Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 22


__ADS_3

Hyorin kembali ke rumah untuk bersiap ke rumah sakit. Hyorin merasa heran sebab ada Mobil asing terparkir di halaman rumah.


Hyorin memasuki rumah, keadaan rumah sangat sepi tidak terlihat siapapun tamu yang ada di dalam.


Hyorin kemudian naik ke lantai atas untuk masuk ke kamar, seperti biasanya Hyorin membersihkan diri di kamar mandi dan merias wajahnya tipis.


Diapun siap untuk berangkat bekerja. Hyorin melangkahkan kaki keluar dari kamar, sayup-sayup terdengar suara Laki-laki berada di kamar Ayahnya.


Hyorin mengawaskan pendengarannya. Dia tidak mengenal suara itu, bukan suara Ayah.


Mana mungkin Ayah masih berada di rumah jam segini, lalu siapa Laki-laki yang sedang berada di kamar bersama Tante Mirna? Hyorin membatin.


Hyorin kembali masuk ke dalam kamar, ketika mendengar pintu kamar Ayahnya di buka dari dalam.


Dia kemudian mengintip dari balik pintu kamar. Posisi kamarnya yang strategis membuatnya bisa melihat dan mendengar dengan jelas obrolan mereka.


Seorang Laki-laki tampak ke luar dari kamar bersama Tante Mirna, yang membuat Hyorin tercengang Tante Mirna masih mengenakan pakaian tidur yang jelas sangat menerawang. Lekukan tubuhnya terlihat jelas, tidak mungkin jika mereka tidak berbuat apa-apa tadi di kamar.


Hyorin masih berdiri di balik pintu kamarnya. Hati Hyorin sungguh merasa terbakar, Tante Mirna telah menghianati Ayahnya.


"Mir apa kamu tidak takut Suamimu akan tahu kalau aku ke rumah?" Tanya Laki-laki itu sebelum menuruni tangga.


Tante Mirna yang bergelayut manja di lengan Laki-laki asing itu kemudian merespon dengan terlebih dahulu mengecup pipi Laki-laki di sampingnya.


"Kamu tenang saja Mas, tua bangka itu tidak akan tahu soal ini."


"Kamu ingat ya Mir, jangan terlalu lama bermain-main."


"Kamu tenang saja Mas, rencana kita sedang berjalan dengan sangat mulus."


"Aku pamit ya Mir, aku selalu merindukanmu Mir."


Laki-laki asing itu kemudian berlalu pergi meninggalkan kediaman keluarga Mahardika.


Hyorin merasa sakit, melihat kenyataan bahwa Ayahnya mendapatkan sebuah penghianatan. Tidak terasa butiran bening lolos dari pelupuk matanya.


Hyorin tidak tahu apa yang harus dilakukannya, mengadukan semua yang dilihatnya kepada Ayah jelas tidak mungkin sebab Ayah tidak akan mungkin percaya. Terlebih lagi, dia tidak mau merusak kebahagiaan Ayahnya. Namun, membiarkan semua ini terjadi pun Hyorin tidak akan bisa membohongi dirinya sendiri yang harus bersikap baik kepada wanita yang telah menghianati Ayah yang sangat disayanginya.


Setelah Hyorin memastikan bahwa Tante Mirna sudah masuk ke kamar kembali, pelan-pelan Hyorin keluar dari kamar dan pergi dari rumah.


Setiba di rumah sakit dia bertemu dengan Indra di parkiran.


"Masuk siang hari ini Dokter Orin?" Sapa Laki-laki itu dari arah belakang mengagetkan Hyorin yang baru keluar dari taksi.


Hyorin menoleh.


"Iya Kak, aku praktik siang. Kalau Kakak sudah selesai praktik kah?" Jawab Hyorin sambil tersenyum melihat siapa yang menyapanya.


"Sudah Rin, ini mau pulang. Oh ya Rin nanti aku jemput ya?"


"Tidak usah Kak, aku naik taksi saja nanti. Aku tidak mau merepotkan Kakak." Tolak Hyorin halus.


"Pokoknya nanti aku jemput, kamu tidak boleh menolak." Jawab Indra kekeh.


Hyorin sebenarnya bisa saja membawa Mobil Ayahnya saat bekerja, tapi karena larangan dari Tante Mirna akhirnya dia hanya bisa naik Motor atau menggunakan taksi sebagai transportasinya. Padahal Silvia bebas menggunakan Mobil mana saja yang dikendakinya kemana-mana.


Hyorin memilih untuk mengalah. Meskipun terkesannya terbalik, siapa yang Anak Kandung dan siapa yang Anak Tiri.


Hyorin terbiasa hidup mandiri dan sederhana, meskipun orangtuanya memiliki segalanya hampir semua serba ada. Namun, dia tidak suka memanfaatkan kekayaan orangtuanya untuk sebuah gengsi, jadi dia tahan banting jika hanya menghadapi masalah kecil seperti itu.

__ADS_1


"Baiklah Kak, terimakasih sebelumnya ya Kak. Aku masuk dulu, Kakak hati-hati di jalan ya. Bye Kak..." Hyorin melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah sakit.


****


Ayesh mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya di atas meja kerjanya.


"Kamu kenapa Yesh?" Tanya Doni merasa Bosnya itu sangat aneh hari ini.


"Don jangan sampai Hyorin tahu soal ini, aku mau biarkan seperti ini berjalan apa adanya."


"Apa kamu belum benar-benar yakin dengannya Yesh?"


"Bukan itu Don. Aku pasti akan mengatakan semuanya tapi bukan sekarang. Mungkin nanti setelah aku dan dia menikah. Aku belum tahu bagaimana perasaannya terhadapku dan juga aku sendiri masih mencari bentuk yang sesungguhnya dari perasaanku sendiri, setelah aku menemukan orang yang aku cari selama ini."


"Eemmm...baiklah, buat dia jatuh cinta kepadamu Yesh."


"Soal itu kamu tidak usah khawatir Don."


"Baiklah Yesh sudah waktunya kita untuk pulang."


"Aku akan jemput Hyorin, kamu pulang saja Don."


"Kalian tidak perlu supirkah?"


"Tidak usah Don, aku bisa sendiri."


"Ciee...yang lagi jatuh cinta, ihirrr." Doni meledek Ayesh sambil menuju pintu keluar ruangan Ayesh.


Ayesh hanya tersenyum tidak mau menanggapi tingkah konyol sahabatnya itu. Ayesh menyambar kunci Mobil yang ada di meja kemudian bergegas menuju rumah sakit untuk menjemput Hyorin.


****


Indra sudah sampai di depan rumah sakit Mahardika, tangannya lincah memainkan ponsel hendak menelfon Hyorin. Namun, sebelum tangannya berhasil menekan tombol hijau, gadis yang ditunggunya sudah muncul di depan pintu keluar rumah sakit.


"Kak Indra?"


"Iya Rin, aku mau jemput kamu."


"Kakak tidak perlu repot-repot seperti ini, aku bisa pulang sendiri Kak."


"Aku tidak merasa direpotkan Rin malah aku senang, ayo masuk Rin!"


"Emmmm...aku pulang sendiri saja Kak." Tolak Hyorin khawatir Ayesh akan tahu dan marah besar.


"Ayolah Rin, kali ini saja aku mohon Rin."


"Ta...tapi Kak, aku..."


"Rin...aku mohon sekali ini saja, aku ingin mengantarkanmu pulang."


Hyorin mengangguk sebab dia merasa kasian kepada Indra yang sudah menjemputnya, padahal seharusnya dia istirahat di rumah.


Hyorin masuk ke dalam Mobil Indra, bersamaan dengan Ayesh yang juga tiba di depan rumah sakit Mahardika.


Ayesh memukul setir Mobil yang dikemudikannya, merasa kesal dengan Hyorin yang lagi-lagi berulah. Hyorin melupakan bahwa Ayeshlah yang akan mengantar jemput dirinya. Bahkan menurut Ayesh Hyorin melupakan apa yang Ayesh pesankan kepadanya agar jangan dekat-dekat dengan Indra.


Orin itu maunya apa sich, sudah dilarang jangan macam-macam malah mau saja diantarkan pulang.


Mobil yang dinaiki Hyorin dan Indra berjalan di depan, sedangkan Ayesh mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


Hyorin dan Indra bercerita mengenang masa-masa SMA mereka dulu.


"Rin kamu tahu tidak dulu aku sering memperhatikanmu dari kejauhan, kamu itu begitu ceria."


"Aku juga dulu iya Kak, memperhatikan Kakak sang idola sekolah. Kakak itu begitu populer, semua membicarakan Kak Indra, terutama para gadis." Kenang Hyorin.


"Lalu bagaimana denganmu Rin? Apakah kamu juga membicarakan tentang diriku?" Indra balik bertanya.


"Otomatis Kak, tapi aku tidak segila mereka Kak."


"Menurutmu mereka bagaimana?" Pancing Indra.


"Emmmm....mereka sangat menggilai Kakak. Ada yang bawa bunga, cokelat dan masih banyak lagi untukmu Kak. Mereka itu sangat aneh menurutku Kak, padahal jelas-jelas Kakak sudah punya kekasih pada waktu itu."


"Siapa yang bilang Rin?"


"Rumor yang beredar seperti itu Kak."


"Lalu kamu percaya?"


"Emmmm...aku percaya Kak."


Indra mengacak rambut Hyorin gemas dengan tingkah polos Hyorin.


Ayesh yang melihat keduanya dari belakang, merasa ada bagain daging miliknya yang mengalami kenaikan suhu.


"Rin aku dulu hanya menciptakan rumor saja, pada kenyataannya aku tidak memiliki seorang kekasih."


Hyorin menggernyitkan dahinya, seolah bertanya mengenai pernyataan yang baru ia dengar dari sang mantan idola sekolah.


"Aku sengaja seperti itu supaya mereka tidak berlebihan terhadapku tapi nyatanya mereka tetap saja mengejar-ngejarku. Hanya satu gadis yang tidak seperti itu dan aku mencintainya."


Indra menatap Hyorin lekat.


"Maksud Kakak?" Tanya Hyorin.


"Aku mencintaimu sejak dulu Rin, aku berharap kamu bisa menerimaku. Kita bisa hidup bahagia bersama."


Hyorin merasa sangat gugup, dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Hyorin juga sangat bingung, ini merupakan kali kedua Indra menyatakan perasaan terhadapnya dan ini lebih membuat Hyorin tersentuh sebab ternyata Indra juga mencintainya sejak SMA.


Hyorin ingin sekali menerima pernyataan cinta dari Indra, tapi bagaimana dengan Ayesh juga tentang perjodohan mereka.


"Maafkan aku Kak, aku belum bisa menjawabnya sekarang." Hyorin tertunduk menahan semua rasa yang ada.


"Baiklah Rin, akan aku tunggu sampai kamu benar-benar siap untuk menjawab semua itu."


Hyorin hanya mengangguk, merasa dirinya berdosa tidak bisa berkata jujur terhadap kenyataan yang ada. Hyorin hanya tidak ingin Indra terluka dan sakit hati.


Hyorin turun dari Mobil Indra kemudian Indra berpamitan kepada Hyorin untuk langsung pulang tanpa mampir terlebih dahulu.


Ayesh yang mengikuti mereka terus memperhatikan interaksi keduanya, memang tidak terjadi hal-hal yang aneh namun keakraban keduanya membuat Ayesh tidak bisa berpikir lebih tenang.


Hyorin hendak masuk ke dalam rumah, namun tangan Ayesh mencegahnya. Hyorin dibuat kaget sebab kedatangan Ayesh yang tiba-tiba.


Ayesh mencekal tangan Hyorin erat tanpa berbicara apapun, tatapan mengintimidasinya sangat menakutkan.


Ayesh membawa Hyorin masuk ke dalam Mobil.


"Aku mau dibawa kemana Mas? Tolong lepaskan, aku mau masuk ke rumah."

__ADS_1


Ayesh tidak menjawab.


Hening....


__ADS_2