Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 79


__ADS_3

Setelah keberangkatan Ayesh ke Negeri Kanguru, Hyorin disibukkan dengan pekerjaan di rumah sakit dan juga persiapan pernikahan Kakaknya, meskipun hatinya tetap terasa kosong namun dia melaksanakan pekerjaannya secara profesional.


Hyorin merasa lebih nyaman sekarang dengan sudah tidak bekerjanya Indra di rumah sakit keluarganya, tidak ada lagi orang yang riweh mengganggu dirinya untuk hal-hal yang tidak penting.


Selama Ayesh pergi setiap hari Hyoshan akan mengantar dan menjemput Hyorin dan juga Nita di rumah sakit.


Hyorin dan Nita langsung masuk ke kursi penumpang bagian belakang begitu mobil Hyoshan berhenti di depan mereka.


"Hey kalian mau menjadikanku seperti supir?" Hyoshan menaikkan sebelah alisnya.


"Nita pindah depan!" perintah Hyoshan.


Dengan sedikit tidak rela Nita akhirnya mau pindah juga, sebenarnya Nita sedikit menghindari Hyoshan, entah mengapa semakin mendekati hari pernikahan Nita semakin merasa malu, membayangkan banyak hal nantinya yang akan dia lakukan bersama Hyoshan sepanjang hidupnya.


Suasana di dalam mobil terasa hening, tidak ada yang membuka suaranya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Hari ini sepulang dari rumah sakit entah mengapa Hyorin merasa sangat lapar sehingga dia mengajak Kakaknya dan juga Nita untuk mampir membeli makanan terlebih dahulu.


"Kak Oshan aku lapar!" ucap Hyorin memecah keheningan.


Hyorin yang duduk di kursi belakang membuat Nita dan Kakaknya menoleh bersamaan, hampir saja wajah mereka saling bersilaturahmi tanpa disengaja, jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja, cepat-cepat Hyoshan menarik wajahnya dan kembali fokus pada jalanan sedangkan Nita wajahnya merona seketika karena malu, buru-buru Nita memperbaiki duduknya.


Mereka memang sudah akan menikah tapi masih sama-sama canggung dan menahan diri satu sama lain.


Nita yang biasanya akan bercerita ngalor ngidul dengan Hyorin mendadak jadi irit bicara di depan Hyoshan, seolah tenggorokannya tercekat hanya untuk mengeluarkan kata-kata.


"Kamu mau makan apa De'?" tanya Hyoshan sambil masih fokus menyetir.


"Ayam goreng tepung Kak," jawab Hyorin manja sambil mengelus perutnya, seolah mengisyaratkan bahwa anaknyalah yang mau dengan makanan itu.


"Ayesh ternyata luar biasa bisa tahan dengan berbagai kemauan kamu De'," Hyoshan meledek Adiknya.


Hyorin merasa sedih ketika nama Ayesh disebut, rasanya rindu itu tak sanggup untuk terbendung lagi.


"Orin jangan sedih ya?" Nita mengerti perasaan Hyorin, Ibu hamil memang sangat sensitif.


Nita menatap tajam Hyoshan seolah memarahi pemuda di sampingnya yang malah membuat Adiknya bersedih.


Hyoshan mengangkat tangannya mengaku salah atas ucapannya.


"Nanti kamu boleh makan ayam goreng sepuasnya De', aku yang traktir gimana?" bujuk Hyoshan untuk menebus kesalahannya tadi masih dengan fokus menyetir.


"Benarkah? Janji tidak akan menyesal?" wajah Hyorin kembali berbinar.

__ADS_1


Hyoshan hanya mengangguk dan tersenyum.


Mereka sampai di restoran cepat saji di sebuah pusat perbelanjaan sesuai keinginan Hyorin, tanpa disangka mereka malah bertemu dengan Silvia di tempat ini.


"Oshan sayang ternyata kamu disini juga, aku kangen sama kamu!" Silvia berhambur ke arah Hyoshan membentuk gerakan ingin memeluk Hyoshan.


Hyorin dan Nita sama-sama mengernyitkan kening melihat Silvia yang kegenitan.


"Dasar wanita tidak tahu malu!" geram Hyorin di dalam hati.


Hyoshan yang diperlakukan tidak biasa oleh Silvia menepisnya begitu saja. Aura dingin dan kaku Hyoshan membuat nyali Silvia menciut, namun Silvia tetaplah Silvia yang urat malunya sudah putus.


"Oshan kenapa kamu tidak melanjutkan apa yang sudah kita lakukan tempo hari? Bisakah kita melakukannya sekali lagi?" Silvia mulai membuat fitnah.


Hyoshan mengambil tempat duduk dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia tetap bersikap tenang.


"Omong kosong apa Silvia?" Hyoshan sedikit menghardik mantan Adik Tirinya itu.


"Kamu pura-pura polos atau karena ada dia disini jadinya kamu malu sayang?" Silvia melirik Nita dengan sinis.


"Nenek Lampir kamu jangan ngaco deh, sejak kapan kamu dekat sama Kak Oshan, yang ada Kakakku jijik sama kamu!" Hyorin angkat bicara.


"Eh calon Adik Ipar kemana Suami kamu? Jangan-jangan setelah bosan kamu dicampakkan?" Silvia tertawa pongah.


"Jaga ucapan kamu Silvia!"


Hyorin ingin menjawab namun dicegah oleh Nita dengan menarik sebuah kursi agar Hyorin duduk, sebab meladeni Silvia tidak akan pernah ada ujungnya bisa-bisa tekanan darah naik kalau tidak bisa menjaga emosi.


Hati Hyorin begitu kesal mendadak nafsu makannya hilang.


Silvia masih menggoda Hyoshan seperti cacing kepanasan, mencoba memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya agar Hyoshan tertarik, sungguh gambaran wanita tak memiliki etika.


Sedangkan Hyoshan masih saja datar, tidak sudi melihat tubuh wanita bekas orang lain, apalagi berniat memakan daging mentah yang akan menyeretnya ke dalam masalah meskipun itu disajikan secara gratis.


"Lihat sayang aku masih sama seperti dulu, bukankah malam itu akan selalu kau ingat?"


Nita semakin tidak tahan dengan kelakuan Silvia, dia tidak rela melihat calon suaminya terus-terusan didekati ulat bulu seperti Silvia. Dadanya naik turun menahan amarah.


"Maaf Nona Silvia, Anda tidak pantas melakukan hal itu di depan umum. Jika kalian memiliki hubungan silahkan selesaikan di tempat lain jangan kotori mata kami dengan pemandangan yang tidak pantas kami lihat!" ucap Nita dengan suara bergetar karena marah.


Silvia tersenyum senang karena menganggap Nita mulai terprovokasi.


"Wah...wah...wah...calon pengantinmu ternyata pandai bicara juga, dia mempersilahkan kita untuk bersama Oshan!" Silvia bertepuk tangan.

__ADS_1


"Dengar Silvia, hubungan kita hanyalah mantan Kakak dan Adik Tiri!" Hyoshan menekankan kata-katanya dan berdiri dari tempat duduknya.


"Kita makan di rumah saja ya De'!" Hyoshan memberi perintah.


Hyorin yang melihat air muka Nita sedikit berubah, akhirnya mengerti dengan maksud Kakaknya dan patuh akan perintah Kakaknya itu.


Mereka bertiga meninggalkan Silvia setelah mengambil pesanan mereka dan membayarnya di kasir.


Silvia merasa sangat kesal karena Hyoshan masih sangat susah diprovokasi tapi Silvia sangat yakin jika Nita pasti akan kecewa dengan Hyoshan dan mungkin saja pernikahan mereka akan batal.


Silvia tertawa puas di dalam hatinya, "Lihat saja sebentar lagi pasti akan terjadi keributan!"


Silvia selain menjaga toko, dia memiliki profesi lain setelah pulang bekerja. Dia akan berkeliaran di Mall mencari Musang yang tajir dan haus akan kasih sayang agar memangsanya dan dia akan memangsa isi dompet Musang itu, dengan begitu dia tidak akan kekurangan uang sebab mengandalkan gaji bulanananya sebagai penjaga toko sangatlah tidak mencukupi kebutuhan diri dan Mamanya yang selalu ingin terlihat glamor di depan teman-teman sosialitanya.


Sungguh jalan pintas yang suatu saat akan disesalinya cepat atau lambat.


Hyoshan mengantarkan Hyorin pulang terlebih dahulu sebab dia ingin berbicara lebih serius dengan Nita, karena tidak menutup kemungkinan ucapan Silvia akan menganggu pikiran Nita dan mempengaruhi persiapan pernikahan mereka.


"Masuklah De', jaga Ayah dulu ya!" perintah Hyoshan.


"Iya Kak, bye Nita sampai jumpa besok ya!" Hyorin melambaikan tangan dan membuat gerakan memberikan semangat untuk Nita yang masih terlihat muram. Nita tersenyum membalas perlakuan Hyorin dengan melambaikan tangannya.


Hyoshan membawa Nita ke apartemennya agar lebih leluasa untuk berbicara. Sebenarnya Nita menolak tapi Hyoshan bisa meyakinkan gadis itu agar mau mengikutinya sebentar saja.


"Nit aku paham ucapan Silvia pasti saat ini sedang menganggu pikiran kamu!"


"Tidak Kak, aku tidak apa-apa!"


"Aku tidak yakin kamu seperti itu Nit, mata kamu mengatakan jika kamu sedang tidak baik-baik saja sekarang,"


"Kak...,"


"Dengarkan aku Nit, kamu tahu bukan sejak dulu aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, sebagai sahabat Orin kamu tentu sangat paham akan hal itu, jangan pernah meragukanku Nit. Selama ini apakah aku pernah memperlakukanmu tidak sopan?"


Nita menggeleng membenarkan perkataan Hyoshan.


"Kamu juga tahu kan Nit, Silvia adalah bekas Indra sejauh yang kita ketahui, bahkan dia pernah mengejar Ayesh. Kamu bahkan tahu apartemen ini yang aku pilih untuk tinggal dari pada aku harus seatap dengan Silvia dan Mamanya, aku memilih menyingkir daripada harus bersinggungan dengan mereka,"


"Maafkan aku Kak yang tadi sempat meragukanmu," Nita menutup wajah dengan kedua tangannya, sepertinya dia menangis.


"Maafkan aku juga Nit, aku belum bisa mengizinkanmu meminjam dadaku untuk menghapus air matamu!" Hyoshan menyodorkan tisu kepada Nita.


Nita semakin dibuat kagum dengan Hyoshan, selama dia bersama Hyoshan tidak pernah sakalipun mereka saling bersentuhan kulit walaupun hanya sekedar berjabat tangan. Hyoshan benar-benar menjaga dirinya sekaligus memegang teguh prinsipnya.

__ADS_1


"Hapuslah air matamu, aku akan antarkan kamu pulang. Jangan sampai orangtuamu menganggapku menyakitimu bahkan sebelum janji suci itu aku ucapkan, jangan membuat harga diriku jatuh di depan mereka!"


Nita memilih patuh, hatinya cukup lega sekarang. Dia akan belajar lebih percaya kepada Hyoshan daripada percaya dengan ucapan orang lain.


__ADS_2