
Hyorin mengikuti langkah suaminya keluar dari gedung rumah sakit, sedangkan Nita mengantarkan Hyoshan sampai ke parkiran kemudian masuk kembali ke dalam untuk melaksanakan tugasnya yang tadi sempat tertunda setelah Hyoshan menyerahkan ponselnya yang tadi ketinggalan di mobil.
Hyorin memasuki mobil Ayesh dan duduk dengan hati tidak karuan, dia tahu jika Ayesh sangat marah dengan kejadian pagi ini yang sungguh di luar dugaan.
Ayesh yang duduk di kursi kemudi diam selama perjalanan. Dia menatap jalan dengan lurus, sesekali Hyorin menoleh ke arah Ayesh yang masih menutup rapat mulutnya, matanya terlihat merah.
Kilatan kemarahan masih betah bertengger disana, Hyorin tidak berani untuk menanyakan apapun kepada Ayesh karena khawatir Ayesh belum bisa menguasai emosinya.
Ayesh sebenarnya memiliki sikap yang baik dan penyayang terutama terhadap istrinya, namun jangan tanyakan jika dia sudah marah maka dia akan diam sampai dia mau berbicara dengan sendirinya.
"Mas kita mau kemana?" tanya Hyorin mencoba memberanikan diri karena merasa asing dengan jalanan yang mereka lewati karena bukan menuju ke apartemen mereka.
Ayesh tidak menjawab pertanyaan Hyorin dan tetap fokus mengemudi.
Hyorin merasa lelah dan mulai merasa bosan karena Ayesh masih tetap pada pendiriannya, mengabaikan dirinya yang sebenarnya ingin menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya terjadi.
Hyorinpun lambat laun merasa mengantuk, pada akhirnya dia tertidur di dalam mobil.
Mengetahui istrinya tengah tertidur barulah Ayesh menoleh ke arah Hyorin, membenarkan posisi kepala Hyorin dengan satu tangannya sembari mengemudi.
Ayesh dan Hyorin sampai di rumah mereka yang ada di Desa, seperti biasa dalam kondisi marah Ayesh pasti akan datang kesini untuk meredakan emosi dan menjernihkan pikirannya, jika biasanya dia akan datang sendiri kali ini dia membawa Hyorin serta bersamanya.
Berharap disini dia dapat berbicara lebih tenang dengan Hyorin.
Ayesh turun dari dalam mobil setelah memarkirkannya di samping rumah dan membuka pintu penumpang, kemudian mengangkat tubuh Hyorin untuk dia bawa masuk ke dalam.
Saat berada di depan pintu rumah, si Mbok dan Mamang sudah menyambutnya. Mereka berdua hendak bertanya namun dicegah oleh Ayesh dengan memberikan sebuah kode melalui alis yang Ayesh angkat karena khawatir jika suara mereka akan menganggu tidur tuan putrinya.
Si Mbok dan Mamang pada akhirnya pamit undur diri setelah membukakan pintu untuk mereka berdua.
Ayesh membaringkan tubuh Hyorin dengan hati-hati di ranjang yang terasa dingin karena memang sudah lama tidak ditempati, namun tetap bersih karena si Mbok selalu membersihkannya secara rutin.
Ayesh menyelimuti tubuh Hyorin kemudian meninggalkan Hyorin sendirian di dalam kamar.
Ayesh pergi ke dapur untuk melihat stok bahan makanan yang ada di dalam kulkas kemudian keluar mencari si Mbok dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan dan memerintahkannya untuk pergi berbelanja ke pasar ditemani oleh si Mamang.
Ayesh kembali masuk ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya kemudian mengganti setelan jasnya dengan baju santai khas rumahan. Ayesh memang menaruh beberapa baju dirinya dan juga Hyorin di rumah ini agar jika datang kesini tidak harus repot membawa baju ganti.
Ayesh tengah bersantai ketika si Mbok datang membawa barang belanjaan dari pasar.
"Den ini langsung Mbok masak atau bagaimana?" tanya si Mbok begitu sampai di dapur sembari menaruh belanjaan yang penuh ditangan kanan dan kirinya.
"Tidak usah Mbok, biar nanti kita saja yang masak. Cukup bereskan saja dan masukkan ke masing-masing tempatnya!"
Si Mbok patuh terhadap perintah tuannya, sedangkan Ayesh bersantai sambil sesekali menyesap kopi pahitnya.
"Sudah beres semua Den,"
__ADS_1
"Kalau begitu Mbok bisa beristirahat,"
Ayesh melihat Hyorin di kamar yang ternyata masih terpulas, karena khawatir jika nanti ketika bangun istrinya itu merasa lapar pada akhirnya Ayesh turun tangan sendiri untuk urusan memasak di dapur.
Ayesh dengan lincah memotong-motong sayuran lengkap dengan bumbunya kemudian memasak dengan penuh semangat.
Di kamar Hyorin mencium bau wangi masakan yang sungguh menggoda selera makannya. Dia menggeliat meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.
Hyorin melihat sekeliling dan tersadar jika itu bukanlah kamarnya. Dia memeriksa baju yang dikenakannya dan ternyata masih lengkap.
Bayangan penculikan yang dilakukan oleh
Jovanka waktu itu, terlintas kembali di memorinya sedangkan tadi pagi dia baru saja bertemu dengan Indra yang dikhawatirkan akan melakukan hal yang sama seperti Jovanka.
Hyorin merasa lega setelah mengingat-ingat jika itu adalah kamar di rumah yang ada di Desa.
Hyorin membersihkan dirinya kemudian bertukar pakaian yang lebih santai seperti apa yang tadi Ayesh lakukan.
Hyorin menuju dapur dan melihat suaminya telah selesai dengan masakannya.
"Mas masak apa?" tanya Hyorin dengan wajah berbinar karena dia memang lapar.
Ayesh masih tidak menjawab, dia tetap diam namun tangannya dengan cekatan menaruh piring di depan Hyorin, mengambilkan nasi lengkap dengan sayur dan lauk untuk Hyorin karena dia tahu jika istrinya pasti lapar.
"Cepat makan!" perintah Ayesh.
Melihat Hyorin tengah makan, Ayesh mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan mulai makan dengan tenang.
Selesai semua aktivitas mengisi perut dan membereskan dapur, Hyorin ke ruang tengah untuk sekedar merilekskan pikiran yang penat karena Ayesh masih tetap mengabaikannya.
Ayesh mengikuti Hyorin kemudian duduk di samping istrinya.
Hyorin menatap malas suaminya yang masih berwajah datar.
"Rin bisakah kamu berhenti dari pekerjaanmu!" ucap Ayesh setelah sekian menit saling diam.
Hyorin mengernyitkan dahi mendengar penuturan suaminya itu.
"Bagaimana?" ucap Ayesh lagi.
"Haruskah Mas?"
"Bukankah aku tidak kekurangan uang sehingga kamu juga harus ikut bekerja?"
"Mas...,"
"Kamu mau bilang kalau aku egois kan?"
__ADS_1
"Bukan begitu Mas," bantah Hyorin.
"Atau kamu ingin tetap bekerja agar kalian bebas untuk bertemu seperti hari ini?"
"Tuduhan macam apa itu Mas?"
"Aku tidak menuduh Rin, kenyataannya begitu kan?"
Hyorin beranjak dari tempat duduknya, rasanya sudah tidak tahan lagi dengan ucapan-ucapan Ayesh yang begitu membuatnya sedih.
Hyorin masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Seandainya saja sedang tidak berada di Desa mungkin saja Hyorin sudah pergi keluar meninggalkan Ayesh agar pria itu mengerti akan ucapannya yang sungguh menyakitkan bagi Hyorin.
Udara terasa begitu sesak, ketika Ayesh menyusul masuk ke dalam kamar.
"Maafkan aku Rin, aku sudah salah bicara." Ayesh berlutut di hadapan Hyorin.
"Kamu tidak salah Mas karena laki-laki selalu benar," ucap sindir Hyorin.
"Mana benar begitu sayang,"
"Mas mengenai pekerjaanku, aku akan menurut jika Mas memang tidak menginginkan aku untuk bekerja tapi aku mohon jangan pernah menuduhku ada apa-apa dengan Dokter Indra, aku paling tidak suka jika dituduh seperti itu!"
"Besok aku akan mengajukan pengunduran diriku kepada Dokter Asef, setelah itu kamulah yang sepenuhnya harus bertanggungjawab atas hidupku!" imbuh Hyorin.
"Tentu saja sayang, aku hanya ingin kamu mengasuh anak-anakku di rumah. Menjaga mereka dan melayaniku tanpa terbebani dengan pekerjaanmu."
"Baiklah akan aku penuhi permintaamu, yang aku butuhkan hanyalah ridho darimu Mas."
"Tentu...tentu sayang, kau adalah Dokter Pribadiku dan anak-anakku kelak di rumahku, kaulah tempat kami untuk pulang dan berkeluh kesah."
Hyorin tersenyum sedangkan Ayesh berdiri dari tempatnya kemudian memeluk Hyorin dengan penuh cinta, ternyata gadis yang dia jadikan istri bukanlah wanita yang egois dan keras kepala.
Dia wanita tangguh yang lemah lembut dan sudah sepantasnya harus dilindungi setiap saat, meskipun tujuan awal Ayesh ingin istrinya tidak bekerja adalah agar kejadian tadi pagi tidak terulang.
Ayesh sangat khawatir jika Indra tetap nekat dan selalu menganggu kehidupan mereka berdua. Bukankah dengan bekerja atau tidaknya Hyorin di rumah sakit mereka akan tetap mendapatkan keuntungan karena Hyorinlah pemilik rumah sakit itu jika hanya dilihat dari sisi materi, namun sisi negatifnya adalah ilmu yang Hyorin miliki tidak bermanfaat bagi orang lain.
Ayesh mungkin egois akan hal ini, namun dia tidak ingin kebahagiaannya terusik. Dia berencana akan menemui Indra besok ketika Hyorin ke rumah sakit untuk melakukan pengunduran diri.
"Ayo kita beristirahat sayang, aku lelah sekali."
Sementara mereka beristirahat dengan ditemani syahdunya hujan di malam hari, ada seseorang di luaran sana yang sedang merasa bahagia merasa jika usahanya hari ini tidak akan sia-sia.
Indra beranggapan jika Hyorin dan Ayesh sedang melakukan genjatan senjata karena diantara mereka tidak ada yang pulang ke apartemen.
Sore tadi Indra sengaja mendatangi apartemen tempat Hyorin dan Ayesh tinggal, bukan untuk berkunjung hanya ingin mengecek saja jika ulahnya tadi pagi berhasil membuat keduanya bermusuhan.
Tak tanggung-tanggung Indra juga mendatangi rumah keluarga Hyorin dan juga Ayesh, mereka pun ternyata tidak ada disana. Indra tersenyum puas penuh kemenangan.
__ADS_1