
Ayesh mendorong tubuh Hyorin kasar agar masuk ke dalam Mobil, kemudian menutup pintu dengan keras.
Ayesh duduk dibalik kemudi dan melajukan Mobilnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Hyorin merasa sangat takut dengan sikap Ayesh yang sangat brutal menurutnya.
"Mas...kamu mau membawaku kemana? Ini sudah petang, aku harus pulang. Ayah pasti mencariku." Hyorin bertanya dengan sangat hati-hati.
Ayesh hanya menyeringai tanpa menjawab pertanyaan Hyorin.
Ayesh terus melajukan Mobilnya, mereka tiba di sebuah pantai dengan hamparan pasir yang cukup luas. Suasana pantai sudah cukup sepi mungkin karena sudah malam, namun ada secercah cahaya temaram yang pencahayaannya cukup menerangi sampai ke bibir pantai.
"Ayo keluar!" Perintah Ayesh.
"Untuk apa kita kesini Mas?"
Ayesh lagi-lagi tidak menjawab, dia malah pergi meninggalkan Hyorin. Gadis itu celingukan merasa takut jika sampai Ayesh meninggalkannya sendirian.
Hyorin berhambur mengejar Ayesh yang sudah berada di depan.
Sampai di sebuah tempat, Ayesh terlihat tengah terduduk di atas pasir tanpa alas. Ayesh melamun tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Mas..." Hyorin mendekati Ayesh sambil memegang bahu pemuda itu, kemudian Hyorin duduk di atas pasir mengikuti Ayesh.
"Maafkan aku Mas." Sambung Hyorin hendak menjelaskan.
"Untuk apa?"
"Mas yang kamu lihat tadi sore itu tidak seperti yang kamu bayangkan, aku sudah berusaha menolak ajakan Kak Indra tapi...."
"Rin bukankah aku sudah mengatakannya padamu, aku tidak suka kamu dekat-dekat dengannya."
"Kami hanya berteman Mas, tidak lebih."
"Tapi kalian sangat dekat."
Hyorin terdiam, dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
"Rin kita itu mau menikah, tolong sedikit saja hargai diriku, hargai hatiku dan hargai aku sebagai seseorang yang sedang berusaha untuk bisa menerimamu."
"Mas apa kamu pikir aku juga tidak sedang berjuang untuk ini? Bahkan aku menepiskan rasaku terhadap orang lain yang aku cintai sejak dulu!" Hyorin berkata jujur pada akhirnya sebab dia merasa Ayesh begitu egois.
"Kamu punya cinta lain Rin? Apa yang kamu maksud orang yang mengantarmu tadi sore?"
"Kalau iya kenapa Mas?" Hyorin mulai kehabisan kesabaran.
"Apakah dia juga mencintaimu? Apakah kalian memiliki hubungan selama ini?"
"Iya dia mencintaiku, dia sudah mengatakannya kepadaku Dua kali. Bahkan aku sendiri tidak bisa menjawab apapun karena adanya perjodohan ini. Apakah aku tidak cukup keras berjuang Mas? Bisa saja aku dengan mudah menerimanya, tapi aku tidak ingin menyakitimu Mas yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku."
"Tolak dia!" Jawab Ayesh enteng.
Ayesh beranjak dari tempat duduk mencari tempat lain, kemudian dia berteriak sekencang-kencangnya ke arah laut. Seolah hatinya dipenuhi beban berat dan semua ingin ia keluarkan.
Hyorin mendekati Ayesh dan memeluk pemuda itu dari belakang.
"Cukup Mas, jangan teriak lagi!"
Ayesh menghentikan teriakannya, tangan Ayesh memegang tangan Hyorin yang melingkar di pinggangnya. Ayesh sejenak terdiam merasa sedikit menghangat sebab perlakuan Hyorin terhadap dirinya.
"Berjanjilah kepadaku Mas, kita akan belajar saling menerima satu sama lain."
"Lalu apa jaminannya untukku?"
"Aku tidak akan menerima Kak Indra, selama kamu memperlakukanku dengan baik Mas."
Ayesh kemudian membalikkan badannya ke arah Hyorin, memeluk gadis itu dengan erat.
Membaui aroma vanila dari tubuh Hyorin.
Hyorin membalas pelukan Ayesh.
"Maafkan aku yang selalu membuatmu takut Rin, aku akan menjagamu dengan baik."
Hyorin mengurai pelukannya, mengacungkan jari kelingking miliknya dan menautkan ke jari kelingking Ayesh. Hyorin mengecup pipi kiri pemuda itu, kemudian berlari meninggalkannya.
Ayesh sejenak mematung tak percaya, kemudian dia menarik sudut bibirnya. Hatinya memuai ke segala arah. Bahagia....itulah yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
Dasar gadis nakal batinnya sambil memegang pipi kirinya.
Ayesh melihat Hyorin yang menjauh kemudian Ayesh mengejar gadis itu.
****
Pak Mahardika mondar-mandir di ruang tengah mendapati kedua putrinya yang tak kunjung kembali.
Dia sudah berusaha menghubungi ponsel kedua putrinya itu namun tak ada satupun yang mendapatkan jawaban.
Rasa khawatir mulai menyergap sebab Hyorin tidak pernah begitu sebelumnya bahkan tanpa kabar apapun. Sedangkan Silvia mungkin sering pulang malam tapi tidak sampai selarut ini.
Pak Mahardika menghubungi Hyoshan namun sayangnya Hyoshan masih di Luar Kota sehigga dia tidak bisa berbuat banyak selain terus menelfon Adiknya itu.
"Ayah tenanglah, Orin tidak akan kenapa-kenapa. Dia pasti ada urusan sampai melupakan untuk mengirimkan pesan kepada Ayah." Hyoshan menenangkan Ayahnya dari seberang telfon.
"Bagaimana Ayah tidak khawatir Nak, tidak biasanya Hyorin begini."
"Ayah sudah berusaha menghubungi Ayesh? Siapa tahu Orin ada bersama dengannya Yah." Saran Hyoshan kepada Ayahnya.
"Ah ya...Ayah sampai melupakan hal sepenting itu karena panik."
Tuuuttthhh...
Sambungan telfon terputus.
Ayah Hyorin mencari nomor Ayesh di kontak ponselnya dan menghubungi pemuda itu.
****
Hyorin dan Ayesh masih berada di pantai, mereka tampak terengah-engah sebab saling berkejaran seperti anak kecil.
"Cukup Mas, aku sudah lelah."
"Aku belum puas mengejarmu Rin."
Hyorin terduduk di atas pasir kelelahan.
Bukannya membiarkan Hyorin beristirahat malah Ayesh mendekat dan menggelitiki perut Hyorin.
"Cukup Mas, aku tidak kuat." Hyorin menyerah sebab Ayesh terus menggelitikinya.
Ayesh berhenti dari aktivitasnya, pandangan mereka sejurus bertemu dengan posisi Ayesh berada di atas tubuh Hyorin meskipun tidak saling bersentuhan.
Ayesh sedikit mendekatkan wajahnya, jantung Hyorin berdegup sangat kencang seperti akan copot.
Hyorin memejamkan matanya.
Sebelum bibir mereka benar-benar saling beradu, ponsel disaku Ayesh tiba-tiba berdering.
Ayesh menggulingkan tubuhnya ke arah samping dan meraih ponsel di saku celananya melihat siapa yang berani mengganggu mereka berdua.
Hyorin merapikan duduknya dengan wajah yang sudah bersemu, merasa canggung dan malu sambil merutuki dirinya sendiri kenapa harus memejamkan matanya tadi.
Tubuhnya merespon perlakuan Ayesh, meski sebenarnya hatinya masih belum tertata dengan benar. Logikanya memberontak, tapi tubuhnya justru menggapai sentuhan lembut pemuda itu.
Melihat id caller di ponselnya, Ayesh tanpa ragu menggeser tombol berwarna hijau dan memulai pembicaraan.
"Hallo Om." Sapa Ayesh.
"Nak apakah Orin ada bersamamu?"
Ayesh sedikit melirik Hyorin.
"Iya Om, dia ada bersamaku."
"Syukurlah Om sangat khawatir, anak ini benar-benar membuat aku khawatir."
"Om tenang saja, dia aman bersamaku. Ayesh mohon maaf karena tidak mengabari Om terlebih dahulu jika aku membawanya."
"Tidak apa-apa Nak, Orin yang seharusnya bisa mengirimkan pesan kepada Om. Tapi dia tidak melakukannya."
"Sekali lagi maafkan Ayesh Om, jangan marahi Orin. Aku akan segera membawanya pulang."
Merasa namanya disebut, Hyorin paham siapa yang menelfon Ayesh barusan. Dia mengecek ponselnya, ternyata ada banyak miss called yang masuk.
Aduh kenapa aku sampai lupa tidak mengabari Ayah.
__ADS_1
Sedangkan Ayesh masih berbicara dengan Ayah Hyorin di telfon.
"Baiklah Nak, terimakasih ya. Hati-hati di jalan, Om tutup dulu."
Sambungan telfon terputus.
"Mas apa Ayah memarahimu?" Tanya Hyorin begitu melihat Ayesh mengantongi kembali ponselnya.
"Tidak Rin, kamu tenang saja."
"Lalu apa yang Ayah katakan padamu Mas?"
Ayesh tidak menjawab pertanyaan Hyorin dan justru menarik hidung mancung Hyorin dengan gemas.
Ayesh mendekat dan merangkul gadis itu, menuntunnya untuk berjalan ke arah Mobil.
"Ayo kita pulang!"
"Mas ih...masa main rahasia-rahasiaan gitu."
Ayesh hanya tersenyum, kemudian membukakan pintu Mobil untuk Hyorin dan menyuruh gadis itu duduk anteng.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Sekitar pukul Sebelas malam, Mobil Ayesh memasuki halaman rumah Hyorin.
Dia memarkirkan Mobilnya kemudian turun sambil mengandeng tangan Hyorin, membawa gadis itu masuk ke rumah, mereka berdua memang tidak sempat makan malam namun terasa kenyang sebab bahagia yang mereka rasakan.
Ayesh mengetuk pintu rumah Hyorin, pemilik rumah dengan segera membukakan pintu untuk mereka.
"Nak Ayesh mari silahkan masuk." Ayah Hyorin mempersilahkan calon menantunya itu untuk masuk.
Pak Mahardika melihat tangan anak dan calon menantunya itu tertaut sangat erat. Orangtua itu manggut-manggut paham dengan situasi yang ada.
"Silahkan duduk Nak."
"Om maafkan saya sekali lagi yang membawa Hyorin tanpa izin."
"Tidak apa-apa Nak, seharusnya Putri Om lah yang mengrimkan pesan untuk Ayahnya. Tapi tidak dia lakukan." Sindir Ayah Hyorin kepada putrinya itu.
Hyorin tersenyum kecut.
"Om jangan marahi Orin ya, Ayesh lah yang bersalah."
"Tidak Nak, kamu tenang saja. Om percaya kepadamu bisa menjaga Orin dengan baik. Lain kali jangan lupa untuk memberikan kabar agar seisi rumah tidak khawatir."
"Baiklah Om, Ayesh janji tidak akan mengulangi hal ini."
Ayah Hyorin tersenyum bahagia melihat Putrinya dan Ayesh nampak semakin dekat dari hari ke hari.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya Om sudah larut malam."
"Baiklah Nak, hati-hati di jalan ya."
"Rin antarkan Ayesh ke depan!" Perintah Ayah Hyorin.
Hyorin kemudian beranjak dari tempat duduknya, mengantarkan Ayesh sampai ke halaman depan.
"Hati-hati ya Mas, jangan ngebut!"
"Iya kamu tenang saja Rin, kamu masuklah sudah larut. Selamat beristirahat ya Rin, sampai jumpa besok."
Ayesh meninggalkan jejak sayang di kening Hyorin kemudian menyuruh gadis itu masuk ke rumah untuk beristirahat.
Hyorin patuh dengan titah Ayesh.
Begitu melihat Hyorin telah masuk ke dalam, Ayesh beranjak masuk ke dalam Mobil dan pergi mengendarai Mobilnya meninggalkan rumah Hyorin. Belum seberapa jauh Ayesh mengemudi, Dia melihat ada Mobil yang sama dengan yang tadi sore mengantarkan Hyorin memasuki halaman rumah Om Mahardika.
Ayesh melihat Silvia keluar dari Mobil dalam keadaan mabuk, tubuhnya sempoyongan. Ada seorang Laki-laki yang memapahnya. Mata Ayesh dibuat melotot melihat Laki-laki yang bersama Silvia.
*Laki-laki itu....
-------------------------------------------------------------------
Hi Kak jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite* ya Kak.
Terimakasih Kakak-kakak yang sudah mendukung Author 💕💕💕
__ADS_1