
Ayesh sampai di kantor dan langsung masuk ke dalam ruangannya yang diikuti oleh Doni.
Ayesh duduk di kursi yang biasa dia gunakan untuk bekerja sambil mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di atas meja.
"Apa kau punya rencana Don?" tanya Ayesh.
"Kau tenanglah dulu kita pikirkan cara terbaik, jangan emosi!" ucap Doni.
"Bagaimana bisa Don, jika ini menyangkut Hyorin."
"Iya aku tahu Yesh,"
"Coba kamu pikirkan dengan baik, apa sih yang bisa Indra lakukan selama kalian masih menjadi Suami Istri yang sah, Indra itu hanya memancing kamu saja supaya kamu emosi. Dia tidak tulus mencintai Hyorin, dia hanya mengincar rumah sakit milik Hyorin."
Ayesh mengingat-ingat kembali setiap perkataan Indra, apa yang dikatakan oleh Doni memang ada benarnya. Indra sengaja membuatnya cemburu dengan mendekati Hyorin, berharap mereka berdua berpisah dan Indra akan masuk ke dalam kehidupan Hyorin seperti dulu kemudian dia dengan mudah akan menguasai rumah sakit.
"Saranku Yesh, bikin hubungan kalian semakin kokoh jadi tidak ada celah bagi Indra untuk masuk ke dalam hidup kalian,"
"Kamu dan Hyorin harus terlihat bahagia di depan Indra, jangan sekali-kali melawannya secara terang-terangan karena itu yang membuat Indra semakin merasa menang."
"Maksud kamu kita balik kuasai kehidupan Indra secara perlahan?"
"Nah itu baru benar Yesh,"
"Kamu berliburlah, bawa Hyorin ke luar negeri. Urusan Indra aku yang akan mengaturnya. Ketika kamu kembali akan aku pastikan para investor di perusahaan yang Indra pimpin sudah menarik investasinya. Ini akan menurunkan kredibilitas Indra di mata para pemegang saham. Selanjutnya tentu kamu sudah paham."
Doni menepuk bahu Ayesh yang masih nampak berpikir, kemudian keluar meninggalkan Ayesh di ruangannya.
****
Ayesh kini sudah berada di rumah orangtua Hyorin. Dia langsung menuju ke kamar Hyorin karena kata Ayah Mertuanya istrinya sedang beristirahat di kamar.
Ayesh membuka pintu kamar dengan perlahan, mendapati Istrinya yang sedang terlelap dengan damai. Ayesh membersihkan dirinya dan menyusul Hyorin naik ke atas ranjang.
Merasa ada sesuatu yang berat di atas dadanya, Hyorin perlahan membuka matanya.
Hyorin tersenyum begitu melihat Ayesh yang sedang terlelap. Dia memandang lekat pria di depannya. Garis-garis halus mulai terlihat di wajah suaminya itu, Ayesh terlihat sangat lelah.
Hyorin memainkan jemarinya di atas wajah Ayesh, membelainya lembut. Ayesh merasa terusik dengan perlakuan lembut Hyorin.
"Jangan menggodaku kalau tidak mau aku terkam," ucap Ayesh dengan masih memejamkan matanya.
Hyorin tidak mendengarkan perkataan suaminya, dia terus saja menggoda Ayesh.
"Kau telah membangunkan yang di bawah, jadi kau harus bertanggungjawab." Bisik Ayesh ditelinga Hyorin.
Seketika Ayesh membuka matanya kemudian membalik tubuhnya berada di atas Hyorin. Dia mulai menciumi bibir Hyorin.
"I love you Hyorina," ucap Ayesh disela-sela aktivitas mereka.
"Love you too Mas," jawab Hyorin.
Tangan Ayesh semakin nakal memegangi bagian-bagian sensitif istrinya membuat tubuh Hyorin menggeliat.
Ketika mereka hampir saja melakukan penyatuan, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
"Rin apakah kalian ada di dalam?"
Terdengar suara Hyoshan dari luar, dengan cepat Ayesh memakai bajunya kembali dan merapikan baju Hyorin yang sudah berantakan karena ulahnya.
"Iya Kak," jawab Hyorin.
Ayesh terlihat kecewa karena aksinya kali ini mendapatkan gangguan. Ayesh dengan wajah lesu mendekati pintu dan membukanya.
Dia menunjukan senyum terbaiknya meskipun sedikit kesal. Terlihat senyum juga terkembang dari wajah Hyoshan.
"Apakah aku mengganggu?" tanya Hyoshan.
"Tidak Kak," jawab Ayesh berbohong.
"Ayah memanggil kamu untuk turun Yesh,"
"Aku akan segera turun, aku panggil Hyorin dulu Kak."
Hyoshan pergi meninggalkan Ayesh, kemudian memanggil istrinya, Ayesh mendekati ranjang dengan mode masih terlihat kesal.
"Kita lanjutkan nanti di apartemen," Hyorin menangkup wajah suaminya.
Seketika ekspresi wajah Ayesh berubah sumringah dari yang tadinya dia tekuk.
"Ayo kita turun, Ayah menungguku di bawah!"
Hyorin mengikuti langkah suaminya, terlihat Ayah dan Hyoshan sedang bersantai di ruang keluarga. Ayesh menghampiri mereka sedangkan Hyorin menyusul Nita yang sedang membantu Mbok Nah memasak makan malam di dapur.
"Ayah mau berbicara pada kalian berdua," ucap Pak Mahardika kepada Ayesh dan juga Hyoshan ketika melihat Ayesh telah duduk membersamai mereka.
"Iya Ayah, ada apa?" jawab Hyoshan sedangkan Ayesh hanya mengangguk.
"Ajak juga mereka berbelanja, bukankah kalian tidak kekurangan uang untuk sekedar memanjakan mereka?"
Ayesh dan Hyoshan saling tatap tidak menyangka jika Ayah mereka benar-benar memperhatikan anak-anaknya sampai sedetail ini.
"Aku memang berencana mengajak Hyorin ke Australia Yah,"
"Bagus, persiapkan semuanya dengan baik!" jawab perintah Pak Mahardika.
"Doni sudah mengurusnya tadi siang Yah,"
Pak Mahardika manggut-manggut mendengar jawaban Ayesh.
"Kalau kamu Oshan?"
"Apakah sudah punya rencana untuk berbulan madu?"
"Pekerjaanku masih banyak sekali Yah, tidak mungkin jika pergi dalam waktu dekat." jawab Hyoshan.
"Bukankah ada asisten kamu yang bisa menggantikan pekerjaan kamu sementara?"
"Bukankah tujuan kamu menikah untuk mendapatkan keturunan? Jika kau hanya sibuk bekerja kapan kalian akan memberikan Ayah cucu yang lucu, yang bisa menemani hari-hari Ayah yang sepi," Pak Mahardika nampak terlihat sendu.
Hyoshan yang melihat perubahan air muka Ayahnya merasa iba jika tidak memenuhi keinginannya.
"Akan aku tanyakan pada Nita, dia mau pergi kemana Yah,"
__ADS_1
"Bagus, segera buat perencanaan. Bahagiakan Istri-istri kalian maka rezeki kalian akan semakin lancar!" nasehat Pak Mahardika.
"Iya Ayah," jawab Hyoshan dan Ayesh bersamaan.
Mereka terus berbincang dengan penuh kehangatan hingga tiba saatnya mereka untuk makan malam.
Selesai makan malam Hyorin dan Ayesh pamit untuk pulang ke apartemen, sebenarnya Pak Mahardika melarang mereka untuk pulang dan berharap mereka bisa menginap di rumah, hanya saja Ayesh beralasan akan packing barang-barang mereka sebelum berangkat ke Australia lusa, sehingga Pak Mahardika mengizinkan mereka untuk pulang ke apartemen.
Setelah berpamitan, mobil yang Ayesh kendarai perlahan bergerak meninggalkan rumah yang menjadi saksi tumbuh kembang istrinya itu.
Mereka sampai di apartemen, Hyorin melesat ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Mas kamu nggak mandi?" ucap Hyorin ketika keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya sedang tiduran santai di sofa.
"Nanti saja setelah olahraga malam," jawab Ayesh dengan senyum penuh hasrat.
Hyorin mencebik, "Ihhhh...maunya,"
"Kamu kan sudah berjanji," ucap manja Ayesh.
Ayesh segera membawa Hyorin ke atas ranjang, Ayesh tampak begitu berhasrat saat melihat Hyorin yang hanya menggunakan piyama mandi dengan rambut basahnya yang terurai.
Ayesh begitu puas setelah menuntaskan hasratnya yang tadi sore sempat tertunda.
Hyorin terlelap setelah melayani suaminya, sedangkan Ayesh lansung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
****
Hari ini adalah hari keberangkatan Ayesh dan Hyorin ke Australia, mereka diantarkan oleh Doni ke Bandara setelah sebelumnya berpamitan kepada orangtua mereka.
"Terimakasih ya Don, aku titip Kantor!"
"Serahkan saja kepadaku, jangan lupa kalian harus bersenang-senang!"
"Siap Kak Doni," jawab Hyorin.
"Jangan lupa ajak suami kamu berselfie ria, dia sangat sulit untuk diajak hanya sekedar berfoto."
"Benarkah?"
"Pantas saja jarang punya foto yang bagus," Hyorin memukul pelan dada Ayesh dan tersenyum kepadanya.
"Jangan lupa oleh-olehnya Yesh,"
"Heemmm...," jawab Ayesh datar.
Kini tiba saatnya mereka harus berpisah, tidak menyangka jika Indra ternyata membuntuti mereka hingga ke Bandara.
Indra tidak sengaja berpapasan dengan mobil yang dikendarai oleh Doni di jalan, kemudian dia memutar balik mobilnya dan mengikuti mereka hingga ke Bandara.
"Sial...kenapa mereka masih selengket itu!" gumam Indra sambil mengepalkan tangannya.
Indra begitu tidak terima jika Hyorin dan Ayesh masih baik-baik saja, sedangkan tujuannya untuk mendapatkan 50% saham rumah sakit Mahardika juga belum terwujud.
"Kurang ajar, Pengacara busuk itu benar-benar mengabaikan perkataanku!"
"Ini tidak bisa dibiarkan, akan aku buat kalian menyesal telah meremehkan aku. Lihat saja saat kalian kembali!" umpat Indra sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan Bandara.
__ADS_1
Di dalam perjalanan, Indra menghubungi seseorang.