Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 49


__ADS_3

Hyorin terbangun dari tidurnya, dia tidak melihat Ayesh ada di dalam kamar.


"Mas Ayesh belum pulang," gumam Hyorin lirih sedikit kecewa karena mengira Ayesh benar-benar sedang marah besar kepadanya dan lupa untuk pulang ke rumah.


Hyorin menuju dapur menggunakan kursi roda ingin mengambil minum sebab tenggorokannya terasa kering.


Dia melihat lampu yang sudah menyala padahal seingatnya dia belum menyalakan lampu, netra Hyorin menjadi awas khawatir ada orang jahat yang masuk ke dalam Apartemen sedangkan saat ini dia sendirian di rumah, dengan kondisinya saat ini jika benar ada orang jahat tidak mungkin dia bisa melawan ataupun melarikan diri.


Ayesh keluar dari ruang kerja, dia juga menuju dapur untuk mengambil minum.


Ayesh lebih dulu melihat Hyorin yang sedang menuangkan air ke dalam gelas.


"Eheemmm...," Ayesh berdehem.


Hyorin tersentak kaget dan dengan cekatan membalikan badannya melihat siapa orang yang ada di belakangnya, beruntung dia tidak menjatuhkan gelas yang sedang ia pegang.


"Mas Ayesh kamu mengagetkanku!" Hyorin mengelus-elus bagian dadanya dengan perasaan lega.


"Kenapa?" tanya Ayesh tanpa dosa.


Hyorin berlalu dari hadapan Ayesh tanpa menjawab pertanyaan Ayesh, suasana hati Hyorin mendadak berubah begitu melihat wajah Suaminya. Entah apa yang Hyorin pikirkan, padahal tadi dia begitu berharap jika Suaminya itu cepat kembali pulang.


Ayesh mengikuti Hyorin masuk ke dalam kamar.


Hyorin sudah berada di atas ranjang ketika Ayesh menyusulnya. Ayesh masih diam merasa bingung harus mengatakan apa kepada Hyorin.


Ayesh juga merasa bersalah di dalam hatinya, sebab jika saja dia bisa mengendalikan emosinya dan tetap tinggal maka Hyorin tidak perlu harus melawan Jovanka tadi siang.


"Rin...," ucap Ayesh sambil merebahkan dirinya di samping Hyorin yang berbaring membelakanginya.


"Maafkan aku Rin, apakah kamu baik-baik saja saat aku tidak ada?" sambungnya.


Ayesh sangat berharap jika Hyorin mau menceritakan apa yang terjadi tadi siang, tapi tidak memungkinkan jika Ayesh bertanya secara langsung.


Hyorin tidak bergeming, masih betah dengan pendiriannya untuk mendiamkan Ayesh.


Ayesh merubah posisinya menjadi terlentang, dengan kedua tangannya sebagai bantalan memandang langit-langit kamar.


"Rin aku sedang menyelidiki kasus Ibumu yang terjadi Lima tahun yang lalu, Ayah melimpahkan tugas itu kepadaku, aku sangat berharap kamu mau membantuku!"


Ucapan Ayesh kali ini berhasil membuat Hyorin berbalik menatap Ayesh secara intens.


"Kenapa kamu kaget seperti itu?" tanya Ayesh.


"Ibu...terkait ibuku Mas? Bukankah Ayah tidak lagi mau mengungkap kasus itu? Semua sudah dianggap selesai oleh Ayah."


"Lalu apakah kamu tidak mau tahu siapa yang membuat Ibumu jatuh sakit?"


Hyorin kembali terisak, mengingat Ibunya yang telah tiada.


Ayesh membawa Hyorin ke dalam pelukannya.


"Sudah jangan menangis lagi sayang, kamu sudah seharian menangis bukan? Apakah kamu tidak takut air matamu ini akan habis?" ledek Ayesh kepada Istrinya.


Hyorin memukul-mukul dada bidang Ayesh yang tentu tidak berarti apa-apa bagi Ayesh sendiri.


"Katakan jika kamu setuju, maka aku dengan senang hati akan segera mengungkap siapa dalang di balik semua ini!"


"Tapi Mas, sudah terjadi sangat lama. Apakah itu mungkin?" tanya Hyorin sedikit meragu.


"Percayalah aku akan berusaha lebih keras lagi untuk ini, aku janji kepadamu Rin cepat atau lambat orang itu pasti akan tertangkap."


"Terimakasih Mas," Hyorin mengeratkan pelukannya ke tubuh Ayesh.

__ADS_1


"Eh ya Rin, apakah tadi siang ada yang terjadi padamu ketika aku tidak ada?"


"Emmmm...aku baik-baik saja Mas," jawab Hyorin berbohong.


"Baguslah kalau begitu, apakah ada yang berkunjung hari ini?"


Hyorin menggeleng, "Ti-tidak ada Mas,"


"Oh baiklah, mungkin aku yang salah lihat."


"Lihat...lihat apa Mas?"


"Bukan apa-apa,"


"Kamu masih marah Rin?"


"Aku yang seharusnya bertanya kemana saja Mas hari ini, kenapa tidak bisa aku hubungi?"


"Apakah kau khawatir kepadaku?"


"Tidak...aku tidak mengkhawatirkanmu, bukankah Mas sudah besar ya apa yang harus aku khawatirkan!"


"Ah ya...bukankah aku sudah bilang jika aku akan menemui Jovanka? Aku tadi bersamanya!"


Ayesh berusaha memancing reaksi Istrinya, padahal jelas-jelas dia tahu jika Jovanka tadi datang kesini.


"Bagus sekali Mas, Istri sedang sakit ditinggal pergi menemui mantan!"


Hyorin bringsut dari pelukan Ayesh dan masuk kembali ke dalam selimut. Hyorin dikuasai amarah dan api cemburu di dalam hatinya sepertinya sudah terpantik.


Ayesh merasa senang, hatinya tertawa puas melihat Istrinya merajuk karena terbakar api cemburu.


"Kamu cemburu kan?"


"Ini apa kalau bukan cemburu namanya?"


"Aku ngantuk Mas, mau tidur!"


"Baiklah mimpi indah sayang, aku juga akan memimpikan Jovanka malam ini." Ayesh tertawa puas dalam hatinya.


"Coba saja kalau berani! Minggir saja sana jangan tidur di sampingku, minggir!" hardik Hyorin posesif.


Ayesh terdorong sampai di bibir ranjang, sedikit lagi mungkin saja Ayesh bisa terjatuh ke bawah.


"Bar-bar juga ternyata Dokter Pribadiku ini kalau sedang marah, mengerikan kaya Singa." Ayesh tertawa.


"Kamu juga kan bisa memimpikan Kak Indra cinta pertamamu itu, bukankah kamu belum bisa melupakannya?!" sambung Ayesh tidak mau kalah.


"Aku sebal sama kamu Mas," Hyorin menutup wajahnya dengan selimut.


"Hey...bukankah seharusnya aku yang marah? Kamu menyebutkan cinta pertamamu itu di depanku, padahal aku sudah berkata jujur."


Tidak terdengar sahutan dari Hyorin, perlahan Ayesh membuka selimut yang menutupi wajah Hyorin. Terdengar dengkuran halus dari Hyorin.


"Cepat sekali kamu tertidur, padahal baru tadi bangun. Dasar tukang tidur! Ngegemesin banget kamu itu cintaku!" Ayesh mencubit lembut hidung Hyorin.


****


Hyorin bangun terlebih dahulu, dia melihat ada bunga tergeletak di atas meja ruang tamu.


"Apa ini yang dimaksud Mas Ayesh dengan salah lihat?" Hyorin berbicara sendiri.


Hyorin mulai berpikir akan mengerjai Ayesh kembali.

__ADS_1


Ayesh baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Hyorin yang sedang mencium-cium bunga yang ada di tangannya.


"Bunga dari siapa itu Rin?" tanya Ayesh pura-pura tidak tahu.


"Oh ini...dari Kak Indra dong Mas, mana pernah sih kamu ngasih bunga ke aku,"


"Aku...nggak level kalau ngasih bunga yang bakalan layu dalam sekejap, aku sukanya ngasih bunga bank," jawab Ayesh songong sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ishhh...Mas sukanya ngawur saja, ini kan cantik bunganya Mas, romantis banget kan Mas, so sweet banget kan Kak Indra itu."


Hyorin terus mencium-cium aroma bunga yang ada di tangannya itu sambil tersenyum mengecek reaksi Suaminya yang masih saja terlihat datar.


"Benarkah dari Indra? Dia datang kesini? Kapan?"


"Kemarin Mas,"


Ayesh mulai paham kemana arah pemikiran Hyorin.


"Oh...,"


"Kok cuma oh? Apa Mas tidak takut kalau aku akan lebih memilih bersama Kak Indra?"


"Tidak...aku kan sudah ada Jovanka, buat apa aku takut, tanpa aku minta pun dia sudah sangat ingin bersamaku apalagi kalau aku minta langsung."


Ayesh berusaha menahan tawanya ketika melihat wajah Istrinya yang sudah merah padam menahan amarah.


Salah siapa mau mengerjai aku, kena batunya juga kan, kualat macam-macam sama Suami sendiri. hahahahaaaa


Ayesh tertawa puas di dalm hatinya, menyaksikan Hyorin yang terjebak dengan permainannya sendiri.


"Mas Ayesh nyebelin," ucap Hyorin sambil pergi meninggalkan Ayesh yang masih berdiri.


Hyorin baru tersadar jika di dalam Apartemen mereka terpasang kamera CCTV, tentu Ayesh sudah mengecek kejadian kemarin dan mengetahui detail kejadian tersebut.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu Rin, tapi dari tadi malam kamu terus saja marah terhadapku dan juga ingin mengerjaiku kan?" Ayesh terbahak, merasa Istrinya itu sangat unik.


"Aku marah karena Mas meninggalkanku begitu saja, aku hubungi juga tidak bisa. Aku juga bisa melakukan semua itu kan Mas?"


"Iya...iya maafkan aku ya Rin, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Apakah kemarin ada yang terluka?" Ayesh berkata sambil berjongkok di depan Hyorin yang duduk di kursi roda.


"Tidak ada Mas, aku baik-baik saja."


"Tapi kamu menangis kemarin, apa yang dia bicarakan kepadamu Rin? Dia juga menjambakmu kan? Aku tahu kamu sangat terluka, jika bukan fisikmu pasti hatimu."


"Sudahlah Mas, aku tidak apa-apa. Asalkan Mas tetap disisiku aku tidak apa-apa jika banyak wanita bersikap seperti itu terhadapku, mungkin mereka sangat iri dengan apa yang aku dapatkan sekarang sedangkan mereka tidak bisa mendapatkannya."


"Akan aku pastikan Jovanka tidak akan hidup dengan tenang karena sudah menyakitimu,"


"Mas tidak baik menyimpan dendam, pembalasanmu waktu di acara reuni saat itu sudah cukup menyakitinya. Jika saja aku tahu, tidak akan pernah aku izinkan Mas mengumbar aib orang lain di depan umum."


"Kamu kenapa baik sekali Rin, terhadap orang yang sudah menyakitimu saja masih bisa berbuat baik kepadanya, maafkan aku dan masa laluku yang terus saja membuat kamu terluka. Aku janji kita pasti akan selalu bersama, tidak akan aku biarkan seorangpun menyakitimu."


"Terimakasih Rin, tetaplah disampingku lupakan Indra dan kita akan mencari bersama orang yang telah merebut kebahagianmu,"


Ayesh memeluk Hyorin dengan lembut dan meninggalkan jejak sayang di kening Hyorin.


"Mas bisa antarkan aku ke makam Ibu?" pinta Hyorin dengan berbisik di telinga Ayesh.


"Akan aku antarkan kemanapun kau mau pergi Nyonya Ayesh."


---------------------------------------------------------------------


Happy reading 💕💕💕😘😘

__ADS_1


__ADS_2