Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Bodoh


__ADS_3

Sesampainya di rooftop hotel. Ruby merasa senang. Ia sangat menyukai tempat yang ia datangi ini. Ternyata ada restaurant bjsa karaokean serta menyediakan audio visual yang bisa dijadikan sebagai tempat nonton bareng baik itu Moto GP hingga pertandingan bola.


"Emang baru kali ini kamu ke sini dek?" tanya Roy heran dengan ekspresi Ruby yang terlihat tercengang.


"Eemm.. Iya, kalau ke restauran ini." Jawabnya dengan senyum tipis. Ruby jadi merasa suasana hatinya membaik. Ternyata restauran itu mempunyai konsep interior yang asyik dipandang mata.


"Mari dek Ruby, silahkan duduk. Kita nikmati malam ini, makan sambil bernyanyi." Ujar Roy dengan antusias.


"Boleh...!" Jawab Ruby tak kalah semangat. Ia memang suka bernyanyi.


Mereka pun mulai bernyanyi, tempat mereka berada sekarang adalah di tempat terbuka. Buka di room private.


Tak terasa sudah satu jam keduanya bernyanyi. Ruby merasa Roy banyak berubah. Dulu sih, orangnya sok ganteng gitu. Ceweknya ada di setiap kelas. Mana mau dia dekati pria seperti itu.


Dan penilaian Ruby berubah malam ini. Roy terlihat kalem. Dan malam ini tak da cewek yang menempel dengannya. Apa sudah taubat?


Lemah bernyanyi akhirnya mereka memutuskan untuk memasan makanan. Karena tadi keduanya hanya memesan minuman.


"Dek, sebentar ya, aku ke toilet." Ujar Roy.


"Iya bang " Sahut Ruby, mulai memilih menu makanan untuknya. Ia benar benar lapar. Menyanyi ternyata menguras energi juga. Apalagi tadi mereka menyanyikan lagu lagu dengan nada tinggi. Ia tak menunggu Roy lagi. Ia memesan makannya terlebih dahulu.


Sepuluh menit kemudian Roy sudah duduk kembali di kursinya. Ia pun mulai memesan makanan untuknya.

__ADS_1


"Adek sudah pesan?" tanya Roy ramah. Senyum manis tak pernah lepas dari bibirnya.


"Sudah bang." Sahut Ruby tak kalah ramah. Ia merasa jadi klik berteman dengan Roy. Sudah satu tahun, mereka tak bertemu. Terakhir bertemu sih setahun lalu. Ya dalam acara ini juga reunian.


"Kamu ya dek, dari dulu sampai sekarang tetap cantik. Makin cantik malah." Roy bicara menatap lekat Ruby, yang membuatnya merasa tak nyaman dengan tatapan mata Roy yang dalam itu.


"Biasa aja koq." Jawabnya menunduk, siapapun pasti suka dikatakan cantik.


"Permisi Bang, kakak...!" ujar Waiters ramah, menyajikan pesanan mereka.


Terhidang makanan jenis seafood. Ruby mesan lobster asam manis. Sedangkan Roy pesan kerang.


Mereka makan dengan lahapnya. Ruby yang doyan makan. Tak ada jaimnya sedikit pun di hadapan Roy. Ia makan sudah seperti pembawa acara kuliner.


"Makan banyak tapi body tetap aduhai!" ujar Roy tersenyum penuh maksud dengan kerlingan mata menggoda.


"Ini yang aku suka dari dirimu dek. Kamu itu buat penasaran tahu. Apalagi bagian dalamnya, huiii... Pasti sedap, diginiin!" Roy kembali menjilat kedua bibirnya. Yang membuat Ruby mulai merasa kelakuan Roy sudah tak wajar.


"Maksudnya?" ujar Ruby dengan nada kesal.


"Aku sudah tahu semua tentangmu. Kamu sudah menikah kan? tapi, yang menikahi kamu. Adek kelas kita. Si Ali, si pincang itu. Aku juga tahu, kalian sudah pisah rumah." Ujar Roy dengan tatapan serius.


"Jangan sok tahu deh." Ujarnya malas, memegangi kepalanya yang terasa pusing.

__ADS_1


Heehehe .


Roy tertawa kecil, menatap Ruby dengan tatapan menyeringai.


"Kalau kamu mau, aku bisa puaskan kamu malam ini. Kamu sedang terangsang itu." Ujar Roy pelan, masih dengan tatapan menyeringai itu.


"Kamu dan Ali pisah, pasti karena kamu tak bisa dipuaskannya kan? tenang saja, aku akan puaskan kamu."


Plakk....


Satu tamparan mendarat di pipinya Roy.


"Waahh.. Kasar juga mainmu ya dek? ini yang aku suka." Ujarnya tatapan masih seperti predator yang siap memangsa.


"Jaga bicaramu, aku bukan wanita seperti yang kamu pikirkan. Dasar kamu pria br-engsek, aku Kira kamu sudah berubah " Ujar Ruby, memegangi kepalanya yan terasa semakin berat. Mana ia merasa tubuhnya juga panas dingin. Seperti ada sesuatu yang mendesak ke bagian intinya.


"Oouuww.. Nanti juga kamu akan ketagihan " Roy beranjak dari duduknya. Mencoba mendekati Ruby, yang kini terlihat menghindar. Ingin rasanya ia berteriak, minta bantuan. Karena ia merasa ada yang tak beres dengan dirinya. Tapi, sungguh suara nya tak bisa keluar.


"Ayo kita mainkan di kamar saja " Ujar Roy masih mendekati Ruby dengan langkah perlahan. Tempat mereka yang ada di pojokan, dan ada sekat yang membuat penghuni lainnya tak melihat mereka.


"Iihh.. Lepas..!" Menghempaskan tangan Roy yang memegang tangannya.


"Kamu harus keluar itu, kalau gak bisa mati kamu!" ujar Roy pelan, tapi penuh penekanan. Tangannya mencoba merengkuh Ruby yang terlihat menghindar.

__ADS_1


"Ayo, nanti juga kamu akan ketagihan." Roy langsung menarik Ruby dalam dekapannya. Tapi Ruby terus saja berontak.


TBC


__ADS_2