Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 68


__ADS_3

Jesika masih tidak percaya dengan pernyataan Tuan Mahardika yang akan memberinya saham sebesar 5% miliknya, selama ini Jesika sudah banyak berhutang budi kepada Ayah Hyorin sehingga dia merasa sangat tidak enak.


"Om Mahardika, mohon maaf jika saya lancang Om. Mengenai saham yang tadi Om sebutkan menurut saya Om sangat berlebihan, selama ini saya sudah banyak berhutang budi pada keluarga ini, saya tidak mau menerima semua itu Om," ucap Jesika gemetar.


"Nak...Om sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga ini, kelak kamu bisa menjadi saudara untuk Hyoshan dan Hyorin, bukan tanpa alasan Om melakukan semua itu."


"Akbar tolong kamu urus juga terkait hal ini ya, aku mau perpindahan aset ini dilakukan secara cepat," perintah Mahardika kepada besannya.


"Akan aku lakukan sesuai permintaanmu Dik,"


"Kak Jesika, Ayah kami sangat berharap kamu bisa menjadi saudara kami, jadi jangan menolak ya Kak," Hyorin memeluk Jesika.


"Terimakasih Nona Orin, kalian memang orang-orang yang sangat baik, aku tidak pernah tahu apa jadinya diriku ini ketika tidak bertemu dengan orang sebaik Ayah kalian," Jesika membalas pelukan Hyorin.


Jesika menitikkan air matanya, bukan karena saham yang diterima olehnya tapi lebih dari itu, kini dia bisa memiliki sebuah keluarga kembali, selama ini dia hidup sendirian, sepi dan menepi.


"Kakak jangan menangis ya, aku senang Kakak bisa berada ditengah-tengah kami." Hyorin mengurai pelukannya dan menghapus air mata di pelupuk mata Jesika.


Doni yang melihat kejadian itu ikut merasa terharu, setelah sekian banyak hal yang Jesika lalui kini dia bisa tersenyum bersama keluarga Hyorin.


"Dik aku pamit pulang dulu ya sudah larut, kamu baik-baik ya Dik, aku tunggu di lapangan golf," Akbar pamit undur diri.


"Terimakasih banyak untuk semua bantuanmu Bar, aku banyak merepotkan kamu!"


"Sudah jadi kewajibanku Dik, kamu tidak perlu sungkan," Akbar menepuk pundak sahabatnya itu.


"Don tolong antarkan Ayah pulang ke rumah ya, malam ini aku menginap disini. Sekalian antarkan Jesika!" Ayesh memberi perintah kepada Doni.


"Siap laksanakan Yesh," Doni tersenyum sumringah.


"Ingat Don jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan,"


"Tergantung Yesh," jawab Doni sambil berlalu pergi setelah berpamitan kepada tuan rumah.


Mobil yang dikendarai Doni pun melesat meninggalkan pelataran rumah keluarga Mahardika.


"Oshan kamu menginap disini saja ya!" pinta Ayahnya.


"Iya Ayah, aku akan menjaga Ayah malam ini. Ayo kita ke atas Yah!"


Hyoshan membawa Ayahnya naik ke atas meninggalkan Ayesh dan Hyorin di ruang tengah.


"Ayo Mas kita juga segera istirahat," Hyorin menarik lengan Ayesh.


"Nyonya Ayesh tidak sabaran banget sih," Ayesh mengerling.


"Ihhh...Mas apa-apaan sih," Hyorin mencubit pinggang Ayesh dan berlari menaiki tangga.


"Hey...jangan lari-lari sayang ingat kamu sedang hamil," Ayesh mengejar istrinya masuk ke dalam kamar.


Silvia yang melihat pemandangan yang tidak diinginkannya itu merasa terbakar emosi. Dia tidak suka melihat Hyorin bahagia bersama Ayesh.


Hyorin seperti biasa bersih-bersih sebelum tidur, kemudian naik ke atas ranjang lamanya yang sangat dia rindukan.


Dia sangat bahagia malam ini, Ayahnya memilih melepaskan Tante Mirna dan mempertahankan anak-anak kandungnya ditambah dia memiliki saudara baru yaitu Jesika, baru kali ini Hyorin tahu jika Ayah sangat dermawan dan berjiwa sosial tinggi, bahkan terhadap Jesika yang bukan bagian dari keluarga mereka.


Ayesh membawakan segelas susu hangat untuk istrinya, rutinitas yang tidak akan Ayesh tinggalkan meskipun sedang tidak berada di rumah mereka sendiri.


"Diminum sayang selagi masih hangat!"


Hyorin meminum susunya hingga setengah gelas.


"Malam ini apakah terasa mual?"


Hyorin menggeleng, "Tidak Mas, sepertinya anak ini betah berada di rumah ini."


"Wah benarkah itu, baguslah kalau seperti itu. Kamu bisa tidur dengan lebih nyaman malam ini. Ayo susunya dihabiskan dan tidurlah sudah larut, aku akan bersih-bersih dulu."


Hyorin meminum habis susu yang Ayesh buat, kemudian menarik selimut untuk tidur. Namun, matanya susah sekali terpejam hingga Ayesh keluar dari kamar mandi.


"Kenapa belum bobo sayang?"

__ADS_1


"Aku nggak bisa tidur Mas,"


"Kenapa memangnya sayang, apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Ti-tidak ada Mas," Hyorin berbohong demi melihat Ayesh yang sudah mulai memberikan kode, Hyorin memilih tidur dari pada berakhir dikerjai habis-habisan oleh suaminya.


"Baguslah, ayo tidur!" Ayesh memeluk Hyorin dan mengelus-elus kepalanya dengan lembut.


Perlahan Hyorin mulai merasa hangat dan nyaman membuat matanya terasa berat dan berkahir dengan berselancar di alam mimpi.


****


Setelah mengantarkan Ayah Ayesh ke rumahnya, Doni pamit untuk mengantarkan Jesika pulang.


Suasana di dalam mobil tampak hening, tidak ada yang membuka suaranya. Entah kenapa semua terasa canggung, padahal ini bukan pertama kalinya Doni mengantarkan Jesika pulang ke rumahnya.


"Don maaf ya gue jadi ngrepotin loe," Jesika membuka suaranya.


"Tidak repot kok, gue malah seneng. Bolehlah sering-sering direpotkan!"


"Wah gue takut ada yang marah Don, bisa bahaya gue kena gampar pacar loe!"


Doni malah tertawa mendengar pernyataan Jesika.


"Kok malah ketawa sih Don, gue serius kali!"


"Gue juga Dua rius malahan Jes,"


"Loe memang nggak pernah berubah Don, tetap sengklek!" Jesika tertawa.


"Loe suka kan Jes?"


"Uhuk...uhuk...," Jesika terbatuk.


"Loe nggak pa-pa Jes?"


"Gue nggak pa-pa Don cuma kaget aja,"


"Kata-kata loe barusan,"


Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Jesika.


"Yah udah sampai ya, padahal gue masih ingin ngobrol sama loe!"


"Besok lagi kan bisa Don,"


"Ok...besok gue jemput ya,"


"Nggak janji deh, sana pulang gih!"


"Lagi-lagi gue diusir," Doni cemberut.


"Bukan ngusir Don, tapi mempersilahkan!"


"Mempersilahkan untuk datang lagi kan?"


"Iya...iya...sudah sana, hati-hati di jalan ya Don!"


Doni kembali melajukan mobilnya meninggalkan Jesika yang masih memandang kepergian Doni hingga mobil Doni menghilang di tikungan.


Keesokan paginya Silvia dan Mamanya sudah siap dengan koper besar mereka. Keduanya turun dengan hati yang berkecamuk, belum berhasil dengan tujuan mereka malah sekarang harus terusir dengan tidak hormat.


Pak Mahardika sudah tampak sehat pagi ini, semalam beliau tidur bersama Hyoshan melepas kerinduan kepada Putra Sulungnya, sama-sama saling bercerita melepaskan segala pelik permasalahan yang selama ini membebani hati keduanya.


Mirna menghampiri Mahardika yang sedang duduk bersantai di kursi taman sambil membaca koran dan meminum kopi hangat, hari ini weekend jadi tidak ada yang pergi untuk bekerja.


Ayesh dan Hyoshan sedang pergi joging sedangkan Hyorin sedang membantu Mbok Nah memasak di dapur. Mirna menggunakan kesempatan ini untuk membujuk kembali Mahardika.


"Mas...tidak bisakah kau memaafkan kami, berikan kami kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri kami Mas," Mirna memohon.


"Iya Ayah, kami janji tidak akan mengulangi kesalahan kami," Silvia ikut nimbrung.

__ADS_1


"Kalau tidak ada keperluan lain, silahkan segera angkat kaki dari sini!" jawab Mahardika kemudian berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam tanpa memperdulikan Ibu dan Anak yang masih berdiri dengan kesal.


"Ini semua gara-gara mama," Silvia menghentakkan kaki sambil menyeret kopernya.


"Kok Mama yang disalahin sih, bukankah kamu yang tidak becus di Perusahaan kerjaan kamu hanya menghambur-hamburkan uang saja!"


"Mama...aku ini masih muda jadi wajar kan aku bersenang-senang,"


"Iya...iya...terserah kau saja!"


"Sekarang kita mau kemana Ma? Hubungi Om Bondan coba Ma, biar dia menolong kita."


Mirna mengambil ponselnya, beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Bondan yang sama sekali tidak tersambung, nomornya tidak aktif.


"Bagaimana Ma?"


"Nomor Bondan tidak aktif!"


"Nasib kita bagaimana Ma?"


"Kita pulang ke rumah lama kita, anggap kita sedang liburan. Akan aku buat Mahardika menyesal dan memintaku kembali kepadanya,"


Silvia dan Mamanya menaiki taksi untuk pulang ke rumah lama mereka.


Di dalam taksi ponsel Silvia berdering.


"Hallo...ada apa Mas?" ucap Silvia begitu tombol hijau dia geser ke atas.


"Jangan lupa nanti malam datang ke alamat yang sudah aku kirimkan!"


"Tapi Mas...,"


Belum selesai Silvia berbicara, sambungan telfonnya sudah terputus.


"Telfon dari siapa Sil?" tanya Mirna.


"Indra Ma, kita nanti malam di suruh datang ke alamat yang dia kirimkan!"


"Untuk apa?"


Silvia mengedikkan bahunya, tidak tahu harus menjawab apa karena Indra sama sekali tidak mau menjawab pertanyaannya dari kemarin.


"Ma kita mampir ke supermarket dulu, belanja!"


"Memangnya kamu punya uang?" tanya Mamanya.


"Aku masih membawa ini Ma," Silvia menunjukkan kartu yang biasa dia jadikan alat untuk mentraktir teman-temannya.


"Kamu memang pandai Silvia, ayo kita kuras isinya hingga habis!" puji dan ajak Mamanya.


Mereka asyik berbelanja kesana kemari seolah-olah seperti orang kalap semua ingin dibeli.


Setelah puas mereka menuju kasir untuk membayar, Silvia mengeluarkan kartunya.


"Mohon maaf Nona, kartunya tidak bisa digunakan!" ucap seorang kasir yang sedang melayani mereka.


"Tidak mungkin Mbak, jelas-jelas itu kartu tanpa batas!"


"Mohon maaf Nona, kartu ini sepertinya sudah di blokir!"


"Tidak mungkin Mbak, kamu pasti salah Mbak!"


"Coba pakai kartu Mama," Mirna menyerahkan kartunya.


"Mohon maaf Nyonya, kartu ini juga tidak dapat digunakan."


"Apa...!!" Kedua Ibu dan anak itu benar-benar syok dan frustasi.


---------------------------------------------------------------------


Jangan lupa like, coment, vote dan jadikan favourite ya Kak. 💕💕💕

__ADS_1


Terimakasih yang selalu mendukung Author ya Kak 😘😘😘


__ADS_2