulang kali. Kemudian memberanikan diri menatap Ruby yang tercengang melihatnya.
__ADS_1
Ruby yang tak tahan mendengar jeritan hatinya Ali. Memutuskan meninggalkan tempat itu. Masuk ke kamarnya dengan perasaan yang sangat bersalah sekali.
TBC