Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 99


__ADS_3

Indra kini telah mendekam di penjara bersama dengan dua orang suruhannya yang telah lebih dahulu ditangkap, mereka terbukti bersalah karena alat bukti yang digunakan oleh pelaku untuk merusak rem mobil Ayesh ditemukan di dalam jok motor pelaku, ditambah lagi rekaman CCTV tempat parkir kantor Ayesh dan minimarket yang membuat mereka tidak bisa lagi untuk mengelak dengan apa yang telah dilakukan.


Permasalahan Indra telah selesai, kedengkian dan keserakahan ternyata mampu membuat seseorang menjadi gelap mata hingga menutup mata hatinya yang menyebabkan dirinya tega untuk berbuat kejahatan.


Semenjak kejahatan yang Indra lakukan terungkap, orangtua Indra mundur dari jabatannya di perusahaan sebab adanya tuntutan dari dewan direksi agar jabatan Presedir diganti oleh oranglain yang dianggap lebih kompeten. Kini keduanya menghabiskan masa tua mereka dengan penuh penyesalan karena tidak mampu mendidik Indra dengan baik.


Ayesh juga sudah dibawa pulang ke rumah setelah menjalani perawatan kurang lebih sekitar lima hari. Hyorin dengan telaten merawat suaminya, mempersiapkan segala macam kebutuhan pribadi Ayesh. Meskipun ada Bik Siti yang membantu mereka, namun peran terbesar ada pada Hyorin karena Hyorin tidak mau Ayesh merasa diabaikan sehingga dia harus memperoleh perawatan yang terbaik, sekalipun Hyorin dengan perutnya yang buncit tetap aktif kesana kemari. Sedangkan Doni berperan mengurus kantor yang Ayesh titipkan kepadanya. Doni akan datang ke rumah Ayesh setiap dua hari sekali untuk melaporkan beberapa hal kepada Ayesh, dengan begitu Ayesh masih tetap bisa memantau kantor dengan baik.


Kini sudah dua bulan lamanya Ayesh tinggal di rumah, kandungan Hyorin juga sudah memasuki bulan kesembilan dan sebentar lagi akan melahirkan. Hyorin sudah terlihat sedikit kepayahan dengan perutnya yang besar dan kewajiban merawat Ayesh, namun sedikitpun Hyorin tidak pernah mengeluh.


Seminggu sekali Ibu Mertua Hyorin akan datang menjenguk dan akan mengantarkan Hyorin memeriksa kandungan secara rutin.


Dimasa kehamilan yang sudah tua pemeriksaan kandungan tidak lagi dilakukan sebulan sekali, namun menjadi seminggu sekali. Ayesh juga seminggu dua kali akan melakukan terapi agar lebih cepat bisa berjalan kembali.


Hari ini Hyorin baru kembali dari pemeriksaan kandungan bersama Ibu Mertuanya, Bu Akbar langsung pulang sebab ada urusan bersama Suaminya nanti malam.


Hyorin memasuki rumah dengan tas slempang dibahu kirinya. Hyorin berjalan memasuki kamar dan sebelum berhasil menapaki anak tangga pertama Bik Siti menghampirinya.


"Maaf Nyonya, seharian ini Tuan tidak mau makan dan juga tidak mau meminum obatnya!" lapor Bik Siti kepada Nyonyanya.


"Kenapa Tuan tidak mau Bik?" tanya Hyorin karena tidak biasanya Ayesh bersikap seperti itu. Ayesh selalu rajin meminum obat berharap agar bisa segera sembuh.


"Saya juga tidak tahu Nyonya,"


"Baik Bik, terimakasih. Saya minta tolong ambilkan makan untuk Tuan dan antarkan ke kamar ya Bik!"


"Iya Nyonya!"


Hyorin bergegas menuju kamar, menemui Ayesh yang sedang duduk termenung di atas kursi rodanya menatap jendela ke arah luar.


"Mas...," sapa Hyorin sambil memegang bahu Ayesh.


Ayesh mendongakkan wajahnya menatap Hyorin yang tersenyum kepadanya.


"Apakah Mas sudah makan?" tanya Hyorin dan Ayesh menggeleng.


"Baiklah sekarang makan ya, sebentar lagi Bibik akan bawakan makanan kesini. Nanti aku suapi!" ucap Hyorin dengan senyum yang terus terkembang. Namun, Ayesh tetap menampakan wajah murungnya.


Tidak seberapa lama, Bik Siti datang mengantarkan makanan untuk Tuannya. Hyorin mengambil makanan itu dan mulai menyuapi Ayesh.


Ayesh tetap saja menolak untuk makan, meskipun Hyorin telah membujuknya dengan berbagai macam cara.

__ADS_1


"Rin apa kamu tidak lelah merawatku yang cacat begini?"


Kata-kata tak terduga keluar begitu saja dari mulut Ayesh, yang membuat dada Hyorin bergetar menahan gejolak yang tak menentu terasa menusuk relung hatinya.


"Mas...," ucap Hyorin namun dengan cepat perkataannya dipotong oleh Ayesh.


"Rin seharusnya kamu bisa hidup bahagia jika aku tidak seperti ini, hidupku benar-benar tidak lagi berguna."


Ayesh menghela nafasnya, "Dua bulan sudah aku seperti ini, aku sudah mengikuti semua saran dari Dokter. Meminum obat dengan rajin dan juga melakukan terapi, tapi kenapa aku masih saja tidak mengalami kemajuan?!!"


Ayesh menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Aku tidak akan bisa jadi Ayah yang baik untuk anak kita Rin," Ayesh sesenggukan.


Nada putus asa jelas tampak dari diri Ayesh yang memang sudah mengikuti semua anjuran Dokter. Hyorin menggigit bibir bawahnya, menahan haru agar butiran bening tidak lolos begitu saja dari kelopak matanya. Baru kali ini dia melihat Ayesh seputus asa begini.


"Mas apakah kau percaya dengan keajaiban?" tanya Hyorin sembari memeluk Ayesh yang wajahnya sudah basah karena banjir air mata.


Ayesh berangsur-ansur tenang, "Keajaiban?"


"Iya keajaiban yang datang karena pertolongan dari Dzat yang maha pemberi hidup,"


"Disaat genting jangan menyerah, putus asa kan jadi harapan. Ganbate Mas!" ucap Hyorin mantap dengan mengepalkan tangannya.


Ayesh mulai dapat tersenyum kembali karena Hyorin menyalurkan energi positif bagi dirinya. Biar bagaimanapun juga, seseorang dengan sebutan Suami Istri selayaknya memang seperti itu saling memberikan dukungan tatkala salah satunya mengalami keterpurukan dan bukan sebaliknya meninggalkan salah satunya ketika dianggap tak lagi berguna.


"Ayo makan dulu, Aaaaaa...!"


Hyorin menyuapi Ayesh perlahan. Ayesh mengunyah setiap suapan yang diberikan Hyorin dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya, dadanya kembali terasa membusung terpompa semangat karena Dokter Pribadinya itu selalu setia menemani dalam suka maupun duka.


Ayesh tidak ingin mengecewakan Hyorin yang selama ini telah merawatnya dengan sangat telaten dan sabar, Hyorin tidak sekalipun mengeluh padahal disaat hamil tua seperti Hyorin saat ini seharusnya dia mudah lelah dan ingin selalu dimanja Suami. Namun, Hyorin tidak demikian.


Hyorin meninggalkan Ayesh untuk membawa piring kotor ke dapur setelah semua makanan yang ada di piring berpindah ke perut Ayesh.


Sebelum Hyorin melangkah, "Terimakasih Sayang," ucap Ayesh setelah selesai meminum obatnya.


Hyorin tersenyum, "Aku ke bawah dulu ya, Mas disini dulu!"


Hyorin menuruni anak tangga satu persatu dengan sangat hati-hati, namun sebelum mencapai dapur tiba-tiba perut Hyorin terasa kram, seperti ada tendangan sangat kuat dari dalam. Bik Siti yang melihat Nyonyanya meringis kesakitan kemudian mengambil nampan dari tangan Hyorin, meletakkannya di meja makan dan membantu membawa Hyorin agar duduk di sofa.


Perlahan rasa itu menghilang, namun tidak berselang lama kembali lagi menyerang. Hingga peluh membanjiri kening Hyorin.

__ADS_1


Bik Siti mencoba menenangkan Hyorin, memberinya air putih hangat agar lebih tenang sembari menghubungi Nyonya Akbar yang berkali-kali tidak mendapatkan jawaban, mungkin saja Nyonya Akbar sedang menghadiri acara seperti yang Hyorin sampaikan tadi siang karena tumben Ibu Mertuanya tidak mampir setelah mengantar memeriksakan kandungannya.


"Nyonya apakah akan melahirkan?"


"Kalau menurut perkiraan seharusnya masih seminggu lagi Bik,"


Bik Siti masih mondar-mandir tak karuan, "Apa saya perlu mengatakan hal ini kepada Tuan?"


"Tidak usah Bik, Mas Ayesh sedang istirahat di kamarnya." Hyorin mencegah Bik Siti karena tidak ingin membuat Ayesh cemas, sebab rasa itu timbul tenggelam. Sehingga Hyorin akan menahannya saja, barangkali sebentar lagi akan mereda karena mungkin kram perut biasa.


"Apakah Ibu sudah bisa dihubungi Bik?"


"Belum Nyonya,"


"Kalau begitu tolong hubungi Tuan Doni sekarang Bik!" Hyorin berkata sambil mendesis menahan rasa yang kembali menyerang, Bik Siti melakukan sesuai perintah Hyorin untuk menghubungi Doni agar segera datang ke rumah.


Pada panggilan pertama sudah dapat tersambung dengan Doni yang kebetulan sedang bersama Jesika. Begitu mendengar kabar dari Bik Siti, keduanya bergegas menuju rumah Ayesh.


Ayesh yang menunggu Hyorin dikamar merasa sedikit cemas, sebab Hyorin tidak kunjung kembali ke kamar.


"Apa mengembalikan piring kotor bisa memakan waktu selama ini?" pikir Ayesh.


Ayesh keluar dari kamar dengan menggunakan kursi rodanya, sayup-sayup Ayesh mendengar suara Hyorin sedang menahan sakit.


Dari arah tangga Ayesh melihat Hyorin terduduk di sofa sambil memegangi perut dan pinggangnya, sedangkan Bik Siti tampak mondar-mandir dengan ponsel menempel di telinganya, sepertinya Bik Siti sedang menghubungi seseorang.


"Apakah Hyorin akan melahirkan?" ucap Ayesh dalam hatinya.


"Ibu...,"


Ayesh teringat Ibunya, dia bergegas ke kamar mengambil ponsel untuk menghubungi Ibunya yang sama seperti Bik Siti tidak mendapatkan jawaban. Ayesh menghubungi Doni dan tidak mendapatkan jawaban juga, kemungkinan Doni sedang fokus mengemudi setelah Bik Siti menghubunginya, namun Ayesh tidak tahu.


"Sial...kenapa disaat begini tidak ada yang bisa dihubungi!" umpat Ayesh.


Ayesh kembali keluar dari kamar, ditempat yang tadi dia masih melihat Hyorin kesakitan.


Hatinya terasa hancur berkeping-keping, tidak tega melihat istrinya menderita namun dia tidak bisa melakukan apapun. Sedangkan mereka memang tidak memiliki supir pribadi karena selama ini Hyorin tidak mau kemana-mana diantarkan oleh supir.


Ayesh mencoba mengangkat kakinya, pada percobaan pertama dia gagal, kedua, ketiga pun tetap sama gagal juga.


"Mas...," suara Hyorin mulai melemah.

__ADS_1


__ADS_2