
Setelah beristirahat makan dan minum di rest area yang ada di kota Tarutung. Perjalanan pun dilanjutkan. Jarak yang harus mereka tempuh Hinga sampai kota Medan, masih sangat jauh.
Sepanjang perjalanan Ruby sangat rewel. Ia mengeluh sakit pinggang, badan terasa sakit semua, kepala pusing, serta perut yang terasa tidak nyaman. Setiap satu jam, pasti minta berhenti. Adalah yang ingin pipis, BAB, bosan di dalam mobil. Dan masih banyak keluhan lainnya, yang membuat Ali dan sang supir geleng geleng kepala.
Disaat itu, Ali sedikit heran dengan sikap sang istri. Yang terlihat lebih manja dan ingin selalu dekat dengannya. Ali tak diizinkan Ruby duduk di sebelah supir. Ia ingin pria itu duduk di sebelahnya. Membuat bahu Ali sebagai sandaran untuk tidur, padahal kalau ingin tidur, tinggal menstel bangku senyaman yang kita mau. Tapi, Ruby tak mau tidur di jok, Katanya ia semakin mual dibuatnya.
Bukan itu saja permintaan aneh Ruby. Wanita itu bahkan tak segan segan meminta Ali memijat kakinya yang terasa kram, karena terlalu lama menggantung. Juga memijat punggungnya yang pegal, terus lanjut memijat kepala sang istri, terutama bagian pelipis.
"Kita sudah di mana?" Tanya memicingkan sebelah matanya, menatap Ali yang ada di hadapannya.
Saat ini Ruby tengah tidur berbantalkan pahanya Ali. Dan ia meminta suaminya itu memijat mijat pelipis, kening serta kepalanya. Ali yang memang sangat sayang dan cinta dengan Ruby. Tentu saja dengan senang hati melakukan permintaan istrinya itu. Ia bahkan tak bisa memejamkan matanya barang semenit, karena ulah Ruby yang diluar nalar.
Ali memperhatikan jalanan. Ya ternyata mereka sudah memasuki kota Medan. "Kita sudah sampai di kota Medan." Ujar Ali lemah. Semalaman ia tak tidur, karena sibuk mengurus Ruby. Bahkan kini pahanya sudah terasa kram, tiga jam Ruby tidur nyenyak berbantalkan pahanya.
__ADS_1
"Apa.. kita sudah sampai?" Ruby langsung mendudukkan bokongnya. Kedua matanya celingak celinguk memperhatikan sisi kanan dan kiri jalan.
Sedangkan Ali langsung meregangkan otot ototnya yang terasa kaku, akibat Ruby yang tidur berbantalkan pahanya.
"Bang Dirga, tahu kan alamat yang ku berikan semalam?" tanya Ruby dengan semangatnya. Ia tak memperdulikan lagi Ali yang dari tadi memijat mijat kakiny, karena kram.
"Tahu Dek. Ini kita mau ke arah sana." Jawab sang supir ramah.
"Ia." jawab Ali malas. Tak mau menatap ke arah Ruby, yang wajahnya terlihat berbinar binar. Walau pencahayaan di dalam mobil itu masih samar.
"Emang sekarang jam berapa sih?" Ruby heboh sendiri, merogoh ponselnya dari tas nya.
"Waahh... Sudah pukul lima pagi. Ali... Kamu gak mau sholat?" kembali menepuk tangan Ali yang masih memijat mijat kakinya yang kram.
__ADS_1
Ruby sungguh excited. Karena mau jumpa dengan kekasihnya. Perasaan sang suami tak dipedulikan lagi.
"Kita sholat, di Mesjid komplek perumahan saja. Di sana mesjid sangat megah." Ujarnya masih semangat. Kemudian Ruby terlihat berfikir keras.
"Ini tanggal berapa ya?" tanya nya bingung.
"Tanggal 22 dek." Jawab Sang supir yang bernama Dirga.
Sedangkan Ali saat ini merasa sudah sangat hampa. Sesampainya di kota Medan. Dia jadi merasa menyesal mengawani Ruby, untuk menjumpai kekasih istrinya itu.
"Tanggal 22?" ujarnya dengan tak percayanya. Tangannya kini bergerak memegang perutnya.
TBC
__ADS_1