Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Sabar


__ADS_3

Sebulan pun berlalu Ruby merasa semakin tersiksa dengan kehamilannya. Ia mengalami morning sick parah. Hingga ia harus dilarikan ke rumah sakit. Karena makanan selalu dimuntahkan setiap kali masuk ke mulutnya.


Selama tiga hari, wanita itu dirawat di rumah sakit. Ia meminta pulang, karena merasa bosan. Jadi perawatan dilanjutkan di rumah.


"Hu...Hu....Hu... Sudah ku bilang, ini digugurkan saja Mak. Ini rasanya sakit sekali...!" ujarnya terisak, mengadu pada sang ibu. Sambil memegangi perutnya yang terasa tak nyaman. Karena baru selesai muntah.


"Sabar sayang, emang ibu hamil ya seperti ini." Mama Nisya, memijat mijat kaki sang putri, yang selalu mengeluh kesakitan.


"Tapi, kata mama saat mengandung aku. Gak mengalami seperti ini." Masih bicara penuh kekesalan. Ruby sangat tak mengharapkan kehamilannya.


"Ya, karena ibu ikhlas saat mengandung kamu. Makanya bawaannya enteng."


"Iihh... Mama koq bicara seperti itu. Jelaslah Mama ikhlas, mama dan ayah saling cinta." Bicara masih dengan muka kusutnya.


"Makanya ikhlaskan sayang. Terima takdir, jangan sia sia kan hidupmu dengan mengeluh seperti ini. Kapan sih, kamu sadarnya nak." Ujar Mama Nisya kesal pada Ruby. "Jangan mengharapkan yang tak mungkin terjadi. Gak usah kamu bangun impianmu untuk bersama lagi dengan Si Agam. Ingat, kamu sudah menikah dan sedang hamil. Jangan karena tak bersyukur mu ini, nantinya kamu jadi kufur."


Malas sudah Mama Nisya bicara dengan si Ruby yang keras kepala dan susah dibilangin.


"Assalamualaikum....!"


"Walaikum salam...!" jawab Mama Nisya ramah. Berjalan cepat keluar dari kamar Ruby untuk membuka pintu. Menyambut kedatangan menantu idaman dengan senang hati.


"Gimana keadaan Ruby Bu?" tanyanya setelah membuka sepatu dan menempatkannya di rak.

__ADS_1


"Ya seperti biasa. Tetap menyebalkan!"


Ruby yang mendengar percakapan sang ibu dengan suaminya itu dibuat jengkel sendiri di kamar. Ia dikatakan menyebalkan.


Ali tersenyum tipis menanggapi ucapan ibu mertuanya itu.


"Sabar, sabar ya nak hadapi Ruby. Doa kan dia agar cepat dapat hidayah. Agar sadar, ikhlas dengan takdir yang terjadi." Ujar Mama Nisya sedih.


"Iya Bu." Ali tersenyum penuh kebahagiaan. Ruby yang tetap mempertahankan kandungannnya, membuatnya senang akan hal itu.


"Banyak sekali belanjaanmu Ali..!" membongkar plastik yang ada di atas meja makan. "Waahh.. Ini makanan untuk Ruby."


Mama Nisya, memasukkan sebagian buah jeruk, semangka, anggur ke dalam kulkas.


"Tadi, aku dapat rezeki Bu. Alhamdulillah... Sisanya bisa ditabung untuk lahiran Ruby nanti." Menyodorkan gelas berisi susu kepada sang ibu mertua.


"Kamu saja yang antar ke kamar. Istri hamil itu harus diperhatikan lebih ekstra. Apalagi sekarang Ruby mengalami morning sick parah." Jelas Mama Nisya.


"Iya sih Bu. Pinginnya sih gitu. Tapi, tahulah Ruby gak mau dekat dekat denganku sekarang. Apalagi jikalau mualnya kambuh. Aku dibuat jadi sasaran." Sahut Ali sedih.


"Sabar.... Sana kasih susunya."


Dengan perasaan yang tak enak. Ali akhirnya menyeret kakinya masuk ke kamar sang istri. Ia melempar senyum manis pada Ruby yang kini masih berbaring di atas ranjang, menatapnya malas.

__ADS_1


"Napa senyum senyum? seneng lihat orang menderita!" ketus Ruby menatap malas Ruby.


Astaga ..


Semua serba salah. Senyum pun salah.


"Mana seneng lihat istri sendiri sakit. Ini minum susu dulu. Agar kamu sehat punya tenaga. Terus anak kita juga dapat nutrisi yang cukup.' Ali yang grogi, meletakkan segelas susu bumil itu di atas meja.


"Apa maksudnya letakkan susunya di sana? gak lihat apa, aku gak bisa menjangkaunya.". Ujar Ruby kesal, melotot pada Ali, yang terlihat grogi.


Ali pun heran dengan dirinya sekarang. Setiap melihat sang istri. Ia akan senyam senyum.


"Hehhehe... Takut tumpah, kena tendang." Jawab Ali nyengir. Mengambil gelas berisi susu itu. Ia yang hanya punya satu tangan. Harus meletakkan gelas itu di lantai. Kemudian membantu sang istri untuk duduk.


"Pelan pelan dong.. kasar banget sih!" kesal pada Ali, yang tak sengaja mengangkat punggung Ruby dengan sedikit kuat agar bisa duduk.


Padahal Ali merasa melakukannya lembut. Tapi, Ruby protes. Dikatakan perlakuan Ali kasar.


"Maaf...!" menyodorkan gelas berisi susu.


"Aku saja yang megang." Bicara masih dengan ekspresi wajah masam. Yang membuat Ruby terlihat jadi gemesin kalau marah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2