
Indra sengaja makan dengan sangat pelan, ingin rasanya Hyorin menggetok kepala pria itu. Ibarat kata sudah dikasih hati minta jantung.
Hyorin melihat jam tangannya, tinggal Sepuluh menit lagi istirahat makan siang usai, namun pria itu belum mau mengatakan apa yang telah dia janjikan.
"Maaf Dokter Indra sebaiknya kita bergegas, sudah saatnya kembali bekerja!"
"Kau ini seperti bukan anak dari pemilik rumah sakit saja Dok, santailah sejenak."
"Ini masalah profesionalitas Dok, bukan dimana dan sebagai apa kita bekerja," Hyorin merasa jengkel dengan Indra yang benar-benar sengaja memperlambat urusan mereka.
"Jika memang Dokter hanya ingin bermain-main, aku tidak ada waktu untuk hal ini. Silahkan lanjutkan makan siangnya, aku permisi dulu!" Hyorin beranjak dari tempat duduknya, merasa sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan pria di depannya.
Indra meraih tangan Hyorin, mencegah gadis itu agar tidak pergi.
"Tunggu Dokter Orin!" cegah Indra.
"Baiklah akan aku penuhi apa yang ingin kau ketahui Dok," sambung Indra.
"Tidak perlu!" suara Bass seseorang membuat mereka menoleh ke arah sumber suara.
"Mas Ayesh?" Hyorin mengernyitkan dahi, sebab suaminya tiba-tiba saja muncul.
"Kenapa datang tidak memberitahuku Mas?" tanya Hyorin merasa heran.
"Ayo kita pergi dari sini, tidak perlu ladeni manusia tidak penting seperti dia!"
Hyorin sedikit meragu, "Ta-tapi Mas?"
"Tunggu sebentar Tuan Pengacara, bukankah kalian menginginkan sebuah informasi dariku?" Indra menyeringai.
"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" imbuhnya.
"Kesepakatan?!" jawab Ayesh.
"Kesepakatan apa yang ingin kau buat denganku hah?!"
"Jika informasi yang akan aku berikan nantinya benar maka separuh kepemilikan rumah sakit ini harus beralih ke tanganku bagaimana? Bukankah itu sangat adil?"
"Jangan pernah bermimpi kamu Dokter Indra?" suara Ayesh sedikit meninggi.
Hyorin memeluk lengan suaminya, rasanya begitu sesak mendengar sendiri perkataan orang yang pernah dia kagumi, ternyata selama ini dia mengincar apa yang orangtua Hyorin miliki yang sekarang sudah sepenuhnya menjadi miliknya, pantas saja dia mau dengan Silvia waktu itu karena untuk mencapai tujuan busuknya bersama kedua wanita tidak tahu terimakasih itu.
"Dasar kalian sama saja!" ucap Hyorin dalam hati.
"Mohon maaf Dokter Indra, kami sudah tidak butuh informasi dari kamu lagi. Masalah Ibuku yang sudah meninggal, kalau toh tidak terungakap siapa penyebabnya kami sejak awal memang sudah ikhlas. Terungkap atau tidaknya kasus ini toh sama saja tidak akan membuat ibuku hidup kembali!" suara Hyorin terdengar bergetar menahan buliran bening yang sudah siap lolos dari pelupuk matanya.
"Ayo sayang kita pergi dari sini!" ajak Ayesh agar Hyorin jangan berlama-lama dengan orang tidak waras seperti Indra.
"Silahkan saja kalian pergi jika sekiranya tidak menyesal!" ucap Indra dengan pongahnya.
Ayesh dan Hyorin sudah tidak perduli lagi dengan ucapan Indra, mereka berlalu tanpa menoleh ke arah Indra yang kesal karena rencananya tidak berjalan mulus. Indra memukul meja di depannya.
BRAAAAKKKKK....
"Sial...sial...kenapa laki-laki itu selalu saja datang disaat yang tidak tepat!" umpat Indra.
__ADS_1
Sontak saja orang-orang yang sedang berada di kantin itu merasa heran dengan kelakuan Indra yang seolah tidak memiliki etika.
Hyorin masuk ke dalam ruangannya dan terduduk di sofa. Setelah sedikit merasa tenang, dia mengirim pesan kepada Dokter Asef selaku kepala rumah sakit Mahardika.
"Mas ayo kita pergi dari sini, ke kantor kamu juga boleh!" ajak Hyorin untuk menutupi kekesalan hatinya.
"Pasien-pasien kamu bagaimana sayang?" tanya Ayesh karena tidak biasanya Hyorin akan pergi meninggalkan rumah sakit sebelum pekerjaannya selesai.
"Sudah selesai Mas, untuk berkas-berkas ini besok saja. Percuma kalau dikerjakan sekarang hati dan otakku sedang tidak singkron," Hyorin tertawa.
"Ayo siapa takut, patuh dengan titah Nyonya Ayesh saja."
Ayesh mengajak Hyorin ke kantornya sebab ada beberapa hal yang harus Ayesh urus terlebih dahulu.
****
Hari ini merupakan hari dimana Jovanka akan menikah dengan Miko.
Ayesh mengajak Hyorin untuk menghadiri acara tersebut bersama Doni tentu saja yang siap menjadi driver mereka. Tidak ketinggalan Jesika juga turut serta bersama mereka.
Hyorin bertemu dengan Jovanka di dalam, Jovanka tiba-tiba memeluk Hyorin dan mengucapkan permohonan maaf, Hyorin melihat ketulusan dari mata Jovanka. Dengan senang hati Hyorin memberikan maaf kepada Jovanka, sebab memang Hyorin tidak memiliki dendam sedikitpun terhadapnya.
Jesika juga meminta maaf kepada Miko sebab akibat dari ulahnya Miko menjadi korban atas semua ini, Miko tidak pernah membenci Jesika sebab apa yang dia lakukan murni akibat kepedihan yang ia tanggung selama ini. Wajar jika Jesika berbuat demikian dan Miko tahu akan kesalahan yang dilakukannya.
"Jes berjanjilah kamu akan hidup bahagia, raih mimpimu dan lupakan dendammu. Sudah saatnya kamu hidup selayaknya manusia, ujian yang kau lalui sudah cukup banyak." Ucap Miko.
Jesika Mengangguk, "Pasti Mik, aku akan bahagia. Kau juga ya, terimakasih karena kamu selalu ada untukku selama ini."
"Don tolong jaga Jesika ya!"
Acara selesai dan rombongan Hyorin pamit untuk pulang.
"Nak Ayesh, Om mengucapkan terimakasih atas bantuan kamu yang telah ikut menyelamatkan keluarga Om. Jika kamu buntuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi Om!"
"Iya Om terimakasih, kami pamit dulu ya Om."
Dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan Jesika kembali ke tempat dia bekerja Ayesh menceritakan kepada Hyorin kenapa Jovanka bisa menikah dengan pria bernama Miko. Hyorin merasa ikut bahagia sekaligus sedih, sebab Jovanka masih harus tinggal di lapas selama masa hukumannya.
"Mas apa ada cara supaya Jovanka bisa kita bebaskan? Kasihan sekali anaknya ketika lahir nanti tanpa kasih sayang seorang Ibu."
"Hukuman Jovanka merupakan hasil putusan pengadilan yang sudah tidak bisa dicabut kembali gugatannya karena sudah melalui proses persidangan, kecuali dengan cara banding. Tetapi, Jovanka tidak punya bukti kuat untuk itu apalagi dia merupakan dalang dari kejahatan yang dia lakukan jadi sulit bagi Jovanka untuk bisa bebas dengan alasan apapun."
Hyorin menggigit bibir bawahnya, sebagai seorang perempuan Hyorin masih memiliki hati, apalagi mereka sedang sama-sama mengandung.
Ayesh yang melihat Hyorin begitu cemas, kemudian menggenggam tangan Istrinya dan menciuminya.
"Kamu tenanglah bayi Jovanka nantinya akan diasuh oleh kedua orangtua Jovanka dan juga Miko sebagai Ayah biologisnya jika tes DNA nya membuktikan jika itu anak Miko, jika tidak maka Miko akan meninggalkan Jovanka, itu sudah menjadi kesepakatan kedua belah pihak,"
"Tes DNA?"
"Iya sayang sebab Miko tidak yakin jika itu anaknya mengingat Jovanka yang suka bergonta ganti pasangan. Saat ini Miko berusaha untuk menutupi aib keluarga Jovanka."
Hyorin mengangguk mengerti, pergaulan yang kurang baik sering kali merusak seseorang yang awalnya baik menjadi buruk perangainya dan apabila seorang perempuan telah rusak maka banyak yang akan meragukannya. Jadi baik laki-laki maupun perempuan harus bisa mawas diri ketika bergaul dengan orang-orang di luar lingkup keluarga intinya. Senantiasa waspada itu penting dengan dasar keimanan yang kuat yang akan membuat seseorang lebih stabil dalam bergaul.
"Nyonya Ayesh kenapa melamun, kita sudah sampai!"
__ADS_1
Ayesh sengaja membawa Hyorin ke Kantornya untuk menemani dirinya bekerja, Ayesh ingin selalu dekat dengannya dan menghabiskan waktunya bersama Hyorin sebelum dia berangkat ke Australia. Meskipun Ayesh sendiri belum memiliki cara untuk mengatakannya kepada Hyorin, dia masih menunggu waktu yang tepat.
"Ah ya baiklah, mari kita masuk. Aku mau tidur di dalam,"
"Disini bukan hotel Nona," Ayesh mencandai Istrinya.
"Benarkah? Kalau begitu ruang kerja Tuan Ayesh saja yang akan aku jadikan hotel sambil menemani suami bekerja siapa tahu dia suka nakal ketika bekerja."
Hyorin langsung melesat ke ruangan khusus di ruang kerja suaminya. Disana terdapat kasur dan juga lemari berisi beberapa baju Ayesh. Dia sengaja menaruh beberapa bajunya disini agar lebih mudah ketika butuh baju ganti, dulu sebelum menikah Ayesh sering tidak pulang ke rumah dan memilih tetap berada di kantor, tentu dengan Doni yang senantiasa menemaninya. Jika sudah begini, Doni dibuat harus tidur di sofa dan keesokan paginya badan Doni akan terasa encok pegal-pegal semuanya.
Ketika Hyorin sedang asyik rebahan, ada pesan dari Dokter Asef yang masuk ke ponselnya.
Dokter Asef
Perintah Nona Orin sudah saya laksanakan.
Hyorin
Terimakasih Uncle, mohon maaf sudah merepotkan 🙏🙏🙏
Dokter Asef
Tidak usah sungkan Nona, karena memang sudah lama saya ingin melakukan hal ini tapi belum memiliki alasan yang tepat saja ditambah Nona terlihat akrab dengannya jadi saya khawatir penilaian saya terhadapnya salah.
Hyorin
Baiklah uncle, sekali lagi saya ucapkan terimakasih.
Dokter Asef
Sama-sama Nona 🙏🙏
Setelah kejadian di kantin rumah sakit tempo hari, Hyorin memerintahkan Dokter Asef untuk memanggil Indra karena Indra terbukti tidak disiplin.
Semua itu diperkuat dengan rekaman yang Hyorin kirimkan kepada Dokter Asef, saat bersama Indra memang Hyorin sengaja merekam semua interaksi mereka dengan tujuan akan memberikannya kepada Ayesh selain agar Ayesh percaya kepadanya juga mungkin ada hal penting yang bisa dijadikan dasar dalam penyelidikan yang sedang Ayesh lakukan.
Hyorin sedang senyum-senyum sendiri karena betapa sakit hatinya terbalaskan hari ini bersamaan dengan Ayesh masuk ke ruang dimana Hyorin sedang beristirahat.
"Kenapa senyum-senyum tidak jelas begitu, katanya mau tidur?"
Hyorin menyerahkan ponselnya kepada Ayesh.
"Dokter Asef memecatnya?"
Hyorin mengangguk, "Aku yang perintahkan,"
Ayesh mengacak rambut Hyorin, "Kau ini sudah mulai pintar rupanya,"
"Bagus lakukan apa saja yang menurut kamu benar, tapi ingat harus disertai alasan yang logis dan tepat!" nasehat Ayesh.
"Untuk yang ini apakah kau mendukungku Mas?"
"Iya tentu saja sayang,"
"Terimakasih Mas," Hyorin memeluk Suaminya.
__ADS_1