
Malam nanti pesta pernikahan Hyoshan dan Nita akan di gelar di sebuah hotel bintang lima setelah pagi ini dilangsungkan prosesi akad nikah keduanya.
Nita tampil cantik dengan balutan kebaya berwarna putih sedangkan Hyoshan dengan setelah jas yang berwarna senada dengan Nita.
Sementara kedua mempelai tengah bersiap dihadapan penghulu beserta orangtua dan saksi dari kedua belah pihak, Hyorin terus menunggu suaminya dengan cemas, ada sedikit rasa kecewa di dalam hati Hyorin sebab Ayesh tidak menepati janjinya yang akan pulang tepat waktu selambat-lambatnya ketika Hyoshan menikah. Namun, kini yang ditunggu tak kunjung datang hingga akad Kakaknya segera akan dilangsungkan.
Air mata Hyorin mulai jatuh ketika melihat kedua orangtua Ayesh memasuki ruang akad dan mencium Hyorin dengan sayang kemudian meninggalkan gadis itu untuk mengambil tempat duduk karena acara akad nikah akan segera dimulai.
Hati Hyorin terasa begitu rapuh mengingat kembali pesan-pesan yang Indra kirimkan dan tidak ia respon sama sekali. Hyorin tetap mencoba memberikan kepercayaan penuh kepada Ayesh. Dia tetap berharap Ayesh akan segera kembali.
Berkali-kali Hyorin mencoba menghubungi Ayesh dan Doni namun ponsel keduanya tidak ada yang aktif satupun. Jesika yang melihat Hyorin terlihat murung mencoba mendekatinya.
"Rin kamu kenapa, apa yang terjadi? Ceritakan kepadaku!" Jesika mengusap lembut pipi Hyorin dan menyeka air matanya dengan tisu.
"Aku tidak apa-apa Kak,"
"Kamu jangan bohong sama aku, dari sorot mata kamu terlihat jelas bahwa kamu merindukan Ayesh,"
"Tenanglah mereka akan segera kembali," Jesika memeluk Hyorin dan berusaha meyakinkan Hyorin bahwa Ayesh dapat dipercaya.
Jesika sudah menganggap Hyorin seperti adiknya sendiri. Dia menyayanginya dengan tulus, sebab Hyorin dan keluarganya juga telah mencurahkan kasih sayang mereka yang tulus kepada Jesika.
Ijab qobul berlangsung sangat khidmat, Hyoshan mampu mengucapkan kalimat yang akan mengguncang Arsy Allah SWT dalam satu tarikan nafas.
Ketika Hyoshan selesai mengucapkan ijab qobul, semua merasa lega begitu pula dengan Mahardika, rasanya tadi ikut merasa tegang.
"Bagaimana para saksi, apakah SAH?" ucap Pak Penghulu.
Semua yang hadir kompak mengatakan kata SAH untuk pernikahan Hyoshan dan Nita.
Ketika Nita hendak mencium tangan Hyoshan tiba-tiba pintu ruang akad terbuka.
"Tunggu...!" Mirna tiba-tiba muncul diambang pintu.
"Pernikahan ini tidak sah!" lanjutnya dengan nada yang menggema.
Semua orang yang ada di ruangan itu merasa kaget dengan kedatangan Mirna dan Silvia, begitu juga dengan Hyoshan dan Nita.
Mirna dan Silvia mendekat ke meja dimana tadi ijab qobul dilangsungkan.
"Apa maksud kamu Mirna dengan mengatakan bahwa pernikahan ini tidak sah?" Mahardika meninggikan suaranya.
Hyorin yang melihat Ayahnya emosi kemudian mendekati Ayahnya, berusaha menenangkan Ayahnya dengan memeluk lengannya.
"Kamu lihat putriku yang telah putramu rusak merasa frustasi karena Hyoshan meninggalkannya, bukankah setelah merengkuh madu seharusnya bertanggungjawab?!"
"Jaga ucapan kamu Mirna!" Mahardika membentak Mirna sekali lagi.
"Apakah kamu tidak pernah mengajari anak-anakmu bagaimana harus bertanggungjawab?" Mirna mencibir.
"Aku lebih tahu bagaimana kedua orangtuaku mendidikku, jangan pernah coba-coba merendahkan Ayahku Tante!" Hyoshan membuka suaranya.
"Bagus sekali kamu Oshan sudah pintar berbicara rupanya sekarang kamu!"
"Mana tanggungjawabmu sebagai seorang laki-laki hah?! Malah kamu menikahi gadis ini!" Mirna memandang begitu tajam ke arah Nita.
Hyorin menautkan jemari tangannya ke dalam jemari tangan Nita agar dia kuat, Nenek Lampir di depannya itu pasti asal bicara dan ingin mengacaukan pernikahan Kakaknya, Hyorin sangat mengenali siapa Kakaknya itu yang sangat menghormati perempuan sehingga tidak mungkin Hyoshan merusak Silvia yang memang sudah rusak akhlaknya.
"Oshan apakah kamu lupa malam itu? Baiklah kalau kamu tidak mau mengakuinya akan aku ingatkan sekali lagi!"
__ADS_1
"Kita putar saja adegan kita yang panas malam itu agar semua orang tahu bahwa kamu sangat perkasa sayang," suara Silvia terdengar lembut dan manja.
"Silvia cukup, jaga bicara kamu!"
"Kenapa sayang, apakah kamu takut semua orang akan tahu hubungan gelap kita?"
"Mama sekarang saatnya,"
Silvia memberikan flashdisk kepada Mamanya, entah apa sisi flashdisk itu karena Hyoshan tidak pernah sekalipun melakukan hal yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah saja.
Suasana di dalam ruangan semakin tegang, Hyoshan tidak pernah menyangka pernikahannya akan menjadi seperti ini karena ulah Nenek Lampir dan anaknya. Hyoshan sudah tidak tahu lagi bagaimana perasaan Nita dan keluarga besarnya. Mereka pasti sangat kecewa.
Disaat rekaman itu hampir diputar, pintu ruang akad terbuka. Muncullah sosok Ayesh dan Doni yang langsung menuju ke depan dimana keadaan sedang tidak kondusif. Ayesh berjalan dengan sangat elegan diikuti oleh Doni.
Hyorin kembali menitikkan air matanya, merasa tidak percaya jika suaminya telah kembali, memenuhi janji yang telah dia ucapkan.
"Nyonya apakah kau yakin jika putrimu itu dirusak oleh Kakak Iparku?" tanya Ayesh dengan tatapannya yang tajam penuh intimidasi.
"Ten-tentu...tentu saja aku yakin!" jawab Mirna.
"Oh baiklah Nyonya, silahkan putar rekaman Anda dan setelah itu lihat apa yang aku miliki siapa tahu akan menambahkan bukti untuk Anda jika Kakak Iparku telah membuat Putri Anda rusak!"
"Yesh...," ucap Hyoshan merasa ragu.
"Kau tenanglah Kak!" jawab Ayesh.
Rekaman yang tadi sempat tertunda akhirnya kembali diperdengarkan, Ayesh melirik istri yang sangat dirindukannya sekilas, mengisyaratkan agar dia harus tetap tenang.
Semua orang mendengarkan dengan seksama rekaman itu, terdengar suara orang sedang memadu kasih diselingi dengan kata-kata laknat yang keluar dari mulut mereka. Beruntung tidak ada anak-anak di ruangan itu.
Entah apa yang dirasakn Nita kali ini, wajahnya sudah seperti Kepiting rebus, sekaligus hatinya mencelos merasa tidak percaya jika suara itu adalah Hyoshan. Dia berusaha tidak membenarkan apa yang dia dengar. Namun, gagal karena air matanya telah lolos begitu saja.
Kasak-kusuk mulai terdengar dan terkesan menghina Hyoshan dan keluarganya.
Mirna dan Silvia merasa menang karena keadaan berpihak kepada mereka.
"Sudah aku bilang kan Oshan, kamu pasti akan jatuh ke dalam pelukanku!" batin Silvia tidak tahu malu.
"Baiklah Nyonya sekarang giliranku," Ayesh menyeringai sambil memerintahkan Doni untuk memutar video yang ada di tangan mereka.
Betapa terkejutnya semua orang yang ada di dalam ruangan, begitu adegan panas Silvia dan seorang pria disuguhkan dihadapan mereka.
Terlihat jelas wajah mereka berdua dan pria yang ada di dalam video bukanlah Hyoshan.
Suara-suara yang tadi mereka dengar juga sama persis dengan suara yang ada di dalam video.
"Bagaimana Nyonya apakah Anda yakin jika itu Hyoshan, Kakak Iparku?" Ayesh menatap sinis Mirna dan Silvia.
"Da-dari mana kau bisa mendapatkan video itu?" ucap Mirna dengan terbata.
"Ayesh kau sudah mempermalukan aku dan Mamaku, lihat saja aku pasti akan membalasmu!"
"Apa aku tidak salah dengar Silvia, bukankah kau yang mempermalukan dirimu sendiri!"
Silvia menghentakan kakinya, merasa sangat kesal dengan Ayesh yang tiba-tiba datang menghancurkan semua rencananya.
"Mama ayo kita pergi dari sini!"
Mereka beranjak pergi dari ruang akad dengan sangat malu. Wajah mereka berdua tertunduk lesu.
__ADS_1
"Silahkan pintunya ada disana!" Ayesh terus membuat mereka kesal.
"Oh ya Satu lagi Nyonya, Polisi sudah menunggu kalian berdua di depan!" sambung Ayesh.
"A-apa!!!!!!" ucap Mirna dan Silvia bersamaan, mereka menghentikan langkah sejenak.
"Kami tidak bersalah kenapa harus ada polisi?"
"Anda akan tahu nanti, ayo ikut denganku!" Doni menyeret lengan Silvia dan Mamanya.
Hyorin tersenyum ke arah Suaminya, dia melihat Ayesh dengan perasaan haru. Sedangkan Ayah Hyorin sibuk meminta maaf kepada semua yang hadir atas kekacauan yang terjadi.
Kedua orangtua Ayesh menghampirinya, memeluk erat putra yang telah membuat mereka bangga. Hyorin memilih untuk mengalah karena banyak orang yang sedang mengucapkan terimakasih kepada Ayesh dan Doni temasuk Nita dan kedua orangtuanya.
Hyoshan memeluk Ayesh dan mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkannya.
"Terimakasih Adik Ipar, hampir saja aku tidak jadi malam pertama," ucap Hyoshan sambil tertawa disela-sela pelukannya.
"Kak Oshan pasti sudah tidak tahan ya, ingat Kak masih ada pesta pernikahan kalian nanti malam, belum bertempur kamu pasti sudah loyo, hahahaaaa." Ayesh tak mau kalah meledek Kakak Iparnya.
"Issshhhh...kau ini, aku pasti kuat sampai lima ronde!" Hyoshan kembali tertawa.
"Kami tunggu buktinya Kak," Ayesh mengerling.
Ayesh celingukan mencari Hyorin yang sudah tidak ada lagi ditengah-tengah mereka.
"Don apakah kamu melihat istriku?" tanya Ayesh kepada Doni yang sedang asyik mengobrol dengan Jesika.
Doni mengedikkan bahu, "Aku tidak melihatnya Yesh,"
Ayesh bergegas keluar ruangan untuk mencari istri yang sangat dia rindukan. Ayesh menemukan Hyorin sedang duduk di taman yang penuh dengan bunga berwarna warni, taman itu berada di belakang bangunan yang dijadikan sebagai tempat akad oleh Hyoshan.
"Sayang kenapa disini?"
"Disini panas, ayo kita masuk!"
Hyorin menggeleng, "Aku tidak mau Mas, aku ingin disini saja." Tolak Hyorin.
"Kenapa sayang?"
"Bukankah aku tidak datang terlambat?"
"Tidak...,"
"Lalu?"
"Kaulah pahlawannya, kaulah pusat perhatian, kau melupakanku!" Hyorin memukul-mukul dada Ayesh yang sedang memeluknya.
"Siapa yang melupakanmu sayang," Ayesh mengeratkan pelukannya.
"Kamu siapa lagi," Hyorin memanyunkan bibirnya.
Melihat bibir Hyorin yang ranum apalagi sedang manyun membuat Ayesh gemas, Ayesh sudah tidak tahan lagi untuk tidak menempelkan bibirnya ke bibir Hyorin. Ada rasa hangat dan rindu yang bercampur menjadi satu, mereka saling bertautan menumpahkan kerinduan setelah berpisah sekian waktu lamanya.
Ayesh melepaskan tautannya dan dengan serampangan membopong tubuh Hyorin, memutar-mutarnya seperti mereka sedang menari di taman bunga.
Jangan lupa Like, vote, coment dan jadikan favourite ya Kak 💕💕💕
__ADS_1