
Hyorin terbangun dari tidur siangnya, setelah liburan bersama Ayesh dan pindah ke rumah baru, dia sering kali merasa bosan. Dulu ketika masih bekerja di rumah sakit, hari-harinya terasa begitu cepat. Sedangkan kini, dia harus tinggal di rumah tanpa melakukan banyak aktivitas.
Bik Siti memanggil Nyonya Mudanya yang masih berada di kamar karena ada tamu yang datang.
"Siapa Bik?" tanya Hyorin.
"Tidak tahu Nyonya, dia katanya teman Nyonya."
"Baiklah, suruh dia menunggu sebentar."
Bik Siti meninggalkan Hyorin yang sedang bertukar pakaian, tidak seberapa lama Hyorin turun menemui tamunya itu.
Hyorin melihat Indra sedang duduk di ruang tamu rumahnya.
"Kak Indra," batin Hyorin.
Dengan langkah sedikit gontai, Hyorin menemui Indra.
"Kak Indra apa kabar?" Hyorin berusaha tersenyum seramah mungkin.
"Aku baik Rin," jawab Indra sambil memeriksa keadaan sekitar.
Indra tersenyum puas, ketika melihat ada CCTV di ruang tamu.
"Kok bisa tahu aku tinggal disini?"
"Hati kita terhubung, jadi di lubang semutpun aku pasti akan menemukanmu!"
"Kakak bisa saja," Hyorin tersenyum pias.
Bik Siti membawakan minum dan makanan ringan untuk tamu dari Nyonyanya itu.
"Silahkan diminum dulu Kak,"
"Terimakasih Rin,"
Indra menyesap minumannya, "Kandunganmu sudah cukup besar ya, kapan dia akan lahir?"
"Sekitar tiga bulanan lagi Kak,"
"Ah ya begitu rupanya,"
"Oh ya Kak, ada perlu apa datang kemari?"
"Aku hanya ingin bertemu denganmu sebelum aku ke luar negeri, aku akan pergi Rin."
"Kenapa harus pergi Kak?"
"Agar aku bisa melupakanmu!"
Hyorin hanya tersenyum dan tidak menanggapi ucapan Indra. Hyorin menganggap jika Indra hanyalah teman biasa sehingga apa yang dikatakannya tidak memiliki arti apa-apa bagi Hyorin sendiri, meskipun mungkin bagi Indra akan sangat berarti. Indra cukup lama bertamu, kemudian pamit undur diri.
Malamnya Ayesh baru pulang dari dia bekerja, kemudian menghampiri Hyorin yang sedang menunggunya sambil menonton televisi, Ayesh mencium kening istri kesayangannya, yang disambut Hyorin dengan mencium punggung tangan suaminya itu.
Ayesh masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan tidak lama kemudian turun kembali untuk makan malam.
Selesai makan malam, Ayesh mengajak Hyorin untuk beristirahat. Hyorin bermaksud menceritakan perihal kedatangan Indra ke rumah saat mereka sudah berbaring di tempat tidur agar suasana lebih santai, tapi belum sempat Hyorin mengeluarkan kata pertamanya ponsel Ayesh berdering yang langsung diangkatnya. Ayesh keluar dari kamar cukup lama, hingga Hyorin terlelap karena lelah menunggunya.
Keesokan paginya ketika Hyorin terbangun, sisi ranjang disebelahnya terasa dingin. Ayesh sudah tidak ada ditempatnya atau bahkan sejak semalam memang Ayesh tidak kembali ke kamar.
__ADS_1
"Mas Ayesh kemana? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Hyorin kepada dirinya sendiri.
Hyorin berpikir jika Ayesh sudah turun karena di kamar mandi juga tidak ada. Setelah menyelesaikan kewajiban paginya, Hyorin turun menuju dapur, berharap jika Ayesh ada disana. Namun nihil, Hyorin hanya melihat Bik Siti sedang memasak sarapan.
"Bik, lihat Tuan apa tidak?" tanya Hyorin.
"Saya belum melihatnya Nyonya, bukankah Tuan masih di atas?"
"Oh ya mungkin saja sedang di ruang kerjanya, biar aku lihat sebentar. Bibik teruskan memasaknya ya!" perintah Hyorin kepada Bik Siti.
"Baik Nyonya," jawab Bik Siti.
Hyorin naik kembali ke atas, mencari Ayesh di ruang kerjanya. Ternyata benar, orang yang dimaksud tertidur dengan kepala diletakkan di atas meja, tangan dia jadikan sebagai bantalan.
Hyorin membangunkan Ayesh dengan lembut, "Mas bangun sudah siang!" Hyorin mengelus lembut rambut suaminya.
Ayesh perlahan membuka matanya, dia melihat Hyorin dengan malas. Kamudian berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Hyorin tanpa ucapan selamat pagi yang selama ini biasa dia berikan untuknya ketika pertama kali membuka matanya di pagi hari.
Ayesh masuk ke dalam kamar untuk mandi, Hyorin mengikuti Ayesh dan mempersiapkan baju kerja untuknya.
Hyorin kemudian keluar dari kamar untuk membantu Bik Siti yang sedang menata sarapan pagi untuk mereka.
Tidak berselang lama, Ayesh turun menuju meja makan. Hyorin tersedak minuman yang sedang disesapnya, sebab melihat Ayesh tidak mengenakan baju yang tadi dia siapkan. Padahal biasanya Ayesh sangat suka dengan baju yang Hyorin pilihkan dan siapkan untuknya.
"Tidak biasanya Mas Ayesh seperti ini," pikir Hyorin.
Mereka menghabiskan sarapan dalam diam, Hyorinpun tidak berani bertanya kepada Ayesh mengenai apa yang terjadi, padahal semalam ketika pulang dari kantor, Ayesh tampak masih biasa-biasa saja.
Ayeshpun berangkat tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, dia meninggalkan Hyorin begitu saja.
Hyorin menghela nafasnya dalam-dalam, mencoba menelaah setiap hal yang mungkin salah pada dirinya namun tidak menemukan petunjuk apapun.
Hyorin
Mas hati-hati di jalan ya, I love you. 😘😘😘
Hyorin menunggu cukup lama, namun tidak ada jawaban dari Ayesh.
Ayesh yang sudah sampai di kantor, sengaja membiarkan ponselnya begitu saja. Dia larut dalam pekerjaan dengan pikiran yang sebenarnya sangat kacau, sulit sekali baginya untuk berkonsenterasi terhadap pekerjaannya hari ini.
"Kamu kenapa Yesh?" tanya Doni yang melihat Ayesh begitu gelisah.
"Aku tidak tenang Don, sekarang Indra mulai berani datang kerumah!" jawab Ayesh.
"Gila asli tuh anak Yesh, nggak ada kapoknya!"
Doni menepok jidatnya sendiri karena Indra benar-benar sudah gila.
"Hyorin cerita sama kamu Yesh?"
Ayesh menggeleng, "Lalu dari mana kamu tahu kalau dia datang ke rumah kamu Yesh?"
"Ada seseorang yang menghubungiku agar aku cek CCTV rumah!"
"Kamu tahu siapa yang menghubungimu itu Yesh?"
"Tidak Don, nomor tidak dikenal!"
"Lalu bagaimana kamu bersikap pada Hyorin?"
__ADS_1
"Aku mengabaikannya sejak semalam,"
"Dan sekarang kamu tidak berkonsentrasi dalam bekerja, benar begitu kan Yesh?"
Ayesh lagi-lagi mengangguk.
"Kamu sadar atau tidak sih Yesh, orang itu sedang mencoba membuat provokasi agar kalian bertengkar,"
"Hyorin pasti sedang merasa sangat sedih sekarang," lanjut Doni.
Ayesh terdiam, berpikir sejenak kemudian mengambil jasnya yang dia letakkan dibahu kursi yang sedang dia duduki.
"Kau mau kemana Yesh?" tanya Doni.
"Pulang!" jawab Ayesh singkat.
Doni hanya bisa menghela nafasnya, sambil tersenyum sendiri karena sahabatnya itu benar-benar lucu ketika sedang cemburu.
Sementara Ayesh sedang dalam perjalanan pulang, Hyorin sendiri sedang merasa tidak enak hati atas sikap dan perlakuan Ayesh terhadapnya. Berkali-kali dia mengirimkan pesan kepada suaminya namun tak direspon satupun oleh Ayesh.
Tok...tok...tok...,
Terdengar suara pintu kamar Hyorin diketuk dari luar.
"Nyonya sudah saatnya makan siang!" ucap Bik Siti dari balik pintu.
"Iya Bik, sebentar lagi aku turun."
Bik Siti kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali. Hyorin turun dari ranjang menuju ke meja makan untuk makan siang, tiba-tiba ponselnya berdering.
Hyorin begitu bahagia ketika melihat Id caller yang tertera di layar ponselnya.
"Mas Ayesh," gumamnya.
Hyorin dengan cepat mengangkat panggilan dari Ayesh.
"Hallo Mas," ucap Hyorin ketika tombol hijau dia geser ke atas.
"Maafkan aku sayang, aku sudah bersikap kurang baik terhadapmu."
"Aku tidak apa-apa Mas, kau tenanglah!"
"Aku sedang perjalanan pulang ke rumah sayang. Tunggu aku di rumah!"
"Maafkan aku Hyorin sayang," sambung Ayesh.
"Iya Mas, aku tunggu kamu di rumah. Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan karena aku baik-baik saja, kita makan siang bersama."
"Rin rem mobilku blong!" pekik Ayesh.
Astaghfirullahalazim..., ucap Ayesh kembali sambil berusaha mengendalikan mobil yang dia kemudikan.
Terdengar suara benturan mobil yang sangat keras dari seberang telfon.
"Mas...Mas Ayesh kamu kenapa?!!!"
Hyorin berusaha memanggil-manggil suaminya, namun tidak ada jawaban. Hyorin mendengar banyak suara orang berdatangan.
Hyorin tanpa sadar menjatuhkan ponselnya ke lantai, kakinya begitu lemas. Hyorin jatuh tersungkur di lantai kamarnya. Dia menangis sesenggukkan. Baru saja mereka berbaikan namun ada hal di luar dugaan mereka yang justru terjadi.
__ADS_1
Mendadak Hyorin merasa pusing di kepalanya, pandangannya terasa kabur, dia kehilangan kesadarannya.