
Aysha masih merasa tak nyaman dengan kehadiran Ruby. Padahal Ruby sudah mencoba segala cara mendekati putrinya itu. Mulai dari memberikan boneka boba hingga banyak mainan.
"Ibu ballu, koq masih di ciini..?" Tanya Aysha dengan tatapan malas kepada Ruby. "Aku dan ayah mau tidull.." Ia kembali menjauhkan tubuh Ruby dari atas tubuhnya Ali. Ia tak mau ada wanita lain menyentuh ayahnya. Ya Ruby sudah memasrahkan kepalanya di dada bidanganya Ali.
Ruby pun menjauh dengan ekspresi wajah sedih. Ia ternyata belum punya jiwa yang besar, menerima sikap sang putri yang masih menganggapnya orang asing.
Ali sungguh terkejut dengan sikap Ruby yang langsung menarik diri. Ia pun membalik badannya. Menghadapi ke arah Ruby. "Jangan tersinggung, Aysha belum terbiasa saja. Namanya juga anak kecil." Melap air mata sang istri. Dan Ali mengubah posisinya jadi duduk. Sang putri langsung duduk di pangkuan Ali. Menatap keduanya dengan heran.
"Ibu ballu, kenapa ayyah? sakit...?" Aysha menatap lekat Ali. Anak itu sungguh dewasa sekali.
"Gak sayang, ibu gak sakit." Jawab Ali, menatap sekilas sang putri dan kini ia tersenyum manis pada Ruby. Memberi isyarat dengan matanya. Agar sang istri diam saja. Karena putri mereka sebenarnya sudah ingin tidur. Matanya sudah barat sekali. Tapi, anak itu menahannya.
"Oouuw..!" Aysha pun menguap. Ali kembali meminta Aysha turun dari pangkuannya. Putrinya itu mengerti dengan perintah Ali. Setelah Ali kembali berbaring. Aysha langsung memeluk Ali, tidur di atas dadanya yang bidang. Pria itu mengusap usap punggung sang putri, sambil bernyanyi kasidah. Sesekali Aysha terlihat tak nyaman. Merengek kakinya juga ingin di usap usap. Di saat Ruby ikut ikutan mengusap punggung sang putri, ia pun akan menatap tajam Ruby. Tak suka wanita itu menyentuhnya.
Ruby pun menarik tangannya dengan mata berkaca kaca.
"Sabar ya? nanti juga ia akan terbiasa, dan menerima kehadiranmu." Ujar Ali pelan dengan ekspresi wajah ikut sedih. Ia juga merasa bersalah. Tak seharusnya ia dulu membawa Aysha pergi. Karena ternyata istrinya itu mempertahankan rumah tangga mereka..
"Iya," melap air mata dengan jemarinya sendiri. "Aku ke kamar mandi dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Ali, Ruby turun dari ranjang dan berjalan cepat ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi. Ruby menumpahkan segala rasa sedih, yang ia rasakan dua tahun ini. Sedih, karena dikatai tetangga, sedih karena dimarahi kedua orang tua. Sedih karena mengingat semua sikap kasarnya pada Ali. Ya dua tahun ini hidupnya Ruby penuh dengan penderitaan.
Tok
Tok
"Ruby kamu ngapain? kenapa lama sekali di dalam?" terdengar suara Ali penuh kekhawatiran.
"Iya, ini sudah selesai." Sahut Ruby, ia dengan cepat membasuh wajahnya. Ia malu jika jeluar dengan wajah sembab. Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan kikuknya. Karena mata Ali mengawasi gerak geriknya. Ia sampai berulang kali melipat handuk yang ada di tangan. Ia lupa sudah di mana letak jemuran handuknya.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" Ruby melirik Ali dengan malu malu. Masih bingung mau melakukan apa. Padahal ia kan mau menyimpan handuk di rak tempat nya
__ADS_1
"Kangen, kangen sekali..!" memeluk Ruby dari belakang. Yang membuat bulu roma wanita itu meremang. Bahkan kini handuk yang ada di tangan terjatuh sudah.
Ali membenamkan wajahnya pada ceruk leher Ruby, menghirup aroma wangi sampo yang gadis itu pakai. Sangat menyegarkan indera penciumannya. Ruby bergidik geli, hembusan napas Ali, membuatnya jadi bergairah.
Wanita itu jadi mematung. Memasrahkan lehernya dikecup lembut penuh cinta sang suami. "Beneran cinta samaku?" bisik Ali sambil menggigit kecil daun telinga Ruby.
"Ho..oh..!" jawabnya tersipu malu dan gugup. Ruby baru menyadari kalau suaminya itu sangat romantis.
"Eemmm... Kalau kita buat adik Aysha, kamu siap?" kini sudut bibir yang tersungging itu membuka, menciptakan atawa keras. Kali ini ucapan Ali menurutnya lucu.
Ali membalik tubuh Istrinya itu, sehingga kini mereka berhadapan hadapan. Tangan Ruby berlabuh di bahu sang suami. Sedangkan Ali kini menjawir dagu lancip sang istri. Kedua bibir Ruby terbuka sedikit. Seperti memberi kode ingin dikecup.
Syuurr...
Darah rasanya tumpah dari Jantung keduanya. Tatkalah, Ali sudah mendapatkan bibir lembutnya Ruby yang ranum. Ali mulai menggerakkan bibirnya, mengecap perlahan bibirnya Ruby yang kaku itu. Ya, Ruby diserang gugup yang akut. Entah kenapa ia merasakan gugup yang teramat. Sikap Ali membuatnya mati kutu.
Decapan lembut penuh cinta, membuat Ruby jadi berhasrat. Ia pun membalas pangutan Ali. Hal itu membuat Ali semakin bergairah. Kini tak ada lagi kecupan lembut. Tapi, kecupan saling menuntut. Saling menggigit kecil di bibir. Lidah saling membelit.
Satu ******* lepas dari mulutnya Ruby. Tatkala tangan nakal sang suami, sudah beraksi di gunung kembar. Mendengar ******* itu, membuat bira-hi Ali tersulut. Ia ingin lebih. Dengan lembut ia menuntun Ruby untuk berbaring di ranjang.
Ia harus mengekspresikan rasa cinta nya pada Ruby saat ini. Ia harus memuaskan sang istri. Pasangan yang dilanda kerinduan membuncah itu, terus melakukan adegan yang membuat darah berdesir hebat. Tak bisa diungkapkan lagi, Gimana rindunya yang mereka rasa kan berdua.
"Aakkhh... Ooowwwgghh...!" saking terlalu menikmati permainan, Ruby tak bisa menahan dirinya untuk tidak mende-sah. Ali sang suami, sangat pintar membuat nya kejang kejang. Tak ada satu bagian tubuh nya yang terlewat dari sentuhan Ali.
Ranjang itu bergoyang hebat, di saat sang suami, menggenjot kuat gua kenikmatan itu. Semakin kuat, Ruby semakin merasa nikmat.
Hua... Hua... Hua...
"Ayyahh....!"
Suara tangis Aysha, membuat Ali langsung menarik selimut, untuk menutupi tubuh mereka.
__ADS_1
Aktifitas memompa terhenti. Ruby yang hampir terbang ke awang awang dibuat kesal. Karena sedikit lagi ia akan mencapai puncak. Tapi, Ali menghentikan aksinya.
"Kenapa berhenti..?" Ujar pelan penuh frustasi. Memukul manja dadanya Ali.
Ali memeluk Ruby, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. "Aysha terbangun." Bisik Ali, mereka berdua masih sembunyi dibalik selimut.
"Aysha hanya ngigau." Jawab Ruby pelan. Ya, tak terdengar lagi suara tangis Aysha. Untuk meyakinkan dugaannya. Ia pun menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, mengintip apakah Aysha beneran ngigau. "Aysha sudah tidur sayang. Ayo lanjut lagi." Ujar Aysha dengan frustasinya.
"Iya sayang, itu pasti." Ali mulai menggerakkan pinggulnya. Dan Ruby mulai konsentrasi untuk menikmati. Ia juga sudah membuang selimut yang menutupi tubuh mereka.
Hua....
Ruby dengan cepat meraih selimut, sukur masih bisa dijangkaunya. Aysha kembali menangis. Mereka saling pandang di balik selimut dengan menduga duga apakah putri nya masih ngingau atau tidak.
"Ayah...!"
Deg
Ternyata Aysha beneran terbangun.
TBC
Ramaikan juga Novel ku yang tak kalah serunya say.
#Hasrat Liar Istri Simpanan
#Dipaksa Menikahi Pariban
#Gairah Istri Kecilku
#Aku Madu Ibuku
__ADS_1