
Seminggu telah berlalu. Itu artinya sudah saatnya Ali menemani sang istri, menjumpai kekasihnya. Walau hati terasa sakit remuk hancur berkeping-keping untuk menemani sang istri ke kota Medan. Tapi, Ali tetap bersikap baik pada Ruby. Seolah ia tak merasa keberatan sama sekali.
Demi kebahagiaan wanita yang ia cintai. Ali rela mengorbankan perasaannya. Yang penting, Ruby bisa bahagia. Ia juga akan ikut bahagia. Karena ia tahu diri. Ia tak akan mungkin menahan Ruby untuk tetap bersamanya.
"Ali, kamu pindah ke belakang saja ya?" ujar Ruby lemah. Mereka sudah dalam perjalanan menuju kota Medan. Sudah dua jam mobil melaju, meninggalkan kota Sibolga.
Ali cukup terkejut dengan permintaan Ruby. Ia diminta duduk di bangku sebelah wanita itu. Kenapa?
"Eemmm... Emang ada apa Ruby? kamu perlu bantuan?" Ali menoleh ke arah Ruby, yang duduk di bangku barisan kedua. Sedangkan Ali duduk di sebelah Supir.
Mereka melakukan perjalanan malam. Karena dibutuhkan waktu 7-9 jam agar sampai di kota Medan. Jadi, sang supir harus ada teman ngobrol. Guna menghindari kantuk saat mengemudi.
Ruby memilih berangkat malam. Agar pagi harinya mereka sudah sampai di kota Medan. Dan tentu saja langsung menuju ke rumahnya Agam.
"A, aku, aku merasa mual. Kepalaku pusing sekali. Aku gak tahan lagi, kalau gak kita berhenti sebentar." Ruby bicara sambil memegangi perutnya yang terasa di aduk aduk
"Bang, istriku mau muntah. Kita berhenti dulu." Titah Ali panik, dari cara bicara Ruby juga sudah terdengar lemah.
"Oohh iya dek, ini kebetulan kita sudah sampai di rest area." Ujar sang supir, langsung mencari tempat parkir.
Setelah mobil berhenti. Ali langsung turun dari mobil. Membuka pintu mobil untuk Ruby. Saat pintu mobil itu terbuka. Ruby langsung muntah di hadapan Ali.
Ali sampai kena muntahan istrinya itu. Ia tak perduli kena muntah. Yang ia khawatir kan saat ini adalah Ruby. Ia membantu istrinya itu memuntahkan semua isi perutnya. Memijat lembut pundak dan punggung nya Ruby. Saat ini Ruby masih duduk di jok mobil.
Huuekkk
Hueekk...
.Hueekk
Saking sakitnya yang muntah itu. Ruby sampai menitikkan air mata. Semua isi perutnya dipaksa keluar.
__ADS_1
"Ayo minum dulu..!" Ali menyodorkan air mineral, setelah Ruby selesai muntah.
Ruby meraih botol air minum itu. Meneguknya dan berkumur kumur. Saat itu juga Ali merapikan rambut panjang nya Ruby yang tergerai, ke belakang telinga wanita itu. Tangannya sempat menyentuh kulit wajah Ruby. Terasa dingin, dan keningnya Ruby juga mengeluarkan bintik-bintik air sebesar biji jagung. Ruby seperti nya masuk angin.
"Kalau kamu merasa tak enak badan. Kita pulang saja ya? kita tunda keberangkatan. Tunggu kamu sehat. Mumpung masih dekat." Ujar Ali sedih, menatap lekat Ruby yang terlihat pucat.
"Gak..!" Wanita itu menggeleng lemah. "Aku gak sakit. Ini gara gara jalannya yang berkelok kelok." Jawabnya masih dengan suara yang lemah.
Ya mereka telah melewati jalan berkelok, dengan jurang di sisi kiri dan kanan. Yaitu Rute Sibolga - Tarutung. Selain jalannya berkelok, jalan itu juga sempit serta badan jalan yang tak mulus.
Ali pun terdiam. Sungguh tekat sang istri sangat kuat untuk menjumpai kekasihnya itu.
"Aku mau teh manis panas." Ujarnya melirik Ali yang masih berdiri di sisi mobil yang pintunya masih terbuka.
"Ya sudah, ayo .!" Ali membantu Ruby turun dari mobil itu.
"Aku masih bisa jalan. Tak usah di pegangin." Menepis tangan Ali yang menuntunnya berjalan.
Ali menggeleng lemah.
Hhuufftt...
Menghela napas berat. Kemudian mengikuti langkah istrinya itu menuju warung makan di rest area itu.
"Mau makan apa?" tanyanya pada Ruby yang kini sudah duduk di sebuah kursi meja makan.
Ali baru saja dari kamar mandi. Membersihkan celana dan sepatu nya yang kena muntahan Ruby.
"Gak mau makan, mau teh panas saja " Jawab Ruby lemah.
"Harus makan, biar perutnya gak kosong. Nanti masuk angin lagi "
__ADS_1
"Gak...!" Tolak Ruby cepat. Ia takut kalau makan, malah muntah lagi.
"Minum teh manis, mengundang angin. Mending minum air putih hangat dan makan nasi." Ali tetap maksa, ia tak mau Ruby kenapa Napa.
"Sudah ku bilang gak mau makan juga." Ruby cemberut, ia merasa sangat bad mood saat ini. Rasanya sangat sedih. Bahkan kini ia jadi menangis.
"Iya, jangan menangis." Tangan Ali menjulur melap air mata yang jatuh membasahi pipinya Ruby. Tapi, sayang tangan itu malah kena tepis.
"Jangan menangis, gak malu kamu dilihatin orang."
Ruby melempar pandangan ke seluruh penjuru warung itu. Ya benar, sebagian pengunjung warung makan itu sedang menatapnya.
Ia tentu saja malu. Ia pun akhirnya menundukkan pandangan.
Ali memesan makanan untuk nya beserta sang supir, yang memilih duduk di kursi meja lain.
Lima menit pesanan mereka telah datang. Ada soup daging yang asapnya terlihat mengepul, serta ikan mas bakar.
"Banyak banget, ini habismu?" memperhatikan menu di atas meja, dengan heran nya.
"Kamu harus makan, aku gak mau nanti repot. Jika kamu sakit. Syukur syukur nanti, kalau kamu bisa bertemu kekasihmu. Kalau nyatanya ia sudah kawin dengan wanita lain. Kamu harus siapkan energi ekstra untuk menghajarnya." Ujar Ali tersenyum kecut, melirik Ruby yang manyun. Kesal ia diledek sang suami.
"Agam ku setia, aku yakin ia belum kawin." Jawabnya dengan cemberut.
"Oohh... Iya deh " Ali menekuk bibirnya. Kembali fokus menyantap ikan bakar, yang sambalnya sangat segar.
Sedangkan Ruby terlihat menarik mangkuk yang berisi sup daging itu. Ia pun mencicipi kuah sup itu. Dan ternyata rasanya pas di lidah nya. Ia pun akhirnya ikut makan. Bahkan wanita itu minta tambah.
Ali menggeleng tak percaya melihat sikap sang istri. Sok jual mahal, padahal rakus.
TBC
__ADS_1