Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 78


__ADS_3

Ayesh mengurai pelukan Istrinya, memandanginya lekat. Sorot mata Ayesh menyiratkan sebuah kekhawatiran.


"Sayang kau harus berhati-hati, siapa tahu Indra dendam kepadamu nantinya!"


"Tidak ada hubungannya denganku kan Mas, dia murni dipecat karena tidak disiplin."


"Darimana Dokter Asef tahu kalau Indra kurang disiplin?"


"Dokter Asef punya data yang beliau kumpulkan sendiri, tidak hanya Dokter Indra tapi seluruh karyawan rumah sakit. Beliau terbiasa melakukan evaluasi berdasarkan data tersebut setiap satu bulan sekali, jadi beliau memiliki ranking penilainnya sendiri ditambah tempo hari aku kirimkan rekaman suara Indra kepada Dokter Asef."


"Indra tahu akan hal itu?"


"Tidak Mas, Dokter Asef itu sangat profesional jadi beliau dapat memilih dan memilah,"


"Baguslah kalau seperti itu,"


"Tapi kamu harus tetap hati-hati ya sayang, meskipun sebenarnya sudah sejak lama aku ingin dia keluar dari rumah sakit, atau kamu yang mengundurkan diri dari sana. Hati Mas tidak tenang kalau kalian masih bekerja bersama."


"Mas lebay ihh...,"


"Ini sungguhan sayang,"


"Mas cemburu?"


"Tidak!"


"Lalu?"


"Karena dia cinta pertamamu!"


"Memangnya kenapa Mas?"


"Pokoknya Mas tidak suka!"


"Kenapa Mas?"


"Keselamatanmu lebih utama bagiku Rin, Indra itu licik."


"Terimakasih Mas,"


Hyorin memeluk suaminya kembali, tidak ingin rasanya terpisah dengan Ayesh barang sedetikpun.


Kehamilan Hyorin kini sudah memasuki bulan keempat, Ayesh setiap bulan selalu mengantarkan istrinya untuk cek kandungan secara rutin.


Frekuensi muntah-muntah Hyorin di malam hari juga sudah berkurang tidak sesering saat pertama kali hamil. Ayesh sudah merasa tenang jika nantinya dia akan meninggalkan Hyorin untuk pergi ke Australia.


Ditambah lagi kini mereka tengah sibuk mempersiapkan pernikahan Hyoshan dan Nita.


Hal ini akan membuat Hyorin sibuk dan akan lupa jika dirinya tengah kesepian tanpa kehadiran Ayesh disisinya.


Malam ini saat mereka sedang berbaring di ranjang, Ayesh dengan hati-hati mengutarakan maksud hatinya.

__ADS_1


"Rin seandainya Mas pergi ke Australia apakah boleh?" Ayesh membuka percakapan.


"Untuk apa Mas kesana?"


"Mas harus menemui Mr. Jacob pemilik cincin yang Mbok Nah temukan itu,"


"Mr. Jacob?"


Ayesh menceritakan semuanya kepada Hyorin agar istrinya paham dengan maksud kepergiannya kali ini. Hyorin pun setuju jika memang hal itu harus dilakukan demi pengumpulan bukti-bukti penyelidikan mereka.


"Kapan Mas akan berangkat?"


"Lusa Rin,"


"Berapa lama kira-kira Mas akan disana?"


"Aku sendiri belum tahu sayang, semoga saja Mas bisa cepat menemukan Mr. Jacob."


Hyorin sebenarnya sangat sedih akan ditinggal oleh Ayesh selama beberapa waktu. Namun, dia berusaha menahan semua itu agar Ayesh tidak berat untuk meninggalkannya, bahkan Ayesh sudah lama merencanakan hal ini namun terpaksa ditunda karena melihat kondisinya yang tidak stabil pada masa-masa kehamilan awal.


"Rin kamu baik-baik ya di rumah, jaga anak kita."


Hyorin mengangguk, "Mas harus janji ketika Kak Oshan menikah, Mas harus sudah kembali."


Pernikahan Hyoshan akan dilangsungkan sekitar Tiga minggu lagi, itu artinya masih cukup waktu bagi Ayesh untuk menemukan Mr. Jacob.


Ayesh berharap mencari Mr. Jacob tidak seperti mencari jarum di tumpukan jerami.


Hyorin mencoba memejamkan mata namun bayangan akan ditinggal oleh Ayesh menguasai dirinya sehingga sulit rasanya mata itu bisa terpejam hingga entah jam berapa Hyorin baru terlelap setelah lelah berkutat pada pikirannya sendiri.


Hyorin sibuk mengurus segala sesuatu yang akan dibawa oleh suaminya besok, jangan sampai ada yang tertinggal sehingga tidak akan membuat suaminya kerepotan nantinya di negeri orang.


Meskipun kepergian Ayesh masih besok, Hyorin sudah tidak bisa lagi membendung kesedihan akan ditinggal oleh suami tercintanya. Hyorin sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak lolos begitu saja, namun rasanya sulit untuk tidak menangis.


Hyorin sudah terbiasa tinggal bersama Ayesh selama ini. Hyorin memutuskan untuk tidak berangkat bekerja hari ini, dia ingin seharian penuh bersama Ayesh.


Berkali-kali Hyorin menciumi baju-baju Ayesh yang tengah ia tata di dalam koper, belum juga ditinggal tapi rindu itu sudah menyergap memang benar kata Dilan rindu itu berat.


Dia juga telah mempersiapkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Selama kepergian Ayesh, dia berencana akan tinggal bersama Ayah dan Kakaknya sekaligus membantu persiapan pernikahan Hyoshan dengan sahabatnya Nita.


Ada rasa sedih bercampur bahagia yang Hyorin rasakan, seandainya Ayesh tidak harus mengurus kasus Ibunya tentu saja moment persiapan pernikahan Hyoshan akan menjadi sebuah kebahagiaan yang sempurna. Kali ini terasa ada lubang yang cukup menganga di dalam hati Hyorin.


"Sayang kenapa menangis?" tanya Ayesh yang baru keluar dari kamar mandi.


Hyorin buru-buru menyeka air mata yang keluar begitu saja, tidak ingin Ayesh melihatnya secengeng ini. Hyorin membalikkan badannya kemudian tersenyum.


"Aku tidak menangis Mas, mungkin tadi kelilipan saja."


Ayesh kemudian meraih pinggang Hyorin memeluknya erat dan menciumi pucuk kepala wanita yang sedang mengandung benihnya.


"Percayalah Rin, aku akan segera kembali!"

__ADS_1


Malam ini Ayesh benar-benar merengkuh istrinya sangat lama dan lembut penuh kehangatan. Dirinya juga merasa sangat sedih harus meninggalkan Hyorin sementara waktu.


Ayesh memeluk istrinya yang terkulai lemas akibat ulahnya, sepanjang malam mereka saling berpelukan tidak ingin terpisahkan, berharap pagi tidak segera menyapa.


Ingin rasanya Ayesh membawa serta Hyorin, namun tidak memungkinkan karena khawatir akan membahayakan keselamatan Hyorin dan anak yang sedang dikandungnya.


Kelelahan bagi Ibu hamil juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi Ibu dan anak yang masih berada di dalam kandungan. Bahkan dapat berakibat fatal bagi keduanya.


****


Kini Mirna dan Silvia sedang meradang sebab Bondan lagi-lagi tidak menepati janjinya, uang yang mereka berikan tidak kunjung dikembalikan oleh Bondan, padahal jiwa sosialita keduanya sudah meronta-ronta, terbiasa hidup mewah tanpa harus bekerja keras membuat mereka tidak tahan untuk hidup susah dan melarat. Sedangkan Bondan sendiri sedang mati-matian membangkitkan usahanya kembali setelah benar-benar terjatuh.


Ditambah kabar bahwa Hyoshan akan segera menikah membuat Silvia semakin meradang.


Siapapun laki-laki yang diinginkannya yang dia incar hanyalah uangnya, sehingga kali ini Hyoshan yang menjadi target setelah Ayesh dan Indra gagal dia dapatkan.


"Kita harus hancurkan pernikahan Oshan Ma bagaimanapun caranya!"


"Apa kau punya cara Silvia?" tanya Mirna.


"Mama ini bagaimana sih, bukankah aku sudah bilang kalau Mama yang harus mencari caranya?"


"Kau ini dasar anak tidak bisa diandalkan!"


"Lalu Mama apa?" Marah Silvia.


Mirna dan Silvia akhirnya berunding dan menyepakati sebuah cara yang akan mereka berdua lakukan, sebab mereka tidak mungkin memerintahkan orang lain karena ketiadaan uang yang mereka miliki sehingga mereka akan bergerak sendiri.


Hari ini Ayesh mengantarkan Hyorin ke rumah orangtuanya sebelum dia dan Doni berangkat ke Bandara. Sebelumnya mereka mampir ke rumah orangtua Ayesh untuk berpamitan dan meminta do'a restu agar dimudahkan segala urusan mereka.


Sesampainya di rumah orangtua Hyorin mereka disambut oleh Ayah Hyorin dan juga Kakaknya. Pak Mahardika dan Hyoshan sengaja tidak pergi ke Kantor setelah mendengar maksud Ayesh beberapa hari yang lalu, bahkan sebelum Hyorin mengetahui akan hal ini.


Hyoshan mengantarkan Ayesh dan Doni ke Bandara, Hyorin juga ikut serta dalam rombongan. Nita juga sengaja Hyoshan ajak untuk menemani sekaligus menghibur Hyorin jika nantinya Hyorin merasa sedih ditinggal oleh suaminya.


Doni sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Nita, sehingga kehadiran Nita di tengah-tengah mereka sudah terasa biasa saja bagi Doni, malah sekarang yang Doni rindukan adalah Jesika. Meskipun semalam mereka telah bicara melalui sambungan telfon, namun rasanya masih kurang bagi Doni.


Mereka sampai di Bandara, Doni mengurus segala sesuatunya di Bandara. Hyorin melepas kepergian suaminya dengan deraian air mata. Sudah sejak di Mobil Hyorin terus menangis.


"Rin tenanglah, Ayesh pasti akan kembali. Do'akan saja dia agar cepat menyelesaikan urusannya," Hibur Hyoshan kepada Adiknya.


Hyoshan paham jika Hyorin sangat sedih,


Ayesh memeluk Hyorin erat, mencium kening gadis itu dan tidak lupa menyapa anak mereka yang masih berada di dalam perut Ibunya.


"Baik-baik ya Nak, jangan membuat Ibu kerepotan harus jadi anak penurut. Ayah pergi dulu sayang, do'akan Ayah agar cepat kembali!"


Mereka kembali berpelukan sangat lama, hingga panggilan untuk segera memasuki pesawat membuat mereka benar-benar harus berpisah.


--------------------------------------------------------------------


Hai Kak, jangan lupa like, koment, vote dan jadikan favourite ya 💗💗💗💗

__ADS_1


Terimakasih yang selalu setia mendukung author 🤗🤗🤗💕💕💕💕


__ADS_2