Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 73


__ADS_3

Hyorin beraktivitas seperti biasanya, membuat sarapan di pagi hari dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Saat ini Hyorin sedang mematut dirinya di depan cermin setelah keriwehan di dapur terselesaikan dan diakhiri dengan mandi pagi yang menyegarkan membuat semangatnya terkumpul kembali, dia juga sudah menyiapkan baju kerja untuk Ayesh. Sedangkan Ayesh masih betah di kamar mandi.


"Mas aku tunggu di meja makan ya?"


Ayesh tidak menyahut, Hyorin berpikir jika suaminya tidak mendengar sebab terhalang gemercik air.


Hyorin menunggu Ayesh cukup lama, "Tidak biasanya Mas Ayesh mandi lama begini," pikir Hyorin.


Ayesh keluar dari kamar menuju meja makan, Hyorin merasa aneh sebab suaminya itu tidak mengenakan baju yang sudah dia siapkan.


Padahal biasanya Ayesh sangat suka dengan baju yang Hyorin pilihkan untuknya.


Mereka sarapan dalam diam, Hyorin juga tidak berani menanyakan kenapa Ayesh bersikap demikian. Pagi ini Ayesh benar-benar mengabaikannya.


Hyorin melihat jam ditangannya, "Aku akan terlambat jika tidak segera berangkat," pikirnya.


Hyorin melihat Ayesh yang masih sarapan dengan santai.


"Mas aku akan terlambat jika kita tidak segera berangkat,"


"Kenapa memangnya kalau terlambat?" bukannya menjawab malah Ayesh balik bertanya kepadanya.


Hyorin mengernyitkan dahi merasa bingung dengan sikap Ayesh, tidak biasanya Ayesh sangat acuh tak acuh seperti ini terhadap dirinya, bahkan Ayesh merupakan orang yang sangat tepat waktu.


"Kenapa jadi begini?" Hyorin bertanya lirih kepada dirinya sendiri.


"Jika kau mau berangkat sekarang, berangkat saja!" Ayesh berucap dengan datar.


"Baiklah Mas, aku berangkat!"


Hyorin menyambar tasnya yang ada di atas sofa kemudian keluar dari apartemen, mencoba memesan taksi online dan berharap taksi itu bisa segera datang.


Hyorin berangkat dengan perasaan bergemuruh yang dia coba tahan agar jangan sampai meluap menjadi tetesan bening yang perlahan jatuh.


Hyorin sesekali menoleh ke belakang, berharap Ayesh akan mengejarnya dan mencegahnya untuk berangkat. Namun, harapan Hyorin hanyalah harapan kosong. Ayesh sama sekali tidak terlihat, suara sepatunya pun tidak terdengar.


Hyorin sudah berada di depan rumah sakit Mahardika saat ini, dia menghela nafas berat. Ada beban tersendiri di dalam hatinya, dia merasa tidak membuat salah apapun tapi tiba-tiba Ayesh mendiamkannya. Bukankah seharusnya yang memiliki mood kurang baik adalah dirinya yang sedang hamil?


Ah...mengapa malah suaminya yang justru bersikap seperti anak kecil?


"Hai Rin, lama sekali kita tidak pernah bertemu?" Nita menghampiri Hyorin kemudian memeluk Hyorin erat, membuyarkan lamunannya seketika.


"Nita bagaimana kabar kamu?" tanya Hyorin.


"Aku baik Rin, kamu sendiri bagaimana?"


"Aku seperti yang kamu lihat Nit," Hyorin tersenyum menutupi suasana hatinya yang gelisah.


"Nit Kakakku baik kepadamu kan?"


Nita tampak malu-malu, wajahnya merona.


"Baik Rin, dia sangat baik." Nita memuji Hyoshan.


"Tapi sayangnya dia sangat datar, kami juga jarang bertemu." Sambungnya dengan angan yang entah.


"Lho kenapa Nit?"


"Kakakmu itu sangat sibuk sayang, memikirkanku saja mungkin tidak pernah,"


"Apa dia tidak pernah menghubungimu?"

__ADS_1


"Jarang Rin, makanya aku bilang dia tidak pernah ingat kepadaku!"


"Tapi kalian baik-baik saja kan?"


"Kami baik-baik saja,"


"Lega aku Nit,"


"Memangnya kenapa Rin?"


"Aku tidak mau kalian sama-sama patah hati karena kurang komunikasi, Kakakku memang cuek orangnya Nit, jadi kamu yang harus bisa berinisiatif, paling tidak seminggu sekali bertemu mungkin itu akan lebih baik, jangan sampai terjadi kesalahpahaman diantara kalian" saran Hyorin.


"Pikirkanlah Nit, aku masuk dulu ya."


****


Mirna hari ini sengaja menunggu Mahardika di lobi Mahardika Grup, dia berniat untuk menemui Mahardika mantan suami emasnya.


Sejak pagi Mirna sudah sampai disana, ingin memberikan kejutan kepada Mahardika bahwa dirinya masih layak untuk dipertimbangkan.


Mirna berkali-kali memperbaiki make up nya, kini dia mulai lelah sebab sudah hampir Satu jam menunggu namun yang ditunggu tak kunjung datang juga.


Terdengar suara mobil berhenti di depan pintu utama, Mirna terlihat sumringah melihat siapa yang datang. Mirna dengan impulsif menghampiri Mahardika dan bergelayut manja di lengannya.


Tidak ingin jadi tontonan Karyawan yang melintas, dia menghempaskan tangan Mirna hingga wanita itu tersungkur ke lantai.


Mahardika melangkah cepat ke arah lift namun Mirna berhasil mengejarnya sebelum pintu lift tertutup.


Mirna terus saja mengekorinya hingga masuk ke dalam ruangan.


"Mau apa kau Mirna datang kemari sepagi ini?" tanya Mahardika begitu meletakkan bobot tubuhnya di kursi.


"Mas tolong maafkan aku dan Silvia, kami tidak bermaksud membuat kamu kecewa Mas."


"Mas aku mohon, izinkan aku kembali kepadamu!"


"Kenapa kamu tidak meminta hal ini kepada Bondan, bukankah kalian sering bersama. Sekarang kenapa mencariku setelah aku bebaskan kau untuk bersamanya Mirna?"


Kata-kata Mahardika sebenarnya sudah sangat dalam, halus tapi memberikan sebuah penekanan. Mirna tetaplah Mirna wanita tidak tahu malu dan mungkin tidak memiliki batasan kepada lawan jenis.


Mirna memulai aksinya dengan membuka kancing kemeja bagian atas dan menaikkan rok yang dipakainya hingga sampai atas lutut.


"Apakah kau tidak tertarik padaku lagi?" Mirna mulai menjalankan trik lamanya, nakal dan tidak tahu malu.


"Minggir kamu Mirna!"


Mirna duduk di atas meja dengan tatapan penuh perangkap untuk terus menggoda.


Mahardika sebenarnya sama sekali tidak tertarik, dia hanya merasa risih.


Ternyata sangat sulit untuk membuat wanita di depannya itu tidak mengganggu kehidupannya dan keluarganya. Wanita ini terlalu buas dan tidak tahu malu.


Sementara itu, Hyoshan yang mendapat kabar kedatangan Mirna dari asistennya segera menuju ke ruangan Ayahnya untuk memastikan Ayahnya baik-baik saja. Sebab, kedatangan wanita licik seperti Mirna bisa saja membuat Ayahnya celaka.


Braaaaaakkkkkkk....


Hyoshan membuka pintu dengan kasar, wajahnya menegang menahan amarah. Melihat wanita seperti Mirna ada di ruangan Ayahnya.


"Anak ini masih sama saja rupanya, bisakah kau lebih sopan sedikit menyambut tamu?" ucap sinis Mirna ketika melihat Hyoshan datang.


Ayahnya memberikan kode untuk mengusir Mirna dari hadapannya.

__ADS_1


"Nyonya Mirna Anda boleh meninggalkan ruangan ini saat ini juga, sebab kehadiran Anda tidak kami harapkan dan sudah mengganggu kenyamanan kami!"


"Dasar bocah tengik, berani-beraninya kau mengusirku!"


"Nyonya apakah Anda lupa, perusahaan ini milikku jadi aku berhak mengusir siapapun yang tidak aku inginkan dari sini. Percumah saja Anda menggoda Ayah kami, kekuasaan yang dulu Ayah miliki sekarang sudah tidak ada lagi. Semua sudah dilimpahkan kepada kami anak-anak kandungnya."


"K-kau...!" Mirna mengacungkan jari telunjukknya.


"Silahkan Nyonya, pintunya ada disana. Apa perlu aku panggilkan security untuk membawa Anda pergi dari sini?"


Mirna pergi dengan wajah kesal karena dipermalukan oleh Hyoshan. Mirna berpikir sejenak, ada baiknya kini saatnya dia gunakan Silvia untuk mendekati Hyoshan. Maka apa yang dia inginkan akan bisa dia dapatkan, Mirna berpikir akan menyusun rencana bersama Silvia agar Hyoshan bisa bertekuk lutut kepada mereka.


Sepeninggal Mirna, Hyoshan menghampiri Ayahnya.


"Apakah Ayah baik-baik saja?"


"Ayah tidak apa-apa Nak, hanya rasanya jijik dengan wanita seperti Mirna itu, betapa urat malunya telah putus sebagai seorang wanita."


"Ayah istirahat saja, tidak usah memaksakan untuk bekerja. Aku kembali ke ruanganku dulu Yah,"


Hyosan memerintahkan OB untuk membawakan minuman hangat ke ruangan Ayahnya, selanjutnya meminta kepada Satpam yang berjaga di depan agar jangan mengizinkan baik Mirna maupun Silvia masuk ketika mereka datang lagi ke Perusahaan.


Hyoshan kembali ke ruangannya, meletakkan bobot tubuhnya di sofa. Hyoshan memejamkan matanya, seketika bayangan Nita lewat di pelupuk matanya begitu saja.


"Nita...apa aku merindukannya?" pikir Hyoshan.


Hyorin sore ini sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, dia mengecek ponsel namun tidak ada satupun pesan maupun panggilan yang berasal dari Suaminya.


Hyorin keluar dengan muka kusut, merasa tidak ada lagi energi bagi dirinya. Ayesh merupakan kekuatan tersendiri bagi Hyorin untuk bisa terus berdiri. Apalagi di dalam dirinya sekarang ada buah cinta mereka yang dalam hitungan beberapa bulan ke depan akan lahir ke dunia.


Hyorin mencoba tetap berpikir positif menunggu suaminya untuk menjemput. Namun, setelah sekian lama tetap nihil, orang yang dia tunggu tak kunjung datang. Entah apa kesalahan yang telah dia perbuat hingga diabaikan seperti ini.


Hyorin memutusakan untuk memesan taksi online dibandingkan harus menunggu lebih lama lagi, untuk menghubungi Ayesh dia tidak berani khawatir suaminya akan tambah bersikap dingin.


Indra yang mengamati Hyorin sedari tadi mencoba mendekat ke arah dimana Hyorin sedang duduk dengan gelisah.


"Selamat sore Dok, apakah yang ditunggu tak kunjung datang?"


"Dokter Indra?"


"Iya Dok, maukah aku antar?" tawar Dokter Indra.


"Tidak perlu repot-repot Dok, aku sudah pesan taksi."


"Kemanakah si Tuan Pengacara hingga istri kecilnya ditelantarkan begini?"


"Ah ya terkadang laki-laki suka mencari yang lain ketika istrinya sedang hamil," ucap Indra seperti kompor Lima tungku.


"Apa maksud perkataan kamu Dokter Indra?"


"Aku tidak bermaksud apa-apa hanya mengingatkan saja,"


Tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Hingga akhirnya dia pergi meninggalkan rumah sakit.


"Dengan Nona Hyorin?" seorang Supir taksi menghampiri Hyorin.


"Benar," jawab Hyorin.


"Mari silahkan masuk Nona,"


Hyorin masuk ke dalam taksi, sedangkan Indra masih berusaha untuk melakukan provokasi.

__ADS_1


"Jangan lupa dengan perkataanku barusan Dokter Orin, pikirkanlah karena kamu tampak sangat gelisah hari ini, biasanya firasat seorang istri tidak akan salah untuk suaminya."


Taksi yang ditumpangi Hyorinpun melaju, kini beribu pikiran menyergap dalam otak Hyorin.


__ADS_2