Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 43


__ADS_3

Hyorin menata semua belanjaan pada tempat masing-masing dibantu oleh Ayesh, sehingga pekerjaan menjadi cepat selesai.


"Akhirnya beres semua Mas," Hyorin menepuk-nepukkan tangannya kemudian berkacak pinggang dan tersenyum puas.


"Mandi sana Rin tinggal istirahat, besok kan harus bekerja lagi."


"Siap Tuan," Hyorin patuh dengan titah Ayesh sambil membungkukkan badannya.


Hyorin bergegas membersihkan diri sebab dia juga harus menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


Hyorin keluar dari kamar menuju dapur, dia ternganga melihat sudah ada makanan di atas meja.


"Ini kamu yang siapin Mas?"


"Iya sayang, aku melihat kamu sangat repot jadinya aku pesan online saja."


"Kapan Mas memesan makanan ini, bukankah sedari tadi sibuk bantu aku beres-beres?"


"Tadi sebelum aku bantuin kamu," jawab Ayesh.


"Makan Rin selagi masih hangat," sambung Ayesh seraya mengacak rambut Hyorin.


Selesai makan malam, Hyorin membereskan semua alat makan kemudian menyusul suaminya yang sedang duduk santai di depan televisi.


Melihat istrinya duduk, Ayesh merubah posisi menjadi berbaring di paha Istrinya.


Hyorin membelai lembut rambut Ayesh.


Pemuda itu sesekali membenamkan wajahnya di perut Hyorin yang rata.


"Dedek kapan kamu ada di dalam sini?" seloroh Ayesh.


"Ampun Mas, geli ah...,"


"Rin aku ingin segera punya anak dari kamu, masih ingat pesan Ayah kan mereka ingin punya cucu yang banyak."


Hyorin mengangguk, "Aku juga sangat ingin, tapi Dua saja cukup lah Mas,"


"Kurang!"


"Maunya berapa sih, masa kurang? Ingat Mas kita juga harus mensukseskan program Pemerintah!" Jawab Hyorin mantap.


"Sepuluh...," jawab Ayesh.


Hyorin langsung memelototkan matanya, kaget dengan jawaban Ayesh.


"Kurang Satu Mas, kalau Sepuluh nanggung tambah Satu lagi biar jadi Kesebelasan!"


"Aku sih mau aja,"


"Aku yang nggak mau Mas, maunya Dua aja."


Hyorin dan Ayesh tergelak bersama, merasa konyol dengan tingkah mereka sendiri.


"Mas boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa Rin?" Ayesh mendongakkan wajahnya.


"Kak Jovanka Mas, dia itu sebenarnya siapa? Sepertinya Mas sangat mengenalnya begitupun sebaliknya, tapi sikap Mas kepadanya begitu dingin sama ketika denganku dulu."


Ayesh bangun dari pangkuan Istrinya, berlutut di depan Hyorin yang terduduk di sofa. Ayesh mengenggam tangan Istrinya.


"Percayalah kepadaku Rin, siapapun Jovanka aku berharap tidak akan pernah membuat rasa sayang kita menjadi berkurang satu sama lain. Bukankah kita sudah berjanji?"


Hyorin mengangguk, dia tahu ada sesuatu diantara Suaminya dan Jovanka di masa lalu yang tidak ingin Ayesh ungkapkan. Hyorin akan menunggu sampai Ayesh mau mengatakannya sendiri tanpa diminta. Hyorin melihat seolah ada rasa sakit yang begitu dalam dari sorot mata Suaminya.

__ADS_1


Dia memilih untuk percaya dari pada membuat asumsi sendiri yang mungkin juga akan menyakiti hatinya, yang terpenting bagi Hyorin saat ini Ayesh selalu bersamanya itu sudah lebih dari cukup.


"Ayo kita istirahat Mas, kamu sepertinya sudah sangat lelah," Hyorin mencoba memberikan senyum terbaiknya.


Ayesh bangkit dari tempat duduknya hendak menuju kamar bersama Hyorin, namun langkahnya terhenti sebab ada pesan masuk ke ponselnya.


"Kamu istirahat duluan saja Rin, masuklah ke kamar! Aku ada pekerjaan sebentar."


Ayesh masuk ke dalam ruang kerjanya, membuka pesan yang seseorang kirimkan itu.


Jovanka


Selamat malam Rin, maaf ya Kakak malam-malam ganggu. Kamu sedang bersama Ayesh apa tidak? ~Jovanka~


Hyorin


Aku sendirian Kak, Mas Ayesh sedang lembur. Ada apa ya Kak?


Ayesh membalas pesan dari Jovanka dan memposisikan dirinya seolah-olah sebagai Hyorin.


Ayesh kemudian menyimpan nomor Jovanka di ponselnya dengan nama "Rubah Betina". Sedangkan Jovanka yang mengira jika Hyorin yang membalas pesan itu sangat senang sebab rencananya akan berhasil membuat Ayesh dan Hyorin mungkin malam ini menjadi bertengkar.


Jovanka tersenyum licik membaca balasan pesan dari Hyorin.


Rubah Betina


Rin kamu tahu dulu aku dan Ayesh sudah pernah menjalin hubungan, hingga saat ini kami itu belum putus, Ayesh sangat mencintaiku. Kami berjanji akan menikah, bahkan Ayesh telah mengambil mahkota yang paling berharga dariku malam itu bahkan kami telah melakukannya berkali-kali. Tapi apa yang aku dapatkan? Ketika aku kembali dari Luar Negeri bahkan Ayesh telah menikah denganmu Rin. Bagaimana dengan masa depanku? Tidak akan ada Laki-laki yang mau denganku yang sudah ternoda ini Rin, sebagai seorang perempuan tentu kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan bukan? Hatiku sangat sakit dan kecewa. 😭😭😭


Ayesh membaca setiap kata yang ditulis oleh Jovanka, dia mengepalkan tangannya merasa geram dengan apa yang Jovanka tuliskan, sebab semua itu tidaklah benar, Ayesh sangat menjaga Jovanka bagaikan sebuah porselin agar jangan sampai pecah.


Dasar Rubah berekor Sembilan, pintar sekali kamu memutar balikan fakta.


Ayesh dengan lincah membalas pesan Jovanka.


Hyorin


Rubah betina


Jangan kamu tanyakan ke Ayesh Rin, dia tidak mungkin akan jujur sama kamu. Mengenai bukti mana mungkin aku akan memberikannya pada kamu, karena itu tentu sangat privasi bagi aku dan Ayesh.


Hyorin


Oh begitu ya Kak, kalau begitu maaf ya Kak aku tidak akan pernah percaya sama kamu.


Rubah Betina


Kalau begitu sudah dulu ya Rin, selamat malam.


Jovanka merasa bahwa Hyorin bukan wanita yang mudah terpengaruh dengan kata-kata darinya, Jovanka merasa bingung sendiri tatkala Hyorin meminta bukti.


Apa yang bisa dia buktikan karena memang Ayesh tidak pernah melakukan apapun terhadapnya. Jovanka sadar dia sudah merusak dirinya sendiri ketika berada di Luar Negeri, dia sering berganti-ganti pasangan dan semua pernah tidur dengannya. Beruntung dia tidak pernah sampai hamil sebab mereka selalu menggunakan pengaman.


Ayesh sangat marah dengan Jovanka yang ternyata berhati sangat busuk dan licik, berusaha membuat Hyorin marah kepada dirinya. Hal itu mungkin saja terjadi seandainya Ayesh tidak melakukan sabotase ketika Hyorin hendak memberikan nomor ponselnya kepada Jovanka tadi siang.


Ayesh menghapus pesan dari Jovanka dan menghampiri Hyorin di kamar yang ternyata sudah terlelap.


"Maafkan aku sayang, aku belum bisa jujur kepadamu mengenai Jovanka. Aku hanya masih terluka, meskipun kehadiranmu perlahan mengikis luka yang pernah ada. Aku pasti akan menceritakan semuanya ketika waktunya benar-benar sudah tepat."


Ayesh berkata lirih kepada Hyorin yang ada di sampingnya, kemudian Ayesh mengikis jarak dengan ikut tenggelam dalam selimut yang Hyorin kenakan mendekap gadis itu dari belakang.


****


Keesokan paginya Hyorin merasakan ada sesuatu yang berat berada di atas pinggangnya. Rupanya tangan kekar Ayesh yang mendekapnya, perlahan Hyorin menyingkirkan tangan itu dan hendak melepaskan diri namun tangan Ayesh justru mendekapnya sangat erat. Dia melihat mata Suaminya masih terpejam.


"Mas aku mau ke kamar mandi, lepaskan aku dulu ya?" rengek Hyorin.

__ADS_1


Ayesh tidak merespon, masih dalam posisi yang sama.


"Mas...,"


Hyorin kemudian mencium bibir Ayesh sekilas, berharap Ayesh akan memberikan respon dan benar saja Ayesh malah tersenyum.


"Mau lagi dong sayang," ucapnya manja.


"Mas ihh...ini waktunya bekerja. Aku tidak mau biasanya jadi kemana-mana entar,"


"Maunya memang kaya gitu, salah siapa mancing-mancing tadi. Biar mood aku bertambah sayang, jadi semangat kan kerjanya."


"Aku capek Mas kalau pagi-pagi harus olahraga sama kamu dulu. Jangan mulai deh Mas, geli tahu."


Ayesh sudah mengendus tengkuk istrinya yang belum juga ia lepaskan dari dekapannya, tanpa mau mendengar kata-kata Istrinya barusan.


Kini Hyorin sudah berada dalam kungkungan Ayesh, posisi Ayesh sudah berada di atas tubuh Hyorin.


"Mas jangan mulai deh, ini sudah waktunya kita beraktivitas nanti kita terlambat Mas,"


Ayesh tidak mendengarkan perkataan Hyorin lagi, dia menghujani Hyorin dengan ciuman yang begitu panas, perlahan semakin dalam membuat gadis itu tidak lagi mampu untuk menolak.


Hyorin yang tadinya memberontak akhirnya mengikuti ritme permainan yang Ayesh lakukan ketika setiap inci tubuhnya di ekspose oleh Ayesh, respon tubuh Hyorin tidak dapat dibohongi yang menandakan bahwa pemiliknya juga sangat menikmati permainan di pagi buta itu yang membuat Ayesh semakin bersemangat.


Pagi itu berakhir dengan peluh setelah semua hasrat terlepaskan. Hyorin terkulai lemas dan memilih untuk beristirahat sebentar lagi.


Ayesh memandangi wajah ayu Istrinya yang tampak kelelahan.


****


"Kamu kenapa Pak Bos, dari tadi aku perhatikan senyam senyum sendiri kaya orang gila!" Doni membuyarkan lamunan Ayesh.


"Mau tahu aja kamu Don,"


"Wuidiihhh...ini ada yang lagi happy sepertinya, habis dapat jatah dari sang Istri ini pasti."


"Kalau iya kenapa Don, ngiri pasti kamu ya?"


"Siapa juga yang ngiri, nanti aku sama dek Nita pasti akan lebih romantis dari pada kalian."


"Kepedean sekali kamu Don, emangnya Nita mau sama kamu?"


"Lihat aja entar, dia pasti klepek-klepek." Doni tertawa.


"Oh ya Don, Jovanka semakin meresahkan. Aku khawatir dengan Orin,"


"Apa yang dia lakukan Yesh?"


"Dia mencoba menghubungi Orin melalui chat, dia mencoba memberikan pengaruh negatif kepada Orin, beruntung aku yang membalasnya. Jadi Orin tidak tahu sama sekali apa yang Jovanka kirimkan. Menurut kamu, aku harus bagaimana sepertinya Jovanka lama-lama bisa saja nekat."


"Selicik itukah Jovanka Yesh?"


"Dia sudah bukan Jovanka yang kita kenal dulu Don,"


"Benarkah Yesh?"


Doni manggut-manggut sambil memegangi dagunya, menelaah setiap kata yang Ayesh ucapkan, memang sepertinya apa yang Ayesh katakan benar adanya. Doni bisa melihat dari cara Jovanka berpenampilan yang sudah sangat jauh berbeda.


"Saran aku cepat-cepat kamu beritahu masalah Jovanka sama Istri kamu Yesh, cepat atau lambat dia pasti tahu, jangan sampai dia mendengar dari orang lain, itu akan lebih fatal jika orang itu menambahkan penyedap dalam setiap perkataannya,"


"Kamu juga harus segera mengumumkan terkait pernikahan kalian, fans kamu sangat banyak di luar sana Pak Pengacara!! Ingat juga bahwa Dokter Orin memiliki potensi yang sama seperti kamu, mudah disukai oleh banyak orang." Sambung Doni mengingatkan sahabatnya itu.


Ayesh memikirkan apa yang Doni ucapkan.


"Kalau begitu bantu aku mempersiapkan segala sesuatunya Don,"

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir Yesh, itu pekerjaan yang mudah. Kita mulai dari acara reuni, kamu harus datang Yesh, manfaatkan momen itu untuk memperkenalkan Istrimu di depan khalayak."


__ADS_2