
Ayesh menghubungi Doni untuk membereskan semua pekerjaan yang harus dia urus pagi ini, dia tidak ingin mengecewakan Hyorin lagi, bagi Ayesh prioritas utamanya kini hanyalah Hyorin.
Mengantar Hyorin ke makam Ibunya merupakan salah satu hal yang tidak bisa dia tolak, bagi Ayesh pekerjaan bisa ditunda tapi kebahagiaan Istri adalah kewajiban Suami.
"Jika ada apa-apa hubungi gue ya Don, aku masuk siang atau mungkin tidak masuk sama sekali hari ini, tolong bereskan semua pekerjaanku!" perintah Ayesh dari seberang telfon.
Doni menjawab patuh namun terasa baru saja Ayesh memindahkan gunung ke pundaknya.
Kakinya terasa lemas seketika, sebab hari ini dia sudah membuat janji dengan Nita untuk makan malam bersama. Rencananya terancam punah begitu saja jika benar Ayesh tidak masuk kantor lagi hari ini.
Mau tidak mau Doni harus bergegas agar jangan sampai mengecewakan Nita malam ini.
"Bos mah bebas, mau tidak masuk Satu tahun pun tidak masalah. Apalah dayaku yang harus berbakti." Doni menggerutu memandang layar ponselnya yang perlahan menggelap.
Hyorin dan Ayesh sampai di area pemakaman umum dimana Ibu Hyorin waktu itu di kebumikan.
Ayesh mendorong kursi roda yang ditumpangi Istrinya dengan perlahan, menyusuri jalan ke tengah makam, melewati beberapa nisan yang tampak sudah lama maupun yang tampak masih baru.
Hyorin nampak berwajah sendu ketika dia sampai di samping makam Ibunya. Hyorin turun dari kursi roda dengan perlahan.
Terduduk di tanah sambil mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar nisan Ibunya.
"Ibu maafkan anakmu ini yang baru kali ini bisa datang untuk menjenguk sejak kepulanganku Bu, banyak hal yang terjadi dan juga banyak sekali yang berubah. Do'aku selalu menyertai Ibu, semoga Ibu tenang disana."
"Ibu tidak usah khawatir karena aku dan Kak Oshan pasti akan baik-baik saja, lihat Bu yang duduk di sampingku ini dia menantu Ibu yang kapanpun siap untuk melindungiku Bu, lihatlah Bu bukankah dia tampan dan gagah? Bukankah Ibu sangat mengenalnya? Ibu tentu bisa merasakan kebahagianku bukan? Oh ya Bu aku juga sudah berhasil jadi Dokter, aku sudah bekerja di rumah sakit keluarga kita Bu, Kak Oshan juga kini sudah bekerja di Perusahaan bersama Ayah. Semua karena didikan Ibu yang sangat luar biasa kepada kami hingga kami bisa menjadi seperti sekarang, terimakasih Ibuku sayang," Hyorin mulai terisak.
Ayesh memeluk Hyorin berusaha untuk membuatnya agar lebih tenang.
"Ibu lihatlah Putri Ibu ini bukankah sangat cengeng? Aku janji akan membuatnya bahagia Bu, jadi dia tidak perlu menangis lagi seperti ini. Maafkan menantumu ini Bu yang tidak berbakti, baru kali ini baru bisa menjenguk Ibu. Baik-baik disana ya Bu, menantu Ibu sangat mencintai Putri Ibu jadi tidak usah khawatir ada orang yang menyakitinya ya Bu, karena akulah orang pertama yang akan membuat perhitungan jika ada orang yang berani menggoresnya." Ayesh berkata sambil mengelus lembut rambut Hyorin yang berada di pelukannya.
Sesi ziarah kali ini ditutup dengan menaburkan bunga di atas nisan Ibu Hyorin kemudian mereka berdo'a bersama. Mendo'akan Almarhumah supaya tenang disana.
Ayesh di dalam hatinya bertekad untuk segera menemukan orang yang membuat keluarga Hyorin kehilangan kehangatan dalam rumah mereka.
Kini Ayesh dan Hyorrin sudah berada di dalam mobil.
"Mas maafkan aku ya, kamu jadi tidak bisa berangkat ke kantor segera karena harus mengantarku dulu." Hyorin memecahkan keheningan setelah beberapa menit mereka melaju di jalanan.
"Aku juga ingin menjenguk Ibu Mertua, selama aku menjadi menantunya bukankah kita belum pernah datang?"
Hyorin mengangguk, "Terimakasih Mas, tanpamu mungkin aku tidak akan bisa bertahan sampai sejauh ini."
"Jadilah wanita tangguh Rin, jangan mau ditindas!"
"Akan aku ingat nasehatmu Mas,"
"Anak pintar!" Ayesh mengacak rambut Hyorin dengan tangan kirinya, sedangkan tangan Satunya berada di atas kemudi.
"Mas maukah kamu mengantarkanku ke rumah Ayah? Aku kangen sama Ayah, aku akan menunggunya sampai pulang dari kantor."
__ADS_1
"Baiklah kemanapun kau mau pergi, aku pasti akan membawamu,"
"Terimakasih Mas," Hyorin menyunggingkan senyumnya yang manis.
"Tapi Rin mungkin aku harus meninggalkanmu disana, aku akan ke kantor dulu khawatir Doni kewalahan setelah kemarin aku tinggalkan dia sendirian menyelesaikan pekerjaan, mungkin aku akan sibuk dan menjemputmu agak larut. Apakah kamu akan baik-baik saja?"
"Mas jangan khawatir ya, bukankah tadi kamu bilang aku harus jadi wanita yang tangguh? Aku pasti bisa mengatasinya Mas, aku sangat rindu rumah." Hyorin tersenyum meskipun jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa sangat terluka, tapi dia harus lebih kuat sekarang tidak boleh lemah.
"Baiklah Hyorina sayang, aku tahu kamu gadis yang cerdas dan pandai menjaga diri!"
Hyorin sampai di depan rumah Ayahnya, dia turun dari mobil Ayesh setelah menyalami tangan suaminya dengan takzim, Ayesh tidak lupa mengecup kening Hyorin penuh cinta.
Hyorin kemudian melambaikan tangan kepada Ayesh yang segera pergi meninggalkan Hyorin tanpa masuk terlebih dahulu sebab dia harus bergegas, baru saja Doni mengirimkan sebuah pesan jika kehadiran Ayesh sangat di butuhkan saat ini di kantor.
Ayesh kembali ke Apartemen untuk membersihkan diri dan menukar pakaiannya dengan setelan baju kerja kemudian bergegas melesat menuju ke kantor.
"Akhirnya datang juga," sambut Doni begitu melihat Ayesh memasuki ruang kerjanya.
"Apa ada masalah serius Don?"
Doni menjelaskan situasinya, kemudian mereka berdua tenggelam dalam pekerjaan masing-masing.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, cahaya Matahari telah berganti dengan lampu-lampu yang temaram, langit tampak sudah menggelap dihiasi bintang-bintang.
Ayesh lupa tidak menghubungi Hyorin sejak tadi siang. Ayesh membatin,
Ayesh begitu mengkhawatirkan kondisi Istrinya yang masih belum bisa berjalan secara normal. Khawatir jika keluarga Hyorin terutama Ibu dan saudara tirinya akan memperlakukan Hyorin dengan tidak bijaksana. Kini seluruh pikirannya tertuju pada Hyorin, hingga Ayesh susah untuk memfokuskan diri terhadap pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi terselesaikan.
Konsentrasinya kini menjadi terpecah, bercabang kemana-mana.
"Hey Bos, apakah kamu sedang memikirkan Nyonya Ayesh?" goda Doni kepada Ayesh.
"Tentu saja, apa kamu pikir aku akan memikirkan wanita lain selain Nyonya Ayesh yang sempurna?"
"Amboy ada yang bucin akut, es di kutub utara kini sudah meleleh akibat Ozon rindu yang terus menyerang, hahahaaa." Doni tertawa jahil.
"Amboy apakah ada yang melupakan janjinya dengan seseorang?"
Doni menepuk jidatnya sebab dia hampir saja lupa dengan janjinya bersama Nita akibat begitu menikmati pekerjaan yang menumpuk.
Doni menyibakan lengan kemejanya, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sudah waktunya aku harus pulang, aku tidak mau terlambat dan mengecewakannya.
"Apakah kali ini sudah boleh pulang Bos? Apakah kau tidak lelah? Apakah kau akan membiarkan Nyonya Ayesh semalaman menunggu?" Rayu Doni agar mereka bisa pulang cepat hari ini.
"Boleh!" jawab Ayesh singkat.
"Benarkah?" Doni nampak berseri-seri.
__ADS_1
"Selesaikan dulu pekerjaanmu baru boleh pulang!"
"Aku mohon kali ini saja Yesh, izinkan aku pulang sekarang. Apa kamu tega sehabatmu ini akan menjadi bujang nggerang (lapuk) selamanya?"
"Baiklah sahabatku, aku izinkan kau pulang sekarang karena aku juga akan pulang menemui kekasih halalku." Ayesh melenggang keluar dari pintu ruang kerjanya dengan menekankan kata-katanya menyindir Doni.
"Lihat saja Yesh, OTW halalin. Hahahahaa...," Doni tertawa kemudian mengejar Ayesh yang telah berlalu terlebih dahulu.
Hyorin sejak tadi siang berada di kamar lamanya, bermalas-malasan sambil memainkan ponselnya membaca novel online di aplikasi NT. Dia menunggu Ayahnya yang belum juga pulang dari kantor.
Hyorin mendengar sayup-sayup suara Tante Mirna dan Silvia memasuki rumah. Hyorin juga mendengar suara Laki-laki yang menurutnya tidak asing masuk ke dalam rumah bersama Silvia, tampaknya mereka baru saja pergi berbelanja bersama sebab terdengar suara Silvia sedang membuka belanjaan mereka.
Hyorin memberanikan diri keluar dari kamarnya melihat siapa yang ada di ruang tamu bersama Silvia. Dia tidak melihat Tante Mirna ada disana mungkin sudah masuk ke dalam kamar.
Hyorin sangat terkejut ketika melihat Laki-laki yang sedang duduk bersama Silvia begitu rapat dengan Silvia bergelayut manja di lengan Laki-laki itu, seolah mereka memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman.
Hyorin membalikan posisi berdirinya yang masih belum sempurna hendak kembali ke dalam kamar bersamaan dengan pintu kamar utama yang terbuka.
"Orin kapan kamu datang?" tanya Tante Mirna yang kebetulan mau keluar dari kamar utama dan melihat Hyorin.
"Aku kesini tadi siang Tante,"
"Ah ya...mana Suamimu?"
"Mas Ayesh masih di kantor Tante, dia nanti akan menjemputku kesini."
"Kamu lihat Rin di bawah itu siapa yang bersama Silvia?"
"A-aku tidak tahu Tante,"
"Jangan berbohong!! Bukankah dia bekerja bersama kamu di rumah sakit?!"
"Tante yang bekerja di rumah sakit bersamaku itu banyak, tidak mungkin aku akan mengingatnya satu persatu,"
"Tidak ada gunanya memang berbicara dengan gadis rabun sepertimu!" Tante Mirna mendorong Hyorin sampai tersungkur ke lantai.
"Aaauwwwww...," pekik Hyorin.
Suara mengaduh Hyorin terdengar sampai ke bawah, Silvia segera naik ke atas bersama dengan Laki-laki yang tadi datang bersamanya.
Betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat Hyorin ada di rumah.
"Hyorin...,"
----------------------------------------------------------------------
Happy reading ya Kak, terus dukung author dengan Like, komen, vote dan jadikan favourite ya Kak. 😘😘😘
Terimakasih pembaca setia yang selalu mendukung Author untuk berkarya. 💕💕💕💕😉😉😉😉
__ADS_1