Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Legah


__ADS_3

Walau perasaan hancur berkeping. Hati terasa disayat tapi tak berdarah. Ali tetap pergi bekerja. Karena memang ia hanya menghabiskan waktu sepuluh menit bicara dengan Agam di restoran itu.


Saat pekerjaan mengajar selesai. Ada mahasiswa nya yang minta dibimbing skripsi. Ingin rasanya Ali menolaknya, karena suasana hatinya sedang buruk. Ditambah ia sudah kangen putrinya. Tapi, rasa iba lebih dominan, karena mahasiswa abadi itu sampai mengemis minta dikasih bimbingan. Padahal Ali bukanlah dosen pembimbingnya. Itu semua karena Ali pintar dan tak pelit dengan ilmu, makanya orang orang sering minta bantuan padanya.


Pukul lima sore ia baru sampai di depan rumah. Saat itu ia mendengar suara sang putri menangis histeris. Ali terbirit-birit turun dari becak dan berlari kencang ke dalam rumah.


"BI Sekar, Aysha kenapa?" tanya panik, ini pertama kalinya bayi mungil itu menangis sehisteris itu.


"Gak tahu Al. Tiba tiba saja menangis dan tak bisa didiamkan." Ujar Sekar ikut sedih, mendengar tangisan Aysha.


"Cup cup cup anak ayah baik Budi... Napa sayang?" Ali yang sudah menggendong anaknya dengan satu tangan, mencandai putrinya itu. Padahal bayi merah itu kan belum bisa melihat dengan jelas. Tapi, putrinya itu langsung diam, setelah Ali menggendongnya.


"Anak baik." Ujarnya mencium gemes sang putri, yang kini sudah terdengar suara mengoceh. "Kangen ayah ya?" Ali masih fokus menenangkan sang anak. Ini hari pertama Ali meninggalkan anaknya dalam waktu yang lama.


"Bi, Ruby ke mana?" Ali heran, karena tak melihat keberadaan istrinya itu di rumah.


"Tadi sih pamit, katanya ada hal penting." Ujar Bi Sekar, terlihat sedang membuatkan susu untuk Aysha.


"Ke mana bi?" Ali mulai terlihat tak tenang. Tadi saat di angkot. Ia seperti melihat sang istri di sebuah mobil mewah yang kacanya terbuka. Tapi, ia tak bisa melihat dengan jelas dan lama. Karena mobil itu melaju cepat. "Sudah lama Bi?" selidiknya lagi.


"Gak tahu Al. Tapi tadi aku dengar Ruby bicara di telpon. Ia menangis, dan bilang Agam Agam, atau Agama. Aakkhh... Gak ngerti dia bicara apa, tapi seperti itulah bibi dengarnya. Dan Ruby pun tak bilang apa apa. Dia hanya bilang titip Aysha. Ia pergi gak lama. Aku sempat mencegahnya. Karena ia kan baru sebelas hari melahirkan." Jelas Bi Sekar.

__ADS_1


Bruuggkkkhh..


Ali ambruk di sebuah kursi. Dan sang putri masih dalam gendongannya. Dadanya terlihat naik turun. Karena ia menahan emosi. Wajahnya terlihat tegang penuh kekecewaan. Dan matanya berkabut sudah. Ia merasa hidupnya hancur sudah. Seorang istri pergi dari rumah, tanpa memberi kabar ia terlebih dahulu. Sikap Ruby kali ini tak bisa diterimanya. Tak ada gunanya ia bertahan lagi. Yang ada ia semakin tersakiti. Saatnya ia pergi.


"Ali.. Kamu kenapa?" Tanya Bi Sekar heran dengan perubahan sikap Ali yang drastis.


"Gak apa apa bi. Aku lapar.!" ujarnya bohong.


"Oouuhh.. Ini susunya Aysha." Ali menerima Dodot itu dengan tangan bergetar, setelah sang putri diletakkannya di atas pahanya.


"Baiklah Bibi pamit "


"Iya Bi, tolong ambilkan dompet ku di tas bi." Ali ingin memberi upah pada Bi Sekar. Upah menjaga Aysha.


"Ini banyak banget Ali ..!" Ali menyodorkan uang pecahan 50 ribu.


"Emang biasanya berapa bi?"


"Dua puluh ribu Al."


"Ya gak apa apa, besok biar ada tambah jajan anak anak nya bibi." Ujar Ali tersenyum tipis. Berusaha menyembunyikan hatinya yang hancur berkeping keping.

__ADS_1


Sepeninggalannya Bi Sekar. Aysha sudah tertidur setelah minum susu.


Ali yang tak tenang, melakukan panggilan pada Ruby. Tapi, nomor hape sang istri tak aktif.


Huuufftt...


"Ya Allah... Berikan aku kesabaran!" ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari hidupnya Ruby. Ia mempacking barang barangnya beserta keperluan sang putri.


Saat hendak menggendong sang putri. Ia malah kesusahan melakukannya. Karena tangan nya hanya satu yang berfungsi. Ia keluar rumah, mencari bantuan. Kebetulan Bi Sekar, melintas di depan rumah itu. Ia pun memanggilnya.


Ia minta bantuan pada Bi Sekar untuk membantunya menggendong Aysha.


"Emang mau ke mana Al?" tanya Bi Sekar penuh selidik. Matanya melirik tas yang teronggok di lantai.


"Gak ke mana mana bi. Mau JJS dengan Aysha." Jawabnya tersenyum getir.


"Ouuww.. Bibi pamit ya?"


"Makasih Bi." Ujar Ali ramah. Walau hati sakit, ia masih bisa tersenyum.


Ali masih ragu untuk pergi. Ia masih ingin kejelasan dari Ruby. Tapi, nomor istrinya itu tetap tak aktif. Ia sudah berpuluh kali menghubunginya.

__ADS_1


"Ya Allah.... Bismillah....!" Ali membaca doa, karena ia akan melakukan perjalanan panjang. Dan kebetulan sekali, ada becak motor lewat di depan rumah itu. Ia pun meminta pada Abang tukang becak membawanya ke loket travel. Ali merasa legah, setelah memutuskan pergi dari hidupnya Ruby.


TBC


__ADS_2