
Keesokan paginya ketika Hyorin terbangun Ayesh sudah tidak ada.
"Mas...kamu dimana?"
Tidak ada seorangpun yang menyahut, Hyorin kemudian keluar dari kamar dan tidak menemukan siapapun disana.
Hyorin membuang nafas, hatinya menggumam.
Mas Ayesh sudah pergi tanpa membangunkanku....hufttttt.
Hyorin membuat sarapan dengan gontai terasa tidak memiliki semangat pagi ini.
Hyorin kembali masuk kerja di rumah sakit, Gadis itu memasuki ruangan dengan perasaan yang begitu hampa, seolah ada sebagian hatinya yang kosong.
"Hai Rin lama sekali aku tidak melihatmu ke rumah sakit," Nita muncul dari ambang pintu.
"Hai Nit...,"
"Dicariin Dokter Indra tuh Rin, beberapa hari ini dia kelihatan uring-uringan,"
"Aku sibuk Nit,"
"Sibuk apa sibuk hayooo?"
"Sibuk Nit."
"Ah kamu lagi nggak asyik banget sih Rin," Nita cemberut.
"Ya ampun nih bocah ngambekan banget si?"
Hyorin mencubit pipi Nita gemas. Nita hanya meringis sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Aku mau visitasi ke kamar pasien dulu ya Nit."
Hyorin mengunjungi kamar pasien yang menjadi tanggung jawabnya satu persatu, memeriksa dengan detail dan mencatat semua keluhan yang dirasakan oleh pasien. Hati seseorang boleh merasa kehilangan, namun melakukan sebuah pekerjaan dengan profesional merupakan tanggungjawab mutlak.
Pukul Dua siang Nita kembali menghampiri Hyorin.
"Pulang bareng yuk Rin," ajak Nita.
"Shift kamu sudah selesai Nit?"
"Sudah Rin, ayok pulang."
Diparkiran ternyata Indra sudah menunggu mereka berdua.
"Orin ikut mobil aku saja yuk?"
"Terimkasih Kak, aku naik taksi saja. Aku duluan ya Kak," ucap Hyorin sambil berlalu yang diikuti oleh Nita.
Indra mengejar Hyorin dan membujuk mereka berdua agar mau naik ke mobil.
"Orin aku mau berbicara serius sama kamu,"
Hyorin menghentikan langkahnya,
"Sebentar saja Rin, please...," Indra sedikit memohon.
"Kalau begitu aku duluan ya Rin, kamu bicaralah dengan Dokter Indra. Bye Orin."
Indra membawa Hyorin ke sebuah Restoran, mereka memilih duduk di bagian paling sudut agar lebih leluasa untuk berbicara.
"Rin apakah kamu sudah siap dengan jawaban kamu? Aku ingin segera menemui orang tua kamu begitu kamu mau menerimaku." Ucap Indra begitu mereka duduk.
"Aku minta maaf Kak, mungkin aku pernah sangat mencintai Kakak. Tapi kini ada orang lain yang harus aku jaga perasaannya."
"Siapa Rin?"
"Suamiku Kak," jawab Hyorin.
"Kamu sudah menikah Rin? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?" cecar Indra seakan dia tidak mau menerima kenyataan.
"Aku minta maaf Kak...,"
"Aku salah dengar kan Rin? Katakan padaku kalau aku salah dengar, bahkan kamu belum menjawab perasaanku kenapa kamu tega sekali kepadaku Rin." Indra meraih tangan Hyorin yang berada di atas meja dan menggegamnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Kak, sungguh aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Semua diatur oleh Ayah."
"Rin...apakah aku masih memiliki kesempatan?" ucap Indra penuh harap.
"Maaf Kak aku tidak bisa,"
Hyorin melepaskan gengaman tangan Indra, kemudian meninggalkan pemuda yang tengah berada pada puncak kefrustasian itu bahkan sebelum Hyorin sempat memakan apapun yang ia pesan.
Tanpa mereka sadari di balik meja lain ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka berdua bahkan sempat mengambil gambar yang kemudian dikirimkan kepada seseorang dan segera meninggalkan Restoran itu.
Indra yang masih berada di Restoran kemudian mengambil ponsel di sakunya dan mengirimkan pesan kepada Silvia.
Indra
Silvia benarkah Orin sudah menikah? Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku? π₯Ίπ₯Ί
Mendengar ada pesan masuk, Silvia kemudian menghentikan langkahnya dan meraih ponsel ditas yang ia bawa.
Silvia
Apa penting aku mengatakannya kepadamu? Apakah kamu juga mencintai Orin? Kenapa semua orang harus memilihnya, tidak puaskah kamu dengan diriku? π π
Indra hanya meread chat dari Silvia yang penuh dengan kemarahan, memang benar dia dan Silvia pernah melewati malam bersama bahkan tidak hanya satu malam. Namun, hatinya masih berharap pada Hyorin.
****
Ayesh dan Doni baru selesai meeting dengan client sekitar tengah malam, ada kasus pelik yang harus diselesaikan segera. Mereka memasuki hotel untuk bermalam dan melepas penat.
"Yesh loe nggak menghubungi istri loe?"
"Aku mandi dulu ya,"
"Hei...kenapa pertanyaan gue diabaikan?" Doni tertawa puas ketika Ayesh sudah memasuki kamar mandi.
"Mandi sana Don! Jangan tiduran di tempat gue ntar keringet loe nempel. Gatel-gatel badan gue."
"Sialan loe Yesh," Doni beranjak dari kasur dan melangkah ke kamar mandi.
Ayesh dan Doni memilih satu kamar dengan dua tempat tidur sebab supaya lebih mudah untuk saling berkomunikasi.
"Duh yang lagi galau kepikiran istrinya di rumah sendirian,"
"Kirim pesan kek, telfon dia kek. Jangan sok gengsi loe."
Ayesh memilih untuk memejamkan mata ketimbang meladeni Doni yang tak henti menggodanya.
Ayesh sejak keberangkatannya ke Kota X memilih tidak menghubugi Hyorin sama sekali.
Ponselnya dia biarkan begitu saja. Ayesh hanya ingin mengetahui apakah istrinya merindukannya atau tidak.
Hyorin yang berada di Apartemen justru tidak bisa memejamkan matanya barang sedikitpun, perasaanya diliputi kegelisahan. Ingin menghubungi Ayesh tapi khawatir jika menganggu.
Hyorin hendak menghubungi Doni, namun ia urungkan khawatir jika dia dianggap terlalu posesif terhadap suaminya.
Hyorin memilih untuk diam dan menunggu suaminya pulang yang masih sekitar Dua hari lagi.
Keesokan paginya setelah selesai bersiap untuk penyelesaian kasus kemarin yang tertunda, Ayesh mengecek ponsel yang sejak kemarin dia biarkan begitu saja.
Mata Ayesh terbelalak melihat pesan yang dikirimkan oleh seseorang kemarin.
"Don...kita harus tuntaskan kasus yang sedang kita tangani hari ini juga, malam ini kita pulang. Loe pesan tiket sekarang!"
"Bukannya kita baru akan pulang besok?"
"Tidak usah banyak bertanya Don, kerjakan sekarang!"
"Kembali ke mode awal lagi nih kayaknya."
Hari ini Ayesh dan Doni menyelesaikan pekerjaan dengan tegangan yang cukup tinggi, ingin semua segera selesai malam ini juga.
Mereka hanya beristirahat ketika waktu sholat bahkan tanpa sempat untuk makan.
Tepat pukul delapan malam semua sudah terselesaikan, Ayesh meletakkan bobot tubuhnya di sofa dan mengendurkan dasi yang ia kenakan.
"Pesawat kita jam berapa Don?"
__ADS_1
"Jam Sebelas malam,"
"Kalau begitu cepat bersiap, jangan sampai kita ketinggalan pesawat."
"Kita istirahat dulu Yesh, makan malam dulu kek gue bukan robot kali yang nggak butuh makan."
"Serah loe Don, yang penting jam Sepuluh kita sudah harus sampai di Bandara."
Pukul Dua Dini hari mereka tiba di Ibu Kota, Ayesh memesan taksi dan lansung menuju ke Apartemen, sedangkan Doni memesan taksi yang terpisah dengan Ayesh.
Ayesh memasuki Apartemen dalam keadaan ruangan yang gelap. Membuka pintu kamar dengan hati-hati dan memeriksa keberadaan Hyorin.
Ayesh terkesima melihat istrinya sedang melaksanakan sholat di sepertiga malam terakhir.
Hyorin mungkin saja tidak mengetahui kehadiran Ayesh, sehingga Ayesh memutuskan untuk masuk ke kamar mandi membersihkan diri kemudian terlelap dikasur empuknya.
Selesai menunaikan Dua rakaat sholat subuh, Hyorin keluar dari kamar dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Ayesh yang sedang terlelap.
Hyorin sedang berada di dapur ketika Ayesh menghampirinya.
"Sudah bangun Mas?"
"Heeemmmmm...,"
"Mau aku buatkan kopi?"
"Tidak usah, aku bisa buat sendiri."
Hyorin bingung dengan sikap Ayesh yang berubah menjadi dingin kembali terhadapnya.
Hyorin memilih diam, takut suaminya akan emosi. Dia berangkat bekerja setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya dan baru kembali setelah petang.
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?"
"Aku dari rumah sakit Mas,"
"Apa kamu habis pergi dengan Dokter Indra itu?" tanya Ayesh ketus.
"Mas...kamu kenapa sih? Aku dari rumah sakit, ada korban tabrak lari yang harus aku tolong sebab Dokter jaga hari ini sedang berhalangan."
"Apa tidak ada Dokter lain?"
"Aku mohon jangan seperti ini, aku lelah Mas."
Hyorin masuk ke dalam kamar dengan sedikit membanting pintu, dia kesal dengan sikap Ayesh yang tiba-tiba berubah.
"Orin boleh bicara sebentar?"
Hyorin membuka pintu pembatas,
"Apa Mas? Mau marah-marah lagi?"
"Kamu lihat ini dan jelaskan kepadaku!"
Hyorin mengambil ponsel di tangan Ayesh dan melihat foto-foto dirinya sedang bersama Indra kemarin.
"Dari mana Mas dapat foto-foto itu?"
"Tidak perduli aku dapat dari mana, aku hanya butuh penjelasan."
"Mas aku hanya menyelesaikan urusanku dengan Kak Indra tidak lebih, bukankah Mas ingin agar aku segera berterus terang kepadanya tentang status kita?"
"Tapi kalian bermesraan...,"
"Mas percaya dengan foto ini? Itu hanya bagian yang terpotong, tanpa prolog maupun epilog."
"Apa buktinya?"
Hyorin melompat dan menyambar bibir Ayesh kemudian berlari masuk ke dalam kamar.
"Hei gadis nakal kamu harus bertanggungjawab...!,"
----------------------------------------------------------------------
Terimakasih Kakak-kakak yang setia menunggu Author update. Terus dukung Author ya, jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya. πππ
__ADS_1
Terimakasih Kakak-kakak yang sudah mendukung Author, big thank's ya Kak. π€π€π€
Happy reading ππ