
Mobil dari rumah sakit Mahardika telah sampai di pelataran Kantor Desa Z, Dokter Asef turun menemui Bapak Kepala Desa sekaligus meminta izin untuk membawa tim yang selama Satu bulan ditugaskan di Desa Z kembali bertugas di rumah sakit.
Hyorin dan teman-temannya sudah sejak tadi menunggu kedatangan Dokter Asef di dalam Aula Kantor Desa.
"Selamat siang semuanya apakah kalian baik-baik saja selama bertugas disini?" tanya Dokter Asef begitu memasuki Aula Kantor Desa.
"Alhamdulillah kami baik Dok," jawab Indra mewakili teman-temannya.
"Bagus kalau begitu, saya sangat bangga kepada kalian yang telah melaksanakan tugas dengan sangat baik, menurut laporan kerja keras kalian telah membuahkan hasil bahkan mampu menekan laju penularan wabah dengan cepat."
"Terimakasih Dok," jawab semua tim yang ada di dalam Aula.
"Saya juga mendapat laporan jika Suami dari Dokter Hyorin bahkan datang kesini memberikan bantuan untuk warga, benarkah seperti itu Bapak Kepala Desa?"
"Iya benar Dok, kami tidak menyangka akan mendapatkan anugerah yang begitu besar. Kami sungguh berterimakasih atas semua yang telah dilakukan oleh suami dari Dokter Hyorin."
Dokter Asef menatap Hyorin seolah mengucapkan terimakasih dan tersenyum kepadanya. Hyorin pun membalas senyum Dokter Asef.
Hyorin dan teman-temannya sudah memasuki mobil dengan Pak Supir yang sudah siap untuk melaju tatkala sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mobil yang Hyorin naiki.
Ayesh turun dari dalam mobil dan menghampiri Dokter Asef yang duduk di kursi paling depan.
"Selamat siang Dok, perkenalkan nama saya Ayesh Suami dari Dokter Hyorin," Ayesh mengulurkan tangannya menyalami Dokter Asef dengan sopan.
"Siang Nak, iya ada apa?" tanya Dokter Asef yang menatap penuh bangga kepada pemuda yang ada dihadapannya.
"Bolehkah saya membawa Istri saya pulang meskipun terpisah dari rombongan?"
"Oh ya silahkan Nak, tidak ada masalah bagi saya pribadi," jawab Dokter Asef mempersilahkan.
"Terimakasih Dok,"
Dokter Asef mengangguk kemudian tersenyum kepada Ayesh.
"Yah Rin aku pulangnya terpisah dari kamu deh," Nita cemberut tidak ingin berpisah dengan sahabatnya.
"Kamu ikut bareng aku dan Mas Ayesh saja yuk Nit," ajak Hyorin.
"Apa boleh Rin?"
"Tentu saja boleh,"
"Aku takut ah, ntar Suami kamu marah kalau aku ikutan dikira gangguin lagi."
"Tenang saja, lagian Mas Ayesh sama Kak Doni."
Hyorin dan Nita turun dari mobil yang tadi mereka naiki, kemudian menuju bagasi untuk mengambil barang bawaan mereka yang dibantu oleh Doni, yang sebelumnya telah meminta izin jika Nita ikut pulang bersama mereka.
Ayesh yang memang irit bicara hanya mengangguk, sedangkan Doni tentu sangat tidak keberatan jika Nita pulang bersama mereka paling tidak Doni tidak hanya jadi nyamuk bagi Hyorin dan Ayesh.
Indra hanya mampu menatap lekat Hyorin dari balik jendela mobil, dirinya merasa telah jauh kalah langkah dari Ayesh. Melihat orang yang sangat dicintainya kini telah bersanding dengan orang lain rasanya sungguh tidak sanggup.
Indra tetap belum bisa move on dari Hyorin. Namun, kesalahan yang telah diperbuatnya bersama Silvia, jika Hyorin mengetahui semuanya mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan. Indra merutuki kebodohan dirinya yang mudah saja terjebak ke dalam rayuan Silvia yang pada akhirnya membuat dirinya ketagihan.
Hyorin duduk dikursi belakang bersama Ayesh, sedangkan Nita duduk di depan di sebelah Doni yang kini menjadi supir mereka.
"Mas aku kok lapar ya, apa tidak sebaiknya kita cari makan dulu Mas," ucap Hyorin ketika mereka memasuki Kota Kabupaten.
"Kamu mau makan apa Rin?"
"Apa aja deh Mas," Hyorin nyengir sambil memandang Suaminya.
"Don kita cari makan dulu, Nyonya Ayesh kelaparan." Ayesh berkata sambil tertawa.
__ADS_1
Nita yang baru pertama kali melihat Ayesh tertawa renyah seperti itu merasa jika sosok Ayesh tidaklah sedingin yang dibayangkan.
"Ih...Mas Ayesh ngledek nih, kalau tidak mau ngasih makan juga tidak apa-apa nyesel tadi pindah mobil, mending bareng rombongan saja pasti lebih asyik, ada Kak Indra lagi."
"Ngomong apa kamu tadi? Coba ulangi kalau berani!"
"Ada Kak Indra....puas Mas!" Hyorin bersedekap dan membuang muka ke arah jendela mobil.
"Tuh kan Yesh, loe bikin Istri loe marah lagi. Baru juga bisa deketan gini udah kaya Tom and Jerry, tinggal turutin aja apa susahnya sih Yesh?" Doni ikut nimbrung melihat ketegangan diantara Suami Istri itu.
"Dia yang mulai kok Don, gue nanya baik-baik malah mancing emosi!" Ayesh membela diri.
"Loe memang nanya baik-baik, tapi cara loe tertawa membuat Istri loe tersinggung kaya nggak ikhlas jadinya Yesh."
"Dianya saja yang tersinggungan,"
Hyorin semakin dibuat kesal dengan sikap Ayesh yang tidak mau kalah.
Doni dan Nita hanya geleng-geleng kepala melihat pasangan halal yang bukannya baru bisa ketemu kangen-kangenan, malah sebaliknya sudah terjadi perang dingin diantara mereka hanya karena masalah sepele.
"De' Nita biarkan saja mereka, ntar juga bisa diselesaikan di ranjang,"
Doni tertawa melihat ekspresi wajah Nita yang tampak bingung mendengar ucapannya.
"Widih manggilnya De', kapan Nita jadi Adik loe Don? Jangan mau Nit, dia memang sukanya modus." Ayesh merasa geli dengan panggilan Doni kepada Nita.
"Suka-suka gue kali, urusin aja tuh yang lagi ngambek,"
"Eh Don, kita berhenti disini aja buat sholat maghrib dan cari makan dulu. Kasian yang lagi ngambek pasti butuh energi."
Doni menuruti kemauan Ayesh, kemudian memarkirkan mobilnya di parkiran rest area.
"Rin ayo kita turun dulu," ajak Nita.
Hyorin dan Nita yang sudah selesai dari Mushola sengaja mencari tempat makan yang terpisah dari Ayesh dan Doni, sebab Hyorin masih kesal dengan sikap suaminya yang malah ketika bertemu terasa begitu menjengkelkan baginya, padahal hari ini merupakan hari yang betul-betul ia nantikan sejak sebulan yang lalu.
"Rin kenapa nggak makan bareng mereka aja sih?" tanya Nita setelah duduk di salah satu kursi di dalam restoran yang ada di rest area.
"Lagi males aku Nit,"
"Aku tuh malah lucu melihat kalian, jadi begitu ya kalau orang udah nikah. Kalian itu kaya orang pacaran aja Rin, ngambek-ngambekan segala, nggak ada yang mau ngalah juga."
"Pacaran setelah menikah Nit," jawab Hyorin sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Tatkala Hyorin dan Nita tengah asyik mengobrol sambil makan dengan santai tiba-tiba muncul Empat orang pria tidak dikenal.
"Hai nona-nona cantik, berdua aja nih. Boleh kita-kita temenin," ucap salah satu pria itu sambil menaik turunkan alisnya.
"Maaf Mas, kami sedang tidak ingin diganggu," tolak Hyorin sopan.
"Tapi kami ingin menemani kalian!" jawab pria yang satunya sambil tertawa.
"Ayo Nit, kita pergi dari sini!" ajak Hyorin kepada Nita merasa mereka bukanlah orang baik-baik.
Hyorin dan Nita beranjak dari tempat duduk mereka, namun dicegah oleh keempat orang itu.
"Eh mau kemana Nona manis,"
"Maafkan kami harus pergi sekarang, silahkan jika Mas-mas ini mau duduk di meja kami!"
Ayesh dan Doni yang sejak tadi menunggu di dalam mobil merasa cemas dengan Hyorin dan Nita yang tak kunjung kembali, padahal mereka berdua sudah selesai makan dari tadi sedangkan kedua gadis itu tidak kunjung menunjukkan batang hidung mereka.
"Ayo Don kita cari mereka ke dalam, lama sekali mereka khawatir terjadi apa-apa di tempat asing begini!"
__ADS_1
Doni mengikuti langkah Ayesh masuk ke dalam mencari keberadaan kedua gadis itu, betapa terkejutnya mereka tatkala melihat gadis yang mereka cari sedang dikerumini oleh Empat orang yang tidak dikenal.
"Lepaskan mereka!" teriak Ayesh menginstruksi.
"Siapa kalian, jangan ikut campur!"
"Aku suami dari gadis yang sedang kalian ganggu!" Ayesh menaikan suaranya Satu oktaf.
Hyorin dan Nita yang ketakutan berlari kemudian bersembunyi di belakang Ayesh dan Doni.
"Kalian jangan takut cepat kembali ke mobil dan kunci pintunya, jika terjadi hal yang gawat langsung bawa mobil itu pergi!" titah Ayesh dan Hyorin patuh kemudian mengajak Nita untuk mengikutinya.
"Kalian telah membuat buruan kami kabur, kurang ajar kalian berdua!"
Salah Satu dari keempat pria tadi maju hendak memukul Ayesh yang diikuti oleh ketiga temannya. Baku hantam diantara mereka tidak terelakan, namun Ayesh dan Doni berhasil memukul mundur mereka meskipun Ayesh sempat terkena pukulan dibagian perutnya.
Suasana di rest area itu sebenarnya cukup ramai, namun tidak ada seorangpun yang berani dengan preman-preman yang tadi, sehingga orang-orang yang ada disitu bersorak sorai sebab Ayesh dan Doni berhasil mengalahkan preman yang sangat meresahkan itu.
"Loe tidak apa-apa kan Yesh?" tanya Doni yang berjalan menuju mobil dengan memapah tubuh Ayesh.
Hyorin yang melihat Doni memapah suaminya, berhamburan keluar dari mobil menghampiri mereka.
"Mas Ayesh kenapa Kak?" tanya Hyorin khawatir.
"Dia terkena pukulan preman yang tadi dibagian perutnya," jawab Doni.
"Ayo Kak cepat bawa ke mobil dan kita segera ke rumah sakit."
Hyorin sangat cemas dengan keadaan Ayesh, kini Ayesh duduk sambil bersandar di jok mobil tampak menahan rasa sakit yang begitu dalam.
Hyorin merutuki kebodohannya sendiri, kenapa harus ngambek dan memilih tempat terpisah dari suaminya di tempat asing.
"Dokter Orin apa tidak sebaiknya kita bawa Ayesh ke rumah sakit Mahardika saja, supaya kita bisa merawatnya dengan baik disana."
"Berapa jam lagi kira-kira perjalanan kita Kak?"
"Kalau lancar masih sekitar Lima jam lagi, bagaimana?"
Hyorin menimbang-nimbang waktu tempuh dengan keadaan Ayesh saat ini.
"Baiklah Kak, tidak masalah. Aku akan melakukan pertolongan pertama, Kak Doni fokus dengan jalanan supaya kita bisa lebih cepat sampai."
Doni mengangguk mengerti dengan instruksi dari Istri sahabatnya itu.
"Nit tolong bantu aku ambilkan perban dan obat-obatan yang aku butuhkan di dalam kotak itu!" Hyorin menunjuk kotak yang berada di depannya.
Hyorin membuka kemeja yang Ayesh kenakan, memeriksa luka yang ada di perut Ayesh.
Bekas luka yang dulu memang masih ada, dan pukulan yang keras tadi sepertinya menghantam bagian yang sama menyebabkan bekas luka itu robek dan sedikit mengeluarkan darah segar.
Hyorin dengan tlaten membersihkan luka itu, kemudian menutupnya dengan perban.
Beruntung Hyorin membawa obat pereda nyeri, untuk dapat sedikit meredakan bagian yang sakit.
Hyorin mendekap suaminya yang terkulai lemas di dadanya. Perlahan terdengar dengkuran halus yang menandakan jika bayi besarnya telah tertidur.
Hyorin sangat bersyukur tidak terjadi hal yang fatal terhadap suaminya, namun dia harus segera membawa suaminya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
------------------------------------------------------------------------
Do'akan Ayesh tidak kenapa-kenapa ya Kak 🤗🤗
Terus dukung Author ya, jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite. 💕💕💕
__ADS_1
Terimakasih untuk Kakak-kakak yang selalu setia dengan karya Author ya, Love U All 😘😘