Dinikahi Pria Cacat

Dinikahi Pria Cacat
Takut ketahuan


__ADS_3

Ali terbangun karena panggilan alam. Sebelum ia membuka kedua matanya. Ia merasakan tangan kanannya seperti di timpa sesuatu begitu juga dengan tubuh nya, terutama pada bagian Adan hingga tungkai kaki.


Masih dengan mata terpejam. Ali menggerakkan kakinya. Seperti ingin memindahkan benda yang menimpa kakinya itu.


Apa...?


Ali sudah sangat yakin, jikalau dirinya saat ini sudah direngkuh okeh Ruby.


Dug


Dug


Dug


Dugaan itu langsung membuatnya sport jantung. Tahulah dekat dengan Ruby, langsung membuatnya nervouse.


Dan benar saja, saat ia membuka kedua matanya. Ia langsung disuguhkan dengan wajah cantik sang istri. Yang begitu dekat dengan wajahnya saat ini. Tangan kanannya sudah dijadikan sang istri sebagai bantal. Dan tubuhnya sudah dipeluk oleh Ruby, bahkan ia jadikan guling.


Seer...


Ini terjadi saat ia dalam keadaan sadar. Dipeluk erat seperti guling, oleh wanita yang sangat dicintai tentu saja membuatnya jadi berhasrat. Apalagi cuaca sangat mendukung di pagi hari ini.


Auto, miliknya dibawah sana langsung hidup berdiri tegak.


"Astaghfirullah...!' Ali beristighfar, berusaha menarik tangannya dari kepala Ruby.


Saat ia melakukan itu, Ruby malah semakin memeluknya erat. Dan kini Ruby sudah berbantalkan dadanya yang bidang.


Eeuuuummmm


Istrinya itu bergumam. Ali mengangkat sedikit kepalanya guna melihat wajah sang istri, yang pasrah di atas dadanya. Terlihat Ruby senyam senyum.


"Apa ia bermimpi? gimana ini?" Ali yang nervouse jadi salah tingkah. Ia tak tahu harus berbuat apa. Tak mungkin kan ia mendorong kuat tubuh sang istri. Nanti salah paham lagi. Terus kalau ia bangunkan istrinya itu. Ia juga takut Ruby salah paham juga. Mengira ia yang memeluk wanita itu.

__ADS_1


Hhuuufft...


Ali menarik napas berat. Posisi mereka seperti itu membuatnya tak tenang. Mana ujung rambutnya Ruby mengenai hidungnya, yang membuat ia merasa geli.


Huufftt...


Ini tak bisa dibiarkan. Ia sudah kebelet pipis. Akhirnya dengan pergerakan pelan. Ali berusaha memindahkan tubuh Ruby dari atas tubuhnya. Pergerakannya terbatas, karena ia hanya punya satu tangan, sehingga membuat acara memindah tubuh Ruby dari atas tubuhnya, tidak sukses. Mana Ruby semakin mencengkram tubuhnya disaat Ali ingin menjauhkan istrinya itu.


Ngung ..


Ngung..


Terdengar suara alarm kuat dari hapenya Ruby.


Bunyi alarm itu ternyata membangunkan wanita itu. Ia pun mulai melakukan pergerakan di atas tubuh nya Ali yang atletis. Walau tangan hanya satu yang berfungsi. Badannya Ali itu sangat bagus.


Mengetahui Ruby terbangun. Ali dengan cepat menutup matanya. Berpura-pura tertidur kembali.


Sedangkan Ruby yang sudah membuka mata, dibuat terkejut mendapati dirinya malah memeluk erat tubuh sang suami.


Ia pun membuka mata, tak mau berpura pura tidur lagi. Menatap Ruby yang terkejut itu


"Eehhh.... Aku, aku gak ada meluk kamu." Ruby yang masih berbaring di sebelah Ali, langsung membela diri. Tanpa ditanya.


Ali mengerutkan keningnya. Heran dengan sikap Ruby yang terlihat panik.


"Emang, aku ada nanya in hal itu?" tanya Ali, masih menatap Ruby dengan menahan senyum. Ia pun kini mendudukkan bokongnya.


"Gak sih, takutnya kamu mikir nya aku meluk kamu, secara bantal guling nya sudah tidak ada di sini." Ruby masih terlihat gugup, saat memberi penjelasan yang tak dibutuhkan oleh Ali. Matanya bergerak kesana kemari, menghindari tatapan Ali, sekaligus mencari keberadaan bantal guling nya


"Seandainya ada cctv disini. Aku jadi penasaran, karena aku merasa saat tidur itu, seperti ada yang meluk gitu. Ya, apa itu hanya mimpi ya?" bicara dengan mengulum senyum kepada Ruby.


"Iya, iya, kamu mimpi itu." Ruby terlihat semakin lucu.

__ADS_1


"Iya, aku mimpi, mana mungkin kamu meluk aku." Ali menekuk bibirnya, tapi tersenyum sinis.


Ekspresi wajah Ali itu, membuat Ruby tersadar. Seperti nya Ali tahu, jika ia menjadikan pria itu guling nya. Habis, Ruby merasa sangat nyaman dan hangat saat memeluk pria itu.


"Gak tahu." Ruby yang malu, langsung berjalan ke kamar mandi dengan terbirit-birit. Malu sekali dia, ketahuan memeluk Ali.


Ali tersenyum Lebar dan tertawa kecil. Melihat tingkah munafik sang istri.


"Kalau ia memelukku, emangnya kenapa? turun harga dirinya?" Ali bermonolog sambil menggeleng, heran dengan sikap Ruby.


***


Setelah sholat subuh. Acara bersih bersih rumah pun berlanjut. Hingga pukul sembilan pagi, mereka baru bisa sarapan.


Weekend kali ini benar benar dihabiskan Ruby di rumah ayahnya. Setelah selesai sarapan. Ia bahkan ikut lagi ke peternakan. Tapi, di peternakan ia bukannya bantu bantu. Malah mengkhayal, kepikiran akan dirinya yang memeluk Aki saat tidur.


Ia sangat penasaran, sebenarnya Ali tahu gak sih. Kalau Ruby memeluknya. Ia ingin menanyakan itu pada Ali. Ia tak mau dibuat mati penasaran akan hal itu. Tapi, Ali sangat sibuk, sehingga ia tak ada kesempatan untuk menanyakannya. Jikalau memang Aki tahu, ia harus katakan pada Ali. Kalau ia tak sengaja melakukan itu. Bukan karena ingin menggoda suaminya itu.


"Kalian pulangnya bawa mobil ayah saja." Haji Zainuddin memberikan kunci mobil pada Ruby.


"Lah, koq gitu?" tanya Ruby, enggan menerima kunci mobil yang disodorkan ayahnya itu.


"Itu gak lihat kamu mendung. Gak baik naik motor, mana ini sudah sore." Jelas sang ayah. Ia ingin Ruby dan Ali pulang bareng, mengendarai mobilnya. Karena Ruby dan Ali pamit pulang, dengan armada berbeda. Ruby naik motornya. Sedangkan Ali maksa ingin naik angkutan umum saja. Itu disebabkan karena ia tak mau Ruby merasa berat beban saat membonceng nya. Mana ia banyak bawa barang. Seperti buku buku yang tinggal dikamar mesjid, ia akan bawa semua ke kontrakan mereka.


Ruby terlihat berpikir. Terus mobil ayah ini, dikembalikannya kapan? aku sebulan ini sibuk."


Jikalau sang ayah tidak memaksa mobil cepat dikembalikan. Maka mobil ini yang akan digunakannya berangkat ke kota Medan. Kan lumayan irit uang. Karena tak perlu merental mobil lagi.


"Terserah mau kalian pakai berapa lama. Gak usah dikembalikan juga gak apa-apa." Sahut Haji Zainuddin, melirik sang istri yang juga tak keberatan mobil itu dibawa Ruby.


Saat ini Ali hanya sebagai pendengar. Ia mana mau buka suara. Karena ia sebagai suami merasa tak ada guna. Bawa motor ataupun mobil, dia mana bisa.


"Baiklah ayah, terima kasih." Ruby menyambar kontak mobil itu. Menyalim tangan sang ayah dan memeluknya. Kemudian ia memeluk sang ibu juga.

__ADS_1


Mereka berpamitan pulang, tentu saja dengan armada, mobil sang ayah.


TBC


__ADS_2