Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 64


__ADS_3

Hyorin meninggalkan gedung Firma Hukum Akbar Grup, hatinya terasa remuk mengingat apa yang tadi dia baca. Ada rasa ngilu mengingat dirinya juga tengah hamil. Namun, bedanya dia didampingi oleh suami dan bisa hidup dengan bebas, sedangkan Jovanka dia harus hamil dengan kondisi harus berada di dalam lapas.


"Bagaimana nasib anak Jovanka nanti, jika harus hidup terpisah dengan Ibu Kandungnya?" pikir Hyorin.


"Pak minta tolong antarkan saya ke alamat ini!" Hyorin menunjukkan maps di ponselnya kepada Pak Tikno, Supir yang mengantarkannya ketika dia sudah duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Baik Nyonya muda," jawab Pak Tikno.


Mobilpun melaju ke arah yang Hyorin tunjukkan, dari atas gedung Ayesh hanya bisa memandangi mobil yang membawa Istrinya pergi.


Hufttttttt....


Ayesh menghembuskan nafasnya kasar, disaat itu datanglah Doni ke dalam ruangan Ayesh.


"Kamu kenapa Yesh, dimana Nona Orin?" tanya Doni melihat ruangan Ayesh kosong hanya Ayesh saja yang berada disana.


"Pulang," jawab Ayesh datar.


"Kenapa pulang bukankah seharusnya kalian makan siang bersama?"


"Aku tidak tahu Don, tiba-tiba saja Orin bersikap sangat aneh,"


"Jangan-jangan dia...," Doni tampak memikirkan sesuatu.


"File laporan itu?!" Doni dan Ayesh berkata bersamaan.


"Aku periksa dulu Yesh,"


Doni membolak balik file yang ada di atas meja kerja Ayesh, tidak tampak ada yang aneh pada file tersebut.


"File ini masih rapi Yesh, tidak ada tanda-tanda Nona Orin membukanya sama sekali."


"Aku juga berpikir seperti itu tadi Don, tapi kenapa sikapnya jadi aneh."


"Sudahlah Yesh, kita pikirkan itu nanti saja. Ayo kita makan dulu dan lanjutkan pekerjaan kita yang tadi tertunda!"


Ayesh dan Doni menyelesaikan makan siang mereka tidak lupa Ayah Ayesh pun ikut makan siang bersama. Setelahnya melanjutkan pekerjaan masing-masing, di titik ini Ayesh benar-benar sudah tidak bisa berkonsentrasi sama sekali terhadap pekerjaannya.


Dia berkali-kali membuka tutup ponselnya, menantikan balasan pesan dari istrinya yang dia kirimkan namun nihil, Hyorin tidak meresponnya sama sekali.


Hyorin sampai di sebuah gedung yang bertuliskan nama keluarganya, dia masuk ke dalam dan hendak langsung menuju ke ruangan Hyoshan. Setelah sebelumnya menyuruh Pak Tikno untuk pulang saja dan tidak usah menunggunya.


Di lobi dia berpapasan dengan Silvia yang sepertinya akan keluar bersama rekannya.


"Hey kalian lihat siapa ini yang datang?"


Hyorin tidak memperdulikan omongan Silvia namun dia mencegah Hyorin melangkah dengan cara menghadang jalan Hyorin.


"Silvia aku tidak ada urusan denganmu jadi tolong minggirlah!"


"Kau lihat dia, perebut calon suami orang!" sarkas Silvia.


"Apanya yang bagus dari wanita ini, hingga Kak Ayesh lebih memilih dia dibandingkan kamu Sil?" teman Silvia menimpali.


"Aku juga tidak tahu, mungkin dia menggoda Kak Ayesh saat dia berstatus sebagai Dokter Pribadinya!"


"Oh seorang Dokter rupanya, tapi kok aku tidak melihat aura Dokter dari wanita ini ya?" rekan Silvia tertawa mengejek dengan menutup bibirnya dengan tangan.


"Mohon maaf kalian semua tidak berhak menilaiku seperti itu, yang tahu mengenai diriku adalah aku sendiri. Jadi tolong kalian minggirlah aku mau lewat!"


"Tidak semudah itu, ini areaku dan kau tahu sebentar lagi Perusahaan ini sepenuhnya akan jadi milikku setelah aku menikah, dan rumah sakit juga akan menjadi milik Indra Suamiku! Hahahaaaa..." Silvia menertawakan Hyorin dengan nada yang sangat menjengkelkan.


"Terserah apa yang mau kamu katakan Silvia, aku tidak perduli akan semua itu. Mau kamu ambil semuanya juga terserah kau saja. Cepat minggir aku mau lewat!"


"Eits...tidak bisa, kami belum puas membuat kamu marah!" Silvia tertawa bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Cepat kamu mengamuk jadi kami bisa punya tontonan gratis,"


Hyorin bersikap cukup tenang menghadapi mereka, sebab kelakuan Silvia yang seperti ini bukanlah yang pertama kali baginya. Hanya saja Hyorin menyayangkan sikap Silvia yang pengecut, beraninya main keroyokan.


"Kamu pegang tangannya, biar aku tampar wajahnya kali ini!" perintah Silvia kepada teman-temannya.


Teman-teman Silvia mengikuti apa yang dia perintahkan.


"Lepaskan aku, aku tidak ada urusan dengan kelian!"


Belum sempat Silvia menampar Hyorin, ada suara yang mencegah mereka.


"Lepaskan dia!" suara bariton seseorang membuat nyali teman-teman Silvia menciut, dia tahu siapa yang tengah berbicara kepada mereka saat ini.


"Wa-wakil Direktur?" ucap salah seorang teman Silvia.


Hyoshan mendekat ke arah Hyorin dan langsung menggandeng tangan Hyorin, menatap dengan tatapan elang satu persatu orang-orang yang berani mengganggu Adiknya.


Dikala teman-temannya merasa takut, Silvia justru bersikap acuh seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.


"Ayo sayang kita naik, tidak perlu hiraukan tikus-tikus tak berguna ini!" sarkas Hyoshan.


"Kau bilang kami apa?!" Silvia mulai emosi.


"Tikus...budeg ya kamu!" Hyoshan menyeringai.


Hyoshan membawa Hyorin naik dan masuk ke ruang kerjanya.


"Sil tadi sebenarnya gadis itu siapa? Bukankah itu Istri Kak Ayesh, kenapa Hyoshan memanggilnya dengan sebutan sayang, apa Hyoshan adalah selingkuhan gadis itu?" tanya teman Silvia dengan polosnya.


Silvia menggetok jidat temannya yang rada-rada telmi.


"Aaaauuuuuuu...sakit Sil," teman Silvia mengusap-usap keningnya.


Teman Silvia menggeleng, "Aku tidak tahu Sil,"


"Dia itu Hyorin, Adik kesayangan dari Wakil Direktur Hyoshan yang jabatannya sebentar lagi akan aku rebut,"


"Berarti dia Putri Kandung Tuan Mahardika pemilik Perusahaan ini?"


Silvia mengangguk, "Iya betul sekali!"


Gadis itu menepuk jidatnya sendiri, "Mampus gue, bisa diujung tanduk karir gue Sil,"


"Tidak usah khawatir sebentar lagi Perusahaan ini bakalan jadi milikku, kalau kamu tidak patuh kepadaku baru karir kamu akan terancam!"


"Ayo kita segera keluar bersenang-senang, kita gesek ini sepuasnya. Aku traktir kalian!"


Silvia dan teman-temannya keluar dari gedung perusahaan, seperti biasa kelakuan Silvia tidak pernah berubah.


****


"Duduklah Rin," Hyoshan menyuruh Adiknya untuk duduk di sofa.


"Tumben kamu kesini Rin kenapa tidak menemuiku di Apartemen saja, apakah ada masalah?"


Hyorin mengangguk, "Ada sesuatu yang aku butuh pertimbangan Kak Oshan,"


"Iya ceritakanlah!"


Hyorin kemudian menceritakan semuanya kepada Hyoshan mulai dari peristiwa penculikan dirinya hingga saat ini Jovanka mendekam di penjara dalam kondisi berbadan dua yang Hyorin sendiri baru mengetahuinya.


"Hamil? Apakah kamu tahu siapa yang menghamilinya?"


"Aku tidak tahu Kak, dalam file laporan yang aku baca disitu tertulis bahwa laki-laki yang menghamili Jovanka masih dalam proses pencarian,"

__ADS_1


"Apakah Ayesh tahu akan hal ini?"


Hyorin mengangguk, "Tapi Mas Ayesh sedikitpun tidak menceritakannya kepadaku Kak,"


"Ayesh pasti punya pertimbangan lain sehingga dia tidak memberitahukan hal ini kepadamu Rin,"


"Maafkan Kakak ya Rin yang tidak mampu menjagamu dengan baik," sesal Hyoshan yang baru mengetahui peristiwa penculikan Adiknya.


"Kakak cukup jaga Ayah dan Perusahaan ini dengan baik, maka aku juga akan hidup dengan baik,"


"Baiklah Rin, percayakan saja pada Kakak!"


"Jika orang-orang tadi di bawah menganggumu lagi, Kakak tidak segan untuk membuat perhitungan kepada mereka. Sudah cukup kita hanya mengalah saja selama ini Rin,"


"Kakak tenanglah, kebahagiaan Ayah merupakan prioritas kita saat ini. Biarkan semua tetap seperti ini."


"Kak...bisakah besok kau mengantarkanku menemui Jovanka?"


"Itu bukan hal yang sulit, apa yang tidak kalau buat Adikku ini!"


"Terimakasih Kak, aku sebenarnya masih kangen sama Kakak. Tapi sepertinya aku harus pergi sekarang,"


"Kenapa secepat itu Rin? Kamu tidak mau menemui Ayah dulu?"


"Lain kali saja Kak, aku akan datang lagi. Khawatir mengganggu Ayah. Oh ya Kak, mengenai yang tadi di bawah, biarkan saja mereka ya, jangan Kakak pecat mereka...kasihan, mungkin saja mereka sangat membutuhkan pekerjaan di Perusahaan ini." Pesan Hyorin kepada Kakaknya, khawatir Hyoshan akan membuat perhitungan kepada mereka dengan kekuasaan yang dimilikinya.


"Baiklah Rin, sesuai permintaan kamu saja."


Hyoshan melepas kepergian Adiknya, memandangi punggung Hyorin hingga menghilang di balik pintu.


"Kamu memang selalu seperti ini, selalu saja baik. Kakak tahu apa yang kamu pikirkan terhadap Jovanka." Gumam Hyoshan lirih.


Hyorin pergi meninggalkan Perusahaan milik keluarganya dengan menggunakan taksi yang sudah dia pesan sebelumnya melalui aplikasi.


Ayesh merasa sudah tidak tahan lagi untuk tidak segera pulang menemui Istrinya, konsentrasinya terpecah. Percumah saja dia tetap berada di Kantor namun hati dan pikirannya tidak ada disana.


"Don kamu selesaikan pekerjaanmu saja, aku akan pulang sekarang,"


"Iya serahkan saja padaku," jawab Doni paham dengan situasi hati Ayesh saat ini.


Ayesh sampai di rumah orangtuanya, namun harus menahan kecewa sebab Hyorin sejak pergi tadi siang belum kembali kesana.


"Kalian kenapa Nak, apakah kalian bertengkar? Kau apakan Menantu kesayangan ibu?" tanya Nyonya Akbar sedikit memarahi Putranya.


"Aku tidak melakukan apa-apa Bu, percayalah. Orin mungkin saja pulang ke Apartemen."


"Cepat susul dia, kalau ada apa-apa segera kabari Ibu!"


Ayesh segera melajukan mobilnya ke Apartemen, dia mencoba menelfon Hyorin berkali-kali namun tetap tidak ada respon sama sekali.


Ayesh masuk ke Apartemen dengan sedikit berlari, namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit karena Hyorin juga tidak ada di Apartemen. Ayesh mencari ke semua sudut namun tidak menemukan keberadaan Hyorin sama sekali.


"Rin sebenarnya kamu ada dimana?" tanya Ayesh pada dirinya sendiri.


"Tenang aku harus tenang, cepatlah berpikir-berpikir!" Ayesh bermonolog di dalam hatinya.


Ayesh teringat sebuah tempat yang mungkin saja Hyorin kunjungi saat kondisi hatinya sedang buruk.


Ayesh segera melesat ke tempat itu untuk menyusul Hyorin.


-----------------------------------------------------------------------


Hai Kak, jangan lupa tetap dukung Author ya, yuk like, coment, vote dan jadikan favourite ya 🥰🥰💕💕💕💕


Terimakasih ya Kak, yang selalu setia menunggu Author update 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2