Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 61


__ADS_3

Jesika masih mematung di tempat, jantungnya berdegup sangat kencang. Jika menyangkut Jovanka rasa-rasanya sudah tidak ada hal yang membuatnya tertarik sedikitpun.


Mendengar namanya saja membuatnya jengah apalagi harus berurusan dengan wanita itu lagi.


"Hey Jes apakah loe mendengarkan gue?"


"Iya Don gue denger, tapi maaf ya Don gue nggak tertarik sama sekali."


"Sebentar saja Jes, boleh gue minta nomor loe?" pinta Doni.


"Boleh, tapi gue nggak mau bahas tuh cewek. Siniin ponsel loe, gue ketikin nomer gue."


"Kalau kapan-kapan ketemu loe lagi boleh dong?"


"Iya boleh tinggal hubungin gue aja, kalau gue senggang pasti gue bakalan datang." Jawab Jesika tanpa curiga.


"Janji ya Jes, yuk kedepan lagi. Gue temenin loe deh kali ini!"


Jesika mengikuti Doni, memilih tempat duduk. Doni mengacungkan jempol ke arah Ayesh menandakan Doni berhasil mendekati Jesika.


"Kerja bagus," ucap Ayesh dalam hati.


Doni bercengkrama dengan Jesika, saling melempar canda tawa sesekali mengenang masa lalu mereka yang mungkin tidak memiliki kenangan yang cukup manis.


Di titik ini Doni sangat merasa bersyukur, disaat dirinya merasakan patah hati disaat itulah dia menemukan orang yang bisa membuatnya melupakan sejenak perasaannya.


"Ternyata Jesika gadis yang cukup menarik juga," pikir Doni.


Acara demi acara telah dilalui, satu persatu tamu undangan mulai berpamitan dan meninggalkan tempat resepsi di gelar.


Jesika pun ikut berpamitan, dia menemui Ayah Hyorin terlebih dahulu untuk undur diri.


"Jes gue anterin mau nggak?" tawar Doni ketika melihat Jesika hendak keluar dari Ballroom hotel.


"Nggak usah deh Don, gue naik taksi aja," tolak Jesika.


"Bener nih nggak mau, gue ikhlas loh nglakuinnya, kapan lagi dianterin cowok seganteng gue!" Doni terkekeh.


"Ih dasar loh Don, narsisnya nggak pernah berubah!" Jesika tertawa kecil.


"Emang gue begini dari dulu, mau ya mau lah mau dong?" bujuk Doni dengan antusias.


Melihat Doni yang benar-benar ingin mengantarkan dia pulang, Jesika merasa tidak enak hati jika terus menerus menolak tawaran Doni.


"Iya...iya...kalau loe maksa, tapi beneran nggak ngrepotin kan?"


"Nggak tenang aja, gue pamit ke Ayesh dan Hyorin dulu ya. Stay disini dan jangan kemana-mana!"


Jesika mengangguk, Doni kemudian menuju ke pelaminan menemui Ayesh.


"Yesh aku tinggal dulu ya, aku mau mengantar Jesika. Aman pokoknya, serahkan padaku pasti beres!"


Ayesh yang paham maksud Doni kemudian mengangguk mempersilahkan Doni untuk pergi terlebih dahulu.


"Kamu hati-hati ya Don, aku mengandalkanmu!"


"Siap Bos, laksanakan!" Doni menempelkan kelima jarinya dikening persis seperti orang yang sedang melakukan penghormatan kepada bendera ketika upacara dan berlalu pergi.

__ADS_1


Hyorin yang tidak paham dengan percakapan antara Doni dan Suaminya kemudian angkat bicara.


"Mas ada apaan sih kok kayaknya ada yang kalian sembunyikan dari aku?"


"Lihat tuh Doni sama siapa?" Ayesh menunjuk Doni yang sedang berjalan keluar ruangan bersama Jesika.


"Kak Doni sudah punya pengganti Nita?"


Ayesh hanya mengedikkan bahunya, membiarkan Hyorin dengan asumsinya sendiri dari pada harus menjelaskan beresiko malam ini akan ada yang ngambek, terancam tidak mendapatkan yang dia inginkan.


"Wah Kak Doni memang keren bisa setegar dan sekuat itu padahal jelas-jelas Nita sudah mempertegas setatusnya dengan Kak Oshan di depan Kak Doni,"


"Bagus dong kalau Doni bisa cepat move on, kasihan dia sekalinya jatuh cinta langsung patah hati."


"Iya bener juga sih Mas,"


"Mas kita bisa pulang sekarang kan, pegel nih kaki udah pengen selonjoran aja. Tamu-tamu juga sudah pada pamit pulang."


"Siapa bilang kita akan pulang sayang?"


"Kan acara udah selesai Mas, aku mau pulang istirahat dan laper juga Mas," rengek Hyorin manja.


"Aku ambilin makan ya,"


"Aku nggak mau Mas, aku mau makan di rumah aja!"


"Loh kenapa? Banyak makanan juga kan disini kenapa mesti di rumah?"


"Pokoknya aku mau makan di rumah aja Mas, mau makan masakan kamu!"


"Tidak bisa sayang, malam ini kita menginap disini, ayo kita ke kamar kalau kamu lelah."


"Apa sayang? Tuh dilihatin sama keluarga kita, menurut saja ya."


Hyorin mengedarkan pandangan, memang benar kata suaminya keluarganya masih ada disana mereka belum pulang karena masih beramah tamah dengan beberapa kolega yang masih betah.


Hyorin sekilas melihat wajah sendu Indra dan juga wajah sinis Silvia terhadapnya.


Wajah Silvia masih tampak bersungut-sungut, tergambar rasa iri bercampur emosi yang berusaha dia tahan.


Hyorin tidak perduli dengan semua itu, dia yang digandeng oleh Ayesh berjalan melewati mereka sambil berpamitan kepada orangtua mereka bahwa mereka akan segera pergi untuk beristirahat.


Kini Ayesh dan Hyorin sudah berada di dalam salah satu kamar hotel yang dipersiapkan dengan sangat romantis, di atas kasur bertaburkan kelopak bunga mawar merah yang hampir memenuhi seluruh ranjang dengan bagian tengah membentuk gambar hati.


Hyorin memasuki kamar dengan takjub, tidak pernah menyangka jika Ayesh akan seromantis ini terhadapnya.


"Mas ini kamu yang mempersiapkan semuanya?"


"Iya sayang, apakah kamu bahagia?"


"Bahagia Mas, sangat bahagia malah! Terimakasih hubby," Hyorin mencuri satu kecupan di pipi Ayesh.


Ayesh sangat senang melihat istrinya memiliki inisiatif, hal ini justru mendorongnya untuk meminta lebih. Dengan serampangan Ayesh menggendong tubuh Hyorin dan membawanya menuju ranjang.


Hyorin reflek mengalungkan kedua tangannya ke leher Ayesh. Hal ini membuat Ayesh menjadi lebih bersemangat.


Dengan perlahan Ayesh meletakkan tubuh Hyorin di atas ranjang, melepaskan sepatu yang Hyorin kenakan, mengendurkan dasi yang ia pakai dan mulai melancarkan aksinya.

__ADS_1


Mereka saling bertautan perlahan namun pasti, Ayesh sesekali melepaskan pagutannya ketika melihat Hyorin mulai tersengal dan membiarkannya mengambil nafas.


Semua mengalir begitu saja, mereka berdua saling melepaskan rindu, merengkuh manisnya madu cinta setelah seharian berdiri menahan lelah dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum.


Hari ini mereka benar-benar bahagia, setelah berhasil mendeklarasikan hubungan mereka ke public berharap tidak ada lagi yang mampu memisahkan cinta keduanya.


Di internet bahkan sempat menjadi trending topic, banyak yang mengunggah foto resepsi pernikahan mereka, banyak yang memberikan pujian. Banyak pula yang merasa patah hati, sebab Ayesh memang cukup terkenal dengan ketampanan yang dia miliki memberikan pesona tersendiri di hati kaum hawa, apalagi sikapnya yang terkesan dingin memberikan nilai lebih bagi dirinya. Namun, cinta Ayesh hanya untuk Hyorin semata sampai kapanpun, seperti malam ini mereka kembali merajut cinta seperti malam-malam sebelumnya yang telah mereka lewati bersama.


Bahkan ditengah-tengah mereka akan segera launching seorang anak yang akan menambah kesempurnaan hidup berumah tangga mereka dan akan memperkokoh rasa cinta mereka berdua. Yah anak memanglah sumber kekuatan dan penguat tali kasih dalam sebuah kehidupan berumah tangga.


Tepat ketika penyatuan itu akan terjadi Hyorin berkata lirih ditelinga Ayesh.


"Pelan-pelan Mas, jangan sampai membuatnya terkejut,"


Ayesh mengedipkan matanya, memandang istrinya dengan pandangan yang sangat teduh dan memulai aksinya dengan lembut, tidak ingin membuat istrinya merasa tidak nyaman.


Mereka menyudahi ritual malam mereka dengan saling berpelukan.


Hyorin mengeratkan pelukannya ke tubuh Ayesh, memandang suaminya lekat-lekat.


"Kenapa kamu begitu tampan hubby, sudah berapa banyakkah wanita yang kau buat patah hati?"


Ayesh tersenyum, "Tidakkah kau tahu hanya ada satu wanita di hatiku?"


Ayesh mencium pucuk kepala Hyorin, yang sedang membenamkan dirinya di dada miliknya.


"I love you sayang,"


"I love you too Mas,"


"Apakah kamu masih lapar sayang?"


Hyorin menggeleng, "Aku sudah tidak lapar Mas, aku mau tidur saja."


"Akan aku pesankan makanan untukmu, Adik bayi di dalam perutmu harus tetap diberikan nutrisi meskipun kamu tidak merasa lapar."


"Tapi aku maunya masakan kamu Mas,"


"Itu bukan hal yang sulit meskipun kita sedang tidak berada di rumah,"


"Benarkah?" mata Hyorin berbinar.


"Aku akan mandi dulu, setelah itu akan aku buatkan makanan untukmu."


Ayesh melesat masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan bergegas keluar dari kamar untuk menuju dapur hotel. Dia tidak segan untuk melakukan hal yang menjadi kemauan istrinya.


Hyorin yang masih berada di bawah selimut kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, rasa lelah seharian berdiri ditambah harus melayani suaminya tadi cukup menguras energinya. Dia ingin berendam sebentar untuk merilekskan tubuhnya yang penat.


Ayesh masuk ke dalam kamar dengan nampan berisi makanan untuk Hyorin tidak lupa segelas susu hangat yang wajib Hyorin minum sebelum tidur. Semenjak kehamilan istrinya, Ayesh rajin membuatkan susu untuk Hyorin.


Ayesh mendengarkan gemercik air dari dalam kamar mandi menandakan Hyorin ada di dalam.


Ayesh dengan sabar menunggu istrinya selesai dengan ritualnya di dalam kamar mandi.


--------------------------------------------------------------------


Hay Kak, jangan lupa selalu dukung author dengan like, coment, vote dan jadikan favourite ya Kak 😘😘😘💕💕💕

__ADS_1


Terimakasih Kak, happy reading 😘😘😘


__ADS_2