Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 100


__ADS_3

Ayesh yang melihat Hyorin semakin tidak berdaya mencoba terus menggerakan kakinya.


"Aku harus bisa, aku harus bisa!!" gumamnya.


Bik Siti yang melihat kedua Tuan dan Nyonyanya sedang berjuang, mencoba terus menghubungi Nyonya Akbar. Entah sudah dipanggilan keberapa, sudah berpuluh-puluh panggilan yang Bik Siti lakukan. Bik Siti mondar-mandir karena panik sendiri.


Keajaiban seperti yang Hyorin katakan tadi siang memang benar adanya, selama ada tekad yang kuat dan tidak merasa putus asa maka sesungguhnya semua akan menjadi lebih mudah. Dorongan dari dalam diri Ayesh begitu kuat, tekad dan keinginannya terpompa begitu besar.


Perlahan kaki Ayesh yang kaku bisa digerakkan, dia mencoba untuk berdiri dari kursi roda dan ternyata bisa. Meskipun masih terasa bergetar perlahan dia bisa menuruni anak tangga dengan perlahan dan tertatih.


Bik Siti yang melihat semua keajaiban itu menghampiri Ayesh untuk membantunya menuruni anak tangga agar jangan sampai terjatuh, sedangkan Hyorin sembari menahan rasa sakit yang menyerangnya masih bisa tersenyum melihat Suaminya, dalam hati Hyorin bersyukur karena Ayesh bisa berjalan kembali meskipun belum sempurna, yang tentu saja hal ini akan mengembalikan rasa percaya diri dalam jiwa Ayesh yang sempat menghilang beberapa saat yang lalu.


Bik Siti berhasil membawa Ayesh sampai di sofa dimana Hyorin terduduk. Peluh telah membanjiri kening Bik Siti karena mencoba menopang Tuannya menuruni anak tangga tadi hingga sampai kepada Nyonyanya.


Ayesh mengelus perut Hyorin, "Nak kamu tenanglah, sebentar lagi uncle Doni atau yang lainnya pasti akan datang membantu kita. Maafkan Ayah yang hingga kau akan lahir masih tidak berdaya." Butiran bening lolos dari pelupuk mata Ayesh, di titik ini banyak rasa yang tidak dapat dia ungkapkan.


"Mas...," ucap Hyorin lemah dengan senyumnya yang manis.


"Sayang kamu harus kuat, anak kita penurut. Dia pasti tidak akan menyusahkan kamu," Ayesh terus mengenggam tangan Hyorin.


Tidak seberapa lama terdengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah mereka, Ayesh dan Bik Siti merasa lega karena ada orang yang akan membantu mereka saat ini sebab Ayesh tentu belum bisa mengendarai mobil sendiri meskipun sudah bisa berjalan kembali. Dia butuh bantuan orang lain agar tidak membahayakan keluarga kecilnya jika dia memaksakan diri untuk mengemudi.


Doni masuk ke dalam bersama Jesika, mereka segera menghampiri Hyorin dan bergegas membawa Hyorin ke rumah sakit. Ayesh ikut masuk ke dalam mobil Doni dengan dibantu oleh sahabatnya itu. Doni merasa heran, sejak kapan Ayesh mengalami kemajuan seperti ini. Tentu saja Doni merasa sangat bahagia dan akan menanyakannya nanti, sebab yang harus mereka lakukan saat ini adalah sampai ke rumah sakit dengan cepat.


"Semua barang-barang sudah dimasukkan ke mobil kan Bik?" tanya Ayesh dari dalam mobil sebelum menutup pintunya.


"Iya sudah semuanya Tuan,"


"Terimakasih Bik, tolong jaga rumah ya. Kami pamit dulu!"


"Iya Tuan, Bibik siap laksanakan!"


Ayesh mengangguk kemudian menutup pintu mobil, Ayesh duduk di kursi depan. Sedangkan Hyorin bersama Jesika di kabin belakang.

__ADS_1


Jesika membantu Hyorin dengan terus menyemangati Hyorin agar dia kuat, bagi Hyorin Jesika sudah seperti Kakak perempuannya begitu pula sebaliknya Jesika sudah menganggap Hyorin seperti Adik Kandungnya sendiri.


Mobil yang membawa Hyorin sampai di rumah sakit Mahardika, para perawat langsung menghampiri mereka dan membawa Hyorin ke dalam ruang persalinan. Ayesh sebelumnya sudah menghubungi Dokter Asef mengenai kondisi Hyorin yang akan segera melahirkan.


Dokter Kandungan sudah siap dengan segala sesuatunya, perawat menutup ruang bersalin. Hanya Ayesh yang masuk ke dalam menemani Istrinya melewati masa-masa tersulit bagi seorang wanita karena ini merupakan pertaruhan antara hidup dan mati.


Tidak seberapa lama Pak Mahardika juga sampai di rumah sakit, namun tidak bersama dengan Hyoshan dan Nita karena mereka sedang berlibur ke luar negeri. Mereka berencana akan pulang sebelum Hyorin melahirkan karena sesuai jadwal masih satu minggu lagi. Namun, ketika Pak Mahardika mengabarkan jika Hyorin akan melahirkan malam ini, maka segera saja mereka mengurus kepulangan mereka ke tanah air esok hari.


Setelah kedatangan Pak Mahardika disusul dengan kedatangan Tuan dan Nyonya Akbar di rumah sakit. Tuan Akbar langsung menyapa sahabat sekaligus besannya itu yang sudah terlebih dahulu sampai di rumah sakit, untuk melihat kelahiran cucu pertama bagi mereka berdua. Sedangkan Nyonya Akbar yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi menantunya dan calon cucunya menghampiri Doni yang duduk di kursi tunggu bersama Jesika.


"Don bagaimana kondisi menantu Ibu?" tanya Nyonya Akbar sedikit panik karena merasa bersalah dirinya lupa tidak membawa ponsel ketika menghadiri acara bersama dengan Suaminya. Sedangkan Tuan Akbar mensilent ponselnya karena tidak mau mengecewakan rekan-rekannya jika harus menerima panggilan ketika sedang berlangsungnya acara.


"Nona Hyorin sedang ditangani oleh Dokter Bu, Ayesh juga ada di dalam."


Suasana di luar ruang persalinan menjadi hening kembali, mereka semua larut dalam pikiran dan do'a masing-masing. Mereka sudah tidak sabar ingin mendengar tangis bayi dari dalam ruang bersalin.


Di dalam ruang bersalin, Hyorin sedang berjuang sekuat tenaga untuk bisa melahirkan bayinya secara normal. Ayesh berada di samping Hyorin memberikan dukungan kepadanya, Ayesh ingin menyaksikan detik-detik kelahiran buah cinta mereka yang telah banyak ikut berjuang bersama mereka selama masih di dalam perut Ibunya, menyelesaikan masalah demi masalah yang datang silih berganti di dalam kehidupan mereka. Menguji seberapa kuatkah ikatan cinta diantara mereka, hingga kini saatnya dia melihat dunia.


Dokter terlebih dahulu memeriksa kondisi Hyorin yang telah berada pada pembukaan sempurna.


"Tuan Ayesh tolong beri dukungan maksimal untuk Istri Anda!"


Ayesh mengangguk dengan terus menggenggam tangan Istrinya, berusaha menguatkan belahan jiwanya agar kuat menahan rasa sakit yang lebih dari apa yang telah dialaminya selama ini.


"Dokter Orin ambil nafas kemudian hembuskan perlahan, pada hitungan ketiga dorong!"


"Satu...Dua...Tiga...!"


"Aaaaagggghhhhhh...," Hyorin mengejan.


"Sekali lagi Dokter Orin! Kepala bayi Anda sudah terlihat!"


Ayesh mengusap peluh yang membanjiri kening istrinya.

__ADS_1


"Ambil nafas, hembuskan perlahan!"


"Aaaaagggggghhhh...," Hyorin mengejan kembali.


"Owek...owek...," tangis bayi pecah di dalam ruang bersalin. Seketika Ayesh mengucap syukur dan menitikkan air mata bahagia, dia mengecupi puncak kepala Istrinya dengan perasaan haru.


"Terimakasih...terimakasih sayang, kamu telah berjuang melahirkan anak kita!"


Hyorin hanya mampu menjawab dengan kedipan mata lentiknya, dia merasa sudah tidak bertenaga karena kelelahan pasca melahirkan.


Perawat mengangkat tubuh bayi dan menelungkupkannya di dada Hyorin untuk merangsangnya secara alami mencari sumber makanan utama baginya.


Setelah selesai Perawat kembali mengangkatnya untuk dibersihkan dan memberikan kembali kepada Ayesh untuk diadzani sebelum dipindahkan ke ruang bayi. Sedangkan Dokter yang tadi membantu Hyorin bersalin memberikan beberapa jahitan kepada Hyorin, meskipun tidak terdapat robekan yang serius namun hal ini dilakukan agar mengembalikan bentuknya menjadi sempurna seperti sedia kala.


Hyorin dibawa ke ruang perawatan oleh beberapa Perawat agar bisa beristirahat dan bisa memberikan ASI pertamanya untuk sang bayi.


Bayi Hyorin dan Ayesh berjenis kelamin perempuan. Ayesh keluar mengikuti Hyorin yang didorong oleh Perawat menuju kamar rawat VVIP yang telah disediakan. Mereka disambut dengan keharuan yang mengharu biru oleh keluarga mereka yang tadi menunggu di luar.


Satu persatu memberikan selamat kepada Ayesh dan memeluknya. Selain karena Ayesh sudah memiliki seorang Putri juga karena Ayesh sudah bisa berjalan kembali.


"Selamat Nak, kamu sudah jadi Ayah dari putri yang cantik!" ucap Ayah Ayesh dan Mertuanya Tuan Mahardika.


"Terimakasih Ayah,"


"Ibu sangat bahagia Nak," ucap Nyonya Akbar dalam pelukan putra satu-satunya itu. Ternyata putra kecilnya kini sudah menjadi Ayah, begitu cepat waktu berputar padahal masih teringat jelas Ayesh kecil yang selalu bergelayut manja dipangkuan sang Ibu. Nyonya Akbar menitikkan air mata bahagia sekaligus harunya setelahnya mengurai pelukan putranya bergegas menuju ruang rawat untuk melihat menantu dan cucu cantiknya.


"Selamat Yesh, ikut bangga aku Yesh!" ucap Doni sembari memeluk Ayesh.


"Terimakasih Don, kamu sudah banyak membantu keluarga kecilku. Cepat menyusul dan anak kita akan bermain bersama!" ucap Ayesh menepuk pundak Doni dan mengarahkan pandangannya kepada Jesika yang berdiri tidak jauh dari tempat Doni berada.


Jesika tersenyum simpul malu-malu tergambar jelas di wajahnya, sedangkan Doni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hahaaahaaa....malu-malu kucing kalian berdua!" ledek Ayesh.

__ADS_1


--------------------------------------------------------------------


Hai Kak maafkan Author yang sudah beberapa hari ini tidak update ya, karena terkendala jaringan yang susah sekali akhir-akhir ini sehingga Author tidak bisa masuk ke aplikasi NT. 🙏🙏🙏


__ADS_2