Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Terungkap


__ADS_3

"Ruby.... Kamu di sini..?" suara pria itu terdengar dari lantai dua. Ruby langsung mendongak, menatap lekat pria yang kini berjalan menuruni anak tangga.


Ruby yang emosional tak bisa berfikir jernih lagi. Ia sudah sangat ingin mengetahui keberadaan Agam. Pria yang dicintainya itu.


"Amang Boru..!" Ruby secara bergantian menatap Kedua orang tua Agam, yang kini sudah ada di hadapannya.


"Kita duduk dulu ya?" Ibunya Agam, menuntun Ruby duduk di sofa mewah berwarna maron di ruang keluarga.


Mini mereka sudah duduk di sofa mewah itu. Ruby dan ibunya Agam duduk di sofa yang sama. Sedangkan ayahnya Agam, duduk di sofa tunggal di hadapan mereka.


Ruby menilik heran ekspresi wajah kedua calon mertua nya yang gagal itu. Orang tuanya Agam, menunjukkan ekspresi wajah sedih yang tak berkesudahan. Hal itu membuat Ruby semakin bingung dan penasaran.


"Bou, sebenarnya ada apa? kenapa kalian terlihat sedih? tak mungkin kan kalian sedih melihat aku yang datang ke sini?" ucap Ruby, masih menatap lekat Ibunya Agam, yang masih terlihat sedih.


"Ruby... Kalau kamu kesini mencari keberadaan Agam. Maka kamu tak akan menemukannya." Ibu Siti bicara dengan berderai air mata.


"Abang Agam di mana sekarang Bou. Aku tak akan memaksa dia kembali padaku. Aku hanya ingin tahu, apa alasan dia meninggalkanku di saat hari pernikahan kami.


Hhuufftt...


Ibu Siti menarik napas berat. Ia perlu oksigen banyak. Dadanya sudah terasa sesak. Ia bisa pingsan lagi, jikalau membahas anak sematang wayangnya itu.


"Bou.. Sebenarnya ada apa?" Ruby semakin dibuat penasaran tentang Agam.


"Kami tak menyangka, kamu akan mencari Agam, hingga kesini Nak. Kami pikir kamu sudah bahagia dengan suamimu." Ibu Siti, kembali buka suara. Mengelus lembut lengan Ruby yang terlihat bingung.


"Mana mungkin aku bahagia Bou. Itu pernikahan paksa." Jawabnya dengan menitikkan air mata.


Huufftt..

__ADS_1


Ibunya Agam, kembali menghela napas berat. Kemudian wanita paruh baya itu memutus pandangan nya dengan Ruby. Dan ia pun mulai membuka cerita.


"Sepulang dari rumahmu. Di perjalanan kami dikejutkan dengan kejadian laka lantas. Mobil yang ditumpangi Agam, mengalami kecelakaan, mobil itu menghantam pembatas jembatan. Asisten nya Agam, meninggal di tempat. Sedangkan Agam tidak ditemukan keberadaannya hingga saat ini."


"TIDAK....!" teriak Ruby kencang sekencangnya. Saking kencangnya teriakan itu terdengar hingga keluar pagar.


Ali yang mendengar teriakan sang istri tentu saja dibuat panik. Dugaan dugaan negatif langsung memenuhi pikirannya. Ia beranggapan terjadi perkelahian di dalam rumah.


Ali dengan cepat turun dari mobil. Berlari cepat dengan kaki pincangnya ke dalam rumah itu. Tentu saja diikuti oleh Dirga sang supir, yang dari tadi mengajak ngobrol pak Security.


Sesampainya di dalam rumah. Ali melihat sang istri menangis histeris dalam rengkuhan ibunya Agam. Kedua wanita itu menangisi pria yang sama.


"Bou.... Kenapa aku gak dikabari....?" masih terisak dalam dekapan ibunya Agam.


Ibunya Agam menggeleng lemah. "Untuk apa sayang? kamu sudah menikah. Kami tak mau mengganggumu. Kamu sudah punya keluarga baru." Ibunya Agam terlihat kesusahan bicara, karena hidungnya terasa sumbat, banyaknya ingus di dalam rongga hidungnya. Karena terlalu lama menangis.


"Kenapa bisa seperti itu Bou? kenapa aku gak dengar kabar itu..?" tanya Ruby dengan frustasinya. Jembatan tempat Agam kecelakaan tidaklah jauh dari rumahnya. Hanya berjarak 10 KM.


Jembatan itu bisa dikatakan sebagai jembatan muara. Karena akhir dari sungai itu sudah dekat dengan laut.


"Bou gak tahu sayang. Bou pikir kamu tahu tentang kecelakaan itu." Mengurai pelukan nya Ruby. Dan keduanya kini saling tatap dengan mata yang sembab.


Sedangkan ayahnya Agam. Hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca.


"Gak Bou, aku gak tahu." Melap sendiri air matanya dengan jemarinya.


"Bou, antarkan aku ke makam Abang Agam." Ruby terlihat semakin bodoh. Tadi kan ibunya Agam, sudah katakan kalau jasadnya Agam tak ditemukan.


Tangis ibunya Agam, semakin kencang mendengar ucapan Ruby.

__ADS_1


"Sampai sekarang, jasadnya Agam tidak ditemukan sayang. Segala usaha telah dilakukan untuk mencari keberadaannya." Ibunya Agam terlihat mengusap wajahnya kasar. Wajahnya sudah terasa tegang karena menangis kejar.


Ruby terdiam, rasanya tubuhnya layu sudah. Wajahnya sangat pucat seperti tak dialiri darah. Pantas selama ini dia tak bisa hidup dengan tenang. Ia selalu dibayang bayangin oleh sang kekasih. Ternyata hal buruk telah menimpa kekasih hatinya itu. Dia sangat yakin, Agam tak akan mengkhianati nya. Ia bisa rasakan kalau Agam sangat mencintainya. Makanya ia kesal pada sang Ayah, yang langsung menikahkan nya dengan Ali.


"Abang Agammm....


Hu.... Hu ..... Hu...


"Kenapa ini semua terjadi Ya Allah? kenapa jasadnya tidak ditemukan? kenapa kenapa...?" Tubuh Ruby bergetar karena menahan tangisnya.


Ia sedih sekali setelah mengetahui kejadian ini. Jembatan tempatnya Agam kecelakaan adalah jembatan yang setahu dia, disekitar itu tak ada penduduknya dan sungai tempat Agam tercebur terdapat banyak buaya. Apakah tubuh Agam sudah dimakan buaya? sehingga jasadnya tak ditemukan?


Hu...Hu..Hu..


Hiks.. Hiks... Hiks...


Hatinya Ali hancur dan sakit melihat keadaan istrinya yang kini sudah terduduk lemas di atas ambal. Bersandar ke badan sofa dengan ekspresi sedihnya. Wajahnya sudah sangat pucat. Air mata terus saja berderai tiada henti.


Ingin rasanya ia mendekati sang istri. Memeluknya dan memberi kekuatan serta semangat. Tapi, Ali takut melakukan itu. Ia takut dapat sikap penolakan dari Ruby. Apalagi Ribu saat ini dalam keadaan tertekan.


Jadilah Ali hanya memperhatikan sang istri dari ruang tamu, yang memang bisa jelas terlihat ke ruang keluarga.


"Hiks... Hiks... Hiks... Abang Agam.... Kamu masih hidup kah? Hiks... Hiks... hiks..!"


Bruugkk


Ruby ambruk di lantai.


TBC

__ADS_1


__ADS_2