Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 89


__ADS_3

Hyoshan dan Nita merasa khawatir jika terjadi sesuatu antara Hyorin dan Ayesh. Sejak kejadian di rumah sakit membuat keduanya merasa tidak tenang.


"Nit coba kamu hubungi Hyorin, aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan mereka karena Indra!"


Nita melakukan apa yang Hyoshan perintahkan namun ponsel Hyorin tidak aktif.


"Tidak aktif," ucap Nita.


"Aku akan coba hubungi Ayesh,"


Hyoshan menghubungi Ayesh yang juga ternyata tidak aktif.


Hyoshan dan Nita hanya bisa berharap jika keduanya baik-baik saja. Namun, tidak berani menceritakan hal ini kepada Ayah mereka karena khawatir jika Ayahnya akan merasa ikut tidak tenang.


Sedari kemarin membuat cemas orang lain, nyatanya Hyorin dan Ayesh malah sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan sangat nyaman penuh kehangatan dan canda tawa.


Tinggal di pedesaan membuat mereka jauh lebih tenang dan melupakan sejenak permasalahan yang mendera keduanya.


"Mas aku lupa dimana ponselku," ucap Hyorin disela-sela mengunyah sarapannya.


"Aku sengaja matikan, ada di laci nakas." Jawab Ayesh.


"Apa tidak akan membuat khawatir orang lain jika begini Mas?"


"Maksud kamu Indra?" ucap Ayesh enteng.


"Jangan mulai deh Mas," Hyorin menyilangkan kedua tangannya di dada karena merasa kesal.


Ayesh mendekati istrinya, tersenyum di depan wajah Hyorin dan mengacak rambut gadis itu dengan lembut.


"Kamu semakin cantik kalau sedang ngambek seperti ini,"


Cup...


Ayesh mencium bibir Hyorin.


"Ihhh...Mas Ayesh nakal," Hyorin mencebik.


"Ayo siap-siap bukankah kamu harus bertemu Dokter Asef hari ini!"


Ayesh bangkit dari duduknya kemudian dengan serampangan mengangkat tubuh Hyorin membawanya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Turunkan aku Mas!"


"Aku tidak mau,"


"Kita mandi bersama biar irit waktu!" sambungnya.


Hyorin mengernyitkan alisnya, dia sudah tahu apa maksud perkataan Ayesh barusan.


Hari memang masih pagi, tapi perjalanan yang akan mereka tempuh cukup jauh dari Desa sehingga akan membutuhkan banyak waktu jika tidak bergegas.


Di dalam kamar mandi Ayesh terus saja menggoda Istrinya, hingga apa yang seharusnya terjadi maka benar saja terjadi.


Ayesh memainkannya dengan sangat lembut dan hati-hati karena ada janin di dalam rahim Hyorin, namun tetap saja semua itu membuat Hyorin sangat lelah.


Kini Ayesh dan Hyorin sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke kota, setelah berpamitan kepada si Mbok dan si Mamang, mobil yang mereka tumpangi melaju dijalanan Desa dengan perlahan sebelum masuk ke jalan besar.


Hyorin yang kelelahan pada akhirnya tertidur di kursi penumpang. Ayesh mengemudi dengan sangat hati-hati khawatir Hyorin akan terusik.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih Tiga jam, mereka sampai di depan rumah sakit Mahardika.


"Sayang sudah sampai ayo bangun, aku antarkan kamu ke dalam."


Hyorin menggercap-gercapkan matanya,


"Sudah sampai Mas?"

__ADS_1


"Sudah Putri Tidur, ayo turun!"


Hyorin dengan ditemani Ayesh menemui Dokter Asef, setelah sebelumnya Ayesh membuat janji dengan beliau terlebih dahulu.


Mereka berdua disambut oleh Dokter Asef dengan sangat ramah.


"Apa kamu yakin akan mengundurkan diri Nak?"


tanya Dokter Asef begitu mereka berdua duduk karena sudah mengetahui maksud kedatangan keduanya.


Hyorin memandang Ayesh yang dibalas dengan anggukan oleh Ayesh.


"Iya uncle, aku sudah mempertimbangkannya dengan sangat matang." Jawab Hyorin.


"Baiklah kalau seperti itu, jika memang itu sudah menjadi keputusan kamu. Aku tidak bisa menghalangi kamu untuk tetap tinggal."


"Meskipun sebenarnya sangat disayangkan dengan potensimu yang cukup besar, bisa jadi suatu saat kamu bisa memimpin rumah sakit ini agar menjadi lebih maju," imbuh Dokter Asef.


Hyorin hanya tersenyum sebab di dalam hatinya, dia masih ingin bekerja. Namun, demi kenyamanan bersama dia memilih patuh dengan perintah suaminya.


"Maafkan kami Dok, ada banyak pertimbangan yang membuat Hyorin harus mengundurkan diri. Mungkin suatu saat dia bisa bekerja lagi disini," Ayesh menimpali ucapan Dokter Asef karena melihat istrinya yang mungkin masih berat hati harus meninggalkan profesi kesukaannya itu.


"Tentu saja, kapanpun kamu mau kembali pintu rumah sakit ini selalu terbuka untuk kamu Nak, bukankah ini semua memang milik kamu?"


"Terimakasih uncle, sekali lagi aku minta maaf mungkin sudah membuat uncle kecewa."


"Tidak Nak, kamu tidak boleh berpikir seperti itu."


Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Dokter Asef, akhirnya mereka pamit undur diri meninggalkan ruangan kerja Dokter Asef kemudian menuju ruang kerja Hyorin untuk mengambil barang-barang miliknya.


Hyorin menghembuskan nafas berat ketika merapikan stetoskop dan jas berwarna putih miliknya. Ayesh paham akan ekspresi Hyorin kemudian merangkulnya.


"Dokter Pribadiku tidak boleh cengeng!"


Hyorin hanya menanggapinya dengan senyuman dan bergegas merapikan barang-barangnya yang lain.


"Orin kemarin kemana saja kenapa ponsel kamu tidak aktif?" tanya Nita begitu berhasil mengejar Hyorin.


"Aku ke rumah Mas Ayesh yang ada di Desa Kak, tidak perlu cemas kami baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu Rin,"


"Loh ini kenapa barang-barang kamu ada disini?" Nita menunjuk barang bawaan Hyorin.


"Iya Kak mau aku bawa pulang, aku resign."


"What????" Nita merasa kaget dengan ucapan Hyorin.


"Apakah aku tidak salah dengar Rin?" sambungnya.


"Demi kesejahteraan bersama Kak,"


Nita langsung dapat menangkap maksud ucapan Hyorin. Dia memeluk sahabat sekaligus Adik Iparnya itu.


"Aku pasti akan merindukanmu, sering-sering main ke tempat Ayah ya, sekarang Ayah sudah pensiun."


"Iya Kakak Ipar, aku juga sekarang mau ke tempat Ayah, memberitahu hal ini semoga Ayah tidak marah kepadaku."


"Ayah orang yang sangat bijaksana Rin, percayalah Ayah pasti akan mengerti."


Hyorin mengurai pelukan Nita dan masuk ke mobil bersama Suaminya, dengan lambaian tangan Hyorin meninggalkan Nita.


Nita mengirimkan pesan kepada Hyoshan terkait keadaan Adiknya agar Suaminya itu tidak merasa khawatir lagi.


Kini Ayesh dan Hyorin sudah berada di rumah Ayahnya, menceritakan semua yang terjadi.


Ayah Hyorin tidak mempermasalahkan jika dia harus resign dari pekerjaannya, Pak Mahardika mendukung sepenuhnya apa yang menjadi kaputusan putrinya itu.

__ADS_1


"Rin kamu bisa temani Ayah dulu ya, aku mau keluar sebentar ada urusan nanti aku jemput lagi," ucap Ayesh ketika merasa semua sudah terselesaikan.


"Urusan apa Mas, kok mendadak begini?"


"Bukan hal penting tapi Mas tetap harus kesana,"


Ayesh mencium kening Hyorin dan berpamitan kepada Ayah Mertunya, tidak lupa mengelus perut Hyorin sebagai tanda berpamitan kepada bayi mereka yang belum lahir.


"Hati-hati dijalan Mas, aku tunggu disini ya."


Ayesh keluar dari rumah keluarga Hyorin, untuk menyusul Doni yang sudah bersama dengan Indra. Seperti rencana kemarin, Ayesh memang akan menemui Indra hari ini tapi dia tidak datang sendirian, dia membawa serta Doni agar jika terjadi sesuatu kepadanya maka Doni bisa menolongnya. Mengingat Indra bisa saja nekat karena tidak berhasil mendapatkan Hyorin.


"Sudah lama kalian?" sapa Ayesh begitu sampai di tempat mereka membuat janji.


"Belum lama kok Yesh," jawab Doni sedangkan Indra malah memalingkan mukanya, bersedekap di depan dadanya dengan kaki kanan disilangkan di atas kaki kirinya.


"Ada apa Tuan Pengacara ingin menemuiku hari ini?" tanya Doni tanpa basa basi.


"Aku hanya ingin berbicara serius kepada kamu Tuan Indra," ucap Ayesh.


"Ini menyangkut Hyorin," tambahnya.


"Ada apa dengan dia, apakah kau berniat untuk menceraikannya?"


"Jaga ucapan Anda Tuan Indra," Ayesh dibuat emosi dengan ucapan Indra sehingga suaranya sedikit meninggi.


"Kamu harus tenang Yesh," nasehat Doni.


"Apa mau kamu sebenarnya Tuan Ayesh, waktuku tidak banyak?!"


"Jangan pernah ganggu kehidupan kami lagi, jika tidak....,"


"Jika tidak apa?!" potong Indra.


"Aku akan menghancurkanmu!" jawab Ayesh.


"Iuhhhh...takut, hahahaa...,"


Ayesh semakin dibuat kesal dengan sikap Indra yang tidak tahu diri.


"Aku tidak akan mengganggu kalian lagi, tapi ada syaratnya."


"Katakan!"


"Berikan 50% saham rumah sakit Mahardika kepadaku!"


"Apa kamu bilang?!"


"Kalau tidak mau ya sudah, aku mencintai Hyorin, tentu saja aku akan terus mengejarnya, hahahaaaa...."


"Kamu sungguh gila Tuan Indra!"


Ayesh yang sudah merasa kesal kemudian bangkit dari tempat duduknya, karena berbicara dengan orang setengah gila hanya membuang-buang waktunya saja.


Doni mengejar Ayesh yang semakin menjauh.


"Hei ini siapa yang akan membayarnya?" teriak Indra.


Doni akhirnya berbalik dan meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja.


"Dasar perhitungan!" umpat Doni.


"Biarin aku kan diundang oleh kalian," ucap Indra tanpa malu.


Ayesh memasuki mobilnya yang diikuti oleh Doni dengan mengendarai mobil mereka masing-masing menuju ke kantor.


Indra sekali lagi merasa menang, sebab dia berhasil membuat Ayesh menjadi kacau karena dihadapkan oleh dua pilihan yang cukup sulit.

__ADS_1


__ADS_2