Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Sebaiknya berpisah


__ADS_3

"Pak, Bu..!" menyalim mertuanya dengan penuh hormat. Mencoba menampilkan ekspresi wajah bahagia. Padahal suasana hari sedang buruk karena baru selesai bertengkar dengan Ruby.


"Selamat ulang tahun ya nak. Moga kamu diberi kebahagiaan selalu. Apa yang dicita-citakan terwujud dan rumah tangga kalian harmonis hingga maut memisahkan."


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Ruby tersedak mendengar ucapan sang ayah. Mana mau dia menjalani sisa hidup bersama dengan Ali. Si pria cacat.


Ali melirik Ruby yang terbatuk batuk. Ia tahu, Ruby tak menginginkan semua ini. Harus dibahas sekarang. Karena seperti nya ia tak akan bisa menyadarkan Ruby.


"Terima kasih ayah. Tapi kalimat ayah yang terakhir, tak masuk akal. Hari ini, aku ingin meminta sesuatu? bolehkah ayah? anggap saja permintaan ku ini adalah kado ultah yang sangat berharga untukku." Ujarnya, kini kedua ayah mertua nya sudah duduk di kursi makan. Mendengarkan dengan serius ucapan Ali. Yang berdiri di hadapannya mereka. Begitu juga dengan Ruby.


"Dua bulan sudah pernikahan ini kami jalani. Selama itu juga yang didatangkannya lebih banyak mudharatnya. Pak, maaf aku tak bisa melanjutkan ini hingga satu tahun."


Air muka Haji Zainuddin yang tadinya senang, kini mendadak menggelap. Ia langsung melempar pandangan pada Ruby yang juga terlihat tegang.


"Bicara apa kamu Ali, bukannya kita sudah sepakat. Kalau kamu tak sanggup, boleh menyerah jika sudah setahun." Jawab Haji Zainuddin dengan nada penuh kekecewaan.


"Aku tak sanggup pak."


"Huuhh... Banyak cerita kamu. Dia itu gak mau lanjutin ini semua. Karena ia punya cewek pak. Coba bapak lihat ini." Ruby menyodorkan hapenya pada sang ayah, yang memperlihatkan video Ali bersama Khairiah.


Tentu saja Haji Zainuddin dibuat terkejut menontonnya. Mama Nisya yang kepo, mendekat ke haji Zainuddin agar bisa ikut menonton video itu


"Ali... Kamu..!" ujar Haji Zainuddin penuh kekecewaan.


"Ya itu adanya. Makanya saya katakan tadi, pernikahan ini tak usah dilanjutkan. Karena ada wanita yang lebih menerima kekurangan saya." Jawaban pasrahnya Ali, membuat haji Zainuddin tak percaya. Terlalu tenang pria dihadapannya bicara. Seolah menyimpan sakit yang amat. Dan terkesan menutupi kesalahan Ruby. Buktinya Ruby terlihat menunjukkan kesalahan Ali yang sedang bersama wanita lain.


Padahal Ali tak pernah mengatakan keburukan atau kelemahan Ruby.


"Jika seorang suami menduakan istri nya. Berarti istrinya itu sudah berbuat salah."


"Ayah, aku gak salah. Lihat itu video yang viral. Ali selingkuh!" Ujar Ruby kesal, sang ayah terlihat menyalahkannya.


"Ayah tahu betul bagaimana sifat Ali. Ia tak akan melakukan hal itu." Ujar Haji Zainuddin menatap kesal Ruby.


Dibentak sang ayah, membuat Ruby sedih. Air mata langsung keluar dari sudut matanya. Mama Nisya tak tega lihat sang putri di bentak. Ia pun akhirnya memeluk Ruby dari samping.


"Itu video nya bukti." Ujar Ruby dengan terisak.

__ADS_1


Haji Zainuddin menatap Ali yang kini menunduk.


"Benar kamu mengkhianati Ruby?"


"Tidak pak, mana ada wanita yang mau dengan pria seperti saya." Jawabnya dengan lirih.


"Itu buktinya, sudah ketahuan gak ngaku." Ketus Ruby kesal.


"Itu tak seperti diberitakan. Aku hanya menemani Khairiah ke counter. Tiba tiba dia kasih hadiah itu, katanya hadiah ulang tahun. Tapi, aku gak menerimanya." Ujar Ali dengan tegas. "Itu video dipotong." Jelasnya lagi masih dengan ekspresi serius. Ia harus meluruskan semuanya. Di video tak diperlihatkan Ali pergi dari counter itu.


Haji Zainuddin menggeleng penuh kekecewaan, menatap Ruby tajam.


"Jujur pada ayah, apa yang kamu lakukan pada Ali, sehingga ia tak mau melanjutkan pernikahan ini?" kini Haji Zainuddin menyelidik pada Ruby yang terlihat gugup.


"Aku gak melakukan apa apa." Jawabnya menunduk, takut diinterogasi.


"Ali, ambilkan laptopmu!" Titah Haji Zainuddin tegas, yang membuat Ali bingung. Untuk apa laptop.


"Ma, bereskan bahan bahan masakan ini semua." Menatap serius sang istri yang masih memeluk Ruby. Tahu maksud dari tatapan itu. Mama Nisya melepas pelukannya dari Ruby.


"Ambilkan laptopmu Ali!"


Ali yang bingung kini melangkah ke ruang tamu. Mengambil laptopnya. Sedangkan haji Zainudin terlihat naik ke atas kursi. Dan mengambil sesuatu yang melekat di dinding dapur itu.


"CCTV?" ujar Ruby tak percaya, ada CCTV yang sembunyi dibalik lukisan berbagai jenis buah buahan yang ada di ruang dapur sekaligus ruang makan itu.


Haji Zainuddin menyamperin Ali ke ruang tamu. Ia langsung meraih laptop dari tangan Ali.


Sedangkan Mama Nisya yang kepo, menyimpan semua bahan makanan yang akan dimasak ke kulkas. Ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan sang suami. Menyusul cepat ke ruang tamu.


"RUBY......!" teriak Haji Zainuddin dengan amarah yang meletup letup. Ia syok melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan Ruby memakai maki Ali dengan tatapan penuh kebencian.


Mama Nisya juga cukup kaget melihat rekaman itu. CCTV itu bisa merekam gambar dan suara.


"Astaghfirullah..." Ujar Mama Nisya, tak menyangka putrinya bisa berkata seperti itu pada Ali. Pantesan Ali tak tahan. Perlakukan Ruby memang sungguh keterlaluan. Mulutnya tanpa filter.


"Ruby.. Kesini kamu!" teriak haji Zainuddin lagi. Ia kesal, Ruby tak kunjung menghampiri mereka di ruang tamu.


"Beginikah hasil dari didikan ayah selama ini? hatimu telah dikuasai setan. Tega kamu mengatakan hal seperti itu pada suamimu?" teriak Haji Zainuddin. Matanya terlihat berkaca-kaca, kecewa sudah dengan kelakuan sang putri yang memalukan.


"Dia bukan suamiku. Aku tak mau menikah dengannya. Kenapa ayah maksa aku!" Ruby merasa tak bersalah. Ia seperti itu karena ayah nya. Ia kes pada sang ayah dan Ali. Makanya dia terus terus mencaci Ali. Sebagai bentuk kekesalannya.


"Sebenci bencinya kita pada seseorang kita tak harus menghinanya. Apalagi dia suamimu sendiri. Kalau kamu tak suka, kamu lebih baik diam. Daripada mulutmu itu membuat hati orang sakit." Jelas Haji Zainuddin masih menatap tajam sang putri yang kini terlihat menangis.

__ADS_1


"Ayah kejam, tak mau ngertiin aku. Aku baru ditinggal oleh orang yang aku sayang. Dan ayah malah menikahkan aku dengan Ali. Kenapa harus dipaksa nikah. Ya sudah, biarkan saja aku jadi gunjingan orang, karena ditinggal kekasih."


"Kalau kamu mikirnya seperti itu. Siap siaplah kamu tak punya orang tua. Yang kamu pikirkan kesenanganmu saja. Tak pernah kamu pikirkan efek dari perbuatanmu. Dulu, ayah sudah melarang kamu berhubungan dengan pria itu. Tapi, kamu gak dengar. Lihat hasilnya, kamu ditinggalkan di hari pernikahan. Harusnya kamu bersyukur, Ali mau jadi pengantin pengganti pria." Dada Haji Zainuddin terlihat naik turun. Ia sudah sangat emosi melihat putrinya yang tak ada adab itu. Pria yang meninggalkannya masih diharapkan.


"Dia tak pantas untukku. Ayah lihat sendiri dia seperti apa." Masih membela diri, dan merendahkan Ali dengan tatapan malasnya.


"Dasar kamu gak punya hati nak. Hatimu telah ditutupi oleh kebencian. Kamu gak belajar dari video yang kamu tunjukkan tadi. Asal kamu tahu, biarpun Ali seperti ini, ternyata masih ada wanita yang begitu baik padanya. Tak malu jalan dengannya. Sedangkan kamu!"


Huuffttt..


Haji Zainuddin menarik napas berat. Ia sungguh kecewa pada sang putri. Putrinya itu memandang orang dari tampilan saja. Tak melihat kebaikan hati orang.


"Maafkan Bapak Ali. Gara gara keegoisan bapak. Selama dua bulan ini, kamu menderita. Aku, aku gak bisa menahanmu untuk mempertahankan pernikahan kalian ini lagi." Ujar Haji Zainuddin mengatupkan kedua tangannya di hadapan Ali dengan mata berkaca-kaca.


Ali menyambut tangan itu, mereka berpelukan dengan erat. Terlihat tubuh Haji Zainuddin Bergetar hebat. Ia menangis dalam pelukan Ali.


"Bantu bapak nak. Jangan tinggalkan kami. Kamu boleh tak suka pada Ruby. Tapi, tetaplah bersama kami." Ujar Haji Zainuddin menatap lekat Ali, dan tangan nya terlihat memegang pundaknya Ali. Pria itu sangat ketakutan kehilangan Ali


Ali menganggukkan kepalanya lemah. Mana tega dia menolak permintaan pria yang sudah membesarkannya hingga bisa seperti ini. Harusnya sore itu adalah moment bahagia perayaan ulang tahunnya. Tapi, kenyataannya adalah jadi moment menyedihkan.


"Ruby putriku, jika kamu menyuruh ayah memilih antara kamu dan Ali. Maka hati kecil ayah mengatakan akan memilih Ali." Menatap sedih sang putri yang sesenggukan menangis dalam dekapan sang ibu. Ruby merasa tak dinginkan sebagai anak. Masak lebih membelah Ali daripada dia.


Harusnya ia memikirkan hal itu. Introspeksi diri. Bukannya malah menarik diri.


"Sebab lebih baik jadi orang baik daripada orang pintar. Karena percuma juga punya otak kalau tidak punya hati nak." Jelas Haji Zainuddin memberi pandangan pada Ruby.


Haji Zainuddin tahu karakter putrinya. Ruby itu tipe wanita keras kepala, dan frontal. Ia memang dari dulu, sudah ada niat menjodohkan Ruby dengan Ali.


Tapi niatnya itu harus pupus. Karena setelah tamat kuliah. Ruby mengaku sudah punya kekasih dan dalam waktu dekat akan datang melamarnya.


"Ali, aku gak mau memaksa kamu lagi, untuk bertahan dengan putriku yang tak punya perasaan ini. Kalau kamu tak menginginkannya pernikahan ini lagi. Aku ikhlas kalian bercerai." Ujar Haji Zainuddin dengan terisak. Air mata yang dari tadi mendesak untuk keluar akhirnya tak bisa dibendung lagi. Kehancuran sudah di depan mata.


Ia yakin, jika Ali menceraikan Ruby. Pasti Ali tak akan mau bekerja dengannya lagi. Dan itu akan mengancam usahanya. Haji Zainuddin sangat yakin. Ali pembawa keberuntungan untuknya. Sejak Ali ikut dalam keluarga mereka. Usahanya berkembang dengan sangat cepat. Semua hal positif menghampiri keluarganya.


Ruby juga langsung terima kerja, setelah lulus kuliah. Mereka sehat wal Afiat. Jauh dari penyakit. Padahal sebelum bertemu dengan Ali, Haji Zainuddin sering sakit sakitan.


"Ayah... Kenapa bicara seperti itu. Dalam berumah tangga, cekcok itu hal biasa. Apalagi mereka menikah tanpa dasar cinta. Jangan memutuskan dengan cepat." Kini Mama Nisya, buka suara.


Awalnya ia memang tak setuju dengan Ali jadi menantunya. Tapi, semalam Haji Zainuddin memberi pengertian dan bukti bukti pada dirinya, kalau Ali itu pembawa Hoki. Soal cacat fisik yang dimiliki Ali tidaklah penghalang pria itu dalam berusaha.


Untuk apa orang yang sempurna tapi pemalas, atau hatinya buruk. Lebih baik cacat fisik. Tapi, hatinya baik.


"Iya pak. Demi kebaikan bersama sebaiknya kami,"

__ADS_1


"Cukup... Cukup.... Jangan ucapkan sepatah kata lagi Ali." Haji Zainuddin memotong cepat ucapan Ali.


TBC.


__ADS_2