Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 54


__ADS_3

Malam ini sesuai janjinya Hyoshan datang berkunjung ke unit dimana Hyorin tinggal.


Ayesh mempersilahkan Hyoshan untuk ikut makan malam bersama. Hyorin sangat senang sebab jarang sekali dia bisa makan malam bersama Kakaknya.


"Kak aku kangen sekali sama Kakak," Hyorin membuka percakapan ketika mereka sudah duduk santai di depan televisi.


"Kakak juga kangen sekali sama kamu, maafkan aku ya Rin, jarang bisa menjengukmu bahkan kamu terluka seperti ini Kakak tidak tahu," sesal Hyoshan kepada Hyorin.


"Aku baik kok Kak hanya luka kecil saja, tidak usah khawatir ada Mas Ayesh yang selalu menjagaku,"


"Iya tahu, Adik Iparku itu terbaik," Hyoshan terkekeh sambil mengacungkan Dua jempolnya.


"Pada ngomongin aku ya?" ucap Ayesh dengan percaya dirinya.


Ayesh muncul dari arah dapur, dia membawakan minuman hangat dan camilan untuk teman nonton televisi.


Selama Hyorin sakit, Ayeshlah yang mengambil alih sementara pekerjaan Hyorin termasuk urusan dapur, meskipun lelah sebab seharian bekerja di kantor tapi nyatanya rasa cinta Ayesh kepada Hyorin mengalahkan segalanya.


"Kepedean sekali kamu Mas," Hyorin tertawa kecil.


"Kenapa tidak!" Ayesh bersedekap membanggakan dirinya sendiri.


Mereka kemudian tertawa bersama melihat tingkah konyol Ayesh.


Ayesh menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eh ya Rin katanya ada yang mau kamu sampaikan?"


"Iya Kak, apakah Kakak baik-baik saja di Perusahaan? Adakah hal-hal yang mencurigakan?"


"Maksud kamu Rin?"


Hyorin kemudian menceritakan semua yang dia dengar ketika berada di rumah Ayahnya. Dia tidak mau ada orang yang melukai Hyoshan.


"Aku akan baik-baik saja, aku sudah berjanji akan menjaga Ayah dan juga kamu Rin."


"Kalian berhati-hatilah, sepertinya mereka dari awal memiliki rencana yang tidak baik kepada kalian dan juga Ayah." Ayesh ikut nimbrung pembicaraan mereka.


"Kamu juga Rin, berhati-hatilah dengan Dokter Indra jangan terlalu dekat dengannya," Ayesh memperingatkan Hyorin.


Hyorin mengangguk patuh sebab Indra dari awal memang tidak pernah tulus terhadapnya, dia seperti menyimpan rahasia yang besar.


Hyoshan pamit untuk kembali ke Apartemen karena hari sudah larut dan besok sudah harus kembali bekerja.


"Terimakasih ya Kak sudah mau datang kemari, sering-seringlah berkunjung, nanti kita main PS bersama!" ucap Ayesh sambil menepuk bahu sahabat sekaligus Kakak Iparnya itu.


"Mimpi indah ya Kak, jangan lupa hubungi Nita kasihan dia Kak! Jangan sampai menyesal kalau sampai Nita direbut oleh pria lain, sepertinya Kak Doni sudah selangkah lebih maju dari Kakak." Ucap Hyorin penuh dengan provokasi tatkala mengantar Kakaknya sampai ke depan pintu.


Hyoshan hanya tersenyum, dia sangat paham maksud perkataan Adiknya itu. Namun, selama ini Hyoshan memang menutup diri karena dia tidak ingin membawa Nita ke dalam permasalahan yang sedang dihadapinya.


Dia tidak mau Nita ikut terlibat dan membahayakan gadis itu. Entah apa yang Hyoshan rasakan terhadap Nita tidak ada yang pernah tahu. Bahkan ketika Nita dekat dengan Doni saat piknik bersama, sebenarnya dia merasa sangat khawatir namun dia masih enggan untuk berterus terang. Hatinya masih belum bisa terbuka, dia hanya ingin fokus dulu terhadap perusahaan Ayahnya.


Hyoshan sampai di kamarnya, setelah membersihkan diri dia merebahkan tubuhnya yang sangat penat di kasur. Angannya bergerak ke segala arah. Dia begitu kesepian tinggal sendirian bertahun-tahun. Hyoshan teringat kata-kata Hyorin tadi sewaktu mengantarnya.


Hyoshan mengambil ponsel di atas nakas, mencoba mencari nomor Nita di kontak ponselnya. Hyoshan meragu untuk sekedar memencet tombol untuk menghubunginya.


Pada akhirnya Hyoshan memberanikan diri untuk mengirimkan pesan via chat WhattsApp.


Hyoshan


Apa kabar Nita, apakah sudah tidur?


Hyoshan menunggu balasan chat dari Nita hingga tertidur.


****

__ADS_1


Hyorin dan Ayesh sudah berada di kamar mereka dan bersiap untuk beristirahat. Hyorin terlebih dahulu memeriksa ponselnya yang sedari tadi terabaikan dan memainkannya sebentar yang pada akhirnya tergoda untuk menonton drama online melalui aplikasi di ponselnya.


"Sudah larut sayang istirahat, letakkan ponselmu dan segera pergi tidur!" tegur Ayesh kepada Istrinya yang sedang streaming drama kesukaannya.


"Bentar lagi Mas, nanggung nih lagi seru ceritanya."


"Rin apakah Nita menyukai Kak Oshan?" tanya Ayesh tiba-tiba.


Hyorin mengangguk sambil tetap fokus menonton, "Kenapa memangnya Mas?"


"Kasihan Doni jika cintanya harus bertepuk sebelah tangan,"


"Kak Doni harus bersaing sehat dengan Kakakku, siapa yang dipilih Nita dialah pemenangnya." Ucap Hyorin dengan entengnya.


"Tapi ini soal perasaan Rin bukankah akan sangat sulit dan canggung ketika terjadi cinta segitiga diantara mereka?"


Hyorin berpikir sejenak dan menghembuskan nafasnya.


"Biarkan jalan takdir yang mengaturnya Mas, mana yang terbaik untuk mereka. Aku percaya Kak Oshan tidak akan menjadi penghalang hubungan antara Nita dan Kak Doni jika memang Nita pada akhirnya memilih Kak Doni."


"Apa kamu tahu perasaan Kak Oshan terhadap Nita?"


Hyorin menggeleng, "Aku hanya tidak ingin terlalu jauh ikut campur Mas,"


****


Keesokan paginya Nita membuka pesan dari Hyoshan. Jantungnya terasa mau loncat dari tempatnya seolah tidak percaya jika Hyoshan akan menghubunginya terlebih dahulu, selama ini pesan yang Nita kirimkan selalu diabaikan oleh Hyoshan.


Nita pun bergegas membalas pesan dari Hyoshan berharap jika pemuda yang sedari SMA dia kagumi itu masih mau membalas pesan darinya.


Nita


Kak Oshan maafkan aku semalam aku sudah tidur, kabarku baik Kak. Kalau Kakak sendiri apa kabar?


Hyoshan tersenyum tipis melihat pesan balasan dari Nita, semalaman dia menunggu baru pagi ini ada balasan.


Hyoshan


Aku baik Nit, ada shift kah pagi ini? Kalau ada biar aku jemput, kita berangkat bersama.


Nita merasa dirinya terbang ke angkasa membaca pesan balasan dari Hyoshan, terang saja Nita sangat bahagia sebab Hyoshan memiliki inisiatif tidak seperti biasanya yang acuh tak acuh.


Nita


Iya Kak, aku ada shift pagi ini. Jika begitu aku akan segera bersiap Kak.


Hyoshan tidak lagi menjawab pesan yang Nita kirimkan dia bergegas untuk sarapan dan berangkat menjemput Nita di rumahnya.


Hyoshan tiba di rumah Nita, mengetuk pintu rumah gadis itu dan meminta izin kepada kedua orang tua Nita untuk mengantarkannya bekerja. Sungguh citra diri seorang Laki-laki terhormat yang tidak ingin berlaku tidak sopan dengan membawa anak gadis orang tanpa izin.


Kedua orang tua Nita mengizinkan mereka berdua untuk pergi bersama.


"Terimakasih Om dan Tante, kami berangkat dulu," pamit Hyoshan kepada kedua orang tua Nita dan mencium tangan keduanya dengan takzim.


Nita betul-betul merasa sangat bahagia pagi ini, Hyoshan yang dia kenal sangat dingin seolah mencair begitu saja.


****


Satu minggu kemudian Hyorin sudah bisa berjalan secara normal, dia kembali bekerja di rumah sakit. Seperti biasanya Ayesh akan mengantar di pagi hari dan menjemput Hyorin di sore hari sepulang dia dari kantor. Ayesh juga menempatkan pengawal bayangan untuk Hyorin tanpa diketahui oleh Hyorin sendiri.


Hyorin juga sudah mengetahui jika Kakaknya sekarang sudah bisa bersikap lebih humanis kepada Nita tentu Nita yang menceritakan hal itu kepada Hyorin bukan Kakaknya, mana pernah Hyoshan menceritakan masalah pribadinya kepada Hyorin.


Hyorin ikut merasa bahagia melihat kedekatan Nita dan Kakaknya, namun Hyorin memilih untuk tidak terlalu ikut campur lebih dalam dan membiarkan mereka sendiri yang akan memilih jalan dimana mereka akan berlabuh.


Hyorin sedang berjalan di koridor rumah sakit setelah melakukan pemeriksaan kepada pasien rawat jalan dan hendak kembali ke ruangannya, tiba-tiba ada tangan kekar yang menariknya dan satu tangan membekap mulutnya agar jangan sampai berteriak.

__ADS_1


Hyorin meronta-ronta untuk melepaskan diri namun gagal karena tangan laki-laki itu begitu kuat mencengkeramnya.


Hyorin dibawa keluar melalui pintu belakang rumah sakit sehingga jarang ada orang yang melihat kejadian penculikan tersebut.


Pengawal bayangan Hyorin hanya berjaga di luar, sebab di area rumah sakit merupakan tempat yang mereka anggap aman untuk Nyonyanya itu sehingga mereka hanya mengawasi dari luar dan juga rumah sakit merupakan tempat dimana tidak sembarangan orang boleh masuk begitu saja ke ruangan Dokter.


Tubuh Hyorin dilemparkan ke dalam sebuah mobil berwarna hitam yang sudah siap menunggu mereka di luar.


Hyorin terus saja berteriak-teriak minta agar orang yang membawanya itu melepaskannya.


"Diam atau kami akan berbuat kasar kepada Nona!" bentak salah Satu penjahat itu ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tolong lepaskan aku Tuan, apa salahku kepada kalian?"


"Nona tidak bersalah kepada kami hanya saja Nona ada urusan dengan Bos kami, jadi menurutlah agar pekerjaan kami lebih mudah!"


Hyorin menggigit lengan pria yang ada di sebelahnya, pria itu mengerang kesakitan.


"Dasar Singa betina, gigitanmu tajam sekali!"


Pria di sebelah Hyorin menampar wajahnya, sudut bibir Hyorin sedikit mengeluarkan darah.


"Menurut jika Nona tidak ingin kami sakiti!"


"Lepaskan aku...lepaskan aku...hentikan mobilnya aku mau turun!"


"Bius dia! Telingaku hampir tuli mendengar teriakannya!" perintah seorang pria yang sedang mengemudikan mobil yang mereka naiki.


Pria di sebelah Hyorin membius Hyorin dengan menempelkan sapu tangan yang sudah dibubuhi obat bius sehingga menutupi bagian mulut dan hidung Hyorin seketika Hyorin mulai merasakan berat pada kedua matanya.


Sebelum kehilangan kesadarannya, Hyorin sempat memencet tombol panggilan darurat di ponselnya yang dia bawa di saku jas medis yang masih dia kenakan tadi untuk menghubungi Ayesh. Hyorin pun tak sadarkan diri.


Ayesh yang paham jika Istrinya sedang dalam bahaya kemudian menghubungi pengawal bayangan yang Ayesh tempatkan untuk mengawasi Hyorin meskipun saat ini sebenarnya mereka sudah kecolongan.


"Apa saja kerjaan kalian, Nyonya dibawa pergi orang kalian tidak tahu!" marah Ayesh kepada orang-orang suruhannya itu.


"Cepat lacak keberadaan Nyonya!" perintah Ayesh melalui sambungan telfon.


"Doni ayo cepat ikut aku, Hyorin dalam bahaya!"


Doni mengikuti langkah Ayesh yang tampak terburu-buru, jelas tergambar dalam wajahnya raut kekhawatiran yang begitu dalam.


Ponsel Ayesh menerima sebuah notifikasi, ternyata maps dimana Hyorin dibawa oleh penjahat-penjahat bayaran itu.


"Cepat Don kita harus bergegas, aku tidak mau terjadi apa-apa pada Hyorin."


"Tenanglah Yesh, orang-orangmu juga sedang menuju kesana."


"Bagaimana aku bisa tenang Don, Istriku ada di tangan mereka. Akan aku hajar mereka semua satu persatu kalau sampai Hyorin tergores sedikit saja."


Doni paham akan kekhawatiran Ayesh dan memilih untuk diam fokus pada jalanan.


Hyorin dibawa ke sebuah gedung tua di pinggiran kota, Hyorin perlahan membuka matanya.


Dia melihat seseorang yang sangat dia kenal, dalam keadaan masih limbung Hyorin mencoba untuk duduk sambil bersandar mencoba mengumpulkan kembali energinya.


"Kau...,"


---------------------------------------------------------------------


Happy reading ya Kak 😘😘😘


Jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya Kak 🥰🥰🥰💕💕💕💕


Terimakasih Kakak-kakak sayang 💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2