
Waktu terasa cepat berlalu. Dua bulan sudah Ali dan Ruby jadi pasangan suami istri. Tapi hubungan itu hanya sah di mata agama. Karena memang mereka belum mendaftarkan pernikahannya. Ini kesepakatan yang dibuat oleh Ruby dan sang Ayah.
Ruby belum mau mendaftar pernikahan antara dirinya dan Ali Ke KUA. Karena ia tak yakin akan terus membina biduk rumah tangga dengan Ali. Lagian Ali juga setuju, bahwa setelah satu tahun. Mereka akan bercerai. Pasangan itu mau bertahan, hanya karena Haji Zainuddin.
Ali sangat sibuk belakangan ini, sibuk di kampus. Mau pun sibuk mengurus peternakan sang ayah mertua. Begitu juga dengan Ruby, sibuk kerja Ia bahkan selalu pulang malam. Kesibukan keduanya membuat mereka tak pernah komunikasi. Apalagi memang Ruby selalu menghindari Ali.
Sejak kejadian pembuktian bahwa ia adalah laki laki yang normal dalam hal reproduksi pada Ruby. Keduanya tak pernah bertegur sapa. Ruby juga tak pernah lagi menyuruh nyuruh atau mencacinya. Mereka berada dalam satu atap, tapi tak pernah komunikasi.
Ingin rasanya Ali memulai percakapan. Tapi, ekspresi wajah sang istri menunjukkan tak ingin dicakapi. Ya sudah, daripada bertengkar, lebih baik Ali ikut diam. Sungguh rumah yang mereka tempati rasanya seperti neraka.
Sehina itukah dia? sehingga harus dibenci seperti itu. Sebesar itukah kesalahannya sehingga tak ada maaf. Bukan ia yang menyodorkan diri untuk jadi pengantin pengganti. Tapi, kenapa kesalahan dilimpahkan padanya.
Ali tak henti hentinya memikirkan besarnya kebencian Ruby padanya. Hanya karena ia cacat dan miskin.
Dert
Dert
Dert
Ponsel yang ada di atas lantai keramik warna putih ukuran 30x30cm bergetar. Ali merah ponselnya itu. Ia tersenyum tipis, setelah melihat nama yang menelpon. Gimana ia tak senang. Orang yang menelponnya sekarang ini telah memberikan bonus besar untuknya dan dikirim ke no rekeningnya.
"Barakallah fii umrik ya, Ali anakku. Semoga engkau selalu dalam keberkahan." Ujar Haji Zainuddin dengan tulus. Senyum tipis menghiasi wajah pria tua itu.
Deg
Ali dibuat terkejut bahagia dapat ucapan selamat ultah dari sang ayah mertua. Gimana ia tak senang. Ada orang lain yang ingat Harlah nya. Ia saja gak ingat hari ulang tahunnya.
"Aminn... Ya Allah. Terima kasih banyak, atas ucapannya pak." Ujarnya dengan senyum mengembang. Siapa sih yang tak senang, hari ulang tahunnya diingat.
"Iya sama sama. Siapkan makan malam yang enak. Sore ini kami ke rumah kalian. Kamu gak usah ke peternakan siang nanti." Ujar Haji Zainuddin masih dengan senyum tipisnya.
"Ooohh.. iya Pak. Pasti, pasti..." Sahut Ali tak kalah excited. Bagaimana mungkin ia akan mengecewakan Haji Zainuddin dengan segala kebaikan yang diberikan untuk nya. Bahkan setiap tahunnya. Haji Zainudin pasti kasih ucapan selamat ulang tahun padanya. Padahal ia tak pernah mau memikirkan hari lahirnya itu.
"Baiklah.. Assalamualaikum....!"
__ADS_1
"Walaikum salam." Panggilan video itu pun terputus.
Ali yang merasa bahagia. Karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Bergegas cepat mengerjakan tugasnya. Ia harus cepat ke kampus. Mengambil uang di ATM yang ada di area kampus. Ia akan belanja setelah urusannya selesai di kampus. Ia akan ke tangkahan, membeli ikan yang segar segar untuk dimasakmya nanti.
Saat sedang mengambil uang. ATMnya dinyatakan tidak valid. Sehingga ia tak bisa mengambil uang.
"Hadeeuuhh... Koq gak bisa digunakan? apa ini ATM sudah expired?" ujarnya memperhatikan ATM nya, yang ternyata memang sudah kadar kuarsa.
Ali memeriksa tas nya, apakah ada buku rekening di dalam tas nya. Ternyata ada, ia akan ke bank. Mengambil uang tunai dan memperbaiki ATM nya juga. Karena uang yang ada di dompetnya tinggal 20 ribu.
Ali keluar dari area kampus. Menunggu becak atau angkutan umum. Menuju bank terdekat
Saat ia sedang menunggu angkutan. Sebuah mobil jazz warna merah berhenti di depannya. Tentu ia penasaran dengan pemilik mobil yang berhenti di hadapannya.
Saat itu juga ia dibuat terkejut, saat kaca mobil yang perlahan terbuka itu. Menampilkan seorang wanita berwajah wajah cantik. Ali pun tersenyum, membalas senyum wanita yang ada di hadapannya.
"Mau ke mana Al?" ujar wanita itu ramah.
"Ke bank BRI Khai." Jawabnya sopan, kemudian sedikit menunduk. Tak berani menatap wanita yang bernama Khairiah Fazli dihadapan nya berlama-lama. Khairiah teman sekampusnya beda kelas. Tapi, mereka punya dosen pembimbing skripsi yang sama. Jadi, ia kenal dengan Khairiah tiga bulan terakhir ini.
Ali terlihat bingung. Mana mungkin ia mengiyakan permintaan Khairiah. Mereka bukan muhrim.
"Ayo naik, ini sudah hampir pukul dua siang. Nanti antri lagi, keburu jam operasional tutup." Nada bicara Khairiah terlihat mendesak.
"Gak usah Khai. Aku naik becak aja." Jawabnya sungkan, melempar pandangan ke arah becak yang akan melintas di depannya. Saat itu juga, Ali tanpa sadar memasukkan tangan nya ke saku celananya.
Ia pun terkejut mendapati uang pecahan 20 ribu, yang tadi disakunya, tak ada lagi. Sontak Ali jadi panik. Kemana uangnya itu?
Ia pun akhirnya mengurungkan niatnya menyetop becak motor.
"Ayo ikut denganku saja. Hitung hitung ucapan terima kasih. Karena saranmu yang kemarin, proposal ku diterima dosen." Ujar khairiah masih dengan air muka senang.
Ali terlihat berfikir sejenak. Dan akhirnya ia memutuskan naik mobilnya Khairiah.
"Duduk di depan lah pak Ustadz. Emang aku supir." Ujar Khairiah tersenyum tipis melirik Ali yang memilih menekan pintu mobil bangku barisan kedua.
__ADS_1
Khairiah kagum dengan karakter Ali, yang mencerminkan pria islami yang tahu sopan santun. Sudah langkah pria dengan karakter seperti Ali. Sopan, baik, Sholeh, pintar dan sangat menjaga jarak dengan lawan jenis.
Dengan perasaan tak tenang dan jantung yang berdebar debar. Ali pun memberanikan diri duduk di bangku sebelah supir, yaitu tepatnya di sebelah Khairiah. Pria itu terlihat kikuk dan tegang.
Wajar Ali bersikap seperti itu. Karena ia tak terbiasa berkomunikasi dengan lawan jenis. Bahkan baru khairiah wanita yang pertama kali bicara banyak dengannya, seperti saat ini.
"Ke bank ada urusan apa?" Khairiah membuka suara. Ia dari tadi tak henti hentinya menahan senyum. Merasa lucu dan senang bisa bicara dengan Ali. Pria paling misterius di kampus yang memiliki cacat fisik. Tapi, penuh dengan segudang prestasi. Bayangkan saja, Ali akan dapat gelar sarjana S-1. Dalam waktu 3,5 tahun saja. Yang apabila dihitung dengan waktu normal biasanya mahasiswa bisa menyelesaikan S-1 nya itu empat tahun bahkan ada yang sampai 7 tahun.
"Mau ganti ATM." Jawabnya ramah, tapi tak berani menatap Khairiah.
"Oouuww... Samalah kita."
Ali tersenyum tipis melirik khairiah yang juga curi curi pandang padanya saat menyetir.
"Eemmm.. Habis dari bank, kamu mau ke mana Ali?" tanya Khairiah, kini tak mau lagi mencuri curi pandang pada Ali. Ia takut jatuh cinta pada pria di sebelahnya. Habis Ali itu punya wajah yang sangat tampan. Seperti pangeran Arab saja.
"Ke tangkahan " Jawabnya cepat.
"Mau beli ikan?"
"Iya Khai." Sahut Ali, kini ia melirik khairiah sekilas.
"Oouuhh.. Hari ini kamu ultah kan?" pertanyaan Khairiah cukup mengagetkan Ali. Tahu dari mana wanita ini?
"Ii--ya, kamu tahu dari mana Khai?" Ali yang tadi sedikit pemalu. Kini terlihat semangat. Ia senang ternyata ada juga yang perhatian padanya.
"Hehehe... Nebak aja " Jawab Khairiah nyengir. Bersiap siap turun dari mobil. Karena mereka sudah sampai di parkiran bank.
Kening Ali mengerut mendengar jawaban ambigunya Khairiah. Ia pun tak mau tahu lagi dari mana Khairiah mengetahui tanggal lahirnya. Ia turun dari mobil. Merekapun sama sama berjalan masuk ke dalam gedung Bank.
Saat masuk ke dalam gedung. Mereka langsung ambil antrian bagian Customer servis. Antrian masih panjang. Ada delapan antrian lagi.
"Kita duduk di sana yuk!" Khairiah menunjuk ke arah kursi yang bisa diduduki dua orang. Ya memang saat itu bank yang mereka datangi padat. Mau tak mau Ali pun ikut saja. Karena kursi yang kosong gak ada lagi.
Saat duduk di kursi empuk itu. Seorang wanita cantik yang ia kenal, melintas di hadapannya. Berjalan buru buru. Wanita itu adalah sang istri. Yang kini sedang duduk tak jauh dari jangkauan matanya. Saat itu juga Ruby menoleh ke arahnya.
__ADS_1
TBC