Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 46


__ADS_3

Hyorin langsung dibawa ke IGD begitu sampai di rumah sakit. Ayesh sangat khawatir jika terjadi hal yang serius terhadap Istrinya, dia merutuki dirinya sendiri yang tidak sigap saat menghadapi keadaan darurat seperti tadi.


Malam itu kebetulan Dokter jaga di IGD adalah Dokter Indra, dia begitu terkejut melihat Hyorin yang tidak sadarkan diri.


"Hyorin kenapa sampai seperti ini hah?!" tanya Indra kepada Ayesh dengan sengit.


"Anda tidak perlu tahu dia kenapa, yang paling penting sekarang cepat tolong dia!" jawab Ayesh tak kalah sengit.


"Aku pasti akan merebutnya dari Anda, jika dia sampai tidak bahagia hidup bersama Anda!"


Indra berbicara sambil menutup pintu ruang IGD.


Ayesh hendak ikut masuk namun dicegah oleh perawat yang ada disana.


"Mohon maaf Tuan, Dokter sedang menangani Pasien sebaiknya Anda tunggu di luar!"


"Tapi dia Istri saya Sus,"


"Kami tahu Tuan, tapi itu prosedur rumah sakit."


Pintu ruang IGD pun di tutup.


Hampir tengah malam Hyorin baru dibawa ke ruang perawatan ketika Dokter Indra menyatakan bahwa kondisinya sudah mulai stabil meskipun masih sangat lemah.


Ayesh sepanjang malam menemani Hyorin tanpa mau meninggalkannya sedetikpun.


Ayesh menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Hyorin dan terus menggenggam tangan Istrinya yang terbebas dari selang infus.


Dini hari sekitar pukul Setengah Tiga Hyorin terbangun, seketika dia melihat Ayesh yang tertidur sambil duduk di samping ranjang.


Hyorin membelai rambut Ayesh lembut, gerakan tangan Hyorin membuat Ayesh terbangun.


"Kenapa kamu terbangun sayang, tidurlah lagi kamu harus istirahat!" ucap Ayesh begitu melihat Hyorin terduduk di ranjangnya.


"Aku tidak apa-apa Mas, sebaiknya mas tidur di sofa saja tidak perlu menungguku begini,"


"Tidak sayang, aku akan selalu disini di sampingmu dan menemanimu."


"Mas juga butuh istirahat, besok bukankah Mas harus masuk kantor?"


"Kamu tidak usah khawatirkan kantor sayang, ada Doni yang akan menghandle semuanya.


Hyorin menggeser posisinya, kemudian menyuruh Ayesh untuk naik ke ranjang berbaring di sampingnya.


Awalnya Ayesh menolak namun Hyorin memaksa. Mereka tidur dalam posisi saling berpelukan.


****


Jovanka dan Jesika pergi ke sebuah club malam untuk bersenang-senang, Jesika menuruti kemauan Jovanka untuk menghilangkan kesedihannya dan melupakan kejadian yang sangat memalukan yang terjadi di acara reuni tadi.


Jovanka minum begitu banyak hingga membuatnya mabuk, Jesika tidak melewatkan kesempatan ini. Dia memerintahkan seseorang untuk membawa Jovanka ke sebuah Hotel dan terserah mau diapakan dia.


Jesika begitu dendam terhadap Jovanka dan keluarganya yang telah membuat hidupnya hancur berkeping-keping tanpa sisa.


Orangtua Jovanka telah menghancurkan reputasi keluarga Jesika hingga akhirnya bangkrut dan jatuh miskin, saat dulu di Kampus Jesika berteman akrab dengan Jovanka yang bergelimang harta namun perlakuan Jovanka terhadap Jesika menjadikan seolah Jesika sebagai kacung yang harus siap diperintah ini itu demi bisa tetap melanjutkan kuliah.


Berkali-kali Jovanka mempermalukan Jesika di depan umum, hingga akhirnya Jovanka pindah ke Luar Negeri.


Jesika dapat melanjutkan kuliahnya karena ada orang yang sangat dermawan yang mau menjadi donatur untuk membiayai kuliahnya. Orang itu adalah Tuan Mahardika yang tidak lain adalah orangtua Hyorin.

__ADS_1


Jesika sangat mengenal Ayah Hyorin yang sudah sangat baik terhadapnya, meskipun dia sama sekali tidak mengenal Hyorin sebagai putri dari tuan Mahardika.


Keesokan paginya Jovanka terbangun dalam kondisi tidak memakai sehelai benangpun, dia tidak melihat siapapun ada di dalam kamar itu.


Jovanka mulai mengingat-ingat kejadian tadi malam, dia ingat terakhir dia berada di club malam bersama Jesika dan minum bersama.


Dia bermimpi Ayesh menjemputnya dan mereka pergi ke Hotel kemudian bermain-main di atas ranjang dengan sangat panas dan liar. Namun, kini Ayesh tidak ada di kamar itu.


Jovanka baru teringat bahwa Ayesh membawa Istrinya ke rumah sakit, tidak mungkin Ayesh akan mencarinya apalagi menjemputnya mengingat perlakuan dingin Ayesh terhadapnya.


Jovanka menjambak-jambak rambutnya sendiri yang tidak mampu mengingat dengan jelas siapa yang tidur dengan dirinya semalam. Dis merutuki kebodohannya sendiri.


Jovanka juga teringat Jesika dan ingin menelfonnya, namun dia lupa bahwa mereka belum sempat bertukar nomor ponsel sebab tadi malam merupakan pertemuan pertama mereka setelah Jovanka kembali dari Luar Negeri.


Damn...kenapa aku tidak bisa mengingat apapun. Dasar bodoh....


Jovanka membatin dengan penuh kekesalan, tidur dengan seorang pria yang berbeda bukan hal yang baru bagi dirinya, hal ini sudah sering dilakukan oleh Jovanka ketika masih berada di Luar Negeri, namun dia lakukan dalam kondisi sadar sehingga mereka selalu memakai pengaman. Kali ini dia benar-benar tidak ingat apapun, apa yang dilakukan partnernya semalam pun dia tidak ingat dan apakah orang itu memakai pengamanpun dia tidak tahu.


Jovanka memunguti satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian membersihkan dirinya di kamar mandi, dia akhirnya bersikap masa bodoh dengan kejadian semalam.


****


Ayesh terbangun ketika mendengar suara-suara yang mengusiknya, ternyata Ayah dan Ibunya sudah sampai di rumah sakit pagi-pagi sekali.


Ayesh membuka matanya, sayup-sayup dia melihat Ibunya. Ayesh terlonjak kaget begitu melihat Ayah dan Ibunya sudah berada di dalam kamar rawat Hyorin dan itu bukanlah mimpi seperti yang tadi dia pikirkan. Ayesh cepat-cepat turun dari ranjang. Sedangkan Hyorin masih terlelap.


"Anak Ibu yang ganteng, kenapa tidur berdesakan dengan Istrimu di kasur yang sempit begitu? Bagaimana menantu Ibu bisa istirahat kalau Suaminya maunya nempel terus, hah?!" goda Ibunya kepada Ayesh sambil menoel hidung putranya dengan gemas.


"Aku awalnya tidak mau tapi Orin memaksa Bu," jelas Ayesh kepada orangtuanya.


"Tidak usah mencari alasan, cepat sana bersihkan dirimu dulu. Ibu bawa sarapan buat kamu, nanti kita sarapan bersama."


"Sebenarnya apa yang terjadi Nak, kenapa menantu Ayah sampai terluka begini? Kalau sampai Mahardika tahu putraku tidak bisa menjaga putri kesayangannya, apa yang harus Ayah katakan kepadanya?" ucap Ayah Ayesh di tengah-tengah sarapan mereka berdua.


Sedangkan Ibu Ayesh sedang menemani Hyorin di ranjangnya, menyuapi Hyorin sarapan dengan penuh kasih sayang. Dia hanya tersenyum melihat Suaminya yang sedang memberikan ceramah pagi kepada putranya.


Sesekali Hyorin dan Ibu mertuanya mengobrol santai, menanyakan kepada Hyorin apa yang sesungguhnya terjadi dan Hyorin pun menceritakan semuanya.


"Maafkan aku Ayah, ini murni keteloderanku yang tidak bisa menjaganya dengan baik."


"Lain kali kamu harus lebih hati-hati, jangan sampai Istrimu tergores barang sedikitpun. Jangan kecewakan Ayah Yesh!"


"Baik Ayah, maafkan aku. Aku berjanji akan menjaganya lebih baik lagi."


"Bagus, itu baru putra Ayah!" Pak Akbar menepuk pundak putranya.


Mereka melanjutkan sarapan yang tadi baru setengah jalan.


Sekitar pukul Sembilan pagi kedua orangtua Ayesh pamit untuk pulang.


Kini tinggal Ayesh dan Hyorin di dalam kamar rawat.


"Rin maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik, mengenai masalah semalam...," Ayesh belum melanjutkan perkataannya.


"Tidak usah dibahas lagi ya Mas, aku belum bisa berpikir jernih kali ini. Kita bahas lain kali saja. Aku khawatir kalau dilanjutkan aku tidak bisa mengendalikan emosiku Mas,"


Hyorin tampak menyembunyikan kekecewaannya terhadap sikap Ayesh yang tidak jujur terhadapnya mengenai Jovanka dan masa lalu mereka berdua.


Suasana berubah menjadi hening, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


Ponsel Ayesh berdering menandakan ada panggilan masuk yang ternyata dari Doni.


Ayesh meninggalkan Hyorin dan keluar dari kamar rawat untuk menerima panggilan yang mungkin saja darurat.


Dokter Indra memasuki ruang rawat Hyorin untuk memeriksa kondisi Pasien.


Senyum merekah dari sudut bibirnya begitu Indra melihat Hyorin sedang duduk di ranjang.


"Bagaimana keadaanmu Rin?"


"Aku baik-baik saja Kak, bagaimana kabar Kak Indra, lama sekali kita tidak bertemu setelah tugas kita selesai." Hyorin tersenyum ramah kepada Indra, membuat hati Indra kembali menghangat.


"Aku baik Rin, kenapa bisa kamu tidak sadarkan diri semalam Rin?" tanya Indra sembari memeriksa kondisi Hyorin.


"Aku terjatuh Kak,"


"Kenapa bisa terjatuh, kamu pasti kurang hati-hati. Masih saja ceroboh seperti dulu kamu Rin!"


"Apa aku seceroboh itu Kak? Darimana Kakak tahu aku ceroboh orangnya."


Indra tertawa mendengar jawaban Hyorin.


"Bagaimana mungkin aku tidak tahu Rin, aku selalu mengawasi semua hal yang kamu lakukan,"


"Benarkah Kak?"


"Tentu...aku itu fans terberat kamu meskipun dalam diam, aku selalu mengawasimu, hanya saja aku terlambat untuk bisa mengatakan perasaanku kepadamu, aku keduluan orang lain jadi membuatmu tidak bisa menerimaku," kenang Indra dengan wajah sendu.


"Maafkan aku Kak, aku tidak bermaksud menyakitimu!"


Indra tertawa yang membuat Hyorin menjadi bingung.


"Aku bahagia ketika melihatmu juga bahagia Rin, tentang perasaan ini tidak perlu kamu perdulikan. Meskipun sakit pasti aku bisa menahannya. Katakan padaku jika kamu tidak bahagia dengannya, aku yang akan membahagiakanmu."


"Kak...,"


"Sudah jangan bicara lagi, istirahatlah. Kakimu akan segera sembuh. Jangan banyak bergerak, aku keluar dulu ya masih banyak Pasien yang menungguku. Jaga dirimu ya Rin dan ingat jangan sungkan untuk meminta bantuanku, Ok!"


Indra menautkan Ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf "O", sambil tersenyum Indra keluar dari kamar rawat Hyorin tanpa melihat Ayesh yang ternyata sudah berdiri di balik pintu mendengarkan pembicaraan mereka.


Ayesh masuk ke dalam menemui Hyorin seolah dia tidak mendengar apapun. Hatinya teriris mendengarkan bahwa ada orang lain yang siap membahagiakan Istrinya jika dia tidak sanggup untuk membahagiakannya.


"Rin apakah Dokter tadi kemari? Maafkan aku tadi pergi keluar menerima telfon dari Doni."


Hyorin hanya mengangguk.


"Baiklah kamu istirahat saja lagi Rin, sebentar lagi Doni akan datang membawakan berkas-berkas yang harus aku cek. Aku bersibuk dulu ya Rin,"


Ayesh segera duduk di sofa mengecek satu-persatu email yang masuk melalui ponselnya, sebab dia belum sempat pulang sehingga dia tidak membawa serta Laptopnya.


Namun, sebentar lagi Doni akan datang dengan membawa segala sesuatu yang dia butuhkan termasuk baju ganti untuknya.


Ayesh akan bekerja sambil menjaga Istrinya di rumah sakit. Selama masa perawatan Hyorin di rumah sakit, Ayesh berjanji akan terus menemaninya. Sehingga mau tidak mau Ayesh harus WFH (Work Form Hospital).


Hyorin menatap Ayesh yang tampak sangat serius dengan ponsel yang ada di tangannya.


Hyorin paham jika Suaminya sedang membaca email yang masuk satu persatu, betapa banyaknya hal yang harus Ayesh lakukan.


Maafkan aku Mas, aku membuatmu semakin repot....

__ADS_1


__ADS_2