
Ayesh sampai di tempat yang ia maksudkan tadi, memarkirkan kendaraannya di tepi jalan kemudian bergegas turun dari mobil.
Kondisi tempat itu cukup sepi karena sudah menjelang petang ditambah gerimis yang mulai mengguyur sepertinya akan turun hujan lebat karena langit terlihat begitu gelap.
Ayesh mencari-cari payung di dalam bagasi mobil. Beruntung dia menemukannya, Ayesh kemudian masuk ke area makam yang lebih dalam mencoba mengingat-ingat tempat yang pernah Hyorin tunjukkan kepadanya beberapa minggu yang lalu. Ya makam Ibu Hyorin, Ayesh terus mencari. Dari kejauhan samar Ayesh menemukan sosok Hyorin yang sedang menangis di samping pusara Ibunya. Rambut dan baju Hyorin telah basah diguyur derasnya hujan.
"Ibu apa yang harus aku lakukan, aku sungguh tidak tega terhadapnya Bu?" Hyorin berkata sambil menangis.
Ayesh mendengar curahan hati Hyorin meskipun samar-samar. Ayesh mempercepat langkahnya, kemudian memayungi wanita kesayangannya itu. Merasa tempat disekitarnya menjadi teduh Hyorinpun menoleh ke arah Ayesh.
Senyum terkembang dari bibir Ayesh, sedang Hyorin masih terpaku ditempatnya merasa tidak percaya bahwa Ayesh bisa menemukannya di tempat ini.
"Ayo berdiri sayang!" Ayesh membungkuk membantu Hyorin agar berdiri.
Ayesh melepaskan jas yang ia kenakan kemudian memakaikannya ke tubuh Hyorin yang sudah basah kuyup, berharap sedikit bisa menghangatkan tubuh Hyorin.
"Ayo kita pulang sayang, hari sudah mulai gelap tidak baik wanita hamil berada di pemakaman sampai mega merah muncul di ufuk barat,"
Hyorin masih terdiam, dia hanya memandangi suaminya. Beberapa rasa berkecamuk di dalam hatinya, antara dia marah, kecewa, sebal bahkan bahagia karena suaminya itu sangat memperhatikannya dengan sangat baik.
Ayesh menuntun istrinya perlahan dan membawanya keluar dari area pemakaman.
"Bu kami pulang dulu, kami pasti akan mengunjungi Ibu kembali." Ucap Ayesh sebelum meninggalkan makam Ibu Hyorin.
Ayesh membukakan pintu mobil untuk Hyorin, menyuruhnya duduk di kursi penumpang bagian depan dan memasangkan seatbelt untuknya.
Ayesh memutari mobil dan duduk di balik kemudi, segera melajukan mobilnya. Ayesh ingin agar mereka segera sampai ke Apartemen.
Dia khawatir Hyorin akan sakit jika terlalu lama mengenakan baju yang basah.
Beberapa kali Hyorin bersin-bersin di dalam mobil. Ayesh mengusap rambut Hyorin pelan seolah mengatakan bahwa sebentar lagi mereka akan sampai. Ayesh melihat Hyorin yang sudah sangat pucat, sepertinya Hyorin kedinginan.
Setelah perjalanan sekitar Tiga Puluh Lima menit, mereka sampai di Apartemen.
Ayesh segera menggendong tubuh Hyorin, membawanya naik dan masuk ke unit tempat mereka tinggal.
Ayesh mempersiapkan air hangat untuk Hyorin dan menyuruhnya segera mandi, meskipun Hyorin masih terus saja diam namun Ayesh bersyukur karena Hyorin mematuhi setiap perkataannya.
Ayesh pergi ke dapur membuatkan jahe hangat untuk Hyorin, berharap bisa menghangatkan tubuh Hyorin yang sudah mengginggil.
Hyorin keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandinya.
Hyorin tersenyum melihat ada baju ganti yang sudah ada di atas ranjang, sepertinya Ayesh yang mempersiapkan untuknya.
Ayesh kembali ke kamar dengan segelas jahe hangat dan semangkuk bubur yang masih mengeluarkan asap.
Hyorin mendekati Ayesh, "Mas maafkan aku sudah merepotkanmu sejauh ini,"
"Aku senang kamu repotkan sayang, makan dulu ya dan diminum jahenya biar tubuh kamu hangat, Mas nggak mau kalau kamu sakit kasihan yang ada di dalam sini." Ayesh mengelus perut Hyorin.
"Mas mandi dulu ya, kamu makanlah!" Ayesh mengecup kening Hyorin kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ayesh keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang sudah lebih segar, dia mendekati Istrinya.
"Loh kok makannya nggak dihabiskan?"
"Aku sudah kenyang Mas,"
"Sini biar Mas habiskan!"
"Tapi Mas itu bekas aku,"
"Ini jauh lebih nikmat daripada harus mengambil yang baru,"
Ayesh lagi-lagi memakan bekas makanan Hyorin, pemuda itu tampak menikmatinya tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Hal ini membuat Hyorin semakin merasa bersalah, jelas-jelas Ayesh sangat menyayanginya. Namun, karena sebuah hal dia harus mendiamkan suaminya itu bahkan tidak menjawab telfonnya hingga membuat suaminya itu khawatir.
__ADS_1
Selesai menghabiskan semua isi mangkuk di hadapannya, Ayesh keluar membawa alat makan yang kotor untuk membereskannya kemudian kembali lagi ke kamar.
"Sayang Mas boleh tanya sesuatu?"
Hyorin mengangguk, kini mereka sudah berada di atas ranjang merebahkan diri untuk mengistirahatkan tubuh yang penat.
"Apakah kamu marah sayang? Kenapa tidak menjawab telfonku dan kenapa kamu mengabaikan pesanku?"
"Aku kira kamu kembali ke rumah Ibu, aku cari kesini juga tidak ada. Kamu kemana saja Rin setelah dari Kantor?"
Hyorin semakin merasa bersalah dengan pertanyaan dan juga pernyataan yang Ayesh lontarkan memilih merapatkan dirinya ke tubuh Ayesh meraih pinggang suaminya dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku Mas," Hyorin mendongakkan wajahnya.
"Aku pergi menemui Kak Oshan,"
"Lalu...kenapa tidak langsung pulang?"
"Suasana hatiku bertambah buruk ketika bertemu Silvia disana,"
"Apakah dia menyakitimu? Apakah ada yang terluka?" Ayesh meraba-raba wajah Hyorin khawatir Silvia berbuat kasar terhadapnya.
"Tidak Mas, Kak Oshan datang ketika Silvia dan teman-temannya mulai usil,"
"Syukurlah, lain kali jangan pergi sendirian. Aku antar kemanapun kamu mau dan ceritakan kepadaku semua keluh kesahmu. Jangan ceritakan pada Ibumu, pasti Ibu akan merasa khawatir biarkan beliau beristirahat dengan tenang disana cukup melihatmu bahagia saja, ketika sedih datanglah kepadaku. Bukankah kita sudah berjanji?"
"Terimakasih Mas, maafkan aku yang sempat meragukanmu."
"Jangan khawatir aku akan selalu berada disisimu,"
"Sekarang ayo tidur, bukankah kau tidak akan mual jika terus berada di dekatku? Itu artinya bayi kita ingin kita selalu bersama,"
Ayesh memejamkan matanya, berharap Hyorin juga akan cepat terlelap. Dia tahu istrinya sangat lelah hari ini. Mereka tidur dalam posisi masih saling berpelukan.
"Heeemmmmm...kenapa sayang? Apakah sudah pagi? Kenapa secepat ini sudah pagi rasanya baru beberapa menit yang lalu aku tidur," Ayesh berbicara masih dengan menutup matanya.
"Ishhh...bukan Mas, aku tahu Mas belum tidur kan? Aku tidak bisa tidur!"
Ayesh seketika langsung membuka matanya, "Mau olahraga malam dulu?" Ayesh menggoda istrinya.
Hyorin mencubit pinggang Ayesh, "Dasar mesum,"
"Lalu apa sayang bukankah kalau nggak bisa tidur biar bisa nyenyak kan kita harus capek dulu baru tidur, jadi yang paling tepat olahraga malam kan?"
"Iihhh...bukan itu Mas, ini terkait Jovanka."
"Kenapa sayang?"
"Aku ingin mengunjunginya Mas, bolehkan?"
"Kak Oshan sudah berjanji akan mengantarku,"
"Aku yang akan mengantarkanmu, jangan repotkan Kakak, dia sudah cukup sibuk dengan banyak hal yang harus diurus,"
"Patuh...tidak boleh menolak!" Ayesh menekankan kata-katanya.
Ayesh sudah mulai paham dengan apa yang Hyorin maksudkan, sudah bisa dipastikan Hyorin sudah membaca file laporan yang ada di atas meja kerjanya. Hanya saja Hyorin merapikan file itu kembali. Ayesh tersenyum, betapa Istrinya itu pandai sekali menyimpan kegundahan hatinya.
"Sudah tidur, kita bicarakan lagi besok ya?"
****
Hyorin telah bersiap untuk pergi mengunjungi Jovanka, dia sudah rapi dan sedang menunggu suaminya yang masih belum selesai berpakaian.
Ayesh menghampiri Hyorin yang sedang memakan camilan paginya.
__ADS_1
"Sayang sudah siap berangkat?"
"Sudah Mas ayo!"
"Susunya dihabiskan dulu sayang!"
Hyorin melirik susu yang masih setengah gelas, kemudian meminumnya dengan cepat.
"Mas sudah hubungi Kak Oshan tadi, katanya memang lebih baik kamu pergi bersamaku. Paham maksud Mas kan sayang? Meskipun sebenarnya Mas enggan untuk hal ini tapi demi Nyonya Ayesh semua bisa jadi tidak masalah,"
"Terimakasih Mas, tambah cinta deh kalau gini," Hyorin tersenyum.
"Hadiahnya mana?"
"Hadiah? Hadiah apa Mas?" Hyorin mengerutkan keningnya bingung dengan pernyataan Ayesh.
Ayesh memegang bibir dengan jari telunjuknya, memberikan kode kepada istrinya.
Hyorin maju untuk
mencium bibir Ayesh sekilas, namun Ayesh malah merangkul pinggang Hyorin membuatnya semakin ketat menempel di tubuh Ayesh, kecupan yang sebenarnya akan selesai dengan singkat malah menjadi cukup panjang karena kelakuan Ayesh.
Dia baru melepaskan Hyorin ketika melihat Hyorin sudah terengah karena kesulitan bernafas.
Hyorin memukul dada Ayesh, "Mas Ayesh ihhh...pagi-pagi sudah mesum,"
"Biarin sama istri sendiri juga kan halal,"
Ayesh kemudian menarik lengan Hyorin untuk segera berangkat.
"Ayuk keburu siang, nanti macet!"
Mereka sampai di lapas tempat Jovanka ditahan, dengan hati berdebar Hyorin masuk mengikuti langkah suaminya.
Petugas penjaga lapas mempersilahkan mereka masuk dan menyuruh mereka untuk menunggu sebentar karena Jovanka akan dipanggil.
"Ayesh kamu datang lagi?" Jovanka berhambur ke arah Ayesh.
"Mohon jaga sikap kamu Jovanka, saya laki-laki yang sudah beristri jadi jangan bersikap tidak sopan!"
Jovanka menarik dirinya, mengurungkan niat untuk memeluk Ayesh. Dia melirik kursi di sebelah Ayesh yang diduduki oleh Hyorin.
"K-kau...untuk apa datang kemari? Mau menertawakan aku karena aku sekarang menderita hah?!! Jovanka menghardik Hyorin.
"Kak Jov aku hanya ingin menjengukmu, apakah Kak Jovanka baik-baik saja?"
"Apa kamu pikir aku seperti wanita pesakitan hanya karena aku berada disini?"
"Bukan itu maksud aku Kak, aku hanya ingin Kakak tahu kita sama-sama sedang hamil. Aku tahu apa yang Kakak rasakan,"
"Jangan mengejekku dengan berkata seperti itu, aku tidak butuh empatimu sedikitpun!"
"Apa karena kau sedang mengandung anak Ayesh, kamu berani berkata seperti itu? Dasar perempuan tidak tahu diri, sudah merebut calon suami orang sekarang malah pamer di depanku, apa maumu sebenarnya hah?!" imbuh Jovanka.
Ayesh menggenggam tangan istrinya, berusaha untuk menguatkan Hyorin. Sebenarnya Ayesh sudah menduka jika kejadian ini pasti tidak akan terelakan namun dia tidak bisa melarang Hyorin untuk tidak mengunjungi Jovanka.
"Cukup Jovanka, kamu sudah keterlaluan!" Ayesh ikut membela istrinya.
Hyorin memandang Ayesh, memberikan kode bahwa dia baik-baik saja.
"Kak Jovanka bisakah kita berteman? Jangan anggap aku merebut Mas Ayesh dari kamu Kak, karena jujur aku tidak pernah tahu hubungan kalian di masa lalu, sedangkan kami bersama karena berawal dari sebuah perjodohan."
"Kamu bohong Orin! Pasti kamu sengaja kan merebut Ayesh dariku!" suara Jovanka meninggi.
"Jovanka hentikan!" suara seseorang menggema di seluruh ruangan.
__ADS_1