Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Samapi ditujuan


__ADS_3

Pukul enam pagi, mobil yang membawa mereka sudah parkir di depan sebuah rumah mewah berlantai tiga. Rumah itu sangat mewah, mungkin harganya ditaksir 1 Triliun.


Rumah itu sendiri berada di lokasi kediaman para konglomerat dan para pengusaha besar. Saking besarnya rumah itu sudah seperti mansion.


Ruby terlihat tegang. Tangan nya sampai berkeringat, ia sangat nervouse. Karena sudah tak sabar ingin mengetahui tentang Agam. Ia sebenarnya tak tahu, apa ia bisa bertemu dengan Agam. Tapi, setidaknya ia harus tahu bagaimana keadaan kekasihnya itu. Kenapa menghilang bak ditelan bumi.


"Ali, ini kan rumahnya?" Sang supir melirik Ali dari spion. Saat ini Ali terlihat sedih. Mukanya yang tampan menggelap sudah. Ia belum ikhlas untuk melepas Ruby pada Agam. Apalagi ia dan Ruby sudah melakukan hubungan suami istri. Ali jadi merasa memiliki hak sepenuhnya pada Ruby. Tapi, dia bisa apa, wanita yang ia cintai itu, tak mencintai nya.


"Gak tahu bang. Aku baru kali ini lihat rumah sebesar ini." Ali mendongak dari kaca mobil. Memperhatikan rumah yang sangat besar itu. Pagarnya saja sangat tinggi. Jangankan melihat rumah sebesar itu. Ke kota Medan saja, baru ini perdana buat nya.


"Iya, ini rumahnya. Aku pernah diajak ke rumah ini oleh kekasihku." Ujar Ruby dengan ekspresi bahagia, walau sebenarnya ia tegang.


Hhuueekkk


Ali sebenarnya ingin muntah mendengar ucapan sang istri. Mulutnya lancar sekali, mengatakan kekasihnya di hadapan Suami sendiri.


Astaghfirullah..!


"Kaya banget... Gimana cara masuk ke sini?" Sang supir kini sudah turun dari mobil. Memperhatikan rumah yang dominan cat putih itu dengan takjubnya.

__ADS_1


Ruby juga ikut turun dari mobil, mere-mas tangannya yang terus saja mengeluarkan keringat. Ia sungguh tak tenang. Ada perasaan gelisah menerpa hatinya yang sedang sibuk menduga duga. Ada apa dengan kekasihnya. Kenapa menghilang tanpa jejak. Dan orang tuanya juga tak bisa lagi dihubungi padahal sebelumnya komunikasinya dengan orang tua Agam sangat baik.


"Ali, kamu gak turun?" tanya Ruby, menoleh ke arah Ali yang masih duduk di dalam mobil.


"Gak, aku di sini saja." Ali tersenyum tipis pada sang istri. Menyembunyikan luka hatinya yang masih menganga.


Mana kuat dia melihat istrinya itu bertemu dengan kekasihnya. Bahkan kini ia ingin pergi saja dari tempat itu secepatnya. Ia merasa tak punya harga diri saat ini. Memberikan Isti sendiri pada orang lain.


"Oouuww... Terima kasih ya. Kalau aku tak muncul dalam satu jam, itu artinya aku sudah kembali kepada Abang Agam." Ujarnya dengan wajah yang berbinar-binar. Penuh kepercayaan diri.


Ali menggeleng dengan heran, karena ucapan istrinya yang tak tahu hukum itu. Dia kan belum ditalak Ali. Emang di negara ini, bisa Poliandri?


"Iya, semoga bahagia!" Jawab Ali tanpa ekspresi.


Ruby berbalik badan, dengan senyum mengembang di wajah cantiknya. Ia pun menekan bel yang ada di tembok pagar rumah yang tinggi itu.


Tak butuh waktu lama, pak security membuka gerbang pagar yang berwana coklat itu


"Ya, mau bertemu dengan siapa Non?" tanya pak Securitry ramah pada Ruby. Yang terlihat sangat senang.

__ADS_1


"Eemmm.. Mau bertemu Abang Agam." Ujar Ruby antusias.


"Tuan Agam..?" Pak Security terlihat bingung. Ia memperhatikan lekat Ruby dari kepala hingga kaki.


"Iya, Abang Agam. Putra dari Pak Sutan." Jawabnya tegas, yakin dengan. dijual tak salah alamat.


"Ouuww... Kalau begitu ayo masuk Bu..!" Pak Security mempersilahkan Ruby masuk dengan kode tangannya.


Yess..


Ruby sungguh sangat senang sekali. Akhirnya ia akan bertemu dengan Agam. Ia sudah setres selama lima bulan ini, karena tak ada kabar dari kekasihnya itu.


"Sebelum masuk ke pekarangan rumah gedong itu. Ruby menatap ke arah Ali yang masih di dalam mobil. Ali sama sekali tak mau menatap sang istri yang terlihat sangat bahagia itu.


"Bang Dirga, tunggu di sini saja ya. Temani Abang Ali." Ujar Ruby dengan tersenyum lebar pada Dirga sang supir.


"Iya dek " Jawab Dirga sopan.


Ruby pun akhirnya menyeret kakinya melewati gerbang pagar yang sangat besar dan panjang itu, dengan perasaan yang sangat membuncah

__ADS_1


TBC


__ADS_2