
Doni menghampiri Ayesh yang tengah menunggunya di mobil, Ayesh masih menekuk wajah datarnya, suasana hatinya tampak sangat kacau hari ini setelah bertemu dengan Jovanka.
Doni masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
"Kenapa Yesh, kok murung gitu?"
"Mendadak mood gue ancur ketemu tuh rubah betina,"
"Berdamailah dengan masa lalu Yesh, loe nggak bisa kaya gini terus, kasihan Nona Orin!" jawab Doni sedikit menasehati.
"Loe sudah berjuang sangat keras Yesh, waktu Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar buat loe bangkit dari keterpurukan loe waktu itu. Loe juga sudah dapat pengganti yang jauh lebih baik jika dilihat dari segi apapun sekarang. Jadi lupakan masa lalu, kita selesaikan ini secepatnya karena masih banyak hal yang harus diurus dan masalah yang harus segera dirampungkan ke depan. Ingat musuh utama kamu sekarang bukanlah Jovanka tetapi keluarga Nyonya Ayesh sendiri!" jelas Doni panjang lebar.
Ayesh tidak menanggapi ucapan Doni, dia hanya memikirkannya saja dan membenarkan dalam hati bahwa apa yang Doni katakan ada benarnya.
Ayesh harus segera menyelesaikan permasalahan satu persatu dan lebih fokus pada Hyorin beserta calon buah hati mereka.
"Jalan Don! Langsung antar gue ke rumah Ibu ya, gue pengen cepet ketemu Orin."
Doni melajukan mobil yang dikendarainya.
"Duh jan yang semalam habis bertempur, baru jam berapa ini sudah kangen aja bawaannya. Bikin jiwa jomblo gue meronta-ronta!" goda Doni kepada Ayesh.
"Makanya cari Istri Don, biar nggak ngiler sama gue. Habisnya sudah halal jadi mau gue apakan juga sah-sah aja kan Don!"
Doni berpura-pura berwajah sendu, "Gimana gue mau OTW halalin, baru aja gue deketin udah keduluan orang aja."
"Loe sih kelamaan jagain jodoh orang jadinya diambil lagi kan sama yang punya!"
"Lha saingan gue Hyoshan, udah pasti kalah sebelum berperang kan gue."
"Hyoshan memang lebih keren sih kalau dilihat-lihat,"
"Mentang-mentang Kakak Ipar, dipuji teroosss!"
"Eits...gue jujur loh Don,"
"Iya deh, ngalah aja gue. Kalau sama loe sampai kapanpun gue nggak bakalan pernah menang."
Doni terus saja membuat Ayesh melupakan masalah Jovanka dengan membiarkan Ayesh terus mencemoohnya, tapi semua itu tidak membuat Doni merasa sakit hati.
Menurut Doni itu lebih baik daripada dia harus melihat Ayesh yang seperti beberapa tahun lalu, terpuruk tak berdaya.
Doni sudah hafal betul perangai Ayesh, dia tidak mau sahabatnya itu mengamuk karena Jovanka. Doni tidak akan membiarkan Ayesh terpuruk untuk kedua kalinya. Janji Doni kepada dirinya sendiri.
Sementara di kediaman keluarga Akbar, Hyorin sedang sibuk membantu Ibu Mertuanya di dapur. Dia ingin mengantar makan siang untuk Suaminya, seharian tidak ada aktivitas membuat Hyorin cukup merasa bosan.
Sebenarnya Nyonya Akbar sudah melarang Hyorin dan menyuruhnya untuk beristirahat saja di kamar tapi dia bersikeras tetap ingin membantu.
"Nak kamu sebaiknya istirahat saja, nanti kalau Ayesh tahu ibu harus jawab apa, sudah ada bibi yang bantu Ibu,"
"Ibu tidak usah khawatir ya Bu, Mas Ayesh pasti tidak akan marah,"
"Baiklah Nak kalau seperti itu," Nyonya Akbar tersenyum dan membiarkan Hyorin membantunya.
Nyonya Akbar merasa sangat beruntung sebab Ayesh mendapatkan Istri yang cantik, pintar dan juga tidak segan untuk turun ke dapur terbukti dengan Hyorin yang cukup lincah kesana kemari, menandakan dia terbiasa melakukan hal itu.
__ADS_1
Nyonya Akbar menelisik ingatan beberapa tahun yang lalu, waktu pertama kali Ayesh membawa kekasihnya yang bernama Jovanka ke rumah, Nyonya Akbar langsung merasa tidak sreg dengan sikap wanita yang putranya bawa ke rumah sebab wanita itu mengatakan bahwa pekerjaan dapur merupakan tanggungjawab asisten rumah tangga. Pekerjaan yang membuat kotor jadinya dia tidak mau ikut membantu di dapur.
Pada saat itu Nyonya Akbar langsung bisa menilai wanita seperti apa Jovanka dan berharap takdir tidak menjodohkan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan tanpa harus Nyonya Akbar sendiri yang meminta Ayesh untuk melepaskan wanita itu dan benar saja terjadi hal yang memang membuat putranya terpuruk cukup lama dan kini Nyonya Akbar sangat bersyukur memiliki menantu seperti Hyorin bukan karena dia lincah dalam masalah dapur tapi lebih dari itu, banyak hal yang membuat Nyonya Akbar kagum terhadap Hyorin yang tampak selalu ceria, dia bisa menghangatkan suasana hati Ayesh yang sudah lama membeku.
"Bu...Ibu...kenapa melamun?" Hyorin membuyarkan lamunan Ibu Mertuanya.
"Eh...iya Nak, Ibu tidak melamun hanya sedang memperhatikan kamu saja," kilahnya.
"Ini dicoba Bu, apakah ada rasa yang kurang?"
"Wah ini enak sekali Nak, rasanya sudah pas. Kamu memang pandai memasak." Puji Nyonya Akbar.
Hyorin tersenyum mendapat pujian itu, "Terimakasih Bu, aku masih harus banyak belajar lagi,"
"Bagus Nak, urusan perut Suami memang menjadi tanggungjawab Istri. Kita harus pandai-pandai menyenangkan hati mereka, jangan sampai mereka lebih sering makan di luar, sesekali boleh tapi akan lebih membahagiakan jika mereka menyantap makanan dari hasil karya tangan kita Istrinya."
"Terimakasih nasihatnya Bu, akan selalu aku ingat," Hyorin memeluk Ibu Mertuanya dengan sayang.
"Aku akan siapkan wadah dulu ya Bu," Hyorin mengurai pelukannya.
Hyorin dengan sigap memasukkan masakan yang telah dia buat, menatanya dengan rapi di wadah satu persatu dan bersiap untuk menuju ke Kantor suaminya, dia tidak lupa untuk membawakan bekal untuk Ayah Mertuanya juga.
"Bu aku ke atas dulu ya, mau siap-siap."
"Iya Nak, nanti Ibu antar ya!" pinta Nyonya Akbar mengingat pesan putranya tadi pagi.
"Tidak usah Bu, aku akan pergi sendiri saja. Jangan khawatirkan Mas Ayesh nanti aku jelaskan Bu,"
"Kalau begitu biar Supir yang mengantar kamu ya Nak,"
"Iya Bu, terimakasih. Aku siap-siap dulu,"
Hyorin tiba di Firma Hukum Akbar Grup, kemudian masuk menemui resepsionis untuk menayakan dimana ruangan suaminya, sebab ini pertama kalinya Hyorin mengunjungi Ayesh di Kantornya.
Resepsionis itu langsung mengenali Hyorin dan mempersilahkan Nyonya Ayesh untuk menuju ke ruangan dengan diantar oleh Pak Satpam.
"Silahkan Nyonya, ini ruangan Pak Ayesh!"
"Terimakasih Pak," Hyorin mengangguk hormat kepada Pak Satpam.
Hyorin kemudian disambut oleh Sekretaris Ayesh yang sedang duduk dibalik meja di luar ruangan Ayesh. Hyorin cukup lega melihat bahwa Ayesh menempatkan Sekretarisnya di luar ruangannya.
Hyorin sedikit melirik pakaian yang Sekretaris itu kenakan dan cukup sexy menurut Hyorin, naluri seorang Istri tentu saja tidak ingin jika Suaminya melirik wanita lain, hanya boleh dirinya dan hanya dirinya seorang begitulah kira-kira gambaran keposesifan Hyorin meskipun Hyorin paham betul bagaimana perangai Ayesh terhadap wanita, dingin dan kaku.
"Silahkan masuk saja Nyonya, Tuan Ayesh sedang pergi bersama Pak Doni. Anda bisa menunggunya di dalam. Biar saya telfon Pak Doni mengabari bahwa Anda ada disini." Ucap Sekretaris itu sopan.
Hyorin mengangguk, "Terimakasih Mbak, tapi tidak usah ditelfon saya akan menunggu mereka saja sampai kembali ke Kantor."
"Baiklah kalau seperti itu Nyonya,"
Hyorin masuk ke dalam ruangan Ayesh, melihat-lihat sekeliling dan meletakkan bekal di meja. Hyorin dibuat terkesima sebab ruangan Suaminya itu sangat rapi terlebih ada foto mereka berdua dalam bingkai figura kecil yang Ayesh taruh di atas meja.
Pandangan Hyorin terhenti pada sebuah file yang ada di atas meja, disitu tertulis jelas mengenai kasus Jovanka. Hati Hyorin merasa tergelitik untuk membuka file itu, dengan gamang Hyorin membuka file itu selembar demi selembar.
Betapa terkejutnya Hyorin mendapati bahwa Jovanka tengah hamil. Tubuh Hyorin merosot ke lantai seketika, mendadak kakinya begitu lemas memikirkan banyak hal. Hati kecilnya menjadi tidak tega terhadap Jovanka.
__ADS_1
"Dia pasti sangat menderita," pikir Hyorin.
Sementara itu Ayesh dan Doni sudah tiba di kediaman orangtuanya yang langsung disambut oleh Nyonya Akbar, dengan langkah cepat Nyonya Akbar berhambur ke arah Ayesh.
"Yesh dimana Orin, tidak pulang bersama kamu?" tanya Nyonya Akbar dengan wajah khawatir.
"Bukankah Orin di rumah bersama Ibu?"
"Tadi dia pergi ke Kantor kamu untuk mengantarkan makan siang, Ibu sudah mencegahnya dan Ibu ingin mengantarkannya tapi dia menolak, akhirnya dia diantar Supir. Apa Orin tidak mengabari kamu?"
"Tidak Bu, aku baru saja keluar dan langsung pulang kesini tidak ke Kantor dulu,"
"Orang Kantor juga tidak ada yang mengabariku Yesh," Doni ikut menimpali dengan tetap duduk di balik kemudi.
"Pasti Orin yang melarang mereka untuk mengabari kita Don, niatnya mungkin dia mau buat surprise dengan datang secara tiba-tiba tanpa ada kabar."
"Ayo kita segera ke Kantor Don!"
Ayesh langsung masuk kembali ke dalam mobil setelah berpamitan kepada Ibunya.
"Hati-hati di jalan Nak, jangan ngebut. Orin pasti baik-baik saja!"
Doni memacu mobilnya dijalan, sedangkan Ayesh nampak sangat khawatir jika Hyorin sampai membuka file yang ada di atas meja kerjanya.
Kurang lebih Tiga Puluh menit mereka sudah sampai di Kantor, Ayesh langsung berlari ke arah lift untuk menuju ke ruangannya.
Ayesh masuk ke dalam ruangan dengan hati berdebar-debar, Ayesh cukup lega ketika masuk Hyorin sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, Ayesh juga melirik file yang ada di atas meja yang ternyata masih dalam kondisi rapi itu artinya Hyorin tidak melihat apapun yang tertulis di dalam file itu.
"Sayang kenapa datang tidak mengabari dulu?" Ayesh mencium kening Istrinya.
"Mau bikin surprise tapi ternyata aku yang dibuat terkejut!"
Ayesh mengernyitkan keningnya, bingung dengan pernyataan Hyorin.
"Wah kamu bawa apa ini pasti enak," Ayesh mencoba mengalihkan pikirannya sendiri.
"Ini makan siang buat kamu Mas, dimakan ya? Jangan lupa Ayah dan Kak Doni juga diajak makan sekalian!"
Hyorin beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana sayang?"
"Pulang," jawab Hyorin singkat.
"Bukankah mau menemaniku makan?"
"Tidak Mas, aku mau pulang saja istirahat!"
"Biar aku antar,"
"Tidak usah Mas, biar aku diantar sama Pak Supir saja."
"Tapi Sayang...,"
"Mas makanlah, aku pergi dulu!"
__ADS_1
Hyorin berlalu dari dalam ruangan, Ayesh merasa ada gelagat Istrinya yang terlihat aneh.
"Akan aku tanyakan nanti," ucap Ayesh dalam hati.