
Ruby terdiam, setelah mendengar ucapan si Dirga. Orang lain sudah mau ikut campur dalam urusan mereka. Siapapun yang melihat perlakuan nya pada Ali, pasti ia yang akan disalahkan. Karena Ali memang selalu terlihat baik di hadapan orang orang. Dan ia dengan tak tahu dirinya selalu menyalahkan Ali, atas hal yang menimpanya. Seolah itu semua adalah salah sang suami.
"Aku tak tahu masalah kalian apa. Tapi, setelah menyaksikan kejadian di rumah gedong itu. Aku tahu sekarang, bahwa ternyata kalian jauh jauh datang ke kota Medan. Hanya untuk mau menemui kekasihmu. Padahal kamu sudah punya suami.
Haaaahhh...
"Hebat sekali dirimu dek Ruby. Bisa pula kamu atur suamimu." Menatap jengah Ruby yang kini sudah mengangkat wajahnya. Hendak adu pendapat dengan sang supir yang sok ikut campur.
"Gak usah ikut campur. Aku gaji kamu mau jadi supir. Bukan mau jadi penasehat ku." Jawab Ruby tegas, menatap tajam Dirga, yang masih duduk di jok kemudi.
"Huuuuhhh... Ada wanita keras kepala sepertimu. Kalau aku jadi kamu Ali. Aku gak mau memperistri wanita ini. Wanita apaan, sudah menikah. Masih memikirkan kekasihnya. Datang jauh jauh ke sini, mau menjumpai kekasihnya. Haaahh.... Bulshit..!"
Dirga turun dari mobil itu, menyamperin Ali yang masih berdiri di sisi pintu mobil. Dan juga menatap ke arah Ruby yang masih duduk di bangku mobil.
__ADS_1
"Ini, ku kembalikan uang yang kamu kasih, tapi, setengah ya." Menyodorkan uang kepada Ruby.
"Ayo ambil...! aku gak mau nanti jadi saksi kejahatan dengan terus bersama kalian. Berurusan denganmu buat emosi tahu..!"
Ruby menantang tatapan sang supir, yang menurutnya sudah keterlaluan ikut campur dalam urusannya.
Gak mau ribut,, karena Ruby juga menunjukkan sikap perlawanan. Dirga, memutus kontak matanya dari Ruby.
"Ayo kita pergi saja. Ngapain kamu pusing pusing berurusan dengan wanita tak tahu diri seperti ini. Bisa mati berdiri kamu, atau struk lama lama bersama dia." Dirga menarik lengan Ali.
Ali menggoyangkan tangannya dari genggaman Dirga, hingga tangan itu lepas. Mana mungkin ia tega meninggalkan Ruby sendirian di kota Medan ini. Mana wanita itu tengah hamil.
"Bang, aku minta maaf. Kalau Abang merasa tak nyaman bekerja sama dengan kami. Kalau Abang ingin pergi, aku tak bisa melarang." Ujarnya dengan ekspresi wajah pasrahnya.
__ADS_1
"Ya aku memang akan pergi. Malas aku lihat tingkah istrimu itu. Sok... Gak tahu diri juga. Heran saja, kamu sebagai suami, mau menemaninya menjumpai kekasihnya. Di mana harga dirimu bro..?" Bicara dengan penuh kekesalan pada Ali, yang menurutnya sebagai laki-laki terlalu lemah.
"Pantaslah istrimu ngomongnya semena mena. Kamunya kurang tegas bro..." Si Dirga bisa bicara seperti itu, karena ia sudah nilai sifat Ruby selama diperjalanan. Ruby sesuka hatinya saja menyuruh nyuruh Ali. Pijat kakinya lah, kepalanya lah, punggung nya lah. Tapi, menyuruhnya tak ada kelembutan
"Terima kasih atas sarannya bang. Ini urusan kami. Kalau Abang tak mau jadi supir kami lagi. Ya tak apa apa." Ucap Ali ramah pada Dirga, yang masih terlihat kesal.
Ali bukannya tak bisa tegas. Ia bisa lakukan itu. Tapi, saat ini Ruby sedang tak stabil kejiwaannya. Ia baru saja dapat kabar tentang kekasihnya. Ditambah ia hamil. Jelas ia syok dengan kenyataan ini semua. Karena diawal juga Ruby sudah tak suka padanya.
Kalau Ali bersikap tegas saat ini. Ia takut, Ruby tak berterima. Yang bisa membuat wanita itu melakukan hal hal aneh. Karena Ruby pernah katakan, ia tak sanggup hidup dengan menghilangnya kekasihnya.
Ali yang merasa banyak berhutang Budi pada Haji Zainuddin. Menganggap menjaga Ruby sebagai balasannya.
"Emang iya, aku gak mau." Sang supir, menyetop angkutan yang lewat. Meninggalkan Ali dan Ruby di tepi jalan lintas itu.
__ADS_1
TBC