Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 55


__ADS_3

"K-kau...Jovanka!"


"Apa yang kau mau dariku? Lepaskan aku dari sini!"


Jovanka mendekati Hyorin, tangan kiri Jovanka terulur memegangi dagu Hyorin kemudian Jovanka menampar pipi Hyorin dengan sangat keras menggunakan tangan kanannya.


Hyorin meringis kesakitan, pipinya terasa kebas.


"Kamu pantas mati gadis tidak tahu diri!"


"Bunuh saja aku jika itu membuatmu puas!"


"Tidak semudah itu, kamu harus merasakan sakit yang aku rasakan. Kamu harus mati secara pelan-pelan! Hahahahaahaa...," Jovanka tertawa sangat nyaring hingga menggema ke seluruh ruangan.


"Apa kamu sadar Jovanka perbuatanmu ini melanggar hukum!"


"Ah ya...Istri Pengacara sudah berani berbicara soal hukum kepadaku? Apa kau ingat aku juga mantan mahasiswa hukum, jadi sedikit banyak aku tahu soal hukum."


"Cepat ikat dia dan tutup mulutnya!" perintah Jovanka kepada anak buahnya.


Hyorin meronta-ronta minta dilepaskan, dia terus saja melakukan pemberontakan namun tenaganya kalah jauh dengan anak buah Jovanka.


Jovanka mendekati Hyorin kembali, kini Jovanka membawa pisau belati di tangannya.


"Kau tahu ini apa gadis tengik?"


"Lihatlah ini sangat tajam bukan? Bagaimana kalau ini mengenai wajahmu yang jelek itu, tentu akan membuatmu semakin jelek dan wajahmu akan cacat selamanya." Jovanka tertawa kembali.


"Sebenarnya apa yang membuat Ayesh tertarik denganmu, dari segi wajah biasa saja. Lebih cantikan aku tentu saja, dari tubuh lihatlah aku jika dibandingkan denganmu bukankah aku lebih sexy dan padat berisi sedangkan kau gadis kurus tidak ada menarik-menariknya sedikitpun!"


Hyorin sebenarnya ingin menjawab semua kata-kata yang dilontarkan oleh Jovanka, namun tidak bisa karena mulutnya ditutup dengan lakban.


"Apa? Kamu mau berbicara apa hah?!! Apa kau mau mengancamku?"


Jovanka masih memegang pisau ditangannya, dia masih asyik dengan kata-kata provokasinya.


Dia ingin bermain-main sebentar dan membuat Hyorin merasa takut.


"Hey gadis tengik jika kau mau menandatangani ini dan bersedia pergi dari kehidupan Ayesh aku akan melepaskanmu, sebab dari awal dia adalah milikku dan sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku, orang lain tidak boleh ada yang memilikinya selain aku!" Jovanka melemparkan sebuah map berisi surat gugatan cerai kepada Hyorin.


Hyorin membaca isi dari surat yang Jovanka lemparkan, Hyorin memandang sengit kepada Jovanka. Matanya mengisyaratkan bahwa apapun yang terjadi Hyorin tidak akan pernah mau menandatangi surat itu.


Jovanka mendekati Hyorin sekali lagi dan menjambaknya.


"Cepat kau tanda tangani atau aku akan rusak wajahmu dengan ini sehingga kelak kamu tidak akan memiliki masa depan dengan wajah yang cacat, tidak akan ada orang yang sudi denganmu ketika melihat wajah cacatmu itu!" ancam Jovanka.


Hyorin terus berdo'a di dalam hatinya semoga Ayesh bisa segera menemukan keberadaannya saat ini.


Ayesh dan Doni tiba di tempat dimana Hyorin disekap, anak buah Ayesh sudah terlebih dahulu sampai di tempat itu dan menyebar untuk mencari dimana Istri Tuannya berada.


Salah Satu anak buah Ayesh akhirnya menemukan tempat yang dimaksud. Ayesh dengan segera menuju ke tempat itu dan mendobrak pintunya.


BRAAAAKKKKKK....


Suara pintu di tendang dengan sangat keras.


Ayesh seketika melihat Hyorin yang sedang tak berdaya bersimpuh di lantai dengan tangan dan kaki yang diikat serta mulut yang ditutup dengan lakban.


Hyorin memandang ke arah Ayesh seolah meminta pertolongan.


"Kamu apakan Hyorinku Jovanka?!!!!" suara Bass Ayesh memekik dengan kerasnya, emosinya sudah tidak bisa dikendalikan.


"Tuan Pengacara rupanya sudah datang, sungguh pertunjukkan yang sangat bagus!"


"Cepat habisi mereka!" perintah Jovanka kepada anak buahnya.

__ADS_1


Doni dan anak buah Ayesh terlibat baku hantam, sedangkan Ayesh mencoba untuk menolong Hyorin dari cengkraman Rubah betina bernama Jovanka.


Jovanka menjadikan Hyorin sebagai tawanan yang siap dia lukai dengan belatinya jika Ayesh berani macam-macam.


"Kembalilah kepadaku maka akan aku lepaskan dia!" Jovanka mencoba bernegosiasi.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi untuk kembali kepadamu, aku memilih tidak pernah mengenalmu dibandingkan harus kembali kepadamu!"


"Kalau begitu gadis ini tidak akan selamat!"


Doni dan yang lain sudah berhasil melumpuhkan orang-orang Jovanka. Dia memerintahkan agar orang-orang itu segera dibawa pergi ke kantor Polisi.


Kini tinggalah Jovanka sendirian, dia yang kesetenanan tidak mau melepaskan Hyorin.


Wajah Hyorin sedikit tergores oleh belati yang Jovanka pegang.


"Kau menyakiti Hyorin! Menyerahlah anak buahmu sudah kalah telak!"


Di dalam hati sebenarnya nyali Jovanka sudah menciut, namun dia tetap ingin melanjutkan permainannya hingga akhir.


Ayesh memberikan kode kepada Doni, kemudian Doni berpura-pura mendekati Jovanka untuk menenangkannya dan berpura-pura baik kepadanya.


"Jovanka kau tidak usah khawatir, aku ada di pihakmu. Aku sudah tidak sudi lagi bersama Ayesh yang suka sekali memerintah dan tidak pernah memberikanku kebebasan."


"Benarkah? Apa kau sedang tidak menipuku?"


"Tentu saja Jov, bukankah kita dari dulu berteman?"


Jovanka mencoba sedikit mempercayai Doni, dia merasa Doni tidaklah berbohong sebab dengan temperamen Ayesh bisa saja orang akan bosan terhadapnya dan berbalik menghianatinya.


"Apa kau sedang mencoba berhianat terhadapku Don?" Ayesh menambahkan pembenaran akan ucapan Doni.


Jovanka pada akhirnya sedikit lengah dan terbuai dengan perkataan Doni.


Jovanka menuruti apa kata-kata Doni, dia memberikan belati itu kepada Doni tanpa curiga.


Setelah belati berpindah ke tangan Doni, dengan serampangan Doni mendorong Jovanka hingga Hyorin yang berada dalam genggamannya terlempar ke depan, dengan cekatan Ayesh menangkap tubuh Hyorin.


Sedangkan Jovanka tersungkur hingga terjerembab ke lantai yang permukaannya sudah tidaklah halus karena sudah lama ditinggalkan.


"Kau menipuku Don?!!"


"Salah siapa kau mempercayaiku Jov? Wanita Iblis sepertimu memang pantas mendekam di penjara untuk waktu yang lama!"


Doni membantu Jovanka berdiri dan mengikatnya dengan tali yang tadi digunakan untuk mengikat Hyorin supaya Rubah betina itu tidak bisa lari. Tidak begitu lama Polisi pun datang, mereka membawa Jovanka ke kantor Polisi untuk dilakukan pemeriksaan dengan sebilah pisau belati dan tali sebagai barang buktinya.


Ayesh akan menuntut Jovanka atas dasar penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap Hyorin dengan hukuman yang berat pula.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" Ayesh menciumi tangan Hyorin.


"Aku tidak apa-apa terimakasih sudah menolongku Mas, tadi aku sangat takut."


Ayesh memeluk Hyorin dengan erat, "Wajahmu sedikit terluka, ayo kita segera ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan!"


"Mas apakah kamu tidak akan menyukaiku lagi jika wajahku menjadi jelek?" Hyorin sedikit terprovokasi dengan kata-kata Jovanka. Seolah kata-kata itu berputar-putar di dalam otaknya.


"Hussshhh...kamu ngomong apa sayang, aku akan tetap mencintaimu meskipun wajahmu berubah sekalipun yang terpenting jiwamu tetap Hyorin yang aku sayangi."


"Terimakasih Mas," Hyorin memeluk erat Suaminya.


"Eeeheeemmm...," deheman Doni menginterupsi.


Hyorin dan Ayesh pun tersadar jika ada Doni bersama mereka, Hyorin mengurai pelukannya.


"Kalian ini membuat jiwa jombloku meronta-ronta, duh...dek Nita ayo kita segera ke Penghulu jadi bisa seperti mereka yang setiap hari kerjaannya memanas-manasi gue terus." Ucap Doni sambil berpura-pura kesal.

__ADS_1


"Loe ini seperti anak-anak Don, yakin Nita suka sama loe Don? Gue do'akan Don loe segera ketemu dengan "RANI" alias "Randa Nini-nini" (Janda Nenek-nenek) dan menikah dengannya, Hahahahaa." Ayesh berbicara tanpa terkontrol menggoda sahabatnya.


"Mulut loe itu Yesh bisa direm tidak ya? Dasar teman nggak ada akhlak!"


Mereka pada akhirnya tertawa bersama-sama sebab sudah tahu sifat masing-masing membuat cemoohan itu tidaklah ada artinya dibandingkan dengan persahabatan mereka.


"Bulan depan gue naikkan bonus bulanan loe Don, gue janji. Kalau gue lupa jangan sungkan untuk menagih gue!"


Ayesh berbicara sambil berjalan dan menepuk bahu kiri Doni.


"Ayo kita pulang Don, sudah saatnya kita bawa Orin ke rumah sakit!"


Doni tersenyum lebar mendengar ucapan Ayesh, sahabatnya itu memanglah tidak pernah perhitungan meskipun kata-katanya seringkali membuat yang belum mengenalnya akan merasa tersinggung, namun baginya Ayesh tetaplah sahabat terbaiknya.


"Wah benarkah? Kalau begitu ayo kita let's go!"


"Bonus saja cepet loe Don," Ayesh menggelengkan kepalanya.


"Kalau itu mah wajib Yesh,"


Doni mengikuti langkah Ayesh dan Hyorin menuju ke tempat dimana mereka memarkirkan mobil.


Beberapa langkah sebelum sampai ke mobil, Hyorin mengeluhkan jika kepalanya terasa pusing, dunianya terasa berputar-putar Hyorinpun jatuh pingsan.


Ayesh merasa sangat panik khawatir terjadi sesuatu yang tidak baik terhadap Hyorin.


Dengan sigap Ayesh membawa masuk Hyorin ke dalam mobil. Ayesh mebaringkan Hyorin dengan posisi kepala berada di pangkuan Ayesh. Doni bertugas untuk menyetir, sedangkan Ayesh mencoba menyadarkan Hyorin dengan mengolesi minyak kayu putih di area hidung Hyorin. Namun, Hyorin belum sadar juga.


"Don cepatlah menyetirnya!"


"Iya Yesh, loe harus tenang. Gue usahain bisa cepat sampai di rumah sakit."


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka sampai di rumah sakit Mahardika dan segera membawa Hyorin ke IGD.


Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Hyorin keluar dari ruangan.


"Saya ingin berbicara dengan keluarga Dokter Hyorin!"


"Saya suaminya Dok,"


"Baiklah Anda ikut saya!" perintah Dokter Gina.


Ayesh mengikuti Dokter Gina masuk ke ruangannya.


"Dok apa yang terjadi dengan Istri saya?" tanya Ayesh begitu Dokter Gina mempersilahkan dia duduk.


"Begini Pak...,"


"Ayesh nama saya Ayesh,"


"Ah ya Pak Ayesh, secara fisik tidak ada luka yang serius pada Istri Anda. Hanya wajahnya saja yang sedikit tergores, beruntung tidak dalam sehingga sebentar saja akan sembuh tanpa meninggalkan bekas luka."


"Benarkan Istri saya baik-baik saja Dok, tapi kenapa dia pingsan?"


"Pak Ayesh sepertinya ada kehidupan lain di dalam rahim Istri Bapak! Itulah yang menyebabkan Istri Anda pingsan sebab tubuhnya sudah terlalu menahan lelah dan juga Dokter Hyorin mengalami dehidrasi hebat sehingga tidak ada oksigen yang masuk ke dalam otaknya." Jelas Dokter Gina panjang lebar.


"Maksud Dokter, Istri saya hamil Dok?"


"Untuk lebih jelasnya bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke Dokter OBGYN," saran Dokter Gina.


"Baik Dokter, terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Ayesh kepada Dokter Gina.


"Silahkan...," Dokter Gina mempersilahkan.


Ayesh keluar dari ruangan Dokter Gina dengan perasaan bahagia, dia sudah tidak sabar memberitahukan kabar ini kepada Istrinya.

__ADS_1


__ADS_2