Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Menarik diri


__ADS_3

Sesampainya di rumah Haji Zainuddin. Ali malah tak berani menceritakan masalahnya rumah tangganya. Setelah dipikir-pikir, mengadu kepada orang tua. Malah akan lebih menimbulkan masalah baru.


"Koq telat kamu datangnya Ali?" tanya Abdul, salah satu rekan kerjanya. Biasanya pukul 12.30 Wib ia sudah ada di peternakan ayam milik Haji Zainuddin. Bisa lebih cepat atau lebih lama, tergantung kesibukan di kampus. Ia hanya bekerja setengah hari. Karena paginya ia kuliah.


"Banyak urusan Bang di kampus, ngerjain skripsi." Jawabnya dengan tak bersemangat. Tapi, kedua sudut bibir tetap melengkung sehingga menciptakan senyum terpaksa.


"Ohh.. Tadi Pak haji cariin kamu."


"Iya bang. Nanti setelah kerja, aku mampir ke rumah pak Haji." Jawab Ali kembali fokus bekerja. Memberi pakan ayam serta membersihkan kandang. Walau hanya satu tangan yang bisa digunakan untuk bekerja. Ali tetap bisa melaksanakan tugasnya dengan cepat dan rapi.


Pukul 17.35 Wib, Ali sudah berada di pekarangan rumah mertuanya. Yang tak jauh dari tempat peternakan ayam mereka.


"Cepat Ali, dari tadi bapak nungguin kamu." Haji Zainuddin langsung melambaikan tangan, memberi kode agar Ali mempercepat langkahnya. Menghampirinya di teras rumah.


"Iya pak." Jawab Ali dengan tersenyum tipis. Mana mungkin ia akan bercerita tentang masalah rumah tangganya pada pria tua di hadapannya. Mertuanya itu sudah sangat berharap, ia bisa meluluhkan hati Ruby sebelum satu tahun.


Dan Haji Zainuddin memang sangat ingin ia jadi menantunya. Tentu permintaan haji Zainuddin itu membuatnya sangat terharu. Ternyata ia masih berharga dimata Haji Zainuddin. Sehingga memberi kepercayaan padanya menjadi suami Ruby. Padahal ia cacat, miskin dan tak punya keluarga. Ia tak tahu siapa ayah ibunya. Neneknya tak pernah menunjukkan foto orang tuanya.


"Masukkan beras dan buah buahan ini ke mobil." Titah Haji Zainuddin, menunjuk karung di sebelahnya.


"Iya pak." Ali dengan cepat memindahkan karung berisi beras, buah pisang, mangga ke bagasi mobil miliknya haji Zainuddin.


"Bu, ayo Bu cepat. Kita harus sampai sebelum magrib." Ujar Haji Zainuddin dengan nada tinggi. Karena sang istri. Mama Nisya masih ada di dalam rumah.


Ali yang mendengar ucapan Haji Zainuddin dibuat penasaran. Mau ke mana mertuanya itu.


"Ayo Ali masuk, Napa malah bengong disitu?" Haji Zainuddin masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Kepalanya kembali terlihat nongol dari jendela mobil.


"Ayo Ali naik!" titahnya dengan kode matanya.


Ali yang bingung akhirnya mendekati sang ayah mertua.


"Kita pulang sama, ayo naik!" ujar Haji Zainuddin masih dengan ekspresi wajah bahagia. Dan terlihat mama Nisya sudah masuk ke dalam mobil duduk di bangku barisan kedua.

__ADS_1


"Ibu kangen sama Ruby. Sudah dua minggu gak lihat dia." Setelah mobil melaju. Mama Nisya buka suara.


Dulu saat masih gadis, setiap akhir pekan Ruby pasti pulang ke rumah orang tuanya. Dan setelah enam minggu menikah. Putrinya itu baru sekali datang ke rumah orang tuanya.


Ali dibuat tak tenang. Gimana kalau sampai di rumah mereka. Ruby mengadu pada ibunya tentang kejadian tadi pagi. Gimana kalau Ruby, menambah nambah cerita. Karena, Mama Nisya tidak terlalu mendukung sang putri menikah dengannya.


Gimana kalau cerita Ruby mempengaruhi penilaian Haji Zainuddin padanya. Ia bisa tak dianggap anak lagi. Dipecat dari kerjaan.


Tidak... Tidak...


Ya Allah... Semoga Ruby tak menceritakan kejadian tadi pagi.


Ali membathin, kedua tangannya terlihat seperti orang berdoa.


"Kamu kenapa Ali?" Haji Zainuddin yang lagi menyetir melirik Ali yang terlihat tak tenang.


Ali menoleh ke arah ayah mertua. Melemparkan senyum tipis, guna menutupi dirinya yang diselimuti kekhwatiran besar.


"Gak apa apa Ayah." Ujarnya kembali menatap ke badan jalan.


Sesampainya di depan rumah kontrakan. Waktu sholat magrib sudah tiba.


Tentu saja Haji Zainuddin langsung mengajak Ali ke Mesjid. Sedangkan Mama Nisya masuk ke dalam rumah mereka. Hal ini semakin membuat Ali tak tenang. Mama Nisya dan Ruby berdua di rumah. Tamatlah riwayatnya, kalau Ruby bicara macem macem pada ibu mertuanya.


Setelah selesai sholat magrib. Haji Zainuddin malah ngajak Ali cari makanan kesukaan Ruby. Yaitu mie ayam. Warung penjual mie ayam yang didatangi mereka sedang ramai. Sehingga mereka harus antri.


Saat antri panjang. Ponsel Haji Zainuddin bergetar di dalam saku celananya. Ia pun merogoh ponselnya. Ada sang istri yang menelpon.


"Assalamualaikum... Ayah."


"Walaikum salam.." Jawab haji Zainuddin lembut.


"Lama kali sholatnya, kenapa belum pulang. Ini Ruby sakit, demam tinggi. Kita harus bawa berobat. Cepat pulang...!" terdengar suara sang istri penuh kekhawatiran di sambungan telepon.

__ADS_1


"Iya, iya Bu. Ini lagi beli mie ayam. Lagi antri." Jawab Haji Zainuddin dengan tak tenang. Karena mendengar kabar putrinya sakit.


Setelah panggilan terputus ia pun melirik Ali yang duduk di sebelahnya.


"Ali tanyakan lagi pesanan kita masih lama atau gak. Kalau masih lama, dan bisa di cancel kita pulang sekarang." Haji Zainuddin telihat tak tenang. Tangannya masih memegang ponsel.


"Iya pak " Ali menghampiri tempat Medan mie ayam. Menanyakan pesanan sudah selesai atau belum. Dan ternyata sudah selesai di bungkus.


"Kamu kenapa gak bilang kalau Ruby sakit. Apa karena Ruby sakit, makanya kamu telat datang bekerja?" tanya Haji Zainuddin melirik Ali yang tampak bingung.


"Oouuww..... i, iya Pak." Ali gak tahu harus jawab apa. Jadilah ia tergagap. Tak mungkin juga ia mengatakan kalau ia tak tahu soal Ruby yang sakit.


Ya Allah.. Apa karena kejadian tadi pagi. Ruby jadi sakit?


Ali bermonolog, tangannya terlihat beberapa kali mengusap wajah nya yang terasa tegang. Kali ini riwayat nya benar benar tamat. Penilaian gaji Zainuddin akan buruk padanya. Masak ia tak tahu sang istri sakit.


Semoga Ruby tak menceritakan kejadian tadi pagi, ya Tuhan. Bagaimana pun pasti aku yang akan salah nanti. Ali berdoa dalam hati. Semoga semuanya baik baik saja.


Kini mereka sudah sampai di rumah. Haji Zainuddin bergegas masuk ke dalam rumah. Menghampiri sang istri dan putrinya di kamar. Ternyata istri dan anaknya, terlihat sudah rapi dan siap untuk pergi berobat.


Mama Nisya memapah Ruby keluar dari kamar. Dan Haji Zainuddin berjalan cepat ke luar, untuk menyalakan mesin mobil.


"Besok, kamu gak usah masuk kerja Ali. Lihatlah istrimu sakit, malah kau tinggal di sini." Ujar Mama Nisya dengan nada kecewa. Ia merasa Ali tak memperhatikan putrinya.


Ruby memang lemas sekali. Untuk berdiri saja ia tak bisa. Saat mencoba bangkit. Ia akan terhuyung.


Setelah kepergian Ali, tadi siang. Ia kembali menangis, meratapi nasibnya. Ia setres, imun tubuh langsung drop. Tiba tiba saja ia merasa tubuhnya sakit semua. Tubuh nya juga terasa panas. Kepala sakit tujuh keliling. Serta perut yang terasa begah, karena belum makan siang.


Ali jadi merasa suami tak berguna. Di sinilah ia merasa tak pantas punya istri. Ia tak bisa diandalkan karena cacat. Misalnya tak bisa menggendong sang istri ala bridal style, seperti yang dikatakan oleh Ruby. Tak bisa bawa kendaraan. Karena hanya satu tangan yang bisa digunakan.


Ali yang merasa tak berguna itu, akhirnya hanya bisa menunduk. Di tempat duduknya. Menebalkan telinga, atas umpatan ketidak senangan Mama Nisya padanya.


"Sudah lah Ma. Yang seperti itu tak perlu dibahas lagi. Yang terpenting sekarang Ruby harus dibawa berobat. Apa gunanya memarahi Ali. Kata Ali tadi, saat ia keluar rumah. Ruby masih baik baik saja." Ujar Haji Zainuddin dengan nada kesal pada sang istri. Yang menunjukkan sikap nya tak puas punya menantu seperti Ali.

__ADS_1


TBC


__ADS_2