
"Maafkan Putri saya yang sudah sangat kurang ajar terhadap kalian," Ayah Jovanka muncul secara tiba-tiba.
"Ay-ayah...," Jovanka begitu takut karena ada kilatan marah dari mata Ayahnya.
Ayah Jovanka kemudian mendekati Ayesh dan tersenyum kepadanya.
"Sebaiknya kalian pulang saja, biarkan Om yang urus anak tidak tahu diuntung ini!"
"Maafkan Om yang terlalu memanjakannya selama ini hingga dia lupa akan dirinya sendiri, Om sendiri yang akan mendidiknya. Tidak perlu merepotkan kalian terlalu jauh, pulanglah Nak!"
"Iya Om, terimakasih. Kami pamit dulu Om," pamit Ayesh kepada Ayah Jovanka kemudian mengenggam tangan Hyorin agar berdiri dan berlalu pergi dari sana.
Hyorin mengangguk sopan kepada pria paruh baya itu dan mengikuti langkah suaminya.
Dalam hati Ayesh begitu bersyukur kedatangan Ayah Jovanka membebaskannya dari situasi yang sangat tidak ia inginkan.
"Mas...," Hyorin membuka percakapan di dalam mobil.
"Apa tidak sebaiknya kita cabut saja gugatan terhadap Kak Jovanka?"
"Akan aku pikirkan sayang, kamu tenang ya. Jangan pikirkan hal ini lagi, aku dan Doni yang akan mengurusnya."
Hyorin kembali fokus menatap jalan, suasana menjadi hening.
Ponsel Ayesh berkumandang menandakan ada panggilan masuk. Ayesh segera mengaktifkan handsfree dan menerima panggilan dari Doni.
"Hallo Yesh apakah kamu sedang bersama Nona Orin?" tanya Doni dari seberang telfon begitu telfon tersambung.
"Iya Don ada apa?"
"Ada berita heboh di internet, terkait penggrebekan di Hotel X yang menjaring beberapa pasangan bukan suami istri."
"Maksud loe Don?"
"Diduga Ibu Tiri Hyorin berada di Hotel itu bersama dengan seorang Pengusaha yang ikut terjaring razia,"
"Kirim beritanya ke gue Don!"
Ayesh menutup sambungan telfonnya.
"Ada apa Mas?" tanya Hyorin penasaran.
"Kita akan segera ke tempat Ayah kamu Rin, Mas khawatir terjadi sesuatu pada Ayah."
"Ceritakan kepadaku Mas, ada apa? Ay-ayahku kenapa Mas?" wajah Hyorin terlihat cemas.
"Akan aku ceritakan nanti sayang, peralatan medis kamu ada di bagasi mobil kan Rin?"
"Iya Mas, aku menyimpannya untuk keadaan darurat, tapi ini ada apa Mas jangan bikin aku khawatir begini,"
"Bagus kalau begitu kita tidak harus ke rumah dulu, kamu tenanglah ini hanya untuk antisipasi saja, semoga tidak terjadi hal yang serius."
Ayesh memacu mobilnya lebih cepat, berharap mereka tidak terlambat sampai di Perusahaan Ayah Mertuanya.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Ayah Hyorin yang ternyata sudah ada Hyoshan di dalam sedang memberikan minum kepada Ayahnya yang terduduk lemas di sofa, Pak Mahardika tampak sangat shock dan pucat.
"Kak Ayah kenapa?" tanya Hyorin panik.
"Baguslah kamu datang Rin, lakukan pertolongan pertama. Ayah sangat shock hari ini mendengar berita terkait Tante Mirna,"
"Be-berita apa Kak?"
"Nanti saja kamu baca sendiri, sekarang tolong Ayah dulu!"
"Mas ambilkan peralatan medis kamu dulu Rin,"
Ayesh bergegas turun ke lantai bawah untuk mengambil peralatan medis Hyorin yang ada di bagasi mobil mereka, di lobi Ayesh bertemu dengan Silvia yang tampak sedang terburu-buru.
__ADS_1
Ayesh tidak perduli sama sekali, kemungkinan Silvia akan pergi menemui Ibunya yang terjaring razia pihak Kepolisian.
Ayesh masuk ke dalam ruangan, kemudian menyerahkan kotak penyimpanan peralatan medis Hyorin.
Hyorin dengan segera memeriksa kondisi Ayahnya, dia khawatir Ayahnya akan bernasib sama dengan mendiang Ibunya terkena serangan jantung secara tiba-tiba.
"Bagaimana kondisi Ayah Rin?" tanya Hyoshan.
"Ayah baik-baik saja Kak, hanya shock jadinya detak jantungnya sedikit melemah. Ayah harus banyak beristirahat dan tidak boleh banyak pikiran."
"Apakah perlu kita bawa ke rumah sakit sayang?" Ayesh ikut nimbrung.
"Tidak usah Mas, aku akan merawat Ayah di rumah."
"Mas tolong siapkan mobil, kita akan pulang sekarang. Kakak juga ikut pulang ya, kita akan bicarakan ini di rumah!" pandangan Hyorin beralih ke Hyoshan dengan sedikit memohon.
Bukan tanpa alasan Hyoshan enggan untuk pulang ke rumah Ayahnya, namun kali ini dia harus menepiskan egonya sendiri.
Mereka sampai di kediaman keluarga Mahardika. Ayesh dan Hyoshan memapah Ayah mereka, membawanya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sedangkan Hyorin mengikuti di belakang.
"Aku keluar sebentar sayang, aku akan menelfon Doni di depan!" ucap Ayesh begitu Ayah Mertuanya sudah berbaring di ranjang ditemani oleh kedua anaknya yang duduk di tepi ranjang.
"Nak Ayesh tunggu, Ayah mau bicara!"
"Baik Ayah," Ayesh mengurungkan niatnya untuk keluar.
"Nak...Ayah minta tolong panggilkan Ayahmu untuk datang kemari!"
"Akan segera Ayesh panggilkan Ayah agar datang kesini Yah, Ayah istirahat saja ya!"
Ayah Hyorin hanya mengangguk, kemudian memejamkan matanya untuk menstabilkan kondisi tubuhnya. Dia tidak boleh lemah, karena banyak hal yang harus segera diakhiri dan diselesaikan demi kebahagiaan putra dan putri kandungnya.
"Ayo Rin kita keluar dulu, biarkan Ayah beristirahat!" ajak Hyoshan kepada Adiknya.
"Tapi Kak, aku ingin disini menemani Ayah!"
"Ayo sayang kita keluar saja dulu?!"
Hyorin patuh kepada Kakak dan Suaminya untuk keluar dari kamar Ayahnya.
Ayesh pamit untuk menjemput Ayahnya yang masih di Kantor bersama Doni.
Ayesh melajukan mobilnya setelah sebelumnya mengirimkan pesan kepada Doni.
Ayesh
Don selidiki pengusaha yang terjaring razia bersama Tante Mirna!
Doni
Ok...segera laksanakan Bos 👍
Sementara itu Silvia sudah berada di Kantor Polisi tempat Ibunya di tahan bersama selingkuhannya.
"Mama kenapa ceroboh begini sih?"
"Mama memang lagi sial, tidak biasanya kena razia begini,"
"Mama sekarang sudah jadi trending topic dimana-mana di internet, di televisi juga bagaimana ini Ma, tua bangka itu pasti sudah tahu!"
"Tenang saja Silvia, Mama pasti bisa meyakinkan tua bangka itu kembali!" jawab Mirna dengan percaya dirinya.
"Dimana Om Bondan Ma?"
"Dia sedang bersama Pengacaranya, mengurus hal ini agar kita bisa bebas hari ini juga. Kita tunggu saja hasilnya."
Pak Bondan yang menjadi selingkuhan Mama Silvia datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ayo kita bisa pulang sekarang!"
"Apakah sudah beres Mas?" tanya Mirna kepada Pak Bondan.
"Sudah tenang saja, Pengacaraku sudah mengurus semuanya. Tapi sebaiknya kita pulang terpisah, agar tidak memancing media!"
Mereka pulang masing-masing, di dalam mobil Silvia mendapat kiriman chat dari Indra.
Indra
Silvia besok malam orangtuaku ingin bertemu dengan kamu dan juga Mama kamu. Akan aku kirimkan alamatnya besok!
Silvia
Untuk apa Mas? Bukankah kita bisa bertemu di rumah?
Sepuluh detik, Tiga Puluh detik, Satu menit tidak ada lagi balasan chat dari Indra. Silvia membuang ponselnya ke jok mobil merasa kesal dengan Mamanya, karena ini pasti ada hubungannya dengan kasus razia Mamanya itu.
Silvia bersedekap dengan wajah emosi terhadap Mamanya sendiri. Sedangkan Tante Mirna hanya bisa memandangi Putrinya sebab dirinya sendiri juga terasa sudah hancur dan sangat malu. Mending masih punya malu ya. heheeheee...
Ayesh sudah sampai di Kantor, dia bergegas menemui Ayahnya menyampaikan pesan dari Ayah Mertuanya.
"Iya Nak, Ayah nanti malam akan datang. Ayah paham apa yang Mahardika maksudkan. Kau bersiap-siaplah!"
"Baik Ayah, aku mengerti."
Ayesh kembali ke ruangannya menemui Doni,
"Bagaimana Don, apakah sudah ada informasi?"
Doni memberikan berkas yang berhasil dia kumpulkan.
Ayesh membacanya dengan seksama, dalam berkas yang Doni berikan diketahui bahwa Bondan adalah seorang Pengusaha yang merupakan pesaing dari Perusahaan Ayah Hyorin.
Sejak awal Perusahaan Pak Bondan tidak bisa mengalahkan kuatnya Mahardika Grup, apalagi setelah Hyoshan bergabung di Perusahaan itu yang semakin membuat kokoh Mahardika Grup dengan terobosan-terobosan briliant yang Hyoshan luncurkan. Sehingga sejak awal Perusahaan ini sudah menggunakan Mirna dan Silvia sebagai alat untuk memporak-porandakan keluarga Mahardika.
"Don apakah ini ada hubungannya dengan kematian mendiang Ibu Hyorin?"
"Aku juga memiliki dugaan yang sama Yesh, kita akan selidiki ini lebih lanjut, kemungkinan ini telah terorganisir sejak awal,"
"Lemahkan saham Bondan Grup Don, kalau bisa sampai pada level titik beku, kita akan membuat mereka menyerah secara perlahan-lahan!"
"Kau ternyata kejam juga Yesh," Doni tergelak.
"Menghilangkan nyawa orang lain adalah perbuatan yang tidak pantas untuk diampuni!"
Silvia dan Mamanya sudah sampai di rumah keluarga Mahardika, mereka memasuki rumah yang ternyata ada Hyorin dan Hyoshan disana, dengan impulsif Silvia berbicara mengejek Kakak beradik itu.
"Ma lihatlah ada siapa yang berani-beraninya datang kesini,"
Hyoshan tersenyum, "Seharusnya kami yang mengusir kalian sejak awal, kalian tidak memiliki hak apapun disini, karena ini rumah Ayah dan Ibu kami!"
Tante Mirna bertepuk tangan, "Bagus sekali, Dua anak ingusan yang menyedihkan sudah berani berbicara di depan kita Silvia!"
"Tante Mirna cukup, Ayah sedang tidak sehat jadi jangan bikin keributan disini!" Hyorin mengiterupsi.
"Bagus sekali tua bangka itu sakit, biarkan dia sekarat dan cepat meninggal agar aku dan Silvia bisa bebas melakukan apa saja terhadap hartanya, bukankah kalian tidak memiliki hak untuk itu?! Mirna menyeringai.
"Ayo Silvia kita naik, biarkan Dua anak ingusan ini jantungan mendengar mereka tidak punya apa-apa lagi ketika Ayahnya tiada!"
Silvia dan Mamanya naik ke atas dengan wajah penuh dengan kesombongan dan arogan, tidak ingat bahwa dia tengah dalam masalah kali ini.
"Rin kau dengar sendiri bukan? Itulah tujuan mereka tapi selama ini Ayah tidak pernah mendengarkanku,"
"Tenang saja Kak, aku punya ini!" Hyorin menunjukkan rekaman pembicaraan mereka dengan Mirna dan Silvia tadi.
Hyorin sengaja mengaktifkan rekaman di ponselnya begitu melihat gelagat tak baik dari Silvia dan Mamanya.
__ADS_1
Hyoshan tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya untuk Adiknya yang ternyata memiliki ide yang cerdik disaat genting, "Terbaik...!!!"